SELAMAT DATANG DI CYBER MEDIA KP HMI CABANG YOGYAKARTA

31 Agustus 2009

Keagungan Ramadhan

Oleh: Ihab Habudin

Ramadhan adalah bulan utama. Dalam bulan ramadhan Allah menurunkan al-Qur’an. Dalam Ramadhan, tepatnya 17 Ramadhan tahun ke dua hijarah terjadi perang Badar. Perang pertama yang dimenangi kaum muslim sekaligus menambah kepercayaan diri bagi umat Islam untuk melakukan dakwah islamiyah. Tanggal 20 Ramadhan tahun ke delapan hijrah terjadi penaklukan kota mekah hingga umat Islam bertamnbah kuat. Dalam Ramadhan pula, hamba-hamba Allah seperti isteri Nabi Khadijah binti Khuwailid dan puteri Nabi tercinta Ruqayyah wafat dijemput oleh Allah yang Maha Kuasa.

Selain itu, pada bulan Ramadhan diwajibkan berpuasa dan ditetapkan shalat tarawih. Ramadhan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul kadar, malam istimewa, karena dalam malam itu Allah melipatkgandakan pahala; pahala ibadah yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari pahala ibadah dalam seribu bulan yang lain. Ramadhan juga bulan yang ditutup dengan idul fitri sebagai balasan bagi yang berpuasa, dan diikuti puasa enam hari dalam bulan Syawal sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa barangsiapa yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dan diiringi dengan enam hari dalam Syawal, seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.

Bulan Ramadhan juga mempunyai banyak nama; di antaranya Syahrul Qur’an (bulan turunnya al-Qur’an), Sahrun Najah (bulan menyelamatkan diri dari adzab Allah), Syahrus Syiam (bulan puasa), Syahrur Rahmah, dan lain-lain. Ramadhan sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu ar-Ramdhu, yaitu hujan yang datang setelah musim kering, sehingga tanah terasa panas terbakar. Sebagian ulama mengatakan bahwa ar-ramdhu berarti panas yang terik. Karena itu, disebut bulan Ramadhan sebagai bulan yang membakar dosa dan meleburkannya dengan amal shaleh. Oleh karena itu, bila ada orang yang pada bulan ramadhan masih senang melakukan ghibah, fitnah, bohong, sumpah palsu dan menuruti nafsu, setidaknya hal itu tidak mencerminkan nama Ramadhan sendiri.

Begitu mulianya bulan Ramadhan, bulan ini banyak dinanti-nantikan oleh umat Islam. Ucapan selamat datang, marhaban ya ramadhan menggema di mana-mana, pesantren-pesantren dan mesjid-mesjid, dari selebaran di pinggir jalan hingga iklan-iklan di televisi, dari para kiai hingga politisi. Semua menyambut datangnya bulan yang suci ini.

Meskipun demikian, menyambut bulan Ramadhan harus diiringi dengan pengasahan jiwa dan raga. Karena dengan berpuasa sebenarnya kita sedang berjalan menuju Allah Swt. Dalam perjalanan itu ada gunung tinggi yang harus didaki, digunung itu terdapat jurang yang curam, hutan lebat, bahkan perampok yang dapat mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Semakin tinggi gunung didaki, bertambah besar ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Mulai pagi sampai pagi kembali, banyak tantangan yang menghadang.

Dalam menghadapi tantangan itu, banyak orang berpuasa tanpa mampu meninggalkan dosa-dosanya. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Betapa banyak orang yang berpuasa sedangkan sedangkan ia tidak mendapat sesuatu dari puasa itu selain rasa lapar dan dahaga.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang berpuasa sementara yang didapatnya hanya lapar dan dahaga adalah orang yang berpuasa tapi tidak mencegah puasanya dari perbuatan-perbuatan dosa. Orang yang demikian sungguh tidak beruntung karena lapar dan dahaga bukanlah tujuan puasa. Tujuan puasa sendiri adalah takwa. Menurut Muhammad Abduh, takwa berarti menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapar terwujud melalui rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt).

Ramadhan adalah bulan latihan bagi kita untuk menggapai sedapat mungkin derajat takwa tersebut. Untuk melakukannya, takwa karus diupayakan secara terus-menerus. Takwa tidak terikat tempat dan waktu. Termasuk hanya pada bulan Ramadhan. Orang yang bertakwa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan istiqamah atau teguh pendirian. Karena itu orang bertakwa tidak hanya menjalankan kebaikan dan mencegah kemungkaran hanya pada bulan ramadhan saja, lebih dari itu ia konsisten melakukannya di bulan yang lain.
Ada yang mengatakan bahwa Ramadhan seperti gerbong utama bagi bulan bulan lainnya. Bulan Ramadhan merupakan pemimpin bagi bulan-bulan lainnya. Apabila demikian, maka kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan harusnya diikuti oleh bulan-bulan lainnya.

Tapi, seringkali kita menyaksikan bulan Ramadhan hanya ajang memperbaiki diri untuk tujuan sementara. Banyak kita temukan orang yang menjalani kehidupan Ramadhan hanya dengan ganti kostum, seperti jilbab, tetapi setelah bulan Ramadhan kembali lagi ke dunia gelapnya. Bukan masalah memakai dan tidaknya jilbab, lebih jauh dari itu adalah pertanggungjawaban moral kepada Allah bahwa puasa bukan ajang kepura-puraan atau taubat sambal. Maka benar seorang kiai menyebutkan bahwa kemenangan bulan Ramadhan terlihat dalam kemenangan di sebelas bulan lain selain bulan Ramadhan.

Nabi Muhammad Saw adalah manusia yang konsisten. Maka marilah kita berusaha mencontoh Nabi. Nabi Muhammad itu selalu peduli dengan kehidupan masyarakat di sekelilingnya. Sikap seperti ini tampak jelas sejak Nabi masih remaja. Sejak remaja Nabi khawatir terhadap kecurangan para penjual yang seenaknya menakar dagangan, sejak remaja Nabi menentang perlakuan seenaknya orang kaya terhadap orang miskin, sejak remaja juga Nabi khawatir terhadap perpecahan umat. Rasa kepedulian terhadap masyarakat ini dimiliki oleh Nabi hingga akhir hayat. Dalam sejarah kita mengetahui bahwa sampai nyawa ditenggorokan, kepedulian Nabi pada umatnya tidak pernah pudar. Hal ini dibutikan, ketika nyawa sampai ditenggorokan, Nabi masih sempat mengucap ummatii, ummatii.

Nabi itu hidup sederhana. Sejarah menunjukan betapa Nabi tidur hanya di atas pelepah kurma. Meski tawaran kekayaan dari berbagai pihak datang, Nabi tidak menerimanya. Kesederhanaan ini secara konsisten dilakukan Nabi, sampai-sampai diriwayatkan hanya dua lah pusaka yang ditinggalkan Nabi, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Ini menunjukan bahwa secara materi Nabi sangat sederhana. Dan itu dilakukan secara konsisten.

Semoga keteguhan Nabi seperti itu dapat kita teladani. Wallahu ‘alam.

Krapyak: 31/08/09

0 komentar: