SELAMAT DATANG DI CYBER MEDIA KP HMI CABANG YOGYAKARTA

11 Juli 2009

Senior Course Ke 80


Revivalisasi Fitrah Pengader Untuk Progresifitas Gerak HMI

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(QS. Ar-Rum: 30)

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu cepat. hampir tidak ada sedikit ruang pun yang luput dari jamahan perkembangan tenologi ini. Alfin Toffler dalam future Shock memberikan gambaran bagaiman pengaruh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia, tatanan sosial, pola kumunikasi dan hampir seluruh aspek kehidupannya. Kehidupan manusia pun berlangsung begitu cepat dan dinamis. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi itu, muncul pula permasalahan manusia yang semakin kompleks.

Kompleksitas permasalahan ini akan bertambah bagi umat Islam. Mereka akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan baru tentang ajarannya, tentang apa yang diyakini selama ini. Hal ini menuntut umat Islam untuk segera merespon berbagai persoalan tersebut dan dengan segera mencari solusi-solusi dari kompleksitas permasalahan tersebut. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah bagian dari uamat Islam ini, dengan demikian HMI juga dituntut untuk melakukan gerak juang yang progresif.

HMI secara sadar telah menentukan pilihannya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan sebagai identitasnya. Sebagai organisasi perkaderan, HMI melakukan pembinaan kepada kadernya melalui sebuah usaha yang terkonsep, sistematis, strategis dan berkesinambungan. Dari pembinaan ini nantinya diharapkan akan lahir sosok ideal atau kader cita HMI yang terkonsepsikan sebagai sosok ulil albab. Kader cita inilah yang kemudian menjadi motir-motir bagi perjuangan HMI, yaitu satu usaha untuk merealisasikan nilai-nilai Islam di alam semesta ini.

Adalah sebuah keniscayaan bagi insan-insan organisasi yang mencirikan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan ini untuk senantiasa selalu tekun dan bekerja dalam menjalankan amanah yang diembanankan kepadanya. Perkaderan dan perjuangan ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait dan tak bisa dipisahkan. Seluruh usaha perkaderan untuk melanggengkan HMI adalah demi perjuangan menggapai tujuan dan begitu juga perjuangan mensyaratkan kokohnya perkaderan. Dinamisasi antara perkaderan dan perjuanganlah satu-satunya motor penggerak bagi organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia ini untuk meraih tujuannya “Terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut serta bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang dirihoi Allah SWT”. Dari sini nampak bahwa HMI mengedepankan pembinaan dan pengembangan potensi manusia sebagai subjek pembangun peradaban.

Fitrah manusia
Ibnu ‘Arabi sering mengunakan istilah fithrah manusia dengan arti ‘kecondongan dasar ‘. Banyak para musafir yang menafsirkan fitrah manusia adalah ini elem ajaran agama yaitu iman kepada Allah atau Tauhid. Menurut Ibnu ‘Arabi, kecondongan primordial manusia tersebut dilengkapi dengan sejumlah sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh ruh manusia pada saat penciptaannya. (William C. Chittick : 2001). Selain itu, manusia juga dibekali dengan perangkat diri berupa jasad, akal dan ruh. Manusia akan tetap pada kesempurnaannya ketika ketiga elemen tersebut berkembang dan berjalan secara sinergis.

Dengan kesempurnaan yang dimiliki tersebut, manusia mengemban tanggung jawab yang besar. Selain sebagai abdi, manusia juga memiliki peran sebagai khalifah di mika bumi ini, satu amanah yang tidak bisa ditanggung oleh makhluk selainnya. Tanggungjawab. sebagai abdi manusia dituntut totalitas peribadahannya kepada-Nya, sedangkan sebagai khalifah manusia bertanggungjawab memakmurkan bumi ini.

Sebagai makhluk, perkembangan manusia ditentukan oleh potensi-potensi yang dibawa dan pengaruh-pengaruh lingkungan.dan seringkali kecondongan-kecondongan dasar manusia tersebut diselimuti oleh kabut lingkungannya. Untuk itu, yang diperukan adalah Usaha-usaha itu adalah untuk mengingatkan kembali manusia pada fitrahnya, menyibak kabut-kabut yang menutupi fitrah tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pembinaan yang tersistematis dan berkesinambungan. Di HMI, hal ini disebut sebagai perkaderan.

Fitrah Pengader
Dalam sistem perkaderan, setidaknya terdapat dua subjek penting di sana, kader dan pengader. Kader secara umum adalah orang yang dididik untuk melanjutkan estefet suatu organisasi. Sementara kader HMI adalah anggota HMI yang telah mengikuti model perkaderan organisasi secara menyeluruh dan optimal, sehingga memiliki integritas pribadi yang utuh, beriman, berilmu dan beramal shaleh yang siap mengemban tugas dan amanah keumatan. Lahirnya kader ideal sangat ditentukan oleh sistem yang ada dan juga pengader yang berkualitas. Pengader adalah orang yang melakukan pembinaan secara intens. Dia adalah sosok dengan kepribadian utuh sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang. Itulah fitrah pengader. Itu pula adalah sibghah atau blue print sosok pengader.

Sebagai pendidik, pengader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai-nilai Islam. Sebagai pendidik, pengader HMI haruslah memahami bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara sitematis untuk mengembangkan potensi peserta didik. Tujuannya adalah lahirnya manusia paripurna yang memiliki keimanan, akhlak mulia, dan ilmu pengetahuan. Untuk itu, pengader HMI harus memiliki kemampuan metodologi, strategi dan operasional dalam pendidikan. Selain itu, dia juga harus bisa memahami subjek didiknya, meletakkannya sebagai manusia yang sadar dan membawa potensi kebaikan. Yang paling utama bagi seorang pendidik adalah dia bisa menjadi tauladan (uswatun hasanah) bagi subjek didiknya. Pendidik adalah integritas kepribadian antara iman, ilmu dan amal.

Sebagai pemimpin, pengader HMI merupakan penjaga ukhuwah islamiyah. Dan sebagai pejuang, dia merupakan pelopor dalam amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyerukan kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran serta melarang dari perbuatan yang merusak dan prilaku-prilaku yang akan menghadirkan murka Allah. Sebagai pejuang, dia adalah mujahid, orang yang mengerahkan seluruh daya dan kemampuannya, baik secara aqliyah, fikriyah maupun jasadiyah. Sebagai mujahid, dia mengetahui benar konsekwensi dari jalan juang yang ditemupuhnya. Dia adalah sosok yang mempunyai kesadaran idiologis dan mampu mengungkapkan segala apa yang dia yakini secara lisan maupun perbuatan. Al-Quran juga menyatakan bahwa kehidupan ini adalah media perjuangan bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang sempurna dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, manusia harus bersiap pula untuk berkorban, tidak saja harta benda, tetapi juga nyawa sekalipun.

Konsekuensi dari tiga sosok potensi yang padu, yakni pendidik, pemimpin dan pejuang, maka pengader adalah insan yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad di jalan Allah SWT, istiqomah, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang relefan dengan tugasnya sebagai pengelola latihan HMI”. (Muqodimah Pedoman Pengader). Dari sinilah, HMI akan melakukan gerak juang yang progresif. Dan Senior Course ke 80 ini diharapkan mampu menjadi langkah awal untuk melakukan gerak tersebut.



Pelaksanaan


SC Ke 80 akan dilaksanakan pada tanggal 25 - 30 Juli 2009 di Yogyakarta


Syarat-syarat mengikuti SC
Lulus LK II

Membuat Makalah sesuai tema min. 3 Lembar kertas kuarto Time New Romans spasi 1,5
Membuat out line (pointer-pointer) khittah perjuangan
Hafalan surat Adh-dhuha sampai An-Nas ditamabah Al-‘ala, Al-Ghasyiyah dan As-shof
Mengikuti seleksi yang meliputi: ke-Islaman, Ke-HMI-an, makalah dan Micro Teaching.
Menyerahkan past poto 3x4 sebanyak 2 Lembar.
Membayar kontribusi sebesar Rp. 75.000,00 dan pendaftaran Rp. 5.000,00 dengan fasiliatas Kaos, stiker, buku dan CD hasil pelatihan.

Waktu Seleksi
seleksi dilaksanakan tanggal 21-22 Juli 2009

Pembekalan
Pembekalan dan Studium General 24 Juli 2009

Pendaftaran
Pendaftaran melalui SMS: REG (spasi) NAMA (spasi) KOMISARIAT dikirim ke No. 085959070782 an. Fauzan S, atau ke No. 0274 6567900 An. HMI Cab, Yogyakarta Maksimala tanggal 19 Juli 2009

Renungan ke-HMI-an


Judul : HMI: Keabadian dan Inovasi Gerakan
Editor : Ahmad Nuralam dan Ahmad Sahide
Penerbit : The Phinisi Press Yogyakarta
Tahun terbit : 2009
Hal. : ix + 201

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak awal berdirinya telah menyakan komitmennya terhadap ajaran Islam. Komitmen terhadap Islam inilah yang menjadi ruh gerak HMI. Dengan ruh ini pula, HMI membina kader-kadernya menjadi manusia yang berkualitas, kader yang militan. Kemampuan HMI dalam membina kadernya dapat dilihat sejauhmana organisasi itu mampu menjelaskan nilai-nilai kebenaran yang diyakninya dalam satu sistem yang lugas dan mudah dipahami. Dan HMI akan tetap eksis apabila kader-kadernya mampu mengembangkan kapasistas dirinya untuk melesat menuju gerakan spiritual yang disebarkan dalam bentuk amal Soleh.

Demikian beberapa pikiran yang tertuang dalam buku HMI: Keabadian dan Inovasi Gerakan. Buku yang merupakan hasil kumpulan tulisan ini mengupas banyak hal di dalamnya, segala tetek bengek HMI. Secara gasisr besar, buku ini dibagi ke dalam empat bab, yang mereprensitasikan tenang pemikiran keabadian dan inovasi gerkan. Bab I, berbicara tentang HMI dan Pemikiran Keislaman yang memuat dua tulisan. Bab II berisi tentang HMI dan Modrnitas yang antara lai berbicara tentang HMI di tengan Arus Globalisasi, HMI dan Politik Citra yang merupakan tema-tema hangat saat ini. bab III buku ini berisi pemikiran-pemikiran HMI-wati yang menyoroti tentang keberadaan, pembinaan dan gerak Koprs HMI-wati (KOHATI), diantaranya menghadirkan tenatng kepemimpinan dalam perspektif feminis. Dan Bab IV membincang masalah Dinamika Politik Kontemporer yang antara lain berisikan tentang permasalah Golput dan sistem keindonesia. Adapun buku sebagai penutup adalah tulisan Masyhudi Muqarrabin Ph.D yang ketika masih aktif di HMI pernah menjabat sebgai ketua PB HMI.

Sebagai buku yang ditulis secara keroyokan oleh 17 penulis yang kebanyakan adalah orang yang didik dan di besarkan oleh kulut Karangkajen (sekretariat HMI Cabang Yogyakarta), secara ide buku-buku ini bisa dikatakn kurang sistematis, apalagi penyusunannya terburu-buru, yaitu dalam rangka Kongres HMI ke 27 di Yogyakarta. Ini berakibat pula pada tata letak si buku. Namun, keunggulan buku ini adalah dia ditulis oleh orang dalam (sebagaian masih aktif di struktur kepengurusan), yang mengetahui seluk beluk dan ruang dapur HMI. Selain itu, tulisan yang reflektif juga memberikan ruh tersendiri bagi buku ini, selain membeberkan berbagai persoalan yang dihadapi, para penulis juga menwarkan alternatif-alternatif pemecahannya. Dengan demikian, buku ini akan cocok untuk dibaca oleh mereka yang masih aktif ngurus HMI dan juga merka yang berminat terhadp studi tentang HMI. Selamat membaca.