SELAMAT DATANG DI CYBER MEDIA KP HMI CABANG YOGYAKARTA

23 Desember 2008

Kepemimpinan kaum muda?

Beberapa tahun ini kita dilarutkan dalam wacana kepemimipinan kaum muda, terlebih lagi menjelang Pemilu 2009 ini. “Bernarkan kaum muda siap memimpin negeri ini?” beigutlah pertanyaan yang diajukan oleh Maksun, S.H.i dalam orasi perkaderannya yang berlangsung di Ponggok Dua, Jetis Trimulyo, Bantul Minggu, 21 Desember kemarin. Orasi perkaderan tersebut merupakan wejangan bagi para pengader yang tergabung dalam Korps Pengader HMI Cabang Yogyakarta (KPC) sesaat setelah dilaksanakan pelantikan pengururs KPC tersebut.

Dalam acara yang diikuti oleh 30 anggota KPC tersebut Cak Sun, panggilan akrab Maksun, merasa pesimis jika kaum muda dapat memimpin negeri ini. Ada beberpa alasan yang diajukannya. Pertama, Sisitem pendidikan tinggi Indonesia yang tidak memberikan ruang aktifitas bagia mahasiswa. Universitas-universitas dengan sistem yang dibuatnya telah menjadikan mahasiswa yang hanya study oriented. Mahasiswa dikekang dari melakukan aktivitas-aktivitas di luar kegiatan akademik. Adanya sistem ini pula berdampak pada perkaderan di tingkatan organisasi pergerakan. Mungkin bangsa ini lupa bahwa tidak ada pemimipin besar bangsa ini yang lahir dari akademisi murni. Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir adalah orang-orang yang lahir dari pergerakan mahasiswa. Sebagai contoh terkini adalah Barack Obama. Dia adalah seorang yang aktif dalam gerakan-gerakan sosial saat dia masih menjadi mahasiswa.

Alsana kedua adalah rendahnya minat baca di kalangan mahasiswa. Prinsip ekonomi, menerut Cak Sun, bisa digunakan dalam hal ini. Dia bercerita, semasa dia masih kuliah di UIN (dulu IAIN) Sunan Kaliajaga, di sekitar kampus tersebut terdapat tidak kurang dari 6 penjual buku, dan itu selalu ramai oleh pembeli. Namun kini hanya terdapat dua toko, itu pun tidak rterlalu ramai. Hal ini menunjukkan rendahnya konsumsi buku sekaligus minat baca dikalangan mahasiswa. Dari hasil survei yang dimuat dalam SKH Kedaulatan Rakyat juga nampak bahwa pengeluaran mahasiswa Yogyakarta untuk membeli pulsa HP lebih besar ketimbang yang dibelanjakan untuk membeli buku.

Ketiga, hedonisme. Perilaku hedon ini sudah lama merasuk pada mahasiswa atau kaum muda. Dikatakan oleh Cak Sun, perilaku ini dapat dilihat bahwa orang lebih senang nongkrong di mall-mall besar atau kafe-kafe ketimbang berkumpul dan berdiskusi. Perilkau ini tidak terlepas dari penyakit jiwa lainnya yaitu individualisme. Perilaku ini yang menyebabkan mahasiswa atau kaum muda apatis dengan kondisi yang terjadi pada lingkungan, masyarakat dan bangsanya.

Namun demikian Cak Sun yakin bahwa kader-kader HMI masih bisa lepas dari itu. Syaratnya adalah pada pembenahan perkaderan di internal HMI. Selama ini perkaderan di HMI masih bergerak pada model pendidikan saja, dan itupun hanya pada pelatihan umum. Sementara model-model perkaderan lainnya belum terlaksanakan. Dengan demikian wajar jika HMI masih jauh dari cita-cita idealnya. HMI, tambahnya, jika konsisten dengan cita-citanya, dapat membentuk tiga kepemimpinan, yiutu kepemimpinan individu, kepemimpinan sosial dan kepemimpinan intelektual.

Rendahnya Kualitas Pengader

Problem terbesar dalam sistem perkaderan HMI saat ini adalah rendahnya kualitas pengader. Demikianlah wacana yang muncul dan berkembang dalam diaolog bersama pengurus baru bersama anggota Korps Pengader HMI Cabang Yogyakarta (KPC). Dialog yang dipimpin oleh Iqbal Hafidz Hakim selaku ketua KPC 2008-2009 dimaksudkan untuk menjaring gagasan dari anggota KPC untuk kepengerusan kedepan.

Dalam dialog yang dilaksanakan seusai pelantikan pengurus baru itu juga muncul gagasan bahwa KPC harus mampu menciptakan quantum gerak (movement quantum). Hal ini dapat dilakukan dengan pembinaan secara intens kepada para pengader. Selama ini intensitas pembinaan ditingkatan pengader dirasakan masih rendah, sehingga pengader, khususnya pengader baru, belum bisa secara optimal melaksanakan tugas-tugasnya.

Pembinaan para pengader, sebagaimana juga gagasan yang mencuat saat Musyawarah Korps Pengader (Musykorp) yang lalu, meliputi ranah pemikiran, spiritualitas, profesionalitas dan jaringan. Untuk itulah, menurut Iqbal, KPC telah membentuk dua bidang dalam periode ini, yaitu bidang Pengembangan Sumberdaya Pengader dan bidang Ukhuwah dan Silaturahmi.

Selain wacana tersebut, muncul juga gagsan untuk membuat satu badan khusus semacam wilayatul faqih bagi pengader yang bertujuan untuk dimintai pendapat khusus tentan kepengaderan.

Setelah acara dialog tersebut usai, acara dilanjutkan dengan Rapat kerja Korps Pengader peride 1429-1430 H atau 2008-2009 M.


Pengurus KP Baru

SUSUNAN PENGURUS KORPS PENGADER
HIMPUANAN MAHASISWA ISLAM CABANG YOGYAKARTA
PERIODE: 1429-1430 H/ 2008-2009 M

Ketua Umum : Iqbal Hafidz Hakim
Sekretaris Umum : Ita Farihayati
Bendara Umum : Yuli Lestari

Bidang Pengembangan Sumber Daya pengader : Ihab Habudin
Jam’ul Hasani
Ilham Amaliyati
Abdul Muizzu

Bidang Ukhuwah dan Jaringan : Mukhamad Habibi
Lukman Hakim
Muhammad Irfandi



12 November 2008

Menuju Kesadaran Tunggal

oleh: Maksun

Pendahuluan
Dalam perspektif Islam disebutkan bahwa manusia sesunguhnya terikat perjanjian primordial dengan Tuhan yang mendasari kehidupannya sendiri. (QS. Al-‘Araf 171-172). Hal itu terjadi ketika manusia masih berupa embrio yang berada dalam rahim. Saat itulah Tuhan mengambil kesaksian manusia tentang prinsip-prinsip ketuhanan.

Karena itulah seperti yang yang dinyatakan Syekh Suhrawardi Al-Maktul (pendiri filsafat israqiyah/iluminasi) bahwa dalam diri manusia terdapat sesuatu yang disebut akhirat al-azaliyah (olahan abadi) yang merupakan landasan eksistensial manusia. Hanya saja keberadaannya tersembunyi karena tumpukan fenomena kehidupan di dunia ini.

Dari diskripsi di atas sesungguhnya manusia sejak awal memiliki keyakinan terhadap Tuhan yang dalam Islam dikenal dengan Tauhid.

Apa yang kita pahami dari konsep tauhid sebagai prinsip dasar muslim sesungguhnya adalah upaya membangun kesadaran tunggal. Konsep tentang tahid meniscayakan adanya kesatuan wujud. Dengan konsep ini kita tidak semata meyakini bahwa Allah itu satu, tetapi juga meyakini realitas adalah satu juga, atau tunggal. Konsekwensi logis dari pemahaman tersebut adalah apa yang nisbi bukanlah realitas. Dia dinamakan realitas justru hanya karena dinisbatkan kepada Tuhan. Dus, segala aktivitas yang disandarkan selain Tuhan, maka itu bentuk “kemusrikan intelektual”, dan itulah noda besar yang tak termaafkan bagi kesucian Tauhid.

Sayyed Naquib Al-Atas menyatakan bahwa “hutang eksistensial” manusia tersebut-saat melakukan perjanjian primordial- hanya bisa ditebus jika manusia hidup untuk menghambakan (pasrah/ber-islam) hidupnya semata-mata kepada Allah. Sedangkan Ali Syariati memberikan gambaran aligoris tentang ibadah shalat yang menghadap kubus kosong (ka’bah), yang mengisyaratkan proses “peniadaan ego” dan kepentingan diri manusia, karena sesungguhnya yang benar ada (wujud mutlak)_ semata-mata hanya Allah.

Kalau kita kembali kepada posisi manusia di bumi yaitu tidak lain sebagai seorang hamba yang mengabdikan seluruh hidup kepada-Nya, maka keagungan kita tidak akan bisa terpahami tanpa keterkaitan denganTuhan. Bila ridha Tuhan tidak menjadi pusat orientasi kita dalam menjalani kehidupan ini, maka kualitas hidup kita akan menjadi rendah. Dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir, kita akan terbebaskan dari derita alienasi, karena Tuhan adalah pesona yang Maha Hadir dan Maha Mutlak. Eksisitensi yang relatif akan lenyap kedalam ekistensi yang absolut. Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan akan membuat kita selalu memiki kekutan, pengendalian sekaligus kedamaian, sehingga merasa dalam orbit Tuhan, tidak dalam orbit dunia yang tidak jelas jluntrung-nya.

Sikap berserah diri kepada Tuhan tersebut secara inheren mengandung berbagai konsekuensi. Pertama, konsekewnsi dalam bentuk pengakuan yang tulus (ihklas) bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang mutlak. Pengakuan ini kelanjutan yang mutlak, yang menjdai sumber semua wujud mutlak, yang menjadi sumber semua wujud yang lain.

Konsekwensi kedua dari prinsip ketuhanan adalah bahwa umat manusia seluruh dunia adalah sama dari segi harkat dan martabat asasinya. Tidak seorangpun berhak merendahkan manusia yang lain, karena semuanya adalah sama di sisi Tuhan, kecuali takwanya. Tidak ada yang berhak menindas sesama manusia kecuali Tuhan.

Di sinilah fungsi ita sebagai “abid” (hamba). Maksudnya adalah kita mengembalikan segala aktivitas yang kita lakukan hanya ditujukan kepada Tuhan, ini konsekwensi logis dari persaksian kita, la ilha illallah (transendensi). Tiada yang berhak dijadikan sandaran di dunia ini kecuali hanya Allah.

Tetapi ternyata Tuhan tidak hanya menjadikan manusia sebaga hamba yang mengabdi kepadanya, melainkakn Tuhan juga memberikan tanggungjawab kepada manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi, inilah peran kita. Dan karena itu, sebagai mandatarisnya di muka bumi, maka nilai ilahiyah (implikasi dari keyakinan kepada Tuhan bahwa manuisa adalah hamab) tersebut harus memberi maslahah kepada manusia lain (kemanusiaan). Keyakinan demikian meupakan koneskwensi logis dari persaksian kedua kita Asyhadu anna muhammadar rasulullah.
Hanya saja dalam menjalani peran yang kita lakukan-dokter-pedagang-insinyur, ekonom, nelayan, petani atau apapun- itu adalah semua perintah Tuhan dan harus dioreintasikan hanya kepada Tuhan. Maka tanggungjawab kita adalah menjalani peran-peran tersebut dengan sebaik-baiknya (amanah), selama hal itu mendorong proses aktualisasi Tauhid, misi kekhalifahan dan kebebasan kita. Karena itu, apakah dan bagaimanakah kehidupan di dunia atau peran kita baik atau buruk, sangat tergantung sejauh mana kita bersignifikansi dengan proses aktualisasi orientasi dan misi kita hidup di dunia.

Implikasi Keyakinan Muslim
Keyakinan muslim tidak berhenti pada keyakinan pada Tuhan an sich. Dalam artian keyakinan tersebut tidak mempunyai implikasi terhadap diri dan lingkungan sosialnya. Tetapi keyainan tersebut harus menjadi landasan kebudayaan dalam rangka perubahan sosial kemanusian. Seperti Muhammad SAW, ketika beliau sampai pada puncak spiritualitasnya , naik ke langit tertinggi, bukannya malah berpaling dari tanngungjwab kemanusiaannya, melainkan terjalin hubungan antara kehendak suci dari langit dengan orientasi manusia di bumi. Dengan kata lain, spectrum Ilahi dengan spectrum kemanusian di sisi lain secara metafisis tidak di letakkan dalam ruang yang kita pahami dalam hidup keseharian. Tetapi keduanya menyatu dalam kesadaran, sehingga bagi seseorang yang sampai pada tingkatan spiritualitas tertentu, perilaku kemanusiaanya merupakan cerminan dari kualitas ilahiyah.

Kesadaran akan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan dalam diri kita adalah suatu keniscayaan. Keduanya tidak bisa dipisahkan, bersifat integrlastik. Inilah prinsip dasar tauhid. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa aktivitas atau peran yang kita lakukan tanpa menjadikan Tuhan sebagai orientasi atau titik pusat, maka kualitas aktivitas hidup kita menjadi rendah. Begitu pula sebaliknya, jika hubungn ketuhanan kita tinggi sementara sisi kemanusian kita rendah bahkan tidak memilki implikasi sosial sama seklai, maka kita sebenarnya hanya sedang beragama tetapi tidak ber-Tuhan (kafir).

Kesadaran kita tentang Tuhan pada tingkat tertentu, akan memanifestasi dalam aksi kebudayaan kita. Laku kita menjadi laku Tuhan, omongan kita menjadi omongan Tuhan. Kalau Tuhan memiliki Al-Khaliq, (Maha Pencipta), Ia mencipta dari tiada menjadi ada, maka kita harus mencipta pula dari ada menjadi lebih baik atau sempurna. Kalau Tuhan maha Ar-Raziq (Pemberi Rezeki), maka kita juga harus memberi rezeki kepada orang lain, bukan malah menghalangi orang lain untuk mendapatkan rezeki. Jika Tuhan Ar-Rahman kepada siapa saja, kita juga harus memberikan rahman-rahim kita kepada siapa saja, sekalipun kepada orang yang memusuhi kita dan lain sebagainya. Seperti yang disabdakan Muhammad “takhalaqu bi akhlaqillah”, berakhlakalah dengan akhlak Tuhan. Dalam artian bagaimana kita menumbuhkan dalam diri kita sifat-sifat Tuhan.

Hanya saja pencapaian kesadaran tunggal atau komitmen ketuhanan dan kemanusian dalam diri kita itu sangat bergantung pada seberapa besar usaha kita mengakses caha Tuhan. Suhrawardi al-Maqtul menggambarkan realitas tunggal tersebut adalah cahaya (israq). Cahaya itu memebentang dari cahaya di atas cahaya (Nur ‘ala Nur) sampai cahaya yang paling redup. Semakin dekat kita dengan Cahaya Maha Cahaya, maka terangnya semakin cemerlang, aksi kebudyaan kita semakin baik dan semakin peka pula terhdap kondisi sosial. Sebaliknya, semakin jauh kita dengan cahaya-Nya, maka terangnya semakin redup. Cahaya yang paling redup adalah cahaya yang paling jauh dengan Tuhan, maka aksi kebudayaan yang kita lakukan bukan cerminan laku ilahiyah sehingga tidak memeberi maslahah bagi orang lain , tetapi malah memberi madharat.

Di sini ketuhanan dan kemanusian adalah poros untuk mengevaluasi prilaku kita. Dengan meminjam teori cerminnya al-Ghazali, aktivitas kemanusian yang tidak diterangi cahaya keilahian bagaikan orang yang berjalan di lorong gelap. Sebaliknya, orang yang dekat dengan cahaya Tuhan tetapi tidak menumbuhkan nilai agung ketuhanan dalam dirinya , bagaikan iblis.

Bagimana Menuju Kesadaran Tunggal
Tuhan adalah realitas yang mutlak, maka ia tidak mungkin diketahui. Yang bisa kita lakukan adalah usaha terus menerus dan penuh kesungguhan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Hal ini dilakukan dengan melakukan amal perbuatan. Dalam amal itulah kita mendapatakan eksistensi dan esensi diri-Nya. Dan dalam amal yang ikhlas itulah kita menemukan tujuan penciptaan diri kita, yaitu kebahagian karena pertemuan dengan Tuhan dengan mendapatkan ridha-Nya.

Sebagai jalan manusia untuk menyempurnakan jati diri itu, Tuhan jnuga menampilkan diri melalui “berita” (baca: Al-Quran) yang dibawa nabi dalam bentuk kualitas moral. Melalui persepsinya terhadap kualitas Ilahi, seperti sifat kasih sayang, pengampun, adil da lainnya dan kita mengerti nilai tersbut dengan penghayatan yang intensif, maka akan membukakan jalan dalam diri kita nilai tersebut untuk diinternalissasi. Manusia tidak akan menjadi tuhan, tetapi dengn rasa ketuhanan yang mendalam ia tumbuh menjadi makhluk akhlaki yang meresapi unsur kualitas ilahiyah.

Meskipun perjuangn manusia menyempurnakan jati dirinya berpedoman kepada Tuhan dan menuju kepada-Nya, namun tidaklah berarti untuk kepentingan Tuha, melainkan untuk kepentingn diri manusia sendiri. Karena itu kita harus mengaktualisasikan diri dalam sikap hidup yang menempatkan diri sebagai bagian dari kemansuiaan universal, dan dengan nyata menunjukan kepedulian kepada kehidupan manusia yang lain.

Hanya saja, untuk membangun kepedulian dan kecintaan terhadap kemanusiaan, kia harus mengenal diri kita sendiri. Jika ini gagal kita lakukan, maka mengenal orang lain juga gagal. Menarik ajaran klasik yang mengatakan bahwa kita hanya dapat memahami orang lain (sisi kemanusiaan), jika kia mengenal diri kita. Bahkan kitannya dengan Tuhan pun, Nabi pernah besabda “siapa yang mengenal diniya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Jadi pemahaman mengenai yang lain akan bergantung pada pemahaman kita mengenai diri sendiri. Tanpa kerja batin ini atau berhubungna dengan kekutann yang lebih tinggi yang tidak dapat dimanipulasi sebagai basisi aksi kebudayaan, maka kehidupan mansia akan penuh dengan pengobjekan orang lain, manipulasi, penindasan, dan kekejaman yang muncul bukan saja hanya karena kita mengenal batin orang lain, tetapi justru kita tidak mengenal diri sendiri.

Dari gambaran di atas jelas sekali bahwa menuju kesadaran tunggal adalah dengan jalan “mensemesta”. Maka, mensemestalah!!! Di situ kamu akan menemukan Tuhan dalam bentuk eksistensinya (Wujud). Kita hanya bisa sampai mengenalnya lewat wujudnya yang berserakan di semesta ini. Sedangkan esensinya (mahiyah) hanya Tuhan sendiri mengetahuinya. Wallahu ‘alamu bishshawab.

Maksun: Pecinta Ilmu dan Kebijaksanaan.

27 Oktober 2008

Membangun Surga

Oleh: Muhammad Al-Mahbub

Al-Quran bukanlah kitab sejrah, kitab dongeng atau semcam primbon, meskipun kita mendapati ayat-ayt di dalamnya menceritakan tentang umat-umat terdahulu, seperti kisah kaum Ad, Tsamud, Negeri Tsaba, atau kisah-kisah umat nabi-nabi lainnya. Al-Quran juga menceritkan tentang kekalahan Romawi oleh tentara Parsi. Selang beberpa masa, Romawi ternya memeperoleh kemenangan sebagaimana dikabarkan oleh Al-Quran. Selain itu Al-Quran juga memeberikan gamabaran akan kehidupan-kehidupandi masa mendatang (eskatologi).

Perlu diingat, bahwa hal-hal tersebut bukanlah inti dari pewahyuan Al-Quran. Tujuan pewahyuan Al-Quran adalah sebagai petunjuk (huda) dan penjelas (bayan) dari apa yang harus dilakukakn manusia. Quraishshihab membagi fungsi petunjuk Al-Quran ini ke dalam tiga hal, yaitu petunjuk tentang akidah dan kepercayaan(tauhid), petunjuk mengenai akhlak murni (etika) dan petunjuk yang berkenaan dengan syariat. Manakala Al-Quran becerita tentang peristiwa-peristiwa masa lampau atau pun masa akan datang semata-mata sebagai petunjuk bagi manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Sebagai muslim haruslah kita mengimani apa yang telah diberitakan oleh Al-Quran, terlepas dari bagaimana bentuk penafsiran kita yang beragam.
Begitu juga ketika Al-Quran bercerita tentang proses penciptaan dan kejatuhan Adam AS, bapak manusia. Tidak lain adalah bagiamana kita bisa mengambil hikmah di dalamnya.

Proses penciptaan Adam terlebih dahului diawali dengan dialog Tuhan dengan malaikat. Atau lebih tepatnya, Tuhan telah terlebih dahulu membeitahukan rencana penciptaan Adam kepada malaikat. “dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, sesunguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi, malaikat pun berkata: apakah engkau akan menjadikan makhluk yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah, sedangkan kami selalu bertasbih kepada-Mu dan selalau mensucikn-Mu. Kemudian Allah berfirman: sesungguhnya aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 30).

Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahw tujuan penciptaan manusia selain sebagai hamba yang secara totalitas mengabdikan diri kepada-Nya, juga sebaga khalifah yang menjadi mandataris Allah untuk memakmurkan muka bumi.

Pertanyaan yang menarik adalah, jikalau memang manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi, mengapa harus melalui proses kehidupan surga, yang kemudian karena tipu daya Iblis Adam dan Hawa harus terlempar ke bumi? Jika kita berkata bahwa itu adalah semata-mata kehendak Allah benar adanya. Namun satu hal yang perlu diingat adalah, Allah melakukan semua itu tentu tidaklah sia-sia, tanpa maksud tertentu. Bukankah Allah menciptakan sesuatu juga tidak sia-sia. ada udang di balik batu. Ada kepentingan Allah di sana. Ada hikmah dari semua peristiwa tersbut.

Surga dalam Al-Quran selalu disandarakan pada gambaran tentang kehidupan yang penuhdengan kenikmatan, kesenangan yang tiada henti. Surga lasana sebuah taman yang indah yang bertaburan bunga-bunga nan wangi. Mengalir di bawahnya sungai yang jernih. Pohon-pohon buah-buahan tumbuh subur dengan buahnya yang randum yang jika kita menginginkannya tinggal memetik begitu saja, tanpa harus bersusah payah. Gelas-gelas dan piring terbuat dari emas dan perak berisikan makanan dan minuman yang lezat melebihi kelezatan sewaktu di dunia. Pakaian ahli surga terbuat dari sutra yng indah-indah, sedangkan ahlu surga selalu ditemani bidadari yang selalu perawan.

Demkianlah Al-Quran memberikan gambaran tentang surga dengan sesuatu yang bersifat materi sehingga ketika kita membaca ayat-ayat Al-Quran yang terlintas dalam benak kita adalah segala kenikmatan. Dan tentulah terbesit dalam hati kita untuk segera berada di tempat tersebut. Dalam ayat lain dijelaskan pula bahwa surg adalah satu tempat yang di dalamnya tidak pernah ada kata-kata yang sia-sia (lagw), tidak ada kebohongan (kadzb), tidak ada umpatan, tiada tangis, tiada penderitaan, tiada ketimpangan. Itulah surga, di aman konon Adam pernah tinggal di dalamanya sebelum terlempar ke bumi, tempat yang jauh berbeda dengan surga. Kehidupan yang berteman dengan kerasnya alam, yang kemudian menjadi tempat tinggal anak cucu Adam (manusia). Dan inilah permata hikmah tersebut.

Singgahnya Adam di surga adalah bagian dari tarbiyah yang Alah berikan kepadanya. Tugas manusia sebagai khalifah adalah menjalankan titah Allah untuk memakmurkan bumi. Utuk itu dibutuhkan satu pengalaman yang nantinya digunakan untuk menjalankan tugasnya tersebut. Dalam proses tarbiyah inilah, Allah memberikan gambaran kehidupan yang ideal, yang dengan itu dihaarapkan manusia mamapu menciptkan satu kehidupan yang yang harmonis, kehidupan surgawi.

Indunisia qith’atu minal jannah nuqilat ila al-radl. Demikanlah ungkapan Syekh Shaltuth, seorang ulama besar Mesir ketika dia berkesempatan untuk mengunjungi Indonesia. Indonesia adalah serpihan surga yang diangkat dan dipindahkan ke bumi. Memang gambaran yang terdapat dalam Al-Quran tersebut menjelma dalam alam Indonesia ini. Air yang jernih mengalir mengikuti sungai-sungai yang meleok-leok membelah hutan yang rimbun, atau menyusuri tepian perkampungan. Flora fauna yang beraneka ragam dan keindahan alam lainnya terdapat di bumi pertiwi yang kaya raya ini. Itu karena buminya yang subur, dank arena suburnya, kata Koes Plus, tongkat kayu pun menjadi tanaman. Ikan pun menghampiri jala nelayan karena begitu kayanya laut kita.

Namun sangat di sayangkan, serpihan sorga itu kini telah terkoyak laksana kapal-kapal Adipati Unus yang diterjang oleh peluru-peluru meriam Portugis. Seperti rumah yang hancur oleh terpaan angin puting beliung. Air sungai yang dulu jernih kini berubah warna menjadi hitam dan bercampur limbah industri atau konsumsi runah tangga. Tak jarang kemudian meluap membanjiri kota-kota dan perkampungan. Tak ada lagi lambaian bayur yang merayu manja di bawah kepakan sayap burung-burung yang beraneka warna. Karena tanaman itu telah berganti ilalang. Zamrud itupun tiada Nampak lagi, entah kemana menghilangnya, yang Nampak adalah barisan gunung yang gundul tiada berambut. Burungpun enggan dan tak sempat bernyani karena diburu oleh rasa takut akan kematian.

Kondisi masyarakatnya pun bertolak punggung dengan masyakat madani, apalagi surgawi. Masyarakatnya yang dulu dikenal sebagai masyarakat yang santun, ramah, dan menjunjung tinggi toleransi, kini berubah menjadi masyarakat yang buas, saing membunuh, saling sikut, saling tendang, saling menipu, saling mencurigai. Hal tersebut tak lain hanya untuk kepentingan pribadi, kepentingan materi. Dan selalu, yang merana adalah orang-orang yang lemah. Mereka yang menjadi umpan dari karakusan orang-orangyang serakah, mereka yang tertabrak kepentingan para pemburu materi, mereka yang tergilas oleh kebijakan struktural. Padahal mereka lahir di negeri ini, mereka lahir di bumi ini, mereka adalah manusia anak cucu Adam yang dizhalimi oleh saudaranya sendiri.

Sudah saatnya kita membangun kembali serpihan surga ini, membangun dengan kesadaran bahwa di sinilah kita dan anak cucu kita lahir dan dibesarkan, hidup dan tinggal, lalu mati. Mari kita benahi taman ini tanpa harus meruskanya dengan kerakusan kita, dengan terlebih dahulu memebenahi diri kita, hati kita. Cara pndnag kita terhadap Tuhan alam dan sesama manusia. Kita jalin pergaulan sebagai manusia, sebagai sesama makhluk Tuhan yang tidak sedikitpun berbeda di depan-Nya. Kita benahi masyarakat kiat, bermula dari keluarga kita, masyarakat yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Masyarakat yang terbebas dari penyakit kesia-siaan, (laghw), kedustaan (kadzb), ketamaakan dan penyakit kedirian lainnya yang menafikan kita sebagai makhluk Tuhan, kita bangun keharmonisan sehingga negeri ini kembli menjadi serpihan surga yang terlempar yang kemudian akan kembali ke surga dan pemiliknya. Satu negeri yang dalam isitlah qurani baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.