SELAMAT DATANG DI CYBER MEDIA KP HMI CABANG YOGYAKARTA

18 Februari 2012

Muhammad Zuhri; Guru Pengantar Jalan Pulang


Oleh: Zubairi (Anggota KPC HMI Yogya)


Sufi is love, beauty and harmoni
(Pak Muh)

Pak muh, sapaan akrab para murid Muhammad zuhri. Menurutnya, Islam adalah ajaran Nabi Muhammad pertama. Addinul Islam. islam juga bersumber dari seorang nabi penutup, Muhammad. Islam juga diajarkan melalui wejangan satu, dari dawuh Muhammad.
Islam disampaikan dengan kalimat yang sama kepada sahabat yang empat, Abu bakar Asshiddiq (Pembenar), Umar al-Faruq (pembeda antara haq dan batil), usman bin affan (dermawan) dan Ali Radhiallahuanhu (ridha dari Allah), tetapi menjadi pribadi-pribadi yang berbeda.


Pak muh, menyampaikan bahwa Islam harus kembalikan sebagaimana islam pada awalnya diajarkan. Ketika orang sudah melakukan ibdah dalam islam, sholat misalnya, akan menjadi sosok yang benar-benar menjadi diri sendiri mengungkapkan potensi dirinya. Dengan begitu, tidak ada orang yang beribadah tak berubah lebih baik.
Meski kenyataannya, ada islam garis keras, islam moderat, islam liberal, islam tarikat, islam fiqh dan banyak lainnya. Padahal kata pak muh, Islam itu satu yang mengandung semua itu. Tidak membeda-bedakan. Rukun Islam dan rukun Imannya juga sama.
Tidak ada yang beda. Semua manusia harus disayangi sebagaimana diri sendiri. Alam semesta harus dijaga untuk keberlanjutan semesta lebih baik.rahmatan lil alamin. Islam diberikan kepada Nabi Muhammad bukan hanya untuk orang Islam saja, tapi untuk semua. Berarti bukti kenrislaman kita menghormati orang islam dan orang di luar islam. sama.
Dalam pengajiannya, pak muh ingin mengajak manusia menjadi hamba dengan melakukan amal kebaikan (amal soleh). karena dengan amal sholeh tersebut manusia akan mengetahui jalan pulang, innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Makanya, setiap manusia mempunyai jalan (tarekat)-nya masing-masing, tentu melalui amal soleh. karena amal soleh adalah respon (situasi dan kondisi) peristiwa agar peristiwa tersebut bisa mengembangkan diri dan orang sekitar.
Tarekat yang pak muh maksud, bukan tarekat kelembagaan, itu sah-sah saja selama sambil melakukan suluk tarekat bisa berkembang baik secara diri dan kontribusi kepada lingkungan untuk berkembang. Semua itu tidak lain, hanyalah mencari jalan pulang, ma’rifat kepada Allah yang lebih cepat.
Topik Utama
Pak Muh, adalah guru ngaji yang mengajarkan pencerahan, baik secara akal dan ruhani. Tak heran, jika dalam penyampaian yang lembut, mengajak peserta untuk berpikir sekaligus merenung. Keputusan tetap dimasing-masing individu peserta.
Memang, banyak muridnya mengatakan bahwa penyampaian pak muh penuh filosofis dan hikmah yang mengatarkan muridnya menjadi diri sendiri, sebagai hamba sekaligus kholifah.
Pak muh lahir 21 Desember 1939 dan wafat 18 Oktober 2011, jadi tutup usia beliau berumur 72 tahun. Pak muh membimbing kumpulan pengajian yang diberi nama Barzakh, terakhir meliputi Jakarta, Bandung, sragen dan dirumahnya, sekarjalak Pati. Pengajian ini sudah rutin hampir dua belas tahun.
Sebagaimana seorang guru yang lain, pak muh juga menerbitkan karya, itupun karena banyak muridnya yang memaksa dituliskan agar bisa dibaca orang lain yang belum pernah bersentuhan langsung dengan pak muh. Karyanya antara lain, Qosidah Cinta, diterbitkan pustaka. Langit-langit Desa, diterbitkan Mizan. Nama Allah yang ke Seratus, diterbitkan Serambi. Dan terakhir, Hidup lebih bermakna diterbitkan Serambi.
Topik utama pak muh hanya tiga hal, ketauhidan. Kenyataan dan kemungkinan. Pertama, ketauhidan. Bagaimana muridnya memahami, menghayati dan melaksanakan ketauhidan dalam kehidupan nyata. Kedua,Kenyataan. Hidup haruslah bersama-sama orang lain. Menanggapi fakta sebagai kenyataan terbaik yang harus direspon secara positif dan menerima dengan suka rela.
Ketiga,Kemungkinan. Sesuatu yang masih belum terjadi, masa depan dan penuh dengan misteri. Dengan begitu, manusia harus menjalani hidup sebaik mungkin agar kemungkinan yang terjadi juga sebaik mungkin.
Berbagi Ajaran

Manusia adalah ciptaan yang terbaik, lebih penting dari semua hal, Semua hal yang ada dalam semesta. Maka penghormatan kepada manusia harus didahulukan dalam kondisi dan situasi apapun. Kesadaran ini haruslah dipunyai setiap orang, di rumah, ke pasar, kuliah, kantor dan sebagainya.
Kalau melihat segala sesuatu, kita sebagai manusia dilarang mencela apalagi berkata buruk, terlebih lagi mengutuk baik secara lisan maupun hati. Semua kenyataan memberi ‘tanda’ kepada kita untuk tidak meniru, karena segala hal yang kurang baik hakikatnya memberi pelajaran kepada kita agar lebih baik.
Apapun yang diberikan Allah kepada manusia merupakan sesuatu yang terbaik dibandingkan dengan sesuatu yang belum diberikan. Menerima dengan mengucap “ini yang terbaik buat saya saat ini”.
Kita harus sadar bahwa apa-apa yang enak adalah pemberian Allah kepada manusia untuk memperbaiki jasmani (fisik), begitu juga sebaliknya, hal-hal yang kurang enak merupakan upaya Allah memperbaiki ruhani manusia. Bukankah agama kita mengajarkan bahwa ruhani lebih penting dari jasmani!.
Bila diri kita baik, jagad raya akan baik. Orang baik akan dikumpulkan dengan orang-orang yang baik. Makanya kita tidak usah mikir yang panjang, muluk-muluk, apa-apa yang kita ‘ngerteni’-ketahui- kita aktualkan menjadi kenyataan agar kita mengerti ada nilainya atau tidak.
Dari mengetahui, manusia menjadi sadar. Dari kesadaran, manusia berubah menjadi gerak. Dari gerak, berubah menjadi energi. Dari energi, berubah menjadi nilai. Dari nilai, berubah menjadi potensi. Dari potensi, berubah menjadi amal soleh.
Dengan begitu, kebaikan yang kita miliki harus diselalu ditransformasikan kepada yang lain, agar kita dapat kebaikan yang lebih. Wong, awalnya kita saja yang menjalani kebaikan, kemudian ada dua, tiga dan seterusnya yang melakukan kebaikan niscaya semesta lebih baik.
Menilai kemampuan bukan pada jumlah yang kita miliki, tetapi sanggupkah kita merelakan kepemilikan kepada yang lebih membutuhkan dari diri sendiri. Dengan syarat, semua kemampuan harus dilandasi dengan rasa cinta kepada sesama dan pengabdian kepada Allah. Kita tahu, ibadah yang tak dilandasi cinta adalah hampa. Tidak bernilai.
Manusia dalam kehidupan nyata tak bisa lepas dari dua pilihan, sebagai subjek atau objek. Manusia sebagai subjek, kalau ia mau melakukan, berbuat dan bertindak nyata. Manusia akan menjadi objek bila manusia berada dalam keadaan diluar sebagai subjek makanya harus rela. Ikhlas.
Seseorang yang memiliki keyakinan Allah yang ahad (satu) akan memahami bahwa semesta adalah ciptaan, tumbuh-tumbuhan adalah ciptaan, hewan adalah ciptaan dan manusia juga adalah ciptaan. Tapi ada yang tidak ciptaan dalam diri manusia yakni Ruh.
Allah berfirman dalam al-Qur’an ” Aku tiupkan ruh-KU kepada mu ”. Jadi ada sisi ketuhanan dalam diri manusia yang tidak disadari. Tak salah, jika manusia diperintahkan selalu menjalankan kebaikan. Karena dengan menjalani kebaikan akan mempercepat liqa’ (bertemu) dengan Allah. Sebagaimana firman Allah kirang lebih berbunyi “Barang siapa ingin bertemu dengan Allah maka berbuatlah amal kebaikan”.
Walaupun begitu, dalam hidup sehari-hari, berbeda itu sakit. Wajar, jika sesama manusia harus saling melengkapi, saling memberi dan saling membutuhkan. Makanya interaksi penting untuk saling mengerti. Dan dalam interaksi ada penderitaan, tidak suka, mau menang sendiri, tidak mau mengalah dan sebagainya. Tetpi yang harus kita mengerti adalah melalui interaksi manusia didewasakan Allah.
Memang, Dalam setiap peristiwa sehari-hari, sering sekali akal tidak mampu merespon kenyataan dengan baik, lalu bagaimana? Karena ketidakmampuan akal itulah kita harus mempunyai pijakan, yakni berpijak ingin mengabdi kepada Allah. Itulah yang disebut Amr (perintah)
Allah senantiasa menyapa hambanya dalam bentuk Perintah. Manusia yang sensitif akan merasa dan mudah merespon perintah itu dengan baik bukan malah membela diri. Buktinya apa? Baru jelas itu kemauan Tuhan jika dalam melaksanakan itu sakit. Berat.
Semua itu, tidak lain, Allah ingin mengajak manusia pulang ke rumah sebenarnya, yakni Allah Swt.
Sebagai penutup, kami sajikan tulisan hikmah pak muh dalam buku langit-langit desa; Guru yang lebih sempurna.
Ketika seorang guru hampir meninggal, semua keluarga dan murid-muridnya menangis di sisi tempat tidurnya. Karena perbuatan itu tidak layak dilakukan, guru mereka berkata menghibur:
"Tidak perlu kalian menangis! Aku sudah biasa menjenguk rumahku disana. Bersih, terang dan luas. Sungguh menyenangkan sekali tinggal disana!"
"Maaf guru! Kami sedang menangisi diri sendiri," kata seorang murid.
"Itu pun tak perlu! Karena kamu akan mendapatkan seorang guru yang lebih sempurna sebagai penggantiku" bujuk guru.
"Siapa dia? Katakanlah sekarang, guru! Kami berjanji akan mencarinya sampai ketemu!"desak murid.
"Dia adalah guru yang tak akan pernah mati!" tutur guru seraya memejamkan mata.
(Sekarjalak, 2-5-1992)

PENGADER, RAMADHAN, DAN MASYARAKAT CITA HMI

Pauzan Septiawan
(Tulisan ini sebagai syarat untuk mengikuti SC III Wonosobo 2008)

Bulan Romadhan di turunkan didalamnya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk dan pebeda antar yang haq dan bathil, barang siap yang menjumpainya hendaklah ia berpuasa.... ( Ayat )


HMI MPO sebagai oraganisasi perkaderan yang menerapkan sistem perkaderan dalam membentuk kader yang militan, intelektual, dan bermoral. Dan itu mempunyai peran yang sangat urgen bagi terwujudnya oraganisasi yang mapan dan turut memperkuat sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam perkaderan, kuwantitas sangat di perlukan, akan tetapi kuwantitas bukan segalanya dan yang sangat penting adalah kwalitas kader itu sendiri. Mengutamakan kualitas sebagai usaha untuk meningkatkan kwalitas indidvidu kader yang nantinya bisa di harapakn untuk bisa di transformasikan ke masyarakat luas. Dalam jenjang pendidikan umum di HMI melalui beberapa tahap, dari Basic Training (LK I), Intermediate Training ( LK II ), , dan Advance Training ( LK III ). Dan pendidikan khusus yakni Senior Course ( SC ), SC ini kemudian untuk mencetak para pengader-pengader yang tangguh yang dapat melahirkan kader-kader yang militan.
Pengader HMI adalah setiap kader yang telah melewati jenjang pendidikan LK I , dan untuk menjadi pengader yang punya legalitas dalam kepemnaduan dan berbagai pelatihan lainnya adalah kader yang telah melewati pase jenjang pelatihan LKI, LK II serta telah lulus dalam SC. Seorang pengader mempunyai peran yang sangat penting dalam proses perkaderan dan kemudian ini bisa dijadikan barometer bagi organisasi untuk menentukan kualitas organisasinya.

Orang-orang yang beriman telah di seru oleh Allah untuk melaksanakan puasa bulan Ramadhan ketika mereka bertemu dengannya, bulan yang senantiasa diharapkan kedatangannya oleh para mu’miniin di seluruh dunia. Sapaan Allah pun begitu indah didalam Al-Qur’an. Dengan bahasa yang sangat menghormati dan memuliakan mu’min Allah memanggil untuk melaksanakan kewajiban ini. Bulan ramadhan bukanlah hanya sebagi ritual agama saja, akan tetapi makna yang terkandung didalamnya sarat dengan kebajikan-kebajikan bagi seluruh umat manusia. Bulan ramadhan juga hendaklah menjadi sebuah moment yang tepat bagi terciptanya sebuah perubahan sosial yang ada di dalam masyarakat kita.

Perubahan zaman dari waktu ke waktu telah menyebabkan perubahan sosial yang ada di dalam masyarakat dan kondisi global yang yang ada di dunia. Tantangan-tantangan yang kita hadapi pun semakin beragam. Dengan kompleksitas problem tersebut ketika tidak disikapi dengan baik dan bijaksana akan dapat menjerumuskan kita kedalam keterpurukan.

Pengader HMI Dan Tanggung Jawab Kebangsaan
Bulan Romadhan selain bulan untuk berpuasa (Syahru As Shiyaam) ia juga merupakan bulan pendidikan (Syahru At Tarbiyyah), dimana pada bulan ini juga menjadi senuah moment yang sanghat baik untuk mendidik diri kita menjadi insan yang bertaqwa seperti yang telah di sebbutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan itu adalah kualitas yang tertinggi bagi seorang mukmin. Rosulullah SAW menjadikan bulan romadhan sebagai wahana untuk meningkatkan kualitas dirinya dan para sahabat, melalui halqoh-halaqoh kecil rosul SAW kemudian mengajarkan para sahabat akan keimanan kepada Allah, berbuat baik kepada sesama dan lebih dari itu, beliau juga mernacang bagaimana tatanan masyarakt yan gideal akan dapat terbentuk. Dan hasil dari apa yan telah rosulullah ajarkan telah tampak kemuadian dengan terbentuknya masyarakat Madinah yang hidup dengan damai dan sejahtera.

Kemudian kalau kita kontekskan dengan kondisi ke Indonesiaan sekarang, dimana dalam perjalanannya setelah reformasi mengalami banyak sekali krisis diantaranya adalah krisis pemimpin dan krisis moral. Tidak hanya itu saja, paradigma masyarakat yang sangat cenderung sangat diam dan menerima telah membuat kesadaran-kesadaran kritis akan kondisi sosial yang sangat tidak menentu telah hilang yang ini kemudian semakin memberi peluang bagi orang asing untuk dapat meng intervensi bangsa ini. Ditambah lagi dengan kondisi moral para bapak-bapak besar yang ada di pemerintahan yang sangat mementingkan pribadi mereka. Semakin mirislah kita membayangkan hal ini.

Pengader, yang mempunyai amanah yang sangat besar untuk melakukan perubahan melalui pelatihan-pelatihan yang ada di jenjang pendidikan HMI kemudian mempunyai tanggung jawab yang besar pula untuk menciptakan perubahan bagi bangsa Indonesia. Dan Romadhan menjadi bulan yang sangat penting untuk dijadikan sebgai stasiun atau titik tolak sebagai langkah awal bagi perubahan tersebut. Pendidikan yang berkualitas bagi kader
HMI adalah tanggung jawab bagi pengader, dan nantinya itu bisa berimplikasi pada masyarakat sekitar bahkan lebih luas lagi bagi bangsa kita.

Paulo Freire, seorang pakar pendidikan telah mengatakan bahwa pendidikan yang humanis akan sangat berpengaruh untuk merubah paradigma berfikir masyarakat untuk menjadi lebih kritis terhadap lingkungan sosial, dan pendidikan tersebut telah di contohkan oleh Rosulullah dan para sahabat melalui halaqoh-halaqohnya. Dan ini terbukti sangat efektif untuk melakukan penyadaran penyadaran bagi masyarakat dan tatanan masyarakat yang diharapkanpun bisa terwujud. Romadhan, sebagi bulan yang didalamnya terdapat beribu kebaikan dan keberkahan akan menjadi stasiun yang sangat efektif untuk membekali diri kita dengan berbagai bekal pengetahuan dan wawasan yang kemudian dengan bekal tersebut dapat menjadi stock perbekalan selama menjalani perjalanan yang sangat panjang.

Ajaran Rosulullah tersebut sangat efektif untuk diterapkan didalam organisasi HMI MPO, melakukan penyadaran melalui halaqoh yang dibimbing oleh seorang pengader atau lebih, yang didalamnya terjadi aktivitas pembelajaran, diskusi, introspeksi dan kemudian dapat merancang agenda-agenda besar yang memungkinkan untuk di terapakan di tengah-tengah masyarakat. Bimbingan dan pendampingan ini pula yang kemudian dapat menyadarkan masyarakat dari ketertindasannya, lebih dari itu kemudian kita berharap dengan proses perkaderan juagalah masyarakat dapat bersuara lantang menyuarakan hak-haknya yang selama ini telah di dzholimi.

Masyarakat cita HMI yang menjadi tujuan dari segala proses ini tidak akan dapat terwujud ketika individu-individu yang ada di dalamnya tidak mencerminkan seorang pengader yang baik. Sebagai kholifah Allah di muka bumi ini, seorang pengader harus mempunyai sifat-sifat yang dapat menjadi contoh yang baik bagi para kader dan masyarakt luas. Sifat sebagi seorang pemimpin, pendidik, pejuang dan juga sebagai seorang masyrakat yang hidup dalam lingkungan sosial. Dan perjuangan yang dilakuakn oleh seorang pengader tidak tanpa aral dan duri yang merintang, butuh perjuangan yang sangat gigih serta kesabaran yang tinggi untuk dapat melewati hal-hal terebut. Dan semoga dengan bulan Romadhan ini menjadi sarana yan baik bagi pembentukan diri pengader dalam membina dirinya menjadi insan ulil albab, dan dengan romadhan juga cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang ideal dapat terwujud. Amiien...

“Keteladan Pengader dalam Menjaga Amanah Perkaderan dan Perjuangan HMI”

“Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut” Allah.
(QS.al-Ahzab/33:21)

”Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga : Bila berbicara ia bohong, bila berjanji ia ingkar,
bila diberi amanah dia khianat”
(HR.Bukhari Muslim)

Negara Indonesia kini sedang dilanda krisis multidimensi, meskipun sedang bangkit meyongsong kehidupan yang lebih baik. Sebagai sebuah bangsa besar, menurut beberapa tokoh negara ini sepertinya sudah diambang jalan terjal ketidak-menentuan karena kegalauan para pemimpinnya. Banyak sekali persoalan keummatan dan kebangsaan yang datang silih berganti tanpa ada hasil penyelesaian yang baik. Belum lagi para pemimpin di negeri ini banyak yang tidak menjalankan peran dan fungsi kenegaraannya dengan sebaik mungkin. Suap dan korupsi dimana-mana, ditambah lagi tabiat, perangai serta prilaku beberapa dari mereka sudah di luar kewajaran (tuna moral). Seakan-akan kita mulai bingung untuk memilih seorang pemimpin bangsa untuk dijadikan suri tauladan, dipercaya dan layak diikuti.


Salah satu krisis yang juga melanda negara kita tercinta saat ini yaitu, krisis keteladanan. Mengutip pendapat Anies Baswedan; bahwa para pengurus republik ini memang sukses membangun kekesalan kolektif dan menanamkan pesimisme sehingga mereka juga layak menuai kekecewaan dari masyarakat. Lain daripada itu juga; Harapan, kepercayaan, pengertian, toleransi, kesabaran, dan pemakluman rakyat habis untuk dikuras (Kompas, 25/7/11). Bahkan beberapa pengamat menganggap Negara kita dianggap sudah diambang ancaman sebagai negara gagal karena tidak bisa berfungsi dan berperan sebagai entitas sebuah Negara. Oleh karenanya sekarang, kita membutuhkan seseorang yang bisa menjadi contoh yang baik dan mempunyai integritas atau uswah hasanah seperti halnya rasulullah SAW.
Kalau kita telaah lebih dalam, sebagai pemimpin umat rasulullah betul-betul memberikan contoh bahwa lisan dan perilaku beliau selalu selaras dengan komitmen dan janji-janjinya sedari beliau masih muda. Maka tidak heran, belum menginjak dewasa beliau sudah diberi gelar oleh penduduk quraisy dengan sebutan “Al-Amin” yang artinya dapat dipercaya. Disamping itu terdapat pula sifat-sifat kenabian yang tercermin dalam diri beliau yang lama menjadi aras idealita dan pri hidup umat muslim hingga kini, yaitu; Shidiq, amanah, tabligh, fathanah. Berkat kualitas dan citra diri tersebut beliau dapat mempengaruhi orang lain, sukses menjadi seorang pemimpin besar, dan dicatat namanya dalam sejarah dunia. Tak heran, salah seorang penulis barat; Michael W Hart, bahkan menempatkan beliau peringkat pertama 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.
Keteladanan Seorang Pengader HMI
Keteladanan berasal dari kata teladan yang artinya hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh. (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 2000:619). Keteladanan dapat diartikan wujud dari usaha yang dilakukan seseorang dengan sadar tercermin pada sikap perilaku untuk mencapai tujuan tertentu. Keberhasilannya dapat diukur dengan indikator perubahan perilaku orang yang menjadikannya figur panutan menjadi selaras seimbang sesuai dengan tujuan tertentu yang dikehendaki (Utami, 2000). Akan tetapi keteladanan bukanlah sekedar teori ia adalah realita yang harus dihadirkan dalam kenyataan (aktualisasi dan transformasi). Oleh karena itu Keteladanan merupakan bagian yang cukup penting dalam proses kehidupan keluarga, bermasyarakat dan berbangsa.
Begitu pula ketika kita berbicara tentang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Organisasi yang mendakwahkan dirinya sebagai wadah perkaderan dan perjuangan, sudah barang tentu harus memperhatikan aspek pendidikan transformatif tadi berbasis keteladanan. Karena dalam sejarah perjalanannya, HMI adalah organisasi komunikasi dan tempat berkumpulnya mahasiswa Islam akan tetapi karena pergolakan drastis bangsa ini di bidang politik, ekonomi, sosial ikut mempengaruhi dinamikanya dan menyebabkan tugas-tugas organisasi semakin kompleks. Sehingga pada masa Ismail Hasan Metareum (periode 1957-1960) HMI berubah fungsi menjadi organisasi kader atau “Perangkat Penyaring” dan tempat berlatih “Kawah Candradimuka” (Tawang Alun; 1990: 29). HMI pun mulai melakukan semacam pemilihan, penyaringan, pengolahan, dan pembinaan bagi para anggota dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada masa depan dengan memperhatikan asas-asas ketaqwaan, kejuangan, keummatan, kesinambungan, kemandirian, persaudaraan, dan asas keteladanan.
Akan tetapi, untuk menyukseskan proses perkaderan yang baik dan efektif diperlukan suatu komponen utama yang selalu siap berjuang dalam kondisi apapun untuk mewujudkan tujuan organisasi. Dia adalah pengader, sosok yang diharapkan sebagai pendorong terjadinya perubahan, pembaharuan, dan yang banyak bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup mati organisasi ini. Maka seorang pengader dituntut agar melakukan pembenahan pribadi dan melakukan upaya penempaan personal secara maksimal mungkin menuju kualitas diri yang paripurna yaitu sosok ulil albab. Oleh karena itu, seorang pengader HMI dikiaskan seperti “nabi”, ia adalah cahaya yang menerangi sekitarnya sebab ia juga dianggap sebagai panutan dan teladan yang suatu saat ia akan menghasilkan sebuah sunnah (tradisi) yang akan dikuti oleh generasi (kader) penerusnya, baik perkataan sampai perbuatan.
Amanah Perkaderan dan Perjuangan
Pada dasarnya manusia diperintahkan Allah SWT untuk menyampaikan amanah, melaksanakan keadilan dan menjaga kepercayaan (An-Nisa; 58). Amanah dalam makna luas berarti menjaga diri sendiri, atau menunaikan tugas yang diberikan kepadanya. Kata amanah berasal dari kata dasar bahasa arab a-mu-na yang berarti : penunjuk jalan, jujur dan dapat dipercaya. Kata amanah juga mempunyai diksi kata dengan iman yang berasal dari bahasa arab a-mi-na yang mempunyai arti : iman atau tunduk (Kamus al-munawwir, 1997:40). Maka setidaknya terdapat keterkaitan antara iman dengan perilaku amanah seseorang karena berasal dari satu akar kata. Dengan demikian dapat dipahami bahwa amanah merupakah salah satu tanda orang beriman begitu pula sebaliknya bila tidak dijaga merupakan tanda bagi orang yang munafiq.
HMI sebagai organisasi pekaderan dan perjuangan mempunyai tujuan mulia yang suci, dan itu menjadi tugas para kader untuk mewujudkan tujuan tersebut tercapai. Perkaderan adalah proses pembentukan dan pembinaan anggota menjadi Kader ideal yang berlandaskan kepada Ideologi/Platform organisasi. Perkaderan HMI merupakan suatu program terencana, terarah, terus-menerus dan terangkai dalam suatu kesatuan yang terpadu dalam mempersiapkan anggota dan pengader sebagai subyek dan pendukung gerak organisasi untuk mewujudkan tujuan. Terencana disusun untuk membentuk para anggota (Mahasiswa) menjadi kader cita HMI atau pribadi-pribadi muslim yang kaffah dan unggul yang terformulasikan dalam al-Quran dengan istilah insan “ulil albab”.
Sedangkan perjuangan HMI adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mewujudkan tujuannya yang termaktub dalam konstitusi dan Nilai-nilai normatif tekstual (Pedoman perkaderan dan khittah perjuangan) yang menjadi jalan/ rel perkaderan HMI adalah kerangka sekaligus acuan sebagai bagian dari pergerakan perkaderan dan perjuangannya. Maka terlaksananya segala proses, usaha, gerak dan perwujudan tercapainya tujuan HMI adalah bagian yang integral dari amanah perkaderan dan perjuangan. Oleh karena itu, sebagai insan pengemban amanah kenabian seorang pengader dituntut agar selalu konsisten dan istiqomah atas segala sesuatu yang dipercayakan orang lain kepada dirinya. Ia harus mampu mengawal segala bentuk, proses, indicator keberhasilan perkaderan dan perjuangan tercapai maksimal, Karena seluruh proses perkaderan dan perjuangan diarahkan untuk mewujudkan tujuan HMI.
Namun proses kaderisasi atau perkaderan HMI tidak akan mencapai hasil yang obyektif dan maksimal ketika tidak dilakukan secara profesional apalagi tanpa ditopang oleh para pengader-pengader handal dan berkualitas. Disinilah perlunya sosok para pengader teladan yang amanah (Layak dikuti), ia adalah cermin bagi orang lain, Ibarat “guru kencing berdiri maka murid kencing berlari”. Maka dari itu seyogyanya pula segala prototip/ citra ideal rasulullah SAW mengendap di dalam jiwa seorang pengader HMI. Sebab dalam sosoknya terdapat fitrah yang menjadi kepribadian utuh pengader yaitu; sebagai pendidik (Penjaga nilai-nilai Islam), pemimpin (Penjaga ukhuwah islamiyah), dan pejuang (Pelopor amar ma’ruf nahi munkar). (Pedoman Pengader, hal 2).
Oleh karena itu selain memberi contoh yang baik (teladan), seorang pengader juga harus dapat menjaga kepercayaan dalam menjalankan amanah organisasi dan mengawal tercapainya tujuan organisasi tersebut. Sebab segala sesuatu yang datang kepada dirinya yang berkaitan dengan perkaderan dan perjuangan adalah bagian dari amanat organisasi yang sebaiknya dijalankan semaksimal mungkin sebagai bukti peran dan tugas pengader selain sebagai pengelola pelatihan-pelatihan HMI. Maka dimulai dari Senior Course ke-83 ini mari kita arahkan sinergisitas gerak HMI menuju perkaderan dan perjuangan yang optimal dan lebih baik lagi Wallahu’alam bis shawab

30 Desember 2009

Membangun Kesadaran Pengader

Oleh: Lidar Marjiyansyah

A. Hakikat Organisasi Perkaderan
Kader sebagai seseorang yang telah menyetujui dan meyakini kebenaran suatu tujuan dari suatu kelompok atau jama’ah tertentu, kemudian secara terus menerus dan setia turut berjuang dalam proses pencapaian tujuan yang telah disetujui dan diyakini itu (Imawan Wahyudi, 2002:9). Tentunya yang menjadi wadah utama seorang kader dalam beraktualisasi adalah organisasi. Organisasi adalah suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Berbagai golongan massa, seperti klas buruh, kaum tani, nelayan, intelektual progresif : pemuda dan pelajar, wanita dll, mengorganisasikan diri dalam organisasi-organisasi massa. Organissi massa (ormas) diperlukan untuk memperjuangkan kepentingan kepentingan mereka yang sederhana seperti kepentingan ekonomi, hak-hak dasar mereka dan sebagainya.

Himpunan Mahasiswa Islam yang juga sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, bukan hanya berfungsi sebagai organisasi massa tetapi juga merupakan organisasi pengkaderan. Dimana selain merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan tujuan yang sama, organisasi pengkaderan juga memiliki tangung jawab untuk terus mencari kader-kader baru, mendidiknya dalam sebuah pelatihan, serta melakukan pengawasan dan aktivitas untuk mengembangkan potensi kader yang kesemuanya itu diatur dalam sebuah sistem yang diciptakan oleh organisasi pengkaderan itu sendiri.

B. Urgensi Pengader

Selanjutnya HMI berperan untuk melahirkan kader-kader yang berfungsi sebagai pemimpin umat dan bangsa. Kondisi ini mengharuskan HMI memiliki kualifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat terutama mahasiswa pada umumnya. Cerminan dari kualifikasi tersebut harus diaktualisasikan dalam ide-ide dan perjuangan HMI. Pengkaderan non sectarian menjadi syarat berikutnya, dimana kader HMI harus siap “dilempar” di masyarakat kebanyakan untuk mengarahkannya kepada nilai-nilai islam tanpa melihat perbedaan budaya dan ideology.

Pengader sebagai kader HMI yang mempunyai kualifikasi lebih tinggi, karena merupakan sosok kepribadian yang utuh sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang (Pedoman Pengader, 2009). Sehingga harus dapat menentukan perlakuan yang sesuai terhadap kader yang pada umumnya berada di usia peralihan dari remaja ke dewasa, dimana rawan mengalami disorientasi hebat. Jangankan memastikan apa yang harus dikerjakan, angan tentang cita-cita saja makin dipenuhi ketidakpastian. Dalam hal menentukan cita-cita, kita kalah dengan anak SD yang bisa dengan gamblang menyebutkannya dengan penuh optimis. Itulah yang saya maksud dengan proses pengerdilan diri. Kita jadi merasa makin takut menatap masa depan hingga lupa ke mana akan pergi.

Rumus sederhana Kiyosaki untuk menggapai cita menarik untuk diterapkan dalam usaha seorang pengader . Rumusnya sederhana saja, dengan tiga variabel. “Do”,“have”,dan “be”. Melakukan, memiliki, dan menjadi sesuatu (atau seseorang). Untuk bisa menjadi seorang pengader sebenarnya setiap orang harus melakukan/mengerjakan apa-apa yang ditentukan dalam pedoman pengkaderan HMI, sekaligus merasa memiliki segala nilai yang menjadi landasan dan tujuan HMI yang termuat dalam AD/ART, secara khusus pada pedoman pengkaderan. Jika hanya “memiliki”, maka yang dipunyai hanya kepura-puraan tanpa dapat memberikan sumbangsih nyata bagi penanaman nilai-nilai ke-HMI-an. Demikian pula jika hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pengader, maka itu hanya imitasi.

Nilai intelektualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh Jalaluddin Rakhmat, bahwa intelektual bukan hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana, juga bukan sekedar ilmuwan yang berupaya mendalami penalaran dan penelitian dalam mengembangkan spesifikasi keilmuwannya. Intelektual adalah mereka yang merasa terpanggil hatinya untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat difahami berbagai kalangan, kemudian menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalahnya. Inilah salah satu yang dapat dijadikan telaah pengader HMI dalam melakukan pembacaan atas pergeseran paradigma berpikir kader yang disebabkan oleh gagal karena tak punya potensi yang bisa dibanggakan, mungkin bukan jenis cerita yang istimewa. Tapi juga tak sedikit kader yang justru gagal karena dirinya menyimpan banyak potensi. Kader jenis ini biasanya lantas punya banyak ide dan keinginan. Keinginan dan ide yang terlalu berlimpah malah jadi bencana jika tak dikelola dengan benar. Harus ada skala prioritas dan pemikiran strategis pengader dengan nilai intelektualnya untuk membatasi lubernya ide.

C. Kesadaran Kritis

Pengader juga harus bisa berfungsi sebagai guru dalam artian menjadi menyelenggarakan pendidikan. Unsur pendidikan sendiri, Freire menggarisbawahi terdapat tiga unsur fundamental yakni; pengajar, peserta didik dan realitas dunia (Mansour Faqih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo : 2001 : 40) Hubungan antara unsur pertama dengan unsur kedua seperti halnya teman yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran. Keduanya tidak berfungsi secara struktural formal yang nantinya akan memisahkan keduanya. Bahkan Freire mengidentifikasi bahwa hubungan antara pengajar dan peserta didik yang bersifat struktural formal hanya akan melahirkan “pendidikan gaya bank” (banking concept of education).

“Pendidikan gaya bank” merupakan pola hubungan kontradiksi yang saling menekan. Ketika pengajar (guru) ditempatkan pada posisi di atas, maka peserta didik (murid) harus berada di bawah dengan menerima tekanan-tekanan otoritas sang guru. Oleh karena itu pendidikan seperti ini hanya akan melahirkan penindasan dan tidak sesuai dengan fitrah. Freire lebih menghendaki bahwa hubungan antara guru dan murid (pengader dan kader) seperti halnya seorang teman atau partnership. Dengan model hubungan seperti ini memungkinkan pendidikan itu berjalan secara dialogis dan partisipatoris.

Posisi pengajar dan peserta didik oleh Freire dikategorikan sebagai subyek “yang sadar” (cognitive). Artinya kedua posisi ini sama-sama berfungsi sebagai subyek dalam proses pembelajaran. Peran guru hanya mewakili dari seorang teman (partnership) yang baik bagi muridnya. Adapun posisi realitas dunia menjadi medium atau obyek “yang disadari” (cognizable). Disinilah manusia itu belajar dari hidupnya. Dengan begitu manusia dalam konsep pendidikan Freire mendapati posisi sebagai subyek aktif. Manusia kemudian belajar dari realitas sebagai medium pembelajaran. Bekal inilah yang dapat digunakan untuk mengubah kondisi sosial masyarakat tertindas, yaitu Freire menggagas gerakan “penyadaran” (William A. Smith : 2001 : xvii). Sebagai usaha membebaskan manusia dari keterbelakangan, kebodohan atau kebudayaan bisu yang selalu menakutkan.

Dalam hal ini Freire memetakan tipologi kesadaran manusia dalam empat kategori; Pertama, Magic Conscousness, Kedua Naival Consciousness; Ketiga Critical Consciousness dan Keempat, atau yang paling puncak adalah Transformation Consciousness.
  1. Kesadaran Magis merupakan jenis kesadaran paling determinis. Seorang manusia tidak mampu memahami realitas sekaligus dirinya sendiri. Bahkan dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya ia lebih percaya pada kekuatan taqdir yang telah menentukan. Bahwa ia harus hidup miskin, bodoh, terbelakang dan sebagainya adalah suatu “suratan taqdir” yang tidak bisa diganggu gugat.
  2. Kesadaran Naif adalah jenis kesadaran yang sedikit berada di atas tingkatan-nya dibanding dengan sebelumnya. Kesadaran naif dalam diri manusia baru sebatas mengerti namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan sosial yang berkaitan dengan unsur-unsur yang mendukung suatu problem sosial. Ia baru sekedar mengerti bahwa dirinya itu tertindas, terbelakang dan itu tidak lazim. Hanya saja kurang mampu untuk memetakan secara sistematis persoalan-persoalan yang mendukung suatu problem sosial itu. Apalagi untuk mengajukan suatu tawaran solusi dari problem sosial.
  3. Kesadaran Kritis adalah jenis paling ideal di antara jenis kesadaran sebelumnya. Kesadaran kritis bersifat analitis sekaligus praksis. Seseorang itu mampu memahami persoalan sosial mulai dari pemetaan masalah, identifikasi serta mampu menentukan unsur-unsur yang mempengaruhinya. Disamping itu ia mampu menawarkan solusi-solusi alternatif dari suatu problem sosial.
  4. Kesadaran Transformative adalah puncak dari kesadaran kritis. Dalam istilah lain kesadaran ini adalah “kesadarannya kesadaran” (the conscie of the consciousness). Orang makin praksis dalam merumuskan suatu persoalan. Antara ide, perkataan dan tindakan serta progresifitas dalam posisi seimbang. Kesadaran transformative akan menjadikan manusia itu betul-betul dalam derajat sebagai manusia yang sempurna.
Setelah melewati proses penyadaran, pendidikan di HMI yang berbekal dari proses ideologisasi akan mampu membebaskan manusia dari belenggu hidup. Dalam proses akhir ini, pendidikan akan membebaskan kader sebagai manusia sekaligus mengembalikan pada potensi-potensi fitri. Arti “kebebasan” (liberation) adalah pembebasan manusia dari belenggu-belenggu penindasan yang menghambat kehidupan secara lazim. Disinilah peran pengader ditekankan demi mengungkap kesadaran kader dan melahirkan sikap kritis yang merupakan manifestasi dari sikap seseorang yang mampu memahami kondisi sosial serta dirinya dalam pergumulan secara langsung dengan manusia lain.

08 Desember 2009

ToR SC 81

Term of Reference Senior Course 81
Himpunan Mahasiswa Islam
Cabang Yogyakarta


TEMA : Syahadah Pengader Untuk Konsistensi dan Kesucian Perjuangan HMI

LANDASAN PEMIKIRAN

Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat islam)”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikui rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh (pemindahan kiblat) itu sangat berat kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah maha pengasih, maha penyayang kepada manusia
(Al Baqoroh : 143)

Tela’ah Syahadah

Dalam agama Islam syahadah bernilai agung. Syahadah merupakan syarat dan tonggak bagi manusia yang mengikrarkan dirinya untuk berserah kepada Allah sang penguasa alam semesta. Dimana hal itu dibuktikan dengan kesungguhan pengakuan dan pengucapan dua kalimat syahadat (syahadatain) “aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Sebagai konsekuensinya, maka saksi atau kesaksian ini bukanlah tindakan pasif imajinatif. Saksi atau kesaksian ini merupakan tindakan aktif, rasional intuitif manusia sehingga mempunyai ruang dan waktu pertanggung jawaban dua dimensi tak terpisahkan. Yaitu dimensi teosentris (hablun minallah) dan dimensi antroposentris serta kosmosentris (hablun minal makhluk). Dalam dimensi yang pertama manusia secara individu akan mempertanggungjawabkan seluruh kesaksianya langsung – sebagai sebuah pertanggung jawaban final- di hadapan Allah SWT (Mahkamah Ilahiyah) . Sedang yang kedua manusia tidak saja sebagai individu atau subjek yang berfikir dan merasa (ter-sadar-kan) namun ia juga bermakna kolektivitas, keterkaitan-antar-manusia lainya, yang mempertanggungjawabkan seluruh kesaksianya dalam ruang dan waktu kesejarahan (Mahkamah Sejarah).

Dengan demikian syahadah yang berpangkal pada tauhid mempunyai kekuatan membentuk struktur yang paling dalam barupa akidah, ibadah, syariah, mu’amalah dan akhlaq. Hal ini senada dengan arti integratif syahadah – yang merupakan teks pragmatik dari keimanan – yaitu diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan (amal).

Sejarah pun mencatat syahadah para manusia terpilih dalam setiap gerak peradaban. Manusia-manusia itu dengan sungguh teguh mentransformasikan nilai yang diyakininya ke dalam ruang (ke)sejarah(an). Tentu (ke)sejarah(an) di sini tidak bermakna sebatas ruang ingat - cerita yang heroik maupun romantik bahkan melodramatik. Sesungguhnya ia merupakan ruang-tindak aktif manusia yang tersadarkan akan sebuah pertanggungjawaban nilai, yang senantiasa “ada” dalam peredaran waktu.

Peradaban Islam menjadi bukti nyata syahadah tersebut. Rasul mulia mencontohkanya dengan sempurna sebagaimana yang diikuti oleh para penerusnya. Perjuangan yang ditegakan merupakan syahadah mereka terhadap apa yang diyakini dan miliki. Mereka sepenuhnya sadar bahwa nilai –yang terintegrasi dalam system tauhid serta nilai turunanya itu harus di perjuangkan, dinyatakan dalam keduniawian sehingga menjadi titik beranjak dalam setiap tindakan manusia betapapun berat, rintang membentang, penuh pengorbanan harta, raga dan jiwa. Mereka pun sadar apa yang diperjuangakanya bukan untuk diri mereka semata namun juga untuk umat manusia setelahnya, yang melampaui zamanya. Ketika intimidasi terhadapnya semakin gencar, untuk meninggalkan keyakinanya yang dianggap gharib (asing) dan akan mengancam stabilitas ekonomi politik Arab jahiliyah, Nabi Muhammad berujar “Demi Allah, seandainya mereka letakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku sekalipun, tidak akan pernah kutinggalkan keyakinan ini.” Sebelum tragedi karbala imam Husein putra Ali bin Abi Thalib menyatakan, “yang kucari bukanlah kemenangan semata, tetapi untuk membuktikan pada sejarah bahwa penerus Muhammad masih sanggup memekikan kebenaran”. Itulah syahadah yang telah jadi laku dan diajarkan, untuk dihayati serta diteladani. Bahwa syahadah akan berakhir dengan indah yaitu syahid.

Syahadah pengader dan Perjuangan HMI
Pengader adalah guru di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia menjadi tiang utama penyangga perkaderan dan perjuangan di HMI, organisasi yang telah mentasbihkan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan. Karenanya Ia pun menjadi refrensi atau rujukan bagi seluruh kader. Referensi atau rujukan tersebut bukan hanya dipandang dalam aspek intelektualitas namun juga perpaduan utuh dari potensi dasar yang dimiliki setiap manusia yaitu, intelekual, emosional dan spiritual. Sehingga pengader mengemban tugas dan tanggung jawab besar yang harus dijalaninya atas dasar laku kesadaran dan keamanahan.

Tugas dan tanggung jawab pengader lahir dari fitrahnya yang terdiri dari pendidik, pemimpin dan pejuang. Trilogi ini menuntut adanya tindak rasional pengader sebagai proses objektifikasi nilai yang diyakininya. Nilai tersebut berasal dari khitoh perjuangan yang merupakan tafsir integral HMI terhadap Islam. Nilai-nilai yang telah di kritisi, dengan pembacaan dekonstruksi dan rekonstruksi harus mampu diendapkanya dalam diri lalu dimaknai dan diejawantahkan. Di sini pengader menemukan konteks syahadahnya yaitu pergumulanya dalam setiap ruang makna dan aksi yang ada di HMI. dengan demikian, dia tidak hanya sekedar meyakini nilai-nilai tersebut, tetapi dia juga melakukan transformasi nilai-nilai itu sekaligus siap untuk menjadi martyr dalam perjuangannya.

Syahadah pengader patut disertai dengan keyakinan tulus nan teguh, kerangka keilmuan yang holistik dan saja’ah yang kukuh mengingat medan perjuangan HMI tidaklah mudah, penuh tantangan dan hambatan. Perjuangan HMI merupakan perjuangan yang mempunyai nilai etis idealis berlandaskan pada kesucian Islam. Hal itu sebagaimana termaktub dalam frase tujuan HMI “terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT”, dan semua argument normatifnya yang berlandaskan pada Al-Quran dan as Sunah. Yang demikian merupakan cita-cita luhur dan mengandung makna yang sangat mendalam di mana setiap kader HMI diteguhkan kembali pemaknaan keimanannya melalui proses penyadaran terhadap makna ulil albab sebagai bentuk dari manusia pilihan yang mulia di sisi Allah SWT. Adapun kualifikasi dari karakter itu adalah: pertama, Mu’abid, insan yang tekun beribadah (mahdhah/ghoiru mahdhah). Kedua, sebagai sosok Mujahid, yang memiliki semangat juang yang tinggi da totalitas di dalamnya. Ketiga, Mujtahid, sosok yang senantiasa mereflesikan secara mendalam permasalahan keumatan dan kemanusian, sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dan pertimbangan pemikiran yang benar. Dan keempat, menjadi sosok Mujaddid, yaitu sosok yang mampu memberikan pembaharuan-pembaharuan di setiap segi kehidupan, sehingga mampu melakukan dinamisasi di lingkungannya. Dari sini diharapkan bahwa organisasi ini memiliki kemampuan dalam melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Setiap gerak juang HMI tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai luhur yang selama ini diyakininya. Namun tentu di sana, sebagaimana yang terjadi dalam siklus peradaban atau gerak perubahan, selalu saja ada anomali, adanya pergeseran nilai entah dengan sengaja ataupun tidak. Entah karena apatis atau pun sinis. Inkonsistensi akhirnya tumbuh dengan sejumput alasan apologetiknya tuntutan zaman. Sucinya perjuangan pun ternodai oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab dengan alasan semunya, perlu kontekstualisasi yang sesungguhnya di balik itu semua ada tendensi dan intrik, menjadi ironi tersendiri. Hal ini perlu dibenahi, dikembalikan pada khitohnya lalu memaknai kembali sesungguhnya perjuangan HMI. Maka pada tahapan ilmu tak tertulisnya, perjuangan HMI tidak saja transformasi sosial tapi lebih dari itu mampu mentransendensikanya sekaligus. Membawa bumi kembali ke langit, mampu memfanakan yang abadi sekaligus mampu mengabadikan yang fana, membebabaskanya dari segala kungkungan keduniawian yang reduksionis, eksploitatif dan alienatif.

Syahadah pengader kemudian menjadi satu motivasi dalam menjalani jalan perjuangan yang telah dipilih, jalan yang tak pernah kosong dari berbagai macam konsekuensi perjuangannya. Konsistensi harus tertanam kuat dalam setiap jiwa untuk menjaga perjuangan tidak melenceng dari jalanya. Ketika hal ini alpa, terkubur oleh berbagai kepentingan sesaat maka organisasi ini sedang menggali pekuburanya sendiri. jika di dalam jiwa mereka konsistensi sebagai sebuah kesaksian telah tertanam, sebuah tekad teguh tumbuh mengkristal bahwa jalan dan tujuan yang suci ini akan tetap ada dan akan terwujud bersama individu-individu yang konsisten serta komitmen pada perjuangan yang dilandaskan pada nilai-nilai syahadah.

Syahadah pengader inilah yang akan menjaga konsistensi dan kesucian perjuangan HMI. Menjaga HMI agar tetap berjalan pada khitohnya yang sarat dengan nilai-nlai ilahiah yang suci. Tidak mudah tergerus arus deras moderenitas yang bernalar partikularitas. Juga tidak tergiur dengan gerakan politik berhaluan pragmatis dan menjaga jiwa dari gila huru hara budaya massa. Yang menjadikan HMI –dalam sejarahnya- tegas menolak tunduk di hadapan tiran, melawan setiap kedzaliman.

Yakinlah HMI akan hidup bertahun-tahun lamanya, memberikan sumbangsih peradaban bagi umat dan makhluk semesta alam (sedulur papat limo pancer) ketika pengader bersyahadah atas fitrahnya, sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang. Dan senior course ke 81 merupakan gerbang awal syahadah tersebut.

SYARAT-SYARAT MENGIKUTI SC
Lulus LK II, wajib dibuktikan dengan sertifikat
Membuat makalah sesuai tema : F4, margin all 3, arial, 11 pt, spasi 1,5.*
Membuat outline khittah perjuangan (berbentuk pointer, bukan resume)*
Hafalan Surat Ad Dhuha – An Nas + surat Al A’la, Al Ghasiyah dan As Shof
Mengikuti semua tes seleksi

*: Makalah dan outline KP dikumpul sebelum tes seleksi, maksimal tanggal 14 desember 2009

MEKANISME PENDAFTARAN
Pendaftaran maksimal tanggal 14 Desember 2009 pukul 00.00 wib, dapat melalui SMS : ketik REG (spasi) NAMA (spasi) KOMISARIAT. Kirim ke 085228065304 an. Awaluddin atau 0274 9277100

PELAKSANAAN
SC dilaksanakan pada hari Jum’at sampai Selasa, tanggal 20-25 Desember 2009. Bertempat di Yogyakarta.

KONTRIBUSI
Biaya Pelatihan Senior Course sebesar 65.000,00 dan pendaftaran sebesar 5000,00

TES SELEKSI
Jadwal tes seleksi sc ditentukan sebagai berikut :
Hari Rabu, 16 Desember 2009 pukul 19.30 – 24.00 :
Tes Pos I (Keislaman), Pos II (Ke HMI an), Pos III (Makalah)

Hari Kamis, 17 Desember 2009 Pukul 19.30-24.00 :
Tes Pos IV (Micro teaching). Semua calon peserta.

Catatan.
Ketentuan berlaku bagi semua Cabang
Pendaftaran setelah tgl 24, tidak diterima dan Bila tes diluar jadwal, tidak dilayani
Kehadiran tes masuk penilaian.