SELAMAT DATANG DI CYBER MEDIA KP HMI CABANG YOGYAKARTA
Tampilkan postingan dengan label Keyakinan Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keyakinan Muslim. Tampilkan semua postingan

18 April 2009

Hidup Adalah Ujian

Oleh: M. Habibi



Sejatinya kehidupan ini adalah ujian alias cobaan, sehingga akan diketahui kelak siapa orang yang paling baik amal perbuatannya. (QS. Al-Mulk: 2) Dengan demikian, seluruh yang terkandung dalam hidup ini adalah ujian. Jadi, senang-sedih, bahagia-sakit, kenyang-lapar, haus-kembung, kaya-miskin, cantik-buruk dan lain sebagainya tidak lebih dari ujian. Dan sebagaimana ujian pada umumnya, hasil dari ujian ini adalah yang menentukan siapa yang lulus dan siapa yang gagal. Pertanyaannya adalah lulus dari mana? Standar kelulusnya apa?


Hidup adalah perjalanan pulang. Kembali ke asal. Ke sumber kehidupan. Kembali kepada kesempurnaan, ke yang Maha Sempurna. Sangat wajar jika manusia di dunia ini diibaratkan sebagai musafir, singgah sebentar kemudian berlalu kembali. Urep mung mampir ngumbeh, kata orang jawa. Hidup ini sekedar persinggahan untuk minum. Karena sekedar mampir minum, seyogyanyalah kita minum sekedarnya saja, sekedar cukup menghantarkan perjalanan kita untuk pulang. Kiranya tersedia di sana berbagai macam minuman, seperti air putih, susu, madu dan arak, hendaklah kita memilih yang menyehatkan dan membuat kita teetap berjalan tegak. Kita bebas memilih, namun setiap pilihan kita memberi konsekwensi tersendiri bagi kita. Masing-masing bertanggungjawab dan memikul sendri apa yang diakibatkan oleh pilihannya tersebut.

Kehidupan adalah ujian. Seorang anak Sekolah Dasar (SD) mendapatkan soal sesuai dengan kemampuannya. Begitu juga siswa Sekolah Menengah Pertama (SLTP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun tingkat perguruan tinggi. Semua mendapat soal ujian sesuai tingkatatnnya. Tidak mungkin seorang anak SD mendapatkan soal ujian yang seharusnya untuk SMA, atau sebaliknya siswa SMA mendapatkan soal anak SD. Tuhan menguji umatnya sesuai dengan kadar kemampuan masig-masing. Semakin tingi tingkat kehidupan seseorang, maka semakin tinggi tanggungjwaab dia. Semakin tingi tanggung jawab, semakin tinggi ujian yang Tuhan berikan. Semakin tinggi suatu pohon tumbuh semakin kencang angin menerpanya. Kurang lebih seperti itu kata pepatah.

Orang akan diuji dengan apa yang mereka miliki. Ketika seseorang memiliki ilmu, maka dia akan diuji dengan ilmu tersebut. sejauh mana ilmu itu bermanfaat. Ketika seseorang mempunyai kedudukan di lingkungan sosial, dia akan diuji dengan sejauh mana kedudukannya itu mampu memberikan kesejahteraan bagi orang lain. Ketika seseorang mempunyai harta maka dia kan diuji, sejauh mana dia mendistribusikan hartanya kepada orang lain? Sejauh mana harta tersebut bisa mensejahterakan diri, keluarga, orang-orang yang membutuhkan. Begitu juga sebaliknya ketika seseorang tidak mempunyai kekayaan dan hidup dalam kekurangan, kehidupan seperti ini juga adalah ujian, sejauh mana dia berusaha mencara rizki Tuhan, sejauh mana dia berusaha dan berjuang merubah nasib, secara personal maupun sosial, dan sejauh mana dia mampu menerima keadaan itu dengan tawakal.

Manusia akan diuji dengan apa yang dimilki, termasuk juga dengan perkataannya. Diam (tidak berkata-kata) adalah hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya. Begitu kata Nabi Muhammad SAW. Banyak orang yang lebih suka berkata-kata ketimbang diam. Selain apa yang seseorang perbuat, apa yang ia katakan juga merupakan ujian baginya. Tanggung jawab orang yang berilmu adalah adalah menyampaikan ilmunya. Dan tanggungjawab umt manuisa semua adalah untuk saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran (Al-‘Ashr: 3). Menasehti. Berhati-hatilah dengan laku ini. Salah satu perbuatan yang Allah kecam adalah seseorang yang mengatakan sesuatu, padahal dia tidak melakukannya. Kebencian Allah sangat besar kepada golongan ini (QS. Ash-shaff: 2-3).

Orang yang menasihati orang lain, maka sebenarnya nasihat itu akan kembali kepada dia. Ketika seseorang menasihati orang lain untuk berbuat baik, maka setelah itu dia kan mendapat ujian bagaimana dia harus berbuat baik. Ketika seseorang menasihati orang lain, jangan marah!, maka setelah itu Allah akan memberikan satu kejadian yang akan menguji dia apakah dia akan marah atau tidak dalam mengahadapi hal tersebut. bisa jadi setelah seseorang menasihati orang lain untuk berderma, kemudian Allah mengirim peminta-minta kepada dia untuk menguji kedermawanannya. Yah demikianlah Allah mendidik dan menguji hamba-Nya, supaya hamba-Nya lulus mendapat derajat khalilullah, sahabat Allah, derajat orang-orang takwa yang lulus dengan predikat sangat memuaskan. Wallahu a’lam bi shawabih.

Tulisan ini disampaiakn pada Pengajian Kelas XI A-1 SMA Muhammadiayah 3 Yogyakarta, 16 April 2009

12 November 2008

Menuju Kesadaran Tunggal

oleh: Maksun

Pendahuluan
Dalam perspektif Islam disebutkan bahwa manusia sesunguhnya terikat perjanjian primordial dengan Tuhan yang mendasari kehidupannya sendiri. (QS. Al-‘Araf 171-172). Hal itu terjadi ketika manusia masih berupa embrio yang berada dalam rahim. Saat itulah Tuhan mengambil kesaksian manusia tentang prinsip-prinsip ketuhanan.

Karena itulah seperti yang yang dinyatakan Syekh Suhrawardi Al-Maktul (pendiri filsafat israqiyah/iluminasi) bahwa dalam diri manusia terdapat sesuatu yang disebut akhirat al-azaliyah (olahan abadi) yang merupakan landasan eksistensial manusia. Hanya saja keberadaannya tersembunyi karena tumpukan fenomena kehidupan di dunia ini.

Dari diskripsi di atas sesungguhnya manusia sejak awal memiliki keyakinan terhadap Tuhan yang dalam Islam dikenal dengan Tauhid.

Apa yang kita pahami dari konsep tauhid sebagai prinsip dasar muslim sesungguhnya adalah upaya membangun kesadaran tunggal. Konsep tentang tahid meniscayakan adanya kesatuan wujud. Dengan konsep ini kita tidak semata meyakini bahwa Allah itu satu, tetapi juga meyakini realitas adalah satu juga, atau tunggal. Konsekwensi logis dari pemahaman tersebut adalah apa yang nisbi bukanlah realitas. Dia dinamakan realitas justru hanya karena dinisbatkan kepada Tuhan. Dus, segala aktivitas yang disandarkan selain Tuhan, maka itu bentuk “kemusrikan intelektual”, dan itulah noda besar yang tak termaafkan bagi kesucian Tauhid.

Sayyed Naquib Al-Atas menyatakan bahwa “hutang eksistensial” manusia tersebut-saat melakukan perjanjian primordial- hanya bisa ditebus jika manusia hidup untuk menghambakan (pasrah/ber-islam) hidupnya semata-mata kepada Allah. Sedangkan Ali Syariati memberikan gambaran aligoris tentang ibadah shalat yang menghadap kubus kosong (ka’bah), yang mengisyaratkan proses “peniadaan ego” dan kepentingan diri manusia, karena sesungguhnya yang benar ada (wujud mutlak)_ semata-mata hanya Allah.

Kalau kita kembali kepada posisi manusia di bumi yaitu tidak lain sebagai seorang hamba yang mengabdikan seluruh hidup kepada-Nya, maka keagungan kita tidak akan bisa terpahami tanpa keterkaitan denganTuhan. Bila ridha Tuhan tidak menjadi pusat orientasi kita dalam menjalani kehidupan ini, maka kualitas hidup kita akan menjadi rendah. Dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir, kita akan terbebaskan dari derita alienasi, karena Tuhan adalah pesona yang Maha Hadir dan Maha Mutlak. Eksisitensi yang relatif akan lenyap kedalam ekistensi yang absolut. Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan akan membuat kita selalu memiki kekutan, pengendalian sekaligus kedamaian, sehingga merasa dalam orbit Tuhan, tidak dalam orbit dunia yang tidak jelas jluntrung-nya.

Sikap berserah diri kepada Tuhan tersebut secara inheren mengandung berbagai konsekuensi. Pertama, konsekewnsi dalam bentuk pengakuan yang tulus (ihklas) bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang mutlak. Pengakuan ini kelanjutan yang mutlak, yang menjdai sumber semua wujud mutlak, yang menjadi sumber semua wujud yang lain.

Konsekwensi kedua dari prinsip ketuhanan adalah bahwa umat manusia seluruh dunia adalah sama dari segi harkat dan martabat asasinya. Tidak seorangpun berhak merendahkan manusia yang lain, karena semuanya adalah sama di sisi Tuhan, kecuali takwanya. Tidak ada yang berhak menindas sesama manusia kecuali Tuhan.

Di sinilah fungsi ita sebagai “abid” (hamba). Maksudnya adalah kita mengembalikan segala aktivitas yang kita lakukan hanya ditujukan kepada Tuhan, ini konsekwensi logis dari persaksian kita, la ilha illallah (transendensi). Tiada yang berhak dijadikan sandaran di dunia ini kecuali hanya Allah.

Tetapi ternyata Tuhan tidak hanya menjadikan manusia sebaga hamba yang mengabdi kepadanya, melainkakn Tuhan juga memberikan tanggungjawab kepada manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi, inilah peran kita. Dan karena itu, sebagai mandatarisnya di muka bumi, maka nilai ilahiyah (implikasi dari keyakinan kepada Tuhan bahwa manuisa adalah hamab) tersebut harus memberi maslahah kepada manusia lain (kemanusiaan). Keyakinan demikian meupakan koneskwensi logis dari persaksian kedua kita Asyhadu anna muhammadar rasulullah.
Hanya saja dalam menjalani peran yang kita lakukan-dokter-pedagang-insinyur, ekonom, nelayan, petani atau apapun- itu adalah semua perintah Tuhan dan harus dioreintasikan hanya kepada Tuhan. Maka tanggungjawab kita adalah menjalani peran-peran tersebut dengan sebaik-baiknya (amanah), selama hal itu mendorong proses aktualisasi Tauhid, misi kekhalifahan dan kebebasan kita. Karena itu, apakah dan bagaimanakah kehidupan di dunia atau peran kita baik atau buruk, sangat tergantung sejauh mana kita bersignifikansi dengan proses aktualisasi orientasi dan misi kita hidup di dunia.

Implikasi Keyakinan Muslim
Keyakinan muslim tidak berhenti pada keyakinan pada Tuhan an sich. Dalam artian keyakinan tersebut tidak mempunyai implikasi terhadap diri dan lingkungan sosialnya. Tetapi keyainan tersebut harus menjadi landasan kebudayaan dalam rangka perubahan sosial kemanusian. Seperti Muhammad SAW, ketika beliau sampai pada puncak spiritualitasnya , naik ke langit tertinggi, bukannya malah berpaling dari tanngungjwab kemanusiaannya, melainkan terjalin hubungan antara kehendak suci dari langit dengan orientasi manusia di bumi. Dengan kata lain, spectrum Ilahi dengan spectrum kemanusian di sisi lain secara metafisis tidak di letakkan dalam ruang yang kita pahami dalam hidup keseharian. Tetapi keduanya menyatu dalam kesadaran, sehingga bagi seseorang yang sampai pada tingkatan spiritualitas tertentu, perilaku kemanusiaanya merupakan cerminan dari kualitas ilahiyah.

Kesadaran akan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan dalam diri kita adalah suatu keniscayaan. Keduanya tidak bisa dipisahkan, bersifat integrlastik. Inilah prinsip dasar tauhid. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa aktivitas atau peran yang kita lakukan tanpa menjadikan Tuhan sebagai orientasi atau titik pusat, maka kualitas aktivitas hidup kita menjadi rendah. Begitu pula sebaliknya, jika hubungn ketuhanan kita tinggi sementara sisi kemanusian kita rendah bahkan tidak memilki implikasi sosial sama seklai, maka kita sebenarnya hanya sedang beragama tetapi tidak ber-Tuhan (kafir).

Kesadaran kita tentang Tuhan pada tingkat tertentu, akan memanifestasi dalam aksi kebudayaan kita. Laku kita menjadi laku Tuhan, omongan kita menjadi omongan Tuhan. Kalau Tuhan memiliki Al-Khaliq, (Maha Pencipta), Ia mencipta dari tiada menjadi ada, maka kita harus mencipta pula dari ada menjadi lebih baik atau sempurna. Kalau Tuhan maha Ar-Raziq (Pemberi Rezeki), maka kita juga harus memberi rezeki kepada orang lain, bukan malah menghalangi orang lain untuk mendapatkan rezeki. Jika Tuhan Ar-Rahman kepada siapa saja, kita juga harus memberikan rahman-rahim kita kepada siapa saja, sekalipun kepada orang yang memusuhi kita dan lain sebagainya. Seperti yang disabdakan Muhammad “takhalaqu bi akhlaqillah”, berakhlakalah dengan akhlak Tuhan. Dalam artian bagaimana kita menumbuhkan dalam diri kita sifat-sifat Tuhan.

Hanya saja pencapaian kesadaran tunggal atau komitmen ketuhanan dan kemanusian dalam diri kita itu sangat bergantung pada seberapa besar usaha kita mengakses caha Tuhan. Suhrawardi al-Maqtul menggambarkan realitas tunggal tersebut adalah cahaya (israq). Cahaya itu memebentang dari cahaya di atas cahaya (Nur ‘ala Nur) sampai cahaya yang paling redup. Semakin dekat kita dengan Cahaya Maha Cahaya, maka terangnya semakin cemerlang, aksi kebudyaan kita semakin baik dan semakin peka pula terhdap kondisi sosial. Sebaliknya, semakin jauh kita dengan cahaya-Nya, maka terangnya semakin redup. Cahaya yang paling redup adalah cahaya yang paling jauh dengan Tuhan, maka aksi kebudayaan yang kita lakukan bukan cerminan laku ilahiyah sehingga tidak memeberi maslahah bagi orang lain , tetapi malah memberi madharat.

Di sini ketuhanan dan kemanusian adalah poros untuk mengevaluasi prilaku kita. Dengan meminjam teori cerminnya al-Ghazali, aktivitas kemanusian yang tidak diterangi cahaya keilahian bagaikan orang yang berjalan di lorong gelap. Sebaliknya, orang yang dekat dengan cahaya Tuhan tetapi tidak menumbuhkan nilai agung ketuhanan dalam dirinya , bagaikan iblis.

Bagimana Menuju Kesadaran Tunggal
Tuhan adalah realitas yang mutlak, maka ia tidak mungkin diketahui. Yang bisa kita lakukan adalah usaha terus menerus dan penuh kesungguhan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Hal ini dilakukan dengan melakukan amal perbuatan. Dalam amal itulah kita mendapatakan eksistensi dan esensi diri-Nya. Dan dalam amal yang ikhlas itulah kita menemukan tujuan penciptaan diri kita, yaitu kebahagian karena pertemuan dengan Tuhan dengan mendapatkan ridha-Nya.

Sebagai jalan manusia untuk menyempurnakan jati diri itu, Tuhan jnuga menampilkan diri melalui “berita” (baca: Al-Quran) yang dibawa nabi dalam bentuk kualitas moral. Melalui persepsinya terhadap kualitas Ilahi, seperti sifat kasih sayang, pengampun, adil da lainnya dan kita mengerti nilai tersbut dengan penghayatan yang intensif, maka akan membukakan jalan dalam diri kita nilai tersebut untuk diinternalissasi. Manusia tidak akan menjadi tuhan, tetapi dengn rasa ketuhanan yang mendalam ia tumbuh menjadi makhluk akhlaki yang meresapi unsur kualitas ilahiyah.

Meskipun perjuangn manusia menyempurnakan jati dirinya berpedoman kepada Tuhan dan menuju kepada-Nya, namun tidaklah berarti untuk kepentingan Tuha, melainkan untuk kepentingn diri manusia sendiri. Karena itu kita harus mengaktualisasikan diri dalam sikap hidup yang menempatkan diri sebagai bagian dari kemansuiaan universal, dan dengan nyata menunjukan kepedulian kepada kehidupan manusia yang lain.

Hanya saja, untuk membangun kepedulian dan kecintaan terhadap kemanusiaan, kia harus mengenal diri kita sendiri. Jika ini gagal kita lakukan, maka mengenal orang lain juga gagal. Menarik ajaran klasik yang mengatakan bahwa kita hanya dapat memahami orang lain (sisi kemanusiaan), jika kia mengenal diri kita. Bahkan kitannya dengan Tuhan pun, Nabi pernah besabda “siapa yang mengenal diniya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Jadi pemahaman mengenai yang lain akan bergantung pada pemahaman kita mengenai diri sendiri. Tanpa kerja batin ini atau berhubungna dengan kekutann yang lebih tinggi yang tidak dapat dimanipulasi sebagai basisi aksi kebudayaan, maka kehidupan mansia akan penuh dengan pengobjekan orang lain, manipulasi, penindasan, dan kekejaman yang muncul bukan saja hanya karena kita mengenal batin orang lain, tetapi justru kita tidak mengenal diri sendiri.

Dari gambaran di atas jelas sekali bahwa menuju kesadaran tunggal adalah dengan jalan “mensemesta”. Maka, mensemestalah!!! Di situ kamu akan menemukan Tuhan dalam bentuk eksistensinya (Wujud). Kita hanya bisa sampai mengenalnya lewat wujudnya yang berserakan di semesta ini. Sedangkan esensinya (mahiyah) hanya Tuhan sendiri mengetahuinya. Wallahu ‘alamu bishshawab.

Maksun: Pecinta Ilmu dan Kebijaksanaan.

04 Agustus 2008

Menyegarkan Kembali Keyakinan Muslim

Oleh: Zubaer At

Keyakinan adalah pengikat esensi manusia dengan Tuhan. Yang disebut Pengikat adalah sesuatu yang lebih kuat dari rasa lapar, rasa sakit, keinginan, rasa marah, rasa sedih, rasa prihatin, rasa frustasi dan apapun. Agar teruji sejauh mana keyakinan atau kepercayaan kepada sesuatu yang Maha dari lainnya.

Sebagai contoh tradisi jepang, ketika seseorang membuat kesalahan yang berakibat menyakiti orang lain apalagi bangsanya, maka orang tersebut dituntut secara tradisi dan kepercayaan untuk bunuh diri, sebagai penebusan dosa mesti tidak sebanding dengan kesalahan.tapi bunuh diri dalam konsep tradisi jepang adalah suatu kepercayaan Adiluhung yang harus dipertahankan untuk menjaga keimbangan kosmologi.

Berbeda dengan orang Islam, seorang muslim ketika meyakini betul akan keber-Islam-an, maka dia harus rela dan ikhlas melepaskan jasadnya untuk meluhurkan batinnya agar diberikan kepada sang pencipta. karena segala sesuatu yang berikan kepada manusia dari Tuhannya merupakan fasilitas dan sarana untuk beribadah,tidak kurang dan tidak lebih, ketika ada peluang berkorban, maka seorang muslim haruslah Fastabikul khoirot dalam menyambutnya. hal ini dalam Islam merupakan hadiah diatas hadiah yakni bertemu dengan wajah pengikat Awal-akhir sewaktu berikrar setia dimana saat masih berupa janin yang suci.

Wajar, ketika Umat Islam mengajarkan rukun Islam, pertama adalah syahadatain; ashadu alla ilaha illallah, waanna Muhammad Rasulullah yang mempunyai dua makna pokok, pertama, bahwa manusia bersaksi, berjanji dan bersumpah tidak ada apapun yang dapat menjadi tuhan selain Allah. Syahadah pertama ini sebagai pengikat seseorang dengan sesuatu yang abtrak atau ghaib, maka ketahuilah bahwa yang ghaib tidak bisa didekati dengan sesuatu yang material,maka haruslah didekati dengan keghaiban yang kita miliki, hal ini sering disebut dengan mistisisme atau spiritualitas.

Kedua, mempunyai makna lebih kongkrit dari yang pertama yakni Muhammad yang berbentuk manusia sebagaimana kita harus kita percayai sebagai pembawa risalah Allah di bumi, sehingga manusia tidak ada alasan lagi untuk menolak ataupun tidak melaksanakan perintah/ajaran yang diajarkan beliau sebagai hukum atau norma agar keseimbangan manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya dan Tuhannya dapat terwujud.sebaliknya, ketika manusia melanggar maka kehancuran dan bencana akan terjadi dimana-mana. percayalah dari pernyataan diatas menyatakan bahwa apapun yang terjadi dalam diri manusia dhahir dan batin, internal ataupun eksternal adalah perbuatan manusia itu sendiri.

Kembali lagi kepada keyakinan, manusia akhir-akhir ini secara fenomenologis telah banyak meninggalkan atau melanggar janji-janji kepada sang pengikat, wajar jika manusia semakin hari semakin tidak menunjukkan kediriannya, tapi sebaliknya menunjukkan wajah garang seperti segala sesuatu dihadapannya adalah makanan.tanpa aturan.tanpa memperdulikan satu sama lain.

Sebagai muslim yang baik, untuk mengetahui lebih dalam tentang keyakinan maka yang harus dilaksanakan adalah memahami secara konseptual-akliyah tentang kesadaran keber-tuhanan. Kesadaran ini akan dapat dimengerti seseorang ketika dia mau dan sungguh-sungguh mempelajari sejarah-sejarah konsepsi akan kebertuhanan bukan tuhan.sebagaimana karen amstrong dalam buku-bukunya,mesti non-muslim, dia sangat bagus memberikan eksplorasi akan kebertuhanan berbagai agama walau secara pengalaman mistis keberislaman tidak banyak ditampilkan. Kita tahu, bahwa mistis adalah inti ajaran,salah satu contohnya adalah manunggal.
Nah, ketika telah mengerti tentang kesadaran kebertuhanan, seseorang harus dapat mempelajari atau menjelaskan akan pengaruh dan perkembangan kebertuhan tadi dalam mempengaruhi manusia yang berimplikasi kepada perubahan di masing-masing zaman. Hal ini penting, untuk mengetahui sejauhmana suatu konsepsi diterapkan dalam keseharian.dan juga sejauhmana memberikan kesadaran baru akan keberanekaragaman ekspresi keberagamaan manusia.kalau ini terjadi, maka tidak ada lagi klaim kebenaran satu ekspresi, yang ada adalah kesalingmengertian sehingga spiritualitas dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam keseharian.

Kalau kita masih ingat, bagaimana isu-isu islamisasi dikembangkan, bagaimana pengilmuan Islam ditunjukkan, bagaimana liberalisasi hidup dan bagaimana reaksi masyarakat muslim tentang hal-hal tersebut diatas. Nyata, aneh atau menggembirakan,hanya orang yang mempunyai kesadaran keagamaanlah yang akan tertawa dan berkata "alhamdulillah", sambil mengatakan dalam hati dengan mengutip hadis nabi;"baik-baik seorang muslim bukan orang yang dekat dengan aku (nabi) sekarang,bukan orang soleh sekarang, tapi seorang muslim yang hidup diakhir zaman dan jauh dari saya tapi tetap konsisten menjalankan sunnah-sunnahku secara keseluruan".

Jika, isu-isu, konsepsi dan perkembangan keberislaman telah ditangkap menjadi kesadaran keseharian, maka waktunyalah seorang muslim yang berkaitan dengan keyakinan dapat mengeksplorasi pengalaman-pengalaman religiusitasnya serta mengpresiasikan dengan muslim yang lain, agar dari pengalaman tersebut dapat membuahkan hikmah-hikmah yang dapat mengembangkan religiusitas yang lainnya. kadang memang pengalaman lebih penting daripada konsepsi pengetahuan.apalagi yang terkait dengan rasa.

Sampai ke Rasa inilah, seorang muslim menguji keyakinannya.apakah betul-betul menyakini akan Tuhannya hanya sekedar ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang omong-kosong,hampa dan tidak bermakna atau mutiara. Buktinya kongkritnya sederhana, yakni apakah seseorang tersebut istiqomah, konsisten dan berpegangteguh terhadap keyakinan tersebut dengan amal soleh atau apa!.artinya, orang tersebut selalu dan dimanapun melakukan tindakan-tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri atau serakah apalagi sampai-sampai tidak mau berbagi dengan yang lain, dengan kesadaran bahwa alam semesta terbatas sedang kita hidup bersama maka berbagi adalah keniscayaan.

Rasa dalam keyakinan bukanlah selera yang dapat seenak perut kita memilih dan mencicipi, tapi rasa dalam keyakinan muslim adalah kedekatan atau kemelekatan selalu dengan tuhannya, tanpa mempedulikan apa yang Dia kasih atau wujud apa yang kita terima.kita hanyalah debu yang menempel dibebatuan lalu kena hujan, tak bermakna dihadapan tuhan.
Sampai sejauh inikah keyakinan kita diujikan!.

Rasa itupun tidaklah cukup untuk menjelaskan keluasan dan pentingnya suatu keyakinan, karena setelah rasa ada kerinduan yang mendalan akan inti kehakikatan wujud kemanusian, bukan meniadakan potensi atau unsur hawa setanian yang ada dalam diri manusia itu salah,tapi bagaimana seoarang selalu mengatakan "tidak" kepada melupakan Allah. Dan selalu ingin dan ingin bersama.

Satu tingkat lagi dari kehakikatan keyakinan adalah kema’rifatan yang didambakan. Kema’rifatan bukanlah pelajaran yang dapat dipelajari secara tekstual dalam buku-buku tapi lebih banyak berbentuk Riyadho atau latihan-latihan ketiadaan diri atau lebih tepatnya penyingkapan tirai-tirai keilahian yang ada dalam keinsanian.
Wallahu a’lam.

Bagaimana menjelaskan
Dari penjelasan diatas, saya ingin mengatakn bahwa materi keyakinan muslim yang harus disampaikan adalah pertama,makna dasar dari keyakinan dan implikasinya. Kedua,konsepsi-konsepsi kebertuhanan manusia dari masa-kemasa. Ketiga,sejauhnya pemahaman konsepsi kebertuhanan mempengaruhi zaman dan coraknya. Keempat,bagaimana kita memahami isu-isu atau fenomena keagamaan yang terjadi disini (Indonesia) dengan wilayah lain seperti timur tengah, malaysia dll.kelima, bagaianmana kita dapat menumbuhkan peserta untuk shering tentang pengalaman religiusitas agar dapat memetik hikmah-hikmah. Keenam, pemateri dapat menumbuhkan imajinasi-kereatif kepada peserta bagaimana para salik menempuh jalan menuju ilahi.

Adapaun metode menjelaskan harus sesuai dengan kemampuan pemateri dalam arti keilmuan yang ditekuni. tapi harus diingat jangan sampai satu corak pemikiran saja yang ditampilkan.contohnya, dalam menjelaskan pemikiran ada baiknya menggunakan filsafat sebagai media, menjelaskan pengalaman dengan tasawwuf, menjelaskan realitas dengan fakta-fakta sosial yang sedang berkembang, dan jangan lupa dengan dalil-dalil al-Qur’an seminimal mungkin dapat juga di tunjukkan.

Disampaikan pada Trainer of Trainer KPC HMI Cabang Jogjakarta pada tanggal 15 Maret 2008