<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090</id><updated>2011-07-08T11:13:44.482+07:00</updated><category term='Wawasan Sosial'/><category term='Buku'/><category term='Agenda'/><category term='Keyakinan Muslim'/><category term='Wacana'/><category term='Renungan'/><category term='Gerakan Mahasiswa'/><category term='Korps Pengader'/><category term='Perkaderan'/><category term='Agama'/><category term='Hari Kemudian'/><category term='Wawasan Ilmu'/><category term='Kepemimpinan'/><title type='text'>pengader jogja</title><subtitle type='html'>Pendidik, Pejuang, Pemimpin</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-304558726196072237</id><published>2009-12-30T00:32:00.003+07:00</published><updated>2009-12-30T00:54:59.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>Membangun Kesadaran Pengader</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Oleh: Lidar Marjiyansyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Hakikat Organisasi Perkaderan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kader sebagai seseorang yang telah menyetujui dan meyakini kebenaran suatu tujuan dari suatu kelompok atau jama’ah tertentu, kemudian secara terus menerus dan setia turut berjuang dalam proses pencapaian tujuan yang telah disetujui dan diyakini itu (Imawan Wahyudi, 2002:9). Tentunya yang menjadi wadah utama seorang kader dalam beraktualisasi adalah organisasi. Organisasi adalah suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Berbagai golongan massa, seperti klas buruh, kaum tani, nelayan, intelektual progresif : pemuda dan pelajar, wanita dll, mengorganisasikan diri dalam organisasi-organisasi massa. Organissi massa (ormas) diperlukan untuk memperjuangkan kepentingan kepentingan mereka yang sederhana seperti kepentingan ekonomi, hak-hak dasar mereka dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Himpunan Mahasiswa Islam yang juga sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, bukan hanya berfungsi sebagai organisasi massa tetapi juga merupakan organisasi pengkaderan. Dimana selain merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan tujuan yang sama, organisasi pengkaderan juga memiliki tangung jawab untuk terus mencari kader-kader baru, mendidiknya dalam sebuah pelatihan, serta melakukan pengawasan dan aktivitas untuk mengembangkan potensi kader yang kesemuanya itu diatur dalam sebuah sistem yang diciptakan oleh organisasi pengkaderan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;B. Urgensi Pengader &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya HMI berperan untuk melahirkan kader-kader yang berfungsi sebagai pemimpin umat dan bangsa. Kondisi ini mengharuskan HMI memiliki kualifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat terutama mahasiswa pada umumnya. Cerminan dari kualifikasi tersebut harus diaktualisasikan dalam ide-ide dan perjuangan HMI. Pengkaderan non sectarian menjadi syarat berikutnya, dimana kader HMI harus siap “dilempar” di masyarakat kebanyakan untuk mengarahkannya kepada nilai-nilai islam tanpa melihat perbedaan budaya dan ideology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengader sebagai kader HMI yang mempunyai kualifikasi lebih tinggi, karena merupakan sosok kepribadian yang utuh sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang (Pedoman Pengader, 2009). Sehingga harus dapat menentukan perlakuan yang sesuai terhadap kader yang pada umumnya berada di usia peralihan dari remaja ke dewasa, dimana rawan mengalami disorientasi hebat. Jangankan memastikan apa yang harus dikerjakan, angan tentang cita-cita saja makin dipenuhi ketidakpastian. Dalam hal menentukan cita-cita, kita kalah dengan anak SD yang bisa dengan gamblang menyebutkannya dengan penuh optimis. Itulah yang saya maksud dengan proses pengerdilan diri. Kita jadi merasa makin takut menatap masa depan hingga lupa ke mana akan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus sederhana Kiyosaki untuk menggapai cita menarik untuk diterapkan dalam usaha seorang pengader . Rumusnya sederhana saja, dengan tiga variabel. “Do”,“have”,dan “be”. Melakukan, memiliki, dan menjadi sesuatu (atau seseorang). Untuk bisa menjadi seorang pengader sebenarnya setiap orang harus melakukan/mengerjakan apa-apa yang ditentukan dalam pedoman pengkaderan HMI, sekaligus merasa memiliki segala nilai yang menjadi landasan dan tujuan HMI yang termuat dalam AD/ART, secara khusus pada pedoman pengkaderan. Jika hanya “memiliki”, maka yang dipunyai hanya kepura-puraan tanpa dapat memberikan sumbangsih nyata bagi penanaman nilai-nilai ke-HMI-an. Demikian pula jika hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pengader, maka itu hanya imitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai intelektualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh Jalaluddin Rakhmat, bahwa intelektual bukan hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana, juga bukan sekedar ilmuwan yang berupaya mendalami penalaran dan penelitian dalam mengembangkan spesifikasi keilmuwannya. Intelektual adalah mereka yang merasa terpanggil hatinya untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat difahami berbagai kalangan, kemudian menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalahnya. Inilah salah satu yang dapat dijadikan telaah pengader HMI dalam melakukan pembacaan atas pergeseran paradigma berpikir kader yang disebabkan oleh gagal karena tak punya potensi yang bisa dibanggakan, mungkin bukan jenis cerita yang istimewa. Tapi juga tak sedikit kader yang justru gagal karena dirinya menyimpan banyak potensi. Kader jenis ini biasanya lantas punya banyak ide dan keinginan. Keinginan dan ide yang terlalu berlimpah malah jadi bencana jika tak dikelola dengan benar. Harus ada skala prioritas dan pemikiran strategis pengader dengan nilai intelektualnya untuk membatasi lubernya ide.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;C. Kesadaran Kritis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengader juga harus bisa berfungsi sebagai guru dalam artian menjadi menyelenggarakan pendidikan. Unsur pendidikan sendiri, Freire menggarisbawahi terdapat tiga unsur fundamental yakni; pengajar, peserta didik dan realitas dunia (Mansour Faqih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo : 2001 : 40) Hubungan antara unsur pertama dengan unsur kedua seperti halnya teman yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran. Keduanya tidak berfungsi secara struktural formal yang nantinya akan memisahkan keduanya. Bahkan Freire mengidentifikasi bahwa hubungan antara pengajar dan peserta didik yang bersifat struktural formal hanya akan melahirkan “pendidikan gaya bank” (banking concept of education).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendidikan gaya bank” merupakan pola hubungan kontradiksi yang saling menekan. Ketika pengajar (guru) ditempatkan pada posisi di atas, maka peserta didik (murid) harus berada di bawah dengan menerima tekanan-tekanan otoritas sang guru. Oleh karena itu pendidikan seperti ini hanya akan melahirkan penindasan dan tidak sesuai dengan fitrah. Freire lebih menghendaki bahwa hubungan antara guru dan murid (pengader dan kader) seperti halnya seorang teman atau partnership. Dengan model hubungan seperti ini memungkinkan pendidikan itu berjalan secara dialogis dan partisipatoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi pengajar dan peserta didik oleh Freire dikategorikan sebagai subyek “yang sadar” (cognitive). Artinya kedua posisi ini sama-sama berfungsi sebagai subyek dalam proses pembelajaran. Peran guru hanya mewakili dari seorang teman (partnership) yang baik bagi muridnya. Adapun posisi realitas dunia menjadi medium atau obyek “yang disadari” (cognizable). Disinilah manusia itu belajar dari hidupnya. Dengan begitu manusia dalam konsep pendidikan Freire mendapati posisi sebagai subyek aktif. Manusia kemudian belajar dari realitas sebagai medium pembelajaran. Bekal inilah yang dapat digunakan untuk mengubah kondisi sosial masyarakat tertindas, yaitu Freire menggagas gerakan “penyadaran” (William A. Smith : 2001 : xvii). Sebagai usaha membebaskan manusia dari keterbelakangan, kebodohan atau kebudayaan bisu yang selalu menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Freire memetakan tipologi kesadaran manusia dalam empat kategori; Pertama, Magic Conscousness, Kedua Naival Consciousness; Ketiga Critical Consciousness dan Keempat, atau yang paling puncak adalah Transformation Consciousness.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesadaran Magis merupakan jenis kesadaran paling determinis. Seorang manusia tidak mampu memahami realitas sekaligus dirinya sendiri. Bahkan dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya ia lebih percaya pada kekuatan taqdir yang telah menentukan. Bahwa ia harus hidup miskin, bodoh, terbelakang dan sebagainya adalah suatu “suratan taqdir” yang tidak bisa diganggu gugat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesadaran Naif adalah jenis kesadaran yang sedikit berada di atas tingkatan-nya dibanding dengan sebelumnya. Kesadaran naif dalam diri manusia baru sebatas mengerti namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan sosial yang berkaitan dengan unsur-unsur yang mendukung suatu problem sosial. Ia baru sekedar mengerti bahwa dirinya itu tertindas, terbelakang dan itu tidak lazim. Hanya saja kurang mampu untuk memetakan secara sistematis persoalan-persoalan yang mendukung suatu problem sosial itu. Apalagi untuk mengajukan suatu tawaran solusi dari problem sosial.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesadaran Kritis adalah jenis paling ideal di antara jenis kesadaran sebelumnya. Kesadaran kritis bersifat analitis sekaligus praksis. Seseorang itu mampu memahami persoalan sosial mulai dari pemetaan masalah, identifikasi serta mampu menentukan unsur-unsur yang mempengaruhinya. Disamping itu ia mampu menawarkan solusi-solusi alternatif dari suatu problem sosial.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesadaran Transformative adalah puncak dari kesadaran kritis. Dalam istilah lain kesadaran ini adalah “kesadarannya kesadaran” (the conscie of the consciousness). Orang makin praksis dalam merumuskan suatu persoalan. Antara ide, perkataan dan tindakan serta progresifitas dalam posisi seimbang. Kesadaran transformative akan menjadikan manusia itu betul-betul dalam derajat sebagai manusia yang sempurna. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah melewati proses penyadaran, pendidikan di HMI yang berbekal dari proses ideologisasi akan mampu membebaskan manusia dari belenggu hidup. Dalam proses akhir ini, pendidikan akan membebaskan kader sebagai manusia sekaligus mengembalikan pada potensi-potensi fitri. Arti “kebebasan” (liberation) adalah pembebasan manusia dari belenggu-belenggu penindasan yang menghambat kehidupan secara lazim. Disinilah peran pengader ditekankan demi mengungkap kesadaran kader dan melahirkan sikap kritis yang merupakan manifestasi dari sikap seseorang yang mampu memahami kondisi sosial serta dirinya dalam pergumulan secara langsung dengan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-304558726196072237?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/304558726196072237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=304558726196072237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/304558726196072237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/304558726196072237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/12/membangun-kesadaran-pengader.html' title='Membangun Kesadaran Pengader'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-5653861972881962831</id><published>2009-12-08T09:29:00.003+07:00</published><updated>2009-12-08T10:04:24.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korps Pengader'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>ToR SC 81</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Sx3AyKseVkI/AAAAAAAAAK4/_yA5FIjeLPw/s1600-h/pamlet+SC+81-new2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Sx3AyKseVkI/AAAAAAAAAK4/_yA5FIjeLPw/s200/pamlet+SC+81-new2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412694295266088514" /&gt;&lt;/a&gt;Term of Reference Senior Course 81&lt;br /&gt;Himpunan Mahasiswa Islam&lt;br /&gt;Cabang Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; TEMA : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syahadah Pengader Untuk Konsistensi dan Kesucian Perjuangan HMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; LANDASAN PEMIKIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat islam)”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikui rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh (pemindahan kiblat) itu sangat berat kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah maha pengasih, maha penyayang kepada manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Al Baqoroh : 143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tela’ah Syahadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam agama Islam syahadah bernilai agung. Syahadah merupakan syarat dan tonggak bagi manusia yang mengikrarkan dirinya untuk berserah kepada Allah sang penguasa alam semesta. Dimana hal itu dibuktikan dengan kesungguhan pengakuan dan pengucapan dua kalimat syahadat (syahadatain) “aku bersaksi  tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Sebagai konsekuensinya, maka saksi atau kesaksian ini bukanlah tindakan pasif imajinatif. Saksi atau kesaksian ini merupakan tindakan aktif, rasional intuitif manusia sehingga mempunyai ruang dan waktu pertanggung jawaban dua dimensi tak terpisahkan. Yaitu dimensi teosentris (hablun minallah) dan  dimensi antroposentris serta kosmosentris (hablun minal makhluk). Dalam dimensi yang pertama manusia secara individu akan mempertanggungjawabkan seluruh kesaksianya langsung – sebagai sebuah pertanggung jawaban final- di hadapan Allah SWT (Mahkamah Ilahiyah) . Sedang yang kedua manusia tidak saja sebagai individu atau subjek yang berfikir dan merasa (ter-sadar-kan) namun ia juga bermakna kolektivitas, keterkaitan-antar-manusia lainya, yang mempertanggungjawabkan seluruh kesaksianya dalam ruang dan waktu kesejarahan (Mahkamah Sejarah).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian syahadah yang berpangkal pada tauhid mempunyai kekuatan membentuk struktur yang paling dalam barupa akidah, ibadah, syariah, mu’amalah dan akhlaq. Hal ini senada dengan arti integratif syahadah – yang merupakan teks pragmatik dari keimanan – yaitu diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan (amal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pun mencatat syahadah para manusia terpilih dalam setiap gerak peradaban. Manusia-manusia itu dengan sungguh teguh mentransformasikan nilai yang diyakininya ke dalam ruang  (ke)sejarah(an). Tentu (ke)sejarah(an) di sini tidak bermakna sebatas ruang ingat - cerita yang heroik maupun romantik bahkan melodramatik. Sesungguhnya ia merupakan ruang-tindak aktif manusia yang tersadarkan akan sebuah pertanggungjawaban nilai, yang senantiasa “ada” dalam peredaran waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Islam menjadi bukti nyata syahadah tersebut. Rasul mulia mencontohkanya dengan sempurna  sebagaimana yang diikuti oleh para penerusnya. Perjuangan yang ditegakan merupakan syahadah mereka terhadap apa yang diyakini dan miliki. Mereka  sepenuhnya sadar bahwa nilai –yang terintegrasi dalam system tauhid serta nilai turunanya itu harus di perjuangkan, dinyatakan dalam keduniawian sehingga menjadi titik beranjak dalam setiap tindakan manusia betapapun berat, rintang membentang, penuh pengorbanan harta, raga dan jiwa. Mereka pun sadar apa yang diperjuangakanya bukan untuk diri mereka semata namun juga untuk umat manusia setelahnya, yang melampaui zamanya. Ketika intimidasi terhadapnya semakin gencar, untuk meninggalkan keyakinanya yang dianggap gharib (asing) dan akan mengancam stabilitas ekonomi politik Arab jahiliyah, Nabi Muhammad berujar “Demi Allah, seandainya mereka letakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku sekalipun, tidak akan pernah kutinggalkan keyakinan ini.” Sebelum tragedi karbala imam Husein putra Ali bin Abi Thalib menyatakan, “yang kucari bukanlah kemenangan semata, tetapi untuk membuktikan pada sejarah bahwa penerus Muhammad masih sanggup memekikan kebenaran”. Itulah syahadah yang telah jadi laku dan diajarkan, untuk dihayati serta diteladani. Bahwa syahadah akan berakhir dengan indah yaitu syahid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syahadah pengader  dan Perjuangan HMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengader adalah guru di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia menjadi tiang utama penyangga perkaderan  dan perjuangan di HMI, organisasi yang telah mentasbihkan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan. Karenanya Ia pun menjadi refrensi atau rujukan bagi seluruh kader. Referensi atau rujukan tersebut bukan hanya dipandang dalam aspek intelektualitas namun juga perpaduan utuh dari potensi dasar yang dimiliki setiap manusia yaitu, intelekual, emosional dan spiritual. Sehingga pengader mengemban tugas dan tanggung jawab besar yang harus dijalaninya atas dasar laku kesadaran dan keamanahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas dan tanggung jawab pengader lahir dari fitrahnya yang terdiri dari pendidik, pemimpin dan pejuang. Trilogi ini menuntut adanya tindak rasional pengader sebagai proses objektifikasi nilai yang diyakininya. Nilai tersebut berasal dari khitoh perjuangan yang merupakan tafsir integral HMI terhadap Islam. Nilai-nilai yang telah di kritisi, dengan pembacaan dekonstruksi dan rekonstruksi harus mampu diendapkanya dalam diri lalu dimaknai dan diejawantahkan. Di sini pengader menemukan konteks syahadahnya yaitu pergumulanya dalam setiap ruang makna dan aksi yang ada di HMI. dengan demikian, dia tidak hanya sekedar meyakini nilai-nilai tersebut, tetapi dia juga melakukan transformasi nilai-nilai itu sekaligus siap untuk menjadi martyr dalam perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadah pengader patut disertai dengan keyakinan tulus nan teguh, kerangka keilmuan yang holistik dan saja’ah yang kukuh mengingat medan perjuangan HMI  tidaklah mudah, penuh tantangan dan hambatan. Perjuangan HMI merupakan perjuangan yang mempunyai nilai etis idealis berlandaskan pada kesucian Islam. Hal itu sebagaimana termaktub dalam frase tujuan HMI “terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan  masyarakat yang diridhai Allah SWT”, dan semua argument normatifnya yang berlandaskan pada Al-Quran dan as Sunah. Yang demikian merupakan cita-cita luhur dan mengandung makna yang sangat mendalam di mana setiap kader HMI diteguhkan kembali pemaknaan keimanannya melalui proses penyadaran terhadap makna ulil albab sebagai bentuk  dari  manusia pilihan yang mulia di sisi Allah SWT. Adapun kualifikasi dari karakter itu adalah: pertama, Mu’abid, insan yang tekun beribadah (mahdhah/ghoiru mahdhah). Kedua, sebagai sosok Mujahid, yang  memiliki semangat juang yang tinggi da totalitas di dalamnya. Ketiga, Mujtahid, sosok yang senantiasa mereflesikan secara mendalam permasalahan keumatan dan kemanusian, sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dan pertimbangan pemikiran yang benar. Dan keempat, menjadi sosok Mujaddid, yaitu sosok yang mampu memberikan pembaharuan-pembaharuan di setiap segi kehidupan, sehingga mampu melakukan dinamisasi di lingkungannya. Dari sini diharapkan bahwa  organisasi ini memiliki kemampuan dalam melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap gerak juang HMI tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai luhur yang selama ini diyakininya. Namun tentu di sana, sebagaimana yang terjadi dalam siklus peradaban atau gerak perubahan, selalu saja ada anomali, adanya pergeseran nilai entah dengan sengaja ataupun tidak. Entah karena apatis atau pun sinis. Inkonsistensi akhirnya tumbuh dengan sejumput alasan apologetiknya tuntutan zaman. Sucinya perjuangan pun ternodai oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab dengan alasan semunya, perlu kontekstualisasi yang sesungguhnya di balik itu semua ada tendensi dan intrik, menjadi ironi tersendiri. Hal ini perlu dibenahi, dikembalikan pada khitohnya lalu memaknai kembali sesungguhnya perjuangan HMI.  Maka pada tahapan ilmu tak tertulisnya,  perjuangan HMI tidak saja transformasi sosial tapi lebih dari itu mampu mentransendensikanya sekaligus. Membawa bumi kembali ke langit, mampu memfanakan yang abadi sekaligus mampu mengabadikan yang fana, membebabaskanya dari segala kungkungan keduniawian yang reduksionis, eksploitatif dan alienatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadah pengader kemudian menjadi satu motivasi dalam menjalani jalan perjuangan yang telah dipilih, jalan yang tak pernah kosong dari berbagai macam konsekuensi perjuangannya. Konsistensi harus tertanam kuat dalam setiap jiwa untuk menjaga perjuangan tidak melenceng dari jalanya. Ketika hal ini alpa, terkubur oleh berbagai kepentingan sesaat maka organisasi ini sedang menggali pekuburanya sendiri. jika di dalam jiwa mereka konsistensi sebagai sebuah kesaksian telah tertanam, sebuah tekad teguh tumbuh mengkristal bahwa jalan dan tujuan yang suci ini akan tetap ada dan akan terwujud bersama individu-individu yang konsisten serta komitmen pada perjuangan yang dilandaskan pada nilai-nilai syahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadah pengader inilah yang akan menjaga konsistensi dan kesucian perjuangan HMI. Menjaga HMI agar tetap berjalan pada khitohnya yang sarat dengan nilai-nlai ilahiah yang suci. Tidak mudah tergerus arus deras moderenitas yang bernalar partikularitas. Juga tidak tergiur dengan gerakan politik berhaluan pragmatis dan menjaga jiwa dari gila huru hara budaya massa. Yang menjadikan HMI –dalam sejarahnya- tegas menolak tunduk di hadapan tiran, melawan setiap kedzaliman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah HMI akan hidup bertahun-tahun lamanya, memberikan sumbangsih peradaban bagi umat dan makhluk semesta alam (sedulur papat limo pancer) ketika pengader bersyahadah atas fitrahnya, sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang. Dan senior course ke 81 merupakan gerbang awal syahadah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SYARAT-SYARAT MENGIKUTI SC&lt;br /&gt;Lulus LK II, wajib dibuktikan dengan sertifikat&lt;br /&gt;Membuat makalah sesuai tema : F4, margin all 3, arial, 11 pt, spasi 1,5.*&lt;br /&gt;Membuat outline khittah perjuangan (berbentuk pointer, bukan resume)*&lt;br /&gt;Hafalan Surat Ad Dhuha – An Nas + surat  Al A’la, Al Ghasiyah dan As Shof&lt;br /&gt;Mengikuti semua tes seleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *: Makalah dan outline KP dikumpul sebelum tes seleksi, maksimal tanggal 14 desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MEKANISME PENDAFTARAN&lt;br /&gt;Pendaftaran maksimal tanggal 14 Desember 2009 pukul 00.00 wib, dapat melalui SMS : ketik  REG (spasi) NAMA (spasi) KOMISARIAT. Kirim ke 085228065304 an. Awaluddin atau 0274 9277100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PELAKSANAAN&lt;br /&gt;SC dilaksanakan pada hari Jum’at sampai Selasa, tanggal 20-25 Desember  2009. Bertempat di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; KONTRIBUSI&lt;br /&gt;Biaya Pelatihan Senior Course sebesar 65.000,00 dan  pendaftaran sebesar 5000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; TES SELEKSI&lt;br /&gt;Jadwal tes seleksi sc ditentukan sebagai berikut :&lt;br /&gt; Hari Rabu, 16 Desember 2009 pukul 19.30 – 24.00 :&lt;br /&gt;        Tes Pos I (Keislaman), Pos II (Ke HMI an), Pos III (Makalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari Kamis, 17 Desember 2009 Pukul 19.30-24.00 :&lt;br /&gt;    Tes Pos IV (Micro teaching). Semua calon peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Catatan.&lt;br /&gt;Ketentuan berlaku bagi semua Cabang&lt;br /&gt;Pendaftaran setelah tgl 24, tidak diterima dan Bila tes diluar jadwal, tidak dilayani&lt;br /&gt;Kehadiran tes masuk penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-5653861972881962831?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/5653861972881962831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=5653861972881962831' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5653861972881962831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5653861972881962831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/12/tor-sc-81.html' title='ToR SC 81'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Sx3AyKseVkI/AAAAAAAAAK4/_yA5FIjeLPw/s72-c/pamlet+SC+81-new2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-7069052486974992260</id><published>2009-11-10T15:59:00.001+07:00</published><updated>2009-11-10T16:02:03.144+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawasan Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Penindasan Negara Terhadap Umat Islam</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Oleh: Moh. Syafe'i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat susah untuk tidak mengatakan bahwa Negara tidak menindas umat Islam. Kita ketahui sampai saat ini berbagai survey di Indonesia masih secara tegas mengatakan bahwa umat Islam di Indonesia ialah mayoritas. Lebih 80% penduduk Indonesia dihuni oleh mereka yang beragama Islam. Walaupun pemegang kebijakan eksekutif, legislatif dan yudikatif ialah mereka juga yang mengaku Islam. Namun posisi mereka ialah pemegang kebijakan (state) sedangkan masyarakat muslim yang menjadi korban merupakan warga negara (civil society).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang harus kita akui bahwa masyarakat muslim tidak bisa digeneralisasi dalam satu kutub kekuatan. Misalkan beberapa pengamat baik dari barat maupun internal Islam masih berpandangan bahwa umat Islam terpecah menjadi beberapa kutub ; Islam modernis dan tradisionalis, Islam Kultural dan struktural, Islam priyayi, abangan dan santri. Bahkan Luthfi Assyaukanie seorang penggerak Islam liberal di Indonesia secara tegas menyatakan bahwa musuh utama dari gerakan pembaharuan Islam adalah kelompok konservatisme dan fundamentalisme. Konservatisme menjadi musuh karena menjadi penghalang dari gerakan liberalisme sejak pertama muncul. Sedangkan fundamentalisme menjadi musuh karena ia lahir dari konstelasi Islam politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu kita harus akui bahwa gerakan Islam saat ini terpecah cukup banyak sekali. NU, Muhammadiyah, Persis, HTI, MMI, Anshorut-Tauhid dan sangat banyak lagi lainnya. Sangat susah untuk mengeneralisasi umat Islam. Tulisan ini tidak ingin terlibat dalam hiruk pikuk kutub-kutub gerakan keagamaan itu tetapi ingin meletakkan umat Islam sebagai warga sedangkan penguasa sebagai pemangku kebijkakan. Umat Islam mempunyai hak-hak dan Negara bertanggungjawab pemenuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika umat Islam mengalami kekerasan dan dilanggar hak-haknya oleh Negara maka umat Islam layak ditempatkan sebagai korban. Secara definisi dalam Deklarasi Prinsip Keadilan bagi Korban Kejahatan Penyalahgunaan kekuasaan yang disebut korban ialah orang yang secara individual maupun kelompok telah menderita kerugian, termasuk secara fisik maupun mental, penderitaan emosional, kerugian ekonomi atau perampasan yang nyata terhadap hak-hak dasarnya, baik karena tindakan (by act) maupun karena kelalaian (by omission).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terminologi ini, penulis akan mencoba melukiskan sekian peristiwa kekerasan dan pelanggaran terhadap umat Islam yang dilakukan Negara khususnya di era orde baru. Karena di era orde baru inilah penghancuran umat Islam terjadi sistematik. Kekerasan dan pelanggaran ini cukup menghebohkan dimasanya. Tetapi kasus-kasus tersebut banyak yang tidak terekam dalam memori publik dan seakan dihapuskan dari jejak sejarah gelap kekuasaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan Sipil-Politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah menarik berjudul “Derita Kaum Muslimin di Indonesia Sejak 1980-2000” ditulis oleh Al-Chaidar dan Tim Peduli Tapol Internasional. Buku ini merekam kejadian kekerasan yang menimpa kaum muslimin di Indonesia di era orde baru. Dikatakan dalam pengantarnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Kaum muslimin bangsa Indonesia, tinggal menuai badai-menghitung korban tragedi. Darah tertumpah, air mata pilu, wanita diperkosa, anak-anak menjadi yatim piatu, harta benda dijarah atau dibakar musnah. Semuanya berpadu dalam tragedi akibat bencana yang menimpa kaum muslimin, sejak peristiwa Tanjung Priok (1984), Lampung-Talang Sari Berdarah (1989), DOM di Aceh (1989) hingga Ambon (1999) dan Maluku Utara (2000). Seluruh peristiwa ini terjadi, bukan lantaran kaum muslimin ikut menabur angin, lalu akhirnya menuai badai, melainkan karena amanat kepemimpinan bangsa ini tidak berada di tangan mereka yang berhak menerimanya. Karena itu dia tidak menunaikan amanah tersebut secara benar, maka bencanalah yang akan timbul”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian yang cukup menyayat hati. Tragedi kemanusiaan itu telah menelan korban yang cukup banyak. Ribuan bahkan. Selain kasus yang ada diatas masih banyak kasus kekerasan yang lain sebutlah Komando Jihad yang menelan ribuan korban aktifis Islam di seluruh Indonesia, Pembajakan Woyla, pembunuhan ulama’ di Banyuwangi, kasus usroh, penangakapan aktifis Islam akibat asas tunggal dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peristiwa itu diliputi oleh penangkapan, kekerasan dan kesewenang-wenangan. Termasuk salah satunya terlihat dalam rekayasa putusan hukum para korban. Pengadilan yang menjadi tempat bergantungnya keadilan dan kebenaran ternyata telah menjadi alat kekuasaan yang lalim. Itu tergambar secara jelas dalam kasus Tanjung Priok, Komando Jihad, Pembajakan WOYLA (1982), Peledakan BCA (Oktober 1984), Pengeboman Candi Borobudur di Magelang, Peledakan Bis Pemudi Ekspres di Malang (1984), kasus Pesantren Kilat di Malang (1985), dan Gerakan Usroh di Jateng dan DIY tahun 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus kekerasan sipil yang menimpa umat Islam tidak bisa dilepaskan dari politik kekuasaan orde baru. Umat Islam yang mayoritas pasti mempunyai kekuatan politik yang besar. Pasca krisis orde lama dan dihancurkannya komunisme, tokoh-tokoh Islam secara sadar punya potensi maju dalam kepempimpinan Indonesia. Perihal inilah yang menjadi dasar rekayasa sistemik penghancuran umat Islam. Bahkan lembaga CSIS salah satu think-thank orde baru yang dibidani Ali Murtopo menyebut Islam sebagai faktor penghambat pembangunan di Indonesia. Ali Murtopo yang juga seorang OPSUS menyebut tahun 1970-an sebagai tahun yang menentukan untuk membangun Indonesia. Rekayasa-rekayasa penghancuran itupun dimulai. Aktifis Islam di era orde baru distigmakan sangat jelek dan menakutkan. Banyak tokoh dan aktifis Islam yagn dipinggirkan, ditangkapi dan dipenjara secara sewenang-wenang. State discourse dan terorisme betul-betul nyata terhadap umat Islam di era rezim orba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk aktifitas politik tokoh-tokoh Islam dipantau sedemikian rupa. Aspirasi politik umat selama orde baru dikerdilkan habis-habisan. Ketika ada pemilu selalu ada pembohongan, rekayasa dan manipulasi data. Golkar sebagai partai penguasa tidak pernah terkalahkan. Walaupun kita tahu umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Negara dengan kekuatan militernya terlihat kuat, tertib dan tanpa kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana Ekonomi Publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Negara di era rezim orba yang begitu dominan dan hegemonic mengantarkan pada sistemiknya privatisasi Negara. Rezim orba menjelma sebagai Negara yang clientist dan koruptif. Otoritas dan kewenangan kenegaraan diarahkan untuk memperkaya elit dan keluarga besar penguasa. Perusahaan-perusahaan internasional dan nasional menjadi clien strategis Soeharto dan keluarganya. Diantara mereka ada Bob Hasan, Sudono Salim (Liem Siolong), Tutut, Tommy dan lainnya. Sedangkan di dunia internasional muncul pengusaha-pengusaha seperti CGI, IBRD, investor AS, Taiwan, Hongkong dan banyak lagi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam yang mayoritas di Indonesia jelas tidak lagi mendapatkan hak-hak ekonominya. Kekayaan Negara berputar dan menumpuk di area keluarga besar Soeharto dan clientnya. Ketimpangan kaya dan miskin mulai terlihat, aset-aset bangsa diperjual belikan blak-blakan, penggusuran atas nama pembangunan mulai terjadi, dan kebijakan ekonomi pasar dibangun serius oleh teknokrat Berkeley di kementrian. Atas skandal itu, rezim Soeharto dikasih sebutan “Macan Asia” dan dipuja-puja oleh clientnya Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifis Islam yang mencoba kritis terhadap kebijakan ekonomi Soeharto ditangkapi. Kaum buruh yang menentang kesewenang-wenangan perusahaanpun dihancurkan. Mungkin kita masih ingat dangan kasus Marsinah, peristiwa Malari dan Waduk Kedungombo. Segelintir peristiwa yang terjadi akibat perlawanan dan pergolakan akibat ketidakadilan kebijakan negara. Hebatnya dalam kasus tersebut Negara menggunakan tangan besinya untuk membunuh penentangnya. Marsinah dibunuh tanpa ampun. Aktifis yang terlibat di Malari ditangkapi secara represif. Demikian juga terhadap warga di Waduk Kedungombo. Kebijakan developmentalisme di era rezim orba juga berjalan tanpa hambatan, horor dan sangat kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak Kekerasan Terhadap Umat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sedemikian lama Negara menindas rakyatnya. Kekerasan demi kekerasan telah dilakukan. Akhirnya itu memuncak ketika menjelang tahun 1998. Negara orde baru yang telah clientist dan koruptif mengantarkannya pada krisis ekonomi yang sangat akut. Kebijakan ekonomi pembangunan yang dirancang teknokrat ekonom berkeley hancur. Krisis moneter dunia meluluhlantakkan perekonomian Indonesia. Sembako dan kebutuhan publik menjadi sangat mahal sedangkan subsidi Negara tidak memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis salah urus kebijakan inilah yang mengantarkan Soeharto menjual Indonesia kepada IMF yang dari dulu memang sudah menjadi partnernya. Soeharto meminta IMF pada tanggal, 8 oktober 1997 yang kemudian meminta Mar`ie Muhammad sebagai Menteri Keuangan dengan IMF bertanda tangan dalam sebuah Letter of Intens, dan oleh Gubernur BI Sudrajad Djiwandono dalam Memorandum on Economic and Finansial Polities pada tanggal, 31 Oktober 1997. Isi dari LOI ini ialah mempertegas posisi IMF untuk menjadi lokomotif lembaga yang diserahi menangani krisis ekonomi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis yang bermula akibat pembangunan mikanisme pasar di era orba dan peneguhan positioning IMF kembali di tahun 1997, membuktikan kebegisan dan kekejaman rezim orde baru. Orde baru secara sadar telah menggadaikan Negara dan memperjualbelikan rakyatnya. Krisis demi krisispun terjadi sedemikian dahsyatnya. Mulai dari lepasnya Negara mengurus kebutuhan rakyatnya, asset-aset diperjualbelikan, dan proyek militer terus ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak kekerasan itu semua saat ini terjadi peningkatan kaum miskin yang sangat besar, eskalasi pembunuhan, kebodohan, eksploitasi bumi, pencemaran dan kekerasan yang semakin menggila. Efendi Sirajudin dalam bukunya “Memerangi Sidrom Negara Gagal “ menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lebih dari enam dasawarsa Indonesia Merdeka, tetapi perjalanan panjang bangsa tidak bergerak menuju tatanan kehidupan sebagaimana yang dulu dicita-citakan oleh para pendiri ripublik. Sejauhmata memandang, dihampir semua sektor kehidupan dewasa ini tersaji potret dengan wajah buram. Era reformasi yang sempat menerbitkan harapan bagi dimilikinya landasan kokoh untuk melakukan perubahan, ternyata tidak berjalan pada track yang benar. Indonesia bahkan terancam menjadi Negara gagal (failed states)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam sebagai mayoritas masyarakat di Indonesia dengan kondisi Negara yang menyedihkan ini tentunya mereka telah didzalimi dan dilanggar hak-haknya. Mereka dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang menindas dan penuh kekerasan. Minimal dua hal yang kita bisa lihat secara telanjang, pertama, saat ini umat Islam secara sistemik menjadi korban karena dipaksa hidup dalam manajemen dan sistem ekonomi negara yang sangat kapitalistik (ribawi). Agama Islam jelas menentang ideologi ribawi dan hukum seorang muslim yang melaksanakannya haram. Kedua, umat Islam sampai saat ini masih menjadi korban kekerasan Negara dengan masih dihidupkannya penstigmaan dan penangkapan sewenang-wenang dengan tuduhan terorisme. Sungguh menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-7069052486974992260?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/7069052486974992260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=7069052486974992260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/7069052486974992260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/7069052486974992260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/11/penindasan-negara-terhadap-umat-islam.html' title='Penindasan Negara Terhadap Umat Islam'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-2432388468163059028</id><published>2009-11-08T23:11:00.003+07:00</published><updated>2009-11-08T23:18:48.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Nulis Yoo.!!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SvbujwZDn2I/AAAAAAAAAKw/9vxezY0M6B4/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 97px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SvbujwZDn2I/AAAAAAAAAKw/9vxezY0M6B4/s200/images.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401767101130317666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama aku tidak menulis di blog. Menuis sebenarnya adalah terapi, terapi untuk kebekuan otak kita, juga untuk melatih konsentrasi kita. Menulislah, karena ilmu itu adalah laksana binatang buruan, dan pengikatnya adalah catatan atau tulisan, begitu kata Imama Ali. Karena peradaban harus ditulis. Itu adalah alasan lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer pernah bilang, setinggi apa pun sekolahmu, kamu tidak akan dikenang orang jika kamu tidak menulis. jadi menurutnya, dengan tulisan kita bisa diingat orang. tapi tentu ada orang yang telah menulis banyak hal namun tidak diingat orang alias dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram pernah menyetir perkataan RA. Kartini bahwa menulis adalah kerja keabadian. mungkin maknanya hampir sama dengan apa yang dimaksudkan sebelumnya. initnya, mari kita menulis, apa saja yang bisa ditulis. tulisan itu bisa dalam bentuk catatan harian seperti Ahad Wahib (pergolakan pemikiran Islam) dan Soe Hok gie (Catatan Seoarang Demontran), bisa juga dalam bentuk cerita memoar seperti andrea yang kemudian jadi best seller, bisa juga dalam cerita pendek (cerpen ) terlalu bnayak contohnya, atau dalam bentuk puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan gak mesti harus berat dan ilmiah. tulisan gak perlu memakai bahasa yang aneh-aneh. menulislah dengan bahsa sederhana, karena kekuatan tulisan sebenarnya sangat bergantung pada apa sebenarnya yang kita berikan dalam tulisan. dan yang paling kuat adalah alasan mengapa kita menulis, ketulusan hati kita untuk menulis. apa komentar gede prama terhadap novel-novel Andrea di acara Kick Andy tidak lain adalah karena Andrea menulis dengan penuh cinta dan ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan terakhir, ada yang mengatakan, menulis itu seperti orang buang buang air besar (BAB). orang BAB akan bergantung berapa banyak dia makan. semakin dia banyak dan sering makan, semakin banyak pula dia BAB. makanan bagi penulis adalah apa yang harus dia tulis. bisa buku atau pengalaman menarik. seberapa banyak buku yang kita baca pasti akan berpengaruh terhadap kualitas tulisan kita. itulah sebabnya Andrea dipesani oleh gurunya, tiga hal yang menjadi sumber inspirasi yaitu baca Al-Quran, Baca buku dan melancong. yang pertama jelas berkaitan dengan hubungan kita dengan kitab suci yang merupakan sumber nilai tata kehidupan. dia berhubungan dengan komunikasi dengan yang mutlak. Muhammad iqbal bilang, bacalah AL-Quran seakan-akan dia diturunkan kepadamu, maka kamu akan mendapat spirit sebenarnya. Kedua berkaitan dengan pemikiran-pemikiran orang lain yamg telah dibukukuan terlebih dahulu. sementara yang ketiga, melancong, kita akan banyak mennemukan peristiwa dan pengalaman-pengalaman baru. so, mari ita nulis. Nulis Yoo.!!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-2432388468163059028?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/2432388468163059028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=2432388468163059028' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/2432388468163059028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/2432388468163059028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/11/nulis-yoo.html' title='Nulis Yoo.!!!!'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SvbujwZDn2I/AAAAAAAAAKw/9vxezY0M6B4/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-511219393620668718</id><published>2009-10-20T16:42:00.004+07:00</published><updated>2009-10-20T16:55:48.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Dialog Perkaderan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/St2HpzbOEaI/AAAAAAAAAKo/xP29fuCMJ5I/s1600-h/kop.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/St2HpzbOEaI/AAAAAAAAAKo/xP29fuCMJ5I/s200/kop.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394617080908485026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dialog Perkaderan:&lt;br /&gt;“Menatap Perkederan HMI di Tengah Gejolak Pragmatisme”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/ Tanggal : Ahad, 25 Oktober 2009 &lt;br /&gt;Waktu   : 07.00 – 10.00 WIB (Setelah pengajian Ahad Pagi)&lt;br /&gt;Tempat  : Sekretairat HMI Cabang Yogyakarta&lt;br /&gt;Pambicara : Ketua-ketua Korps Pengader HMI Cabang Yogayakarta, Sleman, Semarang, Wonosobo dan Purwokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tor:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, himpuanan Mahasiwa Islam (HMI) telah menetapkan dirinya untuk berdiri di atas perkaderan, sehingga menjadikan organisasi mahasiswa Islam tertua ini sebagai organisasi perkaderan, atao organisasi kader. Sebagai oeganisisi kader, maka fokus utama organisasi ini adalah kader, khususnya berkaitan dengan kualitas diri kader. Dan sebagai organisasi perkaderan juga menjadikan perkaderan sebagai landasan setiap aktivitas HMI.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perkaderan adalah tulang punggung HMI yang menjadikan organisasi ini tetap eksis, karena perkaderan menyumbangknakan tiga hal yang fundamental bagi gerakan, yaitu pengkajian nilai-nilai dasar organisasi, mempersiapkan martyr-martyr bagi gerakan dan melakukan transmisi nilai-nilai dasar tersebut dalam lingkungan sosialnya. Ketika tiga hal ini telah hilang, maka gerakan ini akan mengalami sebuah kegamangan dan stagnasi. Tanpa pemahaman yang baik akan nilai-nilai dasar yang diyakininya, organisasi ini akan berjalan tanpa pijakan dan disorientasi. Tanpa adanya martyr-martyr atau orang-orang bersedia berkorban untuk menjalankan dan memperjuangkan nilai-niia dasar itu sekaligus mentransmikannya, maka organisasi ini tidak lebih dari sekumpulan orang-orang biasa saja yang tidak beda dari sekumpulan penggemar sepeda motor sebagaimana yang marak pada saat-saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMI telah merumuskan konsepsi perkaderannya yang telah beberapa kali mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut tentu sebagai upaya agar perkaderan HMI bisa menjadi lebih baik. Perubahan itu juga tentunya atas dasar pengamatan terhadap perkembangan zaman. Konsepsi ideal perkaderan HMI selalu menghadapi problem-problem yang harus dijawab, dan sejauh ini HMI mampu menjawabnya. Namunun demikian, bukan berarti hal itu telah usai, konsepsi ideal itu kini masih harus menghadapi beberap problem, diantaranya adalah pragmatisme, yakni suatu pandangan yang melihat segala sesuatu dari segi kegunaan dan kepentingan sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan sains dan teknlogi telah mengantarkan umat manusia pada satu putaran arus yang sangat cepat. Satu sisi hal ini memberi satu kemudahan tersendiri bagi umat manusia, namun di sisi lain hal ini menyebabkan semakin kekeringan pada diri manusia karena semakin sedikit dan dangkalnya perenungan yang dilakukan. Minimnya renungan feflektif akan berdampak pada pola pikir yang cekak dan tidak mampu berfikir jauh ke depan, sehingga yang dilakukan pun atas dasar kepentingan saat ini dan di sini, tidak untuk orientasi yang jauh ke depan. Apabila hal ini terjadi, aktivitas di HMI pun akhirnya akan menjadi seperti apa yang diproduksi oleh pragmatisme, yaitu mesin. Hal ini akan semakin menjauhkan kader-kader HMI dari cita idealnya, insan ulil albab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mejaga, menggali, menginterpretasi dan mengimplentasikan nilai dasar perjuangan HMI adalah tugas semua anggota HMI, sesuai dengan kemampuan pemahaman dan intensitas di HMI, dan yang menjadi palang pintu dari perkaderan ini adalah para pengader. Pengader (dalam hal ini orang yang telah mengikuti pelatihan khusu) mempunyai tanggung jawab besar, karena merak adalah pihak yang bertanggungjawab untuk membentuk dan membimbing kader-kader HMI sejak kader-kader tersbut bersinggunagn dengan aktifitas HMI di Latihan Kader I (LK I). Dari posisinya seperti itu, para pengader pun menjadi sorotan para kadernya, mereka menjadi teladan, karena mereka dianggap lebih tahu banyak tentang HMI. Kualitas kader HMI tentunya akan banyak bergantung pada kualitas pengadernya, bagaimana dia mampu mentrnsmisikian nilai-nilai dasa HMI dan konsistensi dia terhadap HMI, dan kualitas para pengader HMI tidak bisa lepas dari Korps Pengader (KP) sebagai lembaga yang membidangi dan bertanggungjawab terhadap para pengader. Di sinilah peran KP yang tidak ringan. KP harus mampu membuat satu desaian untuk membina anggotanya agar anggotanya mampu menterjemahkan nilai dasar organisai atau Khittah Perjuangan dalam kehidupan sehari-hari angotanya dan kader HMI secara keseluruhan. Lalu apa yang harus dilakukan KP untuk memenaj anggotanya agar mereka mampu menghadapi problem perkaderan HMI? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu problem KP dan perkaderan HMI secara umum tidak hanya itu, masih banyak lainnya, setiap KP di cabangnya masing-masing bisa jadi mempunyai permaslah yang berbeda.namun problem di atas bisa dijadikan sebagai simpul. Dan setiap Kp pasti mempunayai solusi dan pola menejemen yang berbeda sesuai dengan kondisi di lingkungannya, namun tidak menutup kemungkinan satu solusi di salah satu KP HMI cabang tertentu bisa juga diterapkan di KP HMI cabang lainnya, untuk itulah perlu diadakan dialog perkaderan untuk bertukar ide dan gagasan sebagai problem solving masalah perkaderan, khusunya tentagn kepengaderan. Semoga hal ini bisa bermanfaat bagi KP HMI Cabang Yogyakarta khusunya, dan bagi KP-KP lain serta HMI secara keseluruhan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-511219393620668718?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/511219393620668718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=511219393620668718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/511219393620668718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/511219393620668718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/10/dialog-perkaderan.html' title='Dialog Perkaderan'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/St2HpzbOEaI/AAAAAAAAAKo/xP29fuCMJ5I/s72-c/kop.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-8455441976375920471</id><published>2009-09-12T11:30:00.002+07:00</published><updated>2009-09-12T11:38:26.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Al-Quran; Sumber dan Spirit Perubahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SqsldpqjwsI/AAAAAAAAAKY/GcXmzWtc65w/s1600-h/q.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 92px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SqsldpqjwsI/AAAAAAAAAKY/GcXmzWtc65w/s200/q.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380435371154981570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada seorang hafidz (penghafal Al-Quran) yang berkata kepada gurunya: “ wahai guruku, aku telah mengkhatamkan Al-Quran”. Gurunya berkata: ‘coba kmau bacakan seoalah-olah aku ada di sana dan melihatmu”. Keesokannya sang murid dating lagi kepada gurunya dan berkata: “saya hanya mampu membacanya separo guru”. Gurunya pun berkata: “coba kamu baca, seolah-olah rasulullah ada di sana dan menyaksikannya”. Keesokannya sang murid datang lagi dan berkata “saya hanya mampu membacaya satu surat, guru. Gurunya pun berkata kembali: “coba baca seolah-olah Allah ada di sana dan melihatmu”. Keesokannya murid tersebut kembali dan berkata: “susah unutk menyelesaikannya, meski itu hanya satu ayat. Terlalu banyak ayat-ayat Allah yang aku sepelekan dan aku abaikan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah kisah sufi yang disampaiakn oleh Eko Prasetyo dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Korps Pengader HMI Cabang Yogyakarta Sabtu, 12 September 2009 di sekretariat HMI Cabang, karangkajen, Yogyakarta, . Diskusi ini dilaksanakan dalam rangka memperingati dan refleksi Nuzulul Quran. Eko Prasetyo menyayangkan bahwa Al-Quran yang turun dengan spirit perubahan kini telah mengalami penyempitan fungsi, yaitu hanya dibaca ketika ada orang yang meninggal dunia, seolah-olah Al-Quran adalah sesuatu yang hanya patut pada acara-acara tertentu saja. Bahkan gerakan-gerakan Islam juga jarang menjadikan Al-Quran sebagai sumber dan spirit perubahan. Dengan membaca Al-Quran dan memahaminya, seorang aktivis muslim sebenarnya akan memperoleh satu gagasan-gagasan dan strategi gerakan. Hal in ibis dilakukan dengan memahami kisah-kisah yang ada di dalam Al-Quran. Direktur PUSHAM UII ini mencontohkan, nabi Musa adalah aktivis sejati. Dia berjuangan menegakkan kebenaran melawan orang yang telah membesarkan dirinya. Dia membawa lari kaumnya, meski setelah seruannya tidak juga didengarkan oleh kaumnya yang telah dia bela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Eko Prasetyo juga menjelakan bahwa Ibrahim adalah sorang aktivis kebenaran yang cerdas. Dia mampu bermain logika dengan seorang raja lalim, meski waktu itu usianya belum genap 17 tahun. Dan yang tidak kalah penting adalah kehidupan Nabi Muhammad sendiri. Muhammada adalah penegak HAM sejati. Sebagai orang yang menyampaikan kebenaran, Nabi Muhammad SAW pernah diberi steritip penyihir, dukun dan pembual. Selain itu dia juga di boikot, dasingkan dan dikucilkan, sebagaiman musa juga, dia jadi buronan untuk dibunuh oleh orang Qurais. Bahkan, Menurut penulis buku Islam Agama Perlawanan ini, kondisi gerakan mahasiswa saat ini sama kondisinya dengan periode thaif, yaitu ketika Nabi hendak hijrah ke thaif. Masyarkat Thaif yang semula diharapkan menerima seruan nabi, justru malah mengusir dan melamparinya dengan bebatuan. Itulah kondisi sekarang, gerakan mahasiswa tidak memiliki kader yang secara kuantitas bias dibilang banyak. Ini tidak lain karena gerakan mahasiswa diidentikkan dengan kemiskinan. Selain itu, kebijakan kampus telah banyak menutup peluang mahasiswa untuk berorganisasi. Dia dikucilkan oleh kampus, bahkan oleh mahasiswa sendiri, gagasan-gagsannya diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, menurut Eko Prasetyo, gerakan mahasiswa harus kembali mengokohkan gerakannya, memupuk idiologinya, sehingga terhujam sangat dalam. Karena, menurutnya, bahaya yang paling besar adalah ketika aktivis-aktivis gerakan mengalami frustasi dan gerakan dan idiloginya itu dikhianati oleh aktivisnya sendiri. Selan itu, penguatan hubungan emosional sesame kader perlu digalang kembali. Hal ini dilakukan agar bias saling mendukung, menyokong untuk membina dan mengembangkan diri. Mengutip sebuha hadis ia berujar: “sebaik-baik teman adalah apabila kamu mamandang wajahnya, mengingatkanmu pada Allah, apabila kamu berbicara padanya, bertambah ilmumu, dan dia selalu mengingatkanmu pada akhirat dan amal-amalmu untuk hari itu”. Dan itu hanya mungkin, jika gerakan menjadikan Al-Quran sebagai sumber dan spirit perubahan, sebagaimana awalnya Al-Quran diturunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-8455441976375920471?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/8455441976375920471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=8455441976375920471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8455441976375920471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8455441976375920471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/09/al-quran-sumber-dan-spirit-perubahan.html' title='Al-Quran; Sumber dan Spirit Perubahan'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SqsldpqjwsI/AAAAAAAAAKY/GcXmzWtc65w/s72-c/q.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-4264590538749948859</id><published>2009-09-12T11:19:00.004+07:00</published><updated>2009-09-12T13:31:08.562+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mempersiapkan Bekal Mudik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SqtAHcZAjpI/AAAAAAAAAKg/EDiQiVWtw58/s1600-h/p.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 105px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SqtAHcZAjpI/AAAAAAAAAKg/EDiQiVWtw58/s200/p.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380464676448538258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menjelang akhir Ramadhan, kita selalu menyaksikan, betapa masjid-masjid yang pada awal Ramadhan dipenuhi dengan jamaah, kini mulai sepi. Jamaah semakin sedikit. Ini sudah menjadi satu fenomena umum dan tidak mengherankan lagi. Setidaknya ada dua alasannya, pertama, sebagaimana Ramadhan ini adalah sebagai bulan madrasah, atau sekolah, tempat untuk menempa diri, tentu tidak semua orang yang masuk sekolah akan lulus, ada yang bahkan tidak sampai pada ujung tahun ajaran. Begitu juga ibadah dalam bulan Ramadhan. Kedua,  banyak jama’ah yang telah pulang kampung atau mudik, sehingga jamah semakin sedikit. Meskipun hal ini kurang relevan juga, karena jamaah di masjid-masjid kampung juga semakin sepi. Tapi buka itu intinya, di sini saya hanya akan berbicara tentang tradisi yang telah mengakar di masyarakat kita, yaitu tradisi mudik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mudik atau pulang ke kampung halaman pada hari raya idul fitri adalah tradisi di Indonesia. Pada akhir Ramadhan, orang berduyun-duyun kembali dari tempat perantuan. Segala Sesutu telah dipersiapakan jauh hari sebelum mudik, termasuk tiket untuk di perjalanan. Orang rela menunggu seharian untuk mendapatkan tiket mudik. Tidak hanya itu, mereka pun siap untuk berdesak-desakan dengan oarng lain yang sama-sama akan mudik juga.  Apapun dilakukan, termasuk mencari hutangan kepada teman, tetangga, atau menggadaikan harta benda yang dimilkiki, demi untuk mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi tahunan ini, kita akan sangat jarang mendapatkan orang yang mudik dengan membawa tas kecil, rata-rata mereka membawa tas besar, berisi pakaian dan tetek bengek sebagi oleh-oleh untuk keluarga di kampong, agar yang mudik dan yang dikampung merasakan kebahagian. Berkumpul bersama, apalagi di hari raya, adalah suatu kebahagian tersebdiri yang harus ditempuh dengan segala resikonya. Tapi, bagi perantau, itulah yang harus ditempuh, untuk sebuaah kebahagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya semua manusia akan “mudik”, pulang kampung halaman, berkumpul kembali dengan Kekasihnya. Ke mana lagi kalau bukan kepada yang dengan sinar kasih-Nya telah menciptakan kita? Bukankah hidup ini adalah sebuah perantauan? Bukankah kita ini hanyalah para musafir? Dan musafir pastilah dia tidak akan tinggal lama di persinggahan, dia akan segera berkemas dan berjalan kembali ke tempat tujuan akhirnya? Sebagai orang yang akan mudik sudahkah kita menyiapkan bekal untuk mudik? Sudahkah kita punya ongkos? Sudahkah kita membeli tiket? Sudahkan kita menyediakan oleh-oleh untuk yang kita cintai? Jika kita mudik ke kampong halaman, yang kita bawa biasanya adalah pakaian dan makanan. Ketika kita mudik kepada Allah, apa yang akan kita bawa? Apa yang akan kita persembahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al-baqarah 197 Allah berfirman yang artinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ayat tersebut berbicara dalam konteks ibadah  haji, namun saya kira juga relevan kalau kita tarik pada ranah kehidupan yang lebih luas. Dalam ayat di atas, Allah menyerukan kepada hamba-Nya untuk membekali diri dengan takwa. Dalam ayat lain dikatakan libasu at-taqwa khair, pakaian takwa iitu adalah pakaian yang terbaik jadi kita harus mudik dengan membawa bekal dan pakaian takwa.Apa takwa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa, umunya didefinisikan dengan menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya. Tentu ini masih sangat umum sekali. Namun Allah kemudian merinci cirri-ciri orang yang bertakwa. Dalam surat Al-Baqarah ayat 3-5 Allah menjelaskan orang yang bertakwa adalah orang yang 1) beriman kepada yang ghaib, 2) mendirikan shalat, 3) menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah, 4) beriman kepada apa yang duturunkan kepada Muhammad SAW (Al-Quran) dan nabi-nabi sebelumnya, dan 5) beriman kepada hari akhir. Dari beberapa poin tersebut, takwa sikaitakn dengan iman. Iman kepada yang ghaib, yaitu Allah, malaikat, dan jin. Iman terhadap hal-hal tersebut berarti mengakui keberadaanya, meskipun tidak tampak secara kasat. Iman kepada Allah memberikan konsekwensi bagi kita untuk menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangnnya. Iman kepada-Nya juga mengharuskan kita sadar bahwa segala tindak tanduk kita tidak mungkin luput dari pengawasan-Nya. Sehingga dalam ibdah kita dianjurkan “beribadahlah kamu seakan-akan kamu melihat Allah, seandainya pun kamu tidak melihat-Nya, niscaya Allah melihatmu”. Orang melakukan kejahatan dan kecurangan seirngkali karena merasa tidak ada orang yang melihat dan mengawasi dirinya, sehingga dia bebas berbuat semaunya, namun dia lupa bahwa Gusti ora sare, Allah itu tidak tidur. Dia mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain, yaitu surat Ali Imran 133-135 Allah menjelaskan ciri-ciri lain dari orang yang bertakwa, yaitu: 1) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, 2) orang-orang yang menahan amarahnya, 3) mema'afkan (kesalahan) orang, 4) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dalam surat Al-Baqarah 2-5 tadi sebagian besar mengaitkan ketakwan dengan keberimana, itu berarti takwa ditarik ke dalam dimension internal diri manusia, maka pada ayat-ayat di Surat Ali Imran di atas mengaitkan takwa dengan prilaku sosial. Sama dengan pada surat Al-Baqarah ayat 2, dalam hal ini menginfakkan sebagian harta kita kepada fakir miskin adalah ciri dari orang-orang yang bertakwa. Selain itu orang bertakwa adalah orang yang mau berlapang hati, bukan hanya untuk tidak marah, tetapi juga memberikan maaf kepada orang lain. Bias jadi jika ada orang lain memojokkan kita, kita tidak akan marah, karena secara power kita tidak lebih kuat dari dia. Namun seringkali, meski tidak marah, ada orang yang masih mendendam, dan mencari kesempatan untuk membalas, atau minimal akan merasa puas dan bahagia apabila orang yang memojokkan tadi terpojook, meski bukan oleh orang itu sendiri. Sesuai ayat di atas, ini bukanlah sifat orang bertakwa. Dan orang berrtakwa bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang apabila melakukan kesalahan dia segera sadar, bertobat, memohon ampun kepada Allah, lalui melakukan perbuatan baik untuk menutupi keburukkannya itu. Ini sesuia perintah Rasulullah SAW,  ittaqillaha haitsu ma kunta, wattabi’s as-sayiata hasanata tamhuha, bertakwalah kepada Allah di mana saja, dan ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik yang akan menghapus perbuatan buruk tersebut. Apabila perbuatan buruk kita bersangkutan dengan hak-hak anak Adam, maka hak-hak tersebut haruslah ditunaikan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah menjelaskan orang yang bertakwa adalah mereka di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar dan memberikan sebagaian harta-harta mereka untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (Ad-Dzariat 16-19). Ketakwaan, selain dikaitakan dengan berinfak, dalam ayat tersebut di atas juga dikaitkan dengan bangun malam. Begitu dahsyatnya bangun malam, dalam surat Al-Muzammil Allah memerintahkan untuk bangun bangun malam, mengisinya dengan shalat, membaca Al-Quran dan berdzikir, meskipun hanya sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat, terlebih-lebih pada malam-malam bulan ramadhan, di mana segala amalan ibadah di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Ini berarti akan berlipat ganda pula kecepatan gerak kita menuju Allah. Ini berarti bahwa perjalanan mudik akan lancar, dan semakin cepat sampai kepada Sang Kekasih. Semoga, di usia kita yang tersisia ini, kita bisa mempersiapkan lebih banyak lagi bekal untuk mudik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-4264590538749948859?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/4264590538749948859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=4264590538749948859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4264590538749948859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4264590538749948859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/09/mempersiapkan-bekal-mudik.html' title='Mempersiapkan Bekal Mudik'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SqtAHcZAjpI/AAAAAAAAAKg/EDiQiVWtw58/s72-c/p.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-1130420398072095097</id><published>2009-08-31T22:47:00.004+07:00</published><updated>2009-08-31T23:39:09.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><title type='text'>Reformulasi Gerakan Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv8h10TIsI/AAAAAAAAAKI/gwICxkks1CY/s1600-h/mpo.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 138px; height: 104px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv8h10TIsI/AAAAAAAAAKI/gwICxkks1CY/s200/mpo.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376168238509138626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Oleh: M. Habibi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti kemenangan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) bagi gerakan mahasiswa? Mungkin pertanyaan ini bisa menjadi titik pijak bagi tulisan ini, sekaligus juga sebagai titik pijak gerakan mahasiswa untuk menatap masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan SBY dalam satu putaran secara logis tentu menimbulkan tanda tanya, apakah kemenangan ini benar-benar murni atau ada kecurangan di dalamnya? Apa sebenarnya yang telah dilakukan selama perido 2004-2009 sehingga SBY mampu meraup suara yang demikian fantastis?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita flas back. Tidak banyak sebenarnya yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-JK selama ini. Bahkan bisa dikatakan terjadi stagnasi dalam perkembangan kehidupan sosia politik, termasuk juga pada permasalahan korupsi, hukum dan keamanan. Bahkan terakhir, pada pelaksanaan pesta demokrasi, yaitu pemilu legislatif dan prsiden 2009 ini, sejatinya tidak lebih baik dari pemilu sebelumnya. Banyak kekisruhan di sana sini. Kekisruhan yang oleh sebagian pihak kecurangan yang dilakukan secara sistematis, meskipun secara hukum tidak bisa dibuktikan. Namun kita tidak bisa menutup mata, kecurangan itu ada. Dan pemilu yang carut marut itu telah mengantarkan SBY maju kembali sebagai presiden didampingi oleh Budiono, seorng profesional yang secara politik dia tidak mempunyai basis masa. Budiono, yang selama ini bergelut dengan lembaga keuangan, dianggap oleh sebagian pihak sebagai kaki tangan neo-liberalisme. Namun apa mau dikata, kenyataannya dialah yang mendampingi presiden SBY memimpin negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan satu putaran telah membuat kita menggeleng-gelengkan kepala, ditambah lagi kabar yang cukup melukai hati demokrasi. Para kontetstan pemilu yang semula menjadi rival SBY kini justru berduyun-duyun mendekat kepada SBY. Dimulai dari partai Golongan Karya (Golkar), yang memang sedari dulu tidak pernah siap untuk oposisi,  kemudian Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan terakhir yang mulai merapat adalah Prabowo Subiyanto dari Gerindra. Lalu siapa yang akan menjadi oposisi, penyeimbang, pada periode pemerintah SBY-Budiono mendatang? Lalu apa arti sebuha pesta demokrasi? Mungkin inilah yang pernah penulis ungkapkan dalam tulisan yang lain, Teater Demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemengan penuh SBY dan bergabungnya semua partai kontestan Pemilu 2009 semakin membenarkan satu anggapan munculnya otoritarianisme baru, pemerintahan otoriter yang baru, yang tentu berbeda dengan otoritarianisme Orde Baru. Jika pada Orde Baru otoritarianisme menggunakan kekuatan represif, maka otoritarianisme kali ini justru terjadi di alam keterbukaan. Modus yang digunakan adalah bagimana menguasai ruang-ruang publik, lalu dijadikan sebagai propoganda terhadap kebijakan-kebijakan SBY-Budiono. Hal ini bisa dilakukan dengan membiayai lembagai-lembagai survei sebagaimana yang telah dilakuakn saat kampanye. Dan semua itu tidak bisa dilakukan oleh SBY ketika dia tidak mempunayi dana. Dia membutuhkan modal, dari itu dia menggandeng para pemodal, baik pribumi mapun asing. Akan sangat logis bila nantinya kebijakan-kebijakan SBY, sebagaimana juga pada periode sebelumnya, berpihak kepad para pemodal, bukan kepada rakyat, wong cilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan Gerakan Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kondisi demikian itu menjadi tantangan bagi gerakan mahasiswa (GM). Sepatutnya GM mulai menata diri dan membaca kembali arah geraknya. Dengan tidak adanya opsisi pada pemerintah SBY-Budiono kedepan akan membahayakan nasib demokrasi, karena ketiadaan oposisi berarti juga tidak ada kontrol terhadap jalannya pemerintah ke depan. Di sinilalah GM harus menempatkan diri sebagai oposisi pemerintah. Sebenarnya ini telah dilakukan sedari dulu, namun pasca reformasi, gerakan semacam ini mulai mengendur, untuk itu harus ada langkah perbaikan. GM harus melakukan kritk terhadp penyelenggaraan pemerintahan, memunculkan ide-ide alternatif sebagai penyeimbang dari gagasan-gagasan pemerintah yang tidak pro rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu saja bukan tugas mudah bagai GM, karena kondisi internal di semua GM juga sedang mengalami satu problem tersendiri. Gagasan-gagasan alternatif hanya muncul dengan pemikiran dan perenungan yang mendalam. Perenungan ini akan mendalam hanya dengan adanya banyak kajian-kajian yang mendalam pula yang dilakukan. Pengkajian intensif terhadap permasalahan-permasalah keumatan dan kebangsaan ini akan memberikan satu pijakan berfikir dan bertindak bagi GM. Suatu komunitas, atau gerakan, jika sudah lemah dan jarang melakukan pengkajian dan perenungan yang mendalam terhadap permasalahan yang dihadapinya, pastilah akan mengalami disorientasi, terasing dari dirinya sendiri. Sedikit meminjam perkataan mendiang Pramoedya, kemenangan pertarungan pada hakikatnya adalah kemenangan filsafat atau pemikiran yang mendalam dan sekaligus prinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ini bukanlah hal yang mudah, karena orang-orang yang berada pada sektor-sektor kekuasaan itu tidak lain adalah senior-senior GM itu sendiri. Mekipun tidak ada ikatan formal organisatoris, namun hubungan antara senioritas dalam GM masih sangat erat sekali. Bahkan, senior-senior ini tidak jarang yang menjadi simpul-simpul GM. Di sinilah GM sudah semestinya mengembalikan semua persoalan pada landasan filosofis-idiologis yang mereka miliki. Siapa pun yang memilki cara pandang yang sama dengan idiologi yang dimilki, maka mereka layak dan berhak untuk dirangkul, berjuang bersama. Namun, siapa pun, jika dia tidak mempunyai cara pandang dan idiologi yang sama dengan GM, tidak selayaknya dia berada dalam baris perjuangan GM, karena dia hanya akan menunggangi GM, menjadi benalu, sekalipun dia adalah senior yang juga pernah ikut membesarkan GM tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang menjadi problem GM, yaitu kemahasiswaan itu sendiri. Masa tempuh studi yang relatif cepat, menuntut GM juga harus melakukan revlousi perkaderan. Jika selama ini GM merasa terbebani karena dia dituntut untuk bergerak pada ranah masyarakat umum, sehingga banyak GM yang terjun ke sana, ini perlu diperhatikan kembali. Minimnya kader, akan sangat berpengaruh terhadap hal itu. Selain itu pada ranah pengerahan massa, pemberdayaan masyarakat, GM kalah gaung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kiranya yang sangat penting bagi GM adalah kembali pada basis masanya sendiri, yaitu mahasiswa. Jargon back to campus, kiranya tidak begitu salah. GM harus mampu membentuk martyr-martyr nya lagi, orang-orang yang benar-benar memahami landasan idiologis sekaligus tujuan perjuangannya. Itulah para idiolog-idiolog, yang saat ini semakin sedikit. Menipisnya idiolog-idiolog ini tidak lain karena semakin dangkal pemahaman filsafatnya dan pembacaan mereka terhadap realitas sosial. Inilah tanggung jawab Gerakan Mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-1130420398072095097?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/1130420398072095097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=1130420398072095097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/1130420398072095097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/1130420398072095097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/08/reformulasi-gerakan-mahasiswa.html' title='Reformulasi Gerakan Mahasiswa'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv8h10TIsI/AAAAAAAAAKI/gwICxkks1CY/s72-c/mpo.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-987892326052693839</id><published>2009-08-31T22:41:00.005+07:00</published><updated>2009-08-31T23:39:34.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Keagungan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv6EPYLSLI/AAAAAAAAAJw/TWeNZLVrTfU/s1600-h/ramadhan.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 93px; height: 124px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv6EPYLSLI/AAAAAAAAAJw/TWeNZLVrTfU/s200/ramadhan.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376165530951174322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Oleh: Ihab Habudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah bulan utama. Dalam bulan ramadhan Allah menurunkan al-Qur’an. Dalam Ramadhan, tepatnya 17 Ramadhan tahun ke dua hijarah terjadi perang Badar. Perang pertama yang dimenangi kaum muslim sekaligus menambah kepercayaan diri bagi umat Islam untuk melakukan dakwah islamiyah. Tanggal 20 Ramadhan tahun ke delapan hijrah terjadi penaklukan kota mekah hingga umat Islam bertamnbah kuat. Dalam Ramadhan pula, hamba-hamba Allah seperti isteri Nabi Khadijah binti Khuwailid dan puteri Nabi tercinta Ruqayyah wafat dijemput oleh Allah yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pada bulan Ramadhan diwajibkan berpuasa dan ditetapkan shalat tarawih. Ramadhan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul kadar, malam istimewa, karena dalam malam itu Allah melipatkgandakan pahala; pahala ibadah yang dilakukan pada malam itu lebih baik dari pahala ibadah dalam seribu bulan yang lain. Ramadhan juga bulan yang ditutup dengan idul fitri sebagai balasan bagi yang berpuasa, dan diikuti puasa enam hari dalam bulan Syawal sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa barangsiapa yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dan diiringi dengan enam hari dalam Syawal, seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan juga mempunyai banyak nama; di antaranya Syahrul Qur’an (bulan turunnya al-Qur’an), Sahrun Najah (bulan menyelamatkan diri dari adzab Allah), Syahrus Syiam (bulan puasa), Syahrur Rahmah, dan lain-lain. Ramadhan sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu ar-Ramdhu, yaitu hujan yang datang setelah musim kering, sehingga tanah terasa panas terbakar. Sebagian ulama mengatakan bahwa ar-ramdhu berarti panas yang terik. Karena itu, disebut bulan Ramadhan sebagai bulan yang membakar dosa dan meleburkannya dengan amal shaleh. Oleh karena itu, bila ada orang yang pada bulan ramadhan masih senang melakukan ghibah, fitnah, bohong, sumpah palsu dan menuruti nafsu, setidaknya hal itu tidak mencerminkan nama Ramadhan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mulianya bulan Ramadhan, bulan ini banyak dinanti-nantikan oleh umat Islam. Ucapan selamat datang, marhaban ya ramadhan menggema di mana-mana, pesantren-pesantren dan mesjid-mesjid, dari selebaran di pinggir jalan hingga iklan-iklan di televisi, dari para kiai hingga politisi. Semua menyambut datangnya bulan yang suci ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, menyambut bulan Ramadhan harus diiringi dengan pengasahan jiwa dan raga. Karena dengan berpuasa sebenarnya kita sedang berjalan menuju Allah Swt. Dalam perjalanan itu ada gunung tinggi yang harus didaki, digunung itu terdapat jurang yang curam, hutan lebat, bahkan perampok yang dapat mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Semakin tinggi gunung didaki, bertambah besar ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Mulai pagi sampai pagi kembali, banyak tantangan yang menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi tantangan itu, banyak orang berpuasa tanpa mampu meninggalkan dosa-dosanya. Dalam sebuah hadis disebutkan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Betapa banyak orang yang berpuasa sedangkan sedangkan ia tidak mendapat sesuatu dari puasa itu selain rasa lapar dan dahaga.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang berpuasa sementara yang didapatnya hanya lapar dan dahaga adalah orang yang berpuasa tapi tidak mencegah puasanya dari perbuatan-perbuatan dosa. Orang yang demikian sungguh tidak beruntung karena lapar dan dahaga bukanlah tujuan puasa. Tujuan puasa sendiri adalah takwa. Menurut Muhammad Abduh, takwa berarti menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapar terwujud melalui rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah bulan latihan bagi kita untuk menggapai sedapat mungkin derajat takwa tersebut. Untuk melakukannya, takwa karus diupayakan secara terus-menerus. Takwa tidak terikat tempat dan waktu. Termasuk hanya pada bulan Ramadhan. Orang yang bertakwa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan istiqamah atau teguh pendirian. Karena itu orang bertakwa tidak hanya menjalankan kebaikan dan mencegah kemungkaran hanya pada bulan ramadhan saja, lebih dari itu ia konsisten melakukannya di bulan yang lain.&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan bahwa Ramadhan seperti gerbong utama bagi bulan bulan lainnya. Bulan Ramadhan merupakan pemimpin bagi bulan-bulan lainnya. Apabila demikian, maka kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan harusnya diikuti oleh bulan-bulan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seringkali kita menyaksikan bulan Ramadhan hanya ajang memperbaiki diri untuk tujuan sementara. Banyak kita temukan orang yang menjalani kehidupan Ramadhan hanya dengan ganti kostum, seperti jilbab, tetapi setelah bulan Ramadhan kembali lagi ke dunia gelapnya. Bukan masalah memakai dan tidaknya jilbab, lebih jauh dari itu adalah pertanggungjawaban moral kepada Allah bahwa puasa bukan ajang kepura-puraan atau taubat sambal. Maka benar seorang kiai menyebutkan bahwa kemenangan bulan Ramadhan terlihat dalam kemenangan di sebelas bulan lain selain bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw adalah manusia yang konsisten. Maka marilah kita berusaha mencontoh Nabi. Nabi Muhammad itu selalu peduli dengan kehidupan masyarakat di sekelilingnya. Sikap seperti ini tampak jelas sejak Nabi masih remaja. Sejak remaja Nabi khawatir terhadap kecurangan para penjual yang seenaknya menakar dagangan, sejak remaja Nabi menentang perlakuan seenaknya orang kaya terhadap orang miskin, sejak remaja juga Nabi khawatir terhadap perpecahan umat. Rasa kepedulian terhadap masyarakat ini dimiliki oleh Nabi hingga akhir hayat. Dalam sejarah kita mengetahui bahwa sampai nyawa ditenggorokan, kepedulian Nabi pada umatnya tidak pernah pudar. Hal ini dibutikan, ketika nyawa sampai ditenggorokan, Nabi masih sempat mengucap ummatii, ummatii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi itu hidup sederhana. Sejarah menunjukan betapa Nabi tidur hanya di atas pelepah kurma. Meski tawaran kekayaan dari berbagai pihak datang, Nabi tidak menerimanya. Kesederhanaan ini secara konsisten dilakukan Nabi, sampai-sampai diriwayatkan hanya dua lah pusaka yang ditinggalkan Nabi, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Ini menunjukan bahwa secara materi Nabi sangat sederhana. Dan itu dilakukan secara konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga keteguhan Nabi seperti itu dapat kita teladani. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krapyak: 31/08/09&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-987892326052693839?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/987892326052693839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=987892326052693839' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/987892326052693839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/987892326052693839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/08/keagunagn-ramadhan.html' title='Keagungan Ramadhan'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv6EPYLSLI/AAAAAAAAAJw/TWeNZLVrTfU/s72-c/ramadhan.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-1669664366649378377</id><published>2009-08-28T03:26:00.004+07:00</published><updated>2009-08-31T23:46:39.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawasan Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Politik dan Budaya Kekerasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv-Ykx2VbI/AAAAAAAAAKQ/AdCk8qlIjU8/s1600-h/vio.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 100px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv-Ykx2VbI/AAAAAAAAAKQ/AdCk8qlIjU8/s200/vio.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376170278339892658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh: M. Habibi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan ini kita terlalu sering disuguhi oleh pemberitaan tentang kekerasan-kekerasan, khususnya yang terjadi di Indonesia, baik melalui media cetak maupun tayangan-tangan di media elektronik audio-visual. Saben hari kita “dipaksa” untuk menonton pemberitaan-pemberitaan tentang pembunuhan, pemerkosaan, penggusuran para pedagang kaki lima (PKL), perkelahian antar warga sampai tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Contoh kasus terkini adalah penembakan di Papua, pengeboman yang terjadi di Mega Kuningan, tepatnya di Hotel JW. Marriot dan Ritz-Carlton. Peristiwa pengeboman tersebut juga mengingatkan kita kembali pada peristiwa pengeboman yang terjadi di tempat yang sama beberapa tahun yang lalu, kemudian di Bali, baik itu Bom Bali I maupun Bom Bali II yang telah banyak memakan korban jiwa. Belum lagi konflik antar daerah, antara suku yang terjadi di beberapa wilayah negeri ini. Dan entah, berapa banyak lagi kekerasan-kekerasan yang terjadi dengan berbagai macam bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu forum budaya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun melontarkan satu pertanyaan, apakah konflik, kekerasan yang terjadi di Indonesia ini adalah merupakan geniun budaya Indonesia, atau ada faktor lain yang di luar itu yang menyebabkan manusia Indonesia melakukan kekerasan?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mendefinisikan Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan biasa diterjemakan denan kata violence yang berkaitan erat dengan gabungan kata latin “vis” (daya, kekuatan) dan “latus” (yang berasal dari feree, membawa) yang kemudian berarti membawa kekuatan. Dalam kamus Bahasa Indonesia kekerasan berarti sifat atau hal yang keras; kekuatan; paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan Galtung mendefinisikan kekerasan sebagai segala sesuatu yang menyebabkan orang terhalang untuk mengaktualisasikan potensi diri secara wajar. (I Marsana Windhu: 1992). Definisi ini berpijak pada pikiran bahwa manusia mempunyai potensi-potensi dalam dirinya yang merupakan bahan untuk pertumbuhan pribadinya. Sementara pertumbuhan pribadi merupakan integritas diri (self) soma, dan fisik manusia. Apabila potensi-potensi diri manusia tersebut tidak teraktualisasi, maka di sanalah terjadi kekerasan. Aktualisasi tersebut bisa dalam bentuk aktifitas berfikir, termenung dan aktifitas yang nampak oleh kasat mata. Aktualisasi potensi juga menuntut terpenuhinya prasyarat pertumbuhan pribadi berupa kebebasan, persamaan, keadilan dan kesejahteraan, karena hanya dengan itulah potensi-potensi manusia dapat teraktualisasi dan pribadi akan tumbuh secara manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Macam-Macam Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian di atas, segala sesatu yang menghalangi proses aktualisasi diri dan pertumbuhan pribadi bisa disebut sebagai kekerasan. Dari sinilah Galtung membagi kekerasan menjadi dua jenis. Pertama kekerasan langsung. Kekerasan ini juga sering disebut sebagai kekerasan personal, yaitu kekerasan ini yang dilakukan oleh satu atau sekelompok actor kepada pihak lain (“violence-as-action) (Mohtar Mas’oed:1997). Kekerasan langsung, dengan demikian, dilakukan oleh seseorang ata sekelompok orang dengan menggunakan alat kekerasan dan seringkali berakibat fisik. Dalam kekerasan ini juga jelas siapa subjek dan siapa objek, siapa pelaku siapa korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kekerasan tidak langsung. Galtung menyebut kekerasan ini sebagai kekersan struktural. Kekerasan ini merupakan “built-in” dalam suatu struktur (“violence-as-structure). Kekerasan ini lebih banyak terjadi pada ranah pskis, meski beberapa juga pada ranah fisik. Apabila dalam kekerasan langsung jelas siapa subjek dan objeknya, maka dalam kekerasan tidak langsung atau struktural tidak jelas siapa subjek atau pelakunya. Adanya kasus gizi buruk yang berujung pada ketidaknormalan pertumbuhan diri atau bahkan kematian, bukanlah disebabkan oleh kejahatan seseorang atau sekelompok orang, melainkan akibat dari struktur sosial, struktur ekonomi dan struktur politik yang timpang dan tidak adil. Inilah kekerasan stuktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kekerasan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak akan cukup jika penulis harus mendata kekerasan yang terjadi di Indonesia, meski itu sebatas kurun waktu pasca reformasi. Namun untuk membicarakan kekerasan perlu kita melacak akar kesejarahan kekerasan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kekerasan di Indonesia, seringkali kita mengacungkan jari telunjuk menunjuk pada rezim Orde Baru sebagai biang keladi semua kerusuhan yang ada. Namun cukupkah segala kesalahan itu dilemparkan hanya kepada orde baru? Belum tentu, kita ahrus menilik pada masa sebelumnya sampai pada masa colonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan memang tidak dimulai dari masa colonial, tetapi kolonialisme secara signifikan telah memproduksi kekerasan ke dalam sistemsistem yang berdaya jangkau lebih luas dari pada sekedar lokalitas kerajaan-kerajaan tradisional, berdaya paksa lebih kuat, dan lebih tahan lama. Henk Schulte Norholt melacak bahwa kekersan yang terjadi berawal dari penggunaan jago (preman desa) untuk menjaga wibawa, menghadapi perlawanan rakyat. Pemerintah colonial bekerja sama dengan kriminal untuk kepenting-kepentingannya, sementara para preman dibiarkan untuk beroprasi asal tidak jelas-jelas melanggar hukum (B. Bahri Juliawan: 2003). Model semacam inilah kemudian yang diwarisi oleh penguasa pasca kolonial sampai dengan saat ini. Pada pemerintahan Orde Baru, preman-preman dipelihara sebagai kendali kebijakan pemerintah, namun setelah tentara kuat, para preman ini dibasmi. Tentara kemudian menjadi alat kekerasan negara. Pada masa-masa akhir 80-an banyak orang-orang yang hilang misterius dikarenakan mereka dianggap menentang pemerintah. Semua itu dilakukan atas nama stabilitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan militer sebagai alat kekerasan negara pasca reformasi memang berkurang, namun bukan berarti penggunaan-penggunaan kekuatan semacam itu tidak ada. Kekuatan-kekuatan tersebut bermutasi menjadi kekuatan sipil yang menyerupai militer sebagai alat negara untuk tameng negara untuk melakukan kekerasan, penggusuran dan hal yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati masa pasca kolonial tadi, dapat dilihat bahwa kekerasan digunakan untuk melanggngkan kekuasaan. Kekersan telah menyatu dengan kekuasaan. Pada masa Orde Baru, kekerasan seperti ini sengaja dipelihara. Inilah yang oleh Jean Baudrillard sebagai simulakrum kejahatan, yaitu kekerasan, horror, dan terror yang diciptakan sedimikian rupa, sehingga ia tampak seolaholah terjadi secara alamiah, padahal direkayasa (Yasraf A. Piliang: 2005). Kekerasan-kekerasan tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa pemerintah bisa menjamin keamanan rakyatnya. Kekerasan diciptakan sedemikian rupa, sehingga muncul imag kelompok tertentulah yang melawan pemerintah, melawan negara, dan meraka harus dibasmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat semakin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan, kekerasan pun semakin kompleks. Kekuasan dan kekerasan yang ada dibaliknya dilengkai teknologi tinggi, manajemen tinggi, dan politik tinggi. Kekerasan ditutup topeng dan tirai. Kekerasan yang mutakhir yang didukung oleh kecanggihan teknologi adalah terorisme. Bukan hanya karena dia menggunakan bom, tetapi manajemen perencanaan juga dengan manajemen tinggi. Sampai saat ini baru diketahui siapa yang melakukan peledakan bom, namun tidak diketahui siapa dalang sebenarnya. Kalaupun ada, itu sebatas tuduhan, karena pada kenyataan ada missing link. Terorisme, ketika sudah bersentuhan dengan teknologi informasi, menjadi satu simbol yang melahirkan makna. Makna itu misalnya bahwa Indonesia adalah sarang teroris. Makna ini bisa ditukar misalnya dengan akses investigasi Negara lain ke wilayah Indonesia. Di sini kemudian terjadi erseingkuhan antara Negara dan kepentingan asing. Hal ini biasanya merugikan rakyat, karena sebagaimana Undang-Undang anti teror yang diadopsi dari Negara lain ternyata memberikan kesempatan kepada aparat untuk melakukan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis, kekejaman yang dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu yang lama dapat meimbulkan trauma pada korban, pada orang yang menyaksikan, atau bahkan pada pelaku sendiri. Lewat perjalanan yang panjang, setiap orang didik untuk mempunyai inisiatif sendiri dalam menghadapi ancaman-ancaman keamanan. Kekerasan telah menjadi bagian akrab dari keseharian kita, seolah-olah setiap kali hendak menyelesaikan masalah serta persoalan satu-satunya pilihan adalah kekerasan (B. Bahri Juliawan: 2003). Kekerasan telah menjadi kebiasaan. Inilah yang oleh Hannah Arendt disebut sebagai banalitas kejahatan atau kejahatan yang banal, yaitu praktik kejahatan yang dijalankan bagaikan menjalankan aktivitas sehari-hari yang tidak disadari (Sindhunata: 2007). Hal ini mungkin dapat dilihat dari siaran-siaran media masa. Hampir setiap hari masyarakat kita mendengar berita tentang pembunuhan. Tidak hanya sebatas itu, kita juga disuguhi modus dan cara-cara pembunuh itu melakukan aksinya menghabisi korban. Kita disuguhi bagaimana pembunuh itu menyembelih korbannya, menguburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banalitas kejahatan ini akan semakin berkembang di masyarakat seiring adanya krisis legitimasi. Menurut Jurgen Habermas, krisis legitimasi (moral) ini menyebabkan tidak didengarnya lagi oleh masyarakat imbauan-imbauan moral pihak berwenang (khususnya penguasa), oleh karena mereka sendiri yang justru dianggap sering mempercontohkan tindakan-tindakan melanggar moral (Yasraf A. Piliang: 2007). Rakyat tidak lagi percaya kepada Presiden, DPR, ABRI, Polisi, Gubernur, Bupati, Camat atau kepala desa. Berapa banyak contoh-contoh perilaku amoral yang dilakukan oleh para penguasa. Sebagai contoh adalah perilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang korup, suka bermain wanita, adu otot dengan anggota dewan lainnya, sehingga Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menganggap DPR sebagai Taman Kanak-kanak, atau malah Play Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin puisi kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana karya Musthofa Bisri atau Gus Mus cukup untuk menggambarkan hal tersebut. Gus Mus menulis:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku harus bagaimana //Aku Kau suruh menghormati hukum // Kebijaksanaanmu menyepelekannya // Aku kau suruh berdisiplin Kau mencontohkan yang lain. . . . Kau ini bagaiman // Kau suruh aku menggarap sawah // Sawahku kau tanami rumah-rumah // Kau bilang aku harus punya rumah // Aku punya rumah kau meratakkannya dengan tanah // Aku harus bagaimana // Aku kau larang berjudi // Permainan spikulasimu menjadi-jadi // Aku Kau suruh bertanggungjawab // Kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara puitis Gus Mus menggambarkan bagaimana mungkin rakyat akan mengikuti imbauan-imbaun penguasa, pada saat yang sama para penguasa itu melanggar apa yang mereka katakan. Diibaratkan tangan kanan pemerintah membawa roti sementara tangan kirinya membawa pukulan. Rotia tiada seberapa mengenyangkan, namun kepala babak belur oleh pemukul. Dari kutipan terakhir pusi tersebut, Gus Mus ingin mengatakan bahwa penguasa tidak mau bertanggungjawab atas keputusan dan kebijakannya, atas nasib rakyatnya. Inilah yang menyebabkan rakyat acuh-tak acuh lagi terhadap seruan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, krisis legitimasi terjadi karena negara telah banyak melakukan, kembali pada definisi Galtung, kekerasan struktural. Kekerasan ini menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama. Hal ini nampak pada ketimpangan yang merajalela: sumberdaya, pendapatan, kepandaian, pendidikan, serta wewenang untu mengambil keputusan mengenai distribusi sumberdaya pun tidak merata (I Marsana Windhu: 1992). Berkumpulnya sekitar 80 persen rupiah di Jakarta adalah bukti tidak meratanya pembangunan. Daerah-daerah yang memiliki sumberdaya alam yang melimpah, seperti Papua dan Aceh, justru menjadi daerah paling miskin dan tertinggal. Berpuluh-puluh jalan tol dibangun di Jakarta yang luasnya tidak seberapa, tetapi berapa puluh kilo meter jalan di Kalimantan dan Papua masih tanah yang ketika hujan berlumpur dan ketika musim kemarau ditutupi oleh debu. Desentralisasi politik memang telah dilakukan, tetapi tidak demikian dengan desentralisasi kesejahteraan. Kita masih sering mendengar berita tentang busung lapar, gizi buruk di bagian negeri ini yang kono adalah negeri gemah ripah loh jenawi, toto tentren kerta raharja. Busung lapar, gizi buruk adalah penghambat proses aktualisasi potensi diri manusia, padahal sebenaranya hal tersebut dapat dicegah atau diatasi. Karena hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar yang berkaitan dengan kelangsungan dan kelestarian hidup, kebebasan, kesejahteraan maka hal ini termasuk pada kekerasan struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan struktural, sebagaiman sifatnya, dia mencakup lingkup yang luas. Namusn selalu saja, masyarakat bawah yang selalu menjadi korban. Para petani telah sekian lama mengalami kekerasan ini. Lahan pertanian yang semakin sempit, karena lahan-lahan tersebut kini beralih fungsi sebagai perumahan, perkantoran atau jalan tol. Mereka lebih sengsara oleh karena mahal dan minimnya pupuk. Dan laksana jatuh tertimpa tangga, ketika panen hasil penen mereka dibeli dengan harga oleh pemerintah atau oleh monopoli para pemodal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat bawah yang sering menjadi korban adalah kaum miskin kota. Mereka tidak mendapat akses pekerjaan. Pengangguran merajalela. Dalam kondisi seperti ini mereka sering mendapatkan terror, penggusuran oleh aparat, dengan dalih keindahan dan kebijakan. Dalih untuk kebaikan dan kesejahteraan ini juga yang sering digunakan untuk melakukan penindasan kepada rakyat. Kasus tukar guling sebuah sekolah di Sampang Siantar menjadi satu bukti bahwa sebenarnya kebijakan pemerintah tidak benar-benar memihak kepada rakyat, tetapi kepada pemodal. Ini diketahui setelah ternyata lokasi sekolah tersebut akan dijadikan sebagai pusat perbelanjaan. Sepanjang kekuasaan mengabdi kepada pemodal, bukan kepada rakyat, maka kekerasan struktural ini akan masih tetap eksis, karena rakyat hanya bagian dari mesin penghasil uang, dan pemerintah tidak ubahnya panitia dari hajatan besar bernama pasar bebas. Masyarakat yang berorientasi pada kapital, pasar, maka gaya hidupnya pun akan beroreintasi pada materialisme. Orientasi masyarakat ini adalah menumpuk keuntungan yang sebesar-besarnya lewat produksi dan konsumsi, tanpat terlalu ambil pusing dengan persolan-persoalan moral, idiologi, dan spiritual dalam proses produksi dan konsumsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kekerasan dan Masa Depan Bangsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan yang telah lama terjadi dan dilakukan secara terstruktur menjadikan bangsa ini lupa terhadap nilai-nilai luhur yang dimilikinya. Di kalangan masyarkat yang tersisa adalah rasa saling curiga. Masyarakat yang semacam ini akan sangat mudah tersulut konflik dan akan terjadi kekerasan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Dan bangsa ini akan terus dihantui oleh horor-horor kekerasan. Untuk itu perlu segera ada langkah untuk mencegah terulang sejarah-sejarah kelam bangsa ini. Harus ada pendekatan yang holistic terhadap peristiwa kekerasan. Segala kekerasan harus dilihat dalam rangka kekerasan yang lebih luas, yaitu kekerasan politik, kekerasan ekonomi, kekerasan cultural, kekerasan simbol, kekerasan media dan kekerasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Richard A. Falk, sebagaimana dikutip I Marsana Windhu (1992), mengajukan empat nilai yang akan menjadikan kehidupan lebih baik, yaitu a) Usaha meminimalisasi kekerasan Kolektif, b) maksimalisasi sosial dan ekonomis, c) realisasi hk-hak asasi dan keadilan politik dan d) rehabilitasi, menjaga dan melestarikan alam. Selain itu, penggalian kepada kearifan-kearifan budaya lokal. Lembaga-lembaga moral, cultural, spiritual dibutuhkan unutk menjembatani dialog dan membuka ruang public, sehingga terwujud kedewasaan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;M. Habibi, Kabid Ukhuwah dan Jaringan KP HMI Cab. Yogyakarta.&lt;br /&gt;Tulisan ini telah dimuat dalam MAJALAH "ISRA" PUSHAM UII Edisi Juli 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-1669664366649378377?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/1669664366649378377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=1669664366649378377' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/1669664366649378377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/1669664366649378377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/08/politik-dan-budaya-kekerasan_1255.html' title='Politik dan Budaya Kekerasan'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/Spv-Ykx2VbI/AAAAAAAAAKQ/AdCk8qlIjU8/s72-c/vio.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-2653723668624480</id><published>2009-07-11T12:06:00.007+07:00</published><updated>2009-07-11T12:23:34.948+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Senior Course Ke 80</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SlgeCqRoVjI/AAAAAAAAAJg/7qregF_J58A/s1600-h/pamflet+sc+8tambah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SlgeCqRoVjI/AAAAAAAAAJg/7qregF_J58A/s200/pamflet+sc+8tambah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357064787814012466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Revivalisasi Fitrah Pengader Untuk Progresifitas Gerak HMI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;(QS. Ar-Rum: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu cepat. hampir tidak ada sedikit ruang pun yang luput dari jamahan perkembangan tenologi ini. Alfin Toffler dalam future Shock memberikan gambaran bagaiman pengaruh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia, tatanan sosial, pola kumunikasi dan hampir seluruh aspek kehidupannya. Kehidupan manusia pun berlangsung begitu cepat dan dinamis. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi itu, muncul pula permasalahan manusia yang semakin kompleks.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas permasalahan ini akan bertambah bagi umat Islam. Mereka akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan baru tentang ajarannya, tentang apa yang diyakini selama ini. Hal ini menuntut umat Islam untuk segera merespon berbagai persoalan tersebut dan dengan segera mencari solusi-solusi dari kompleksitas permasalahan tersebut. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah bagian dari uamat Islam ini, dengan demikian HMI juga dituntut untuk melakukan gerak juang yang progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMI secara sadar telah menentukan pilihannya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan sebagai identitasnya. Sebagai organisasi perkaderan, HMI melakukan pembinaan kepada kadernya melalui sebuah usaha yang terkonsep, sistematis, strategis dan berkesinambungan. Dari pembinaan ini nantinya diharapkan akan lahir sosok ideal atau kader cita HMI yang terkonsepsikan sebagai sosok ulil albab. Kader cita inilah yang kemudian menjadi motir-motir bagi perjuangan HMI, yaitu satu usaha untuk merealisasikan nilai-nilai Islam di alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah keniscayaan bagi insan-insan organisasi yang mencirikan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan ini untuk senantiasa selalu tekun dan bekerja dalam menjalankan amanah yang diembanankan kepadanya. Perkaderan dan perjuangan ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait dan tak bisa dipisahkan. Seluruh usaha perkaderan untuk melanggengkan HMI adalah demi perjuangan menggapai tujuan dan begitu juga perjuangan mensyaratkan kokohnya perkaderan. Dinamisasi antara perkaderan dan  perjuanganlah satu-satunya motor penggerak bagi organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia ini untuk meraih tujuannya “Terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut serta bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang dirihoi Allah SWT”. Dari sini nampak bahwa HMI mengedepankan pembinaan dan pengembangan potensi manusia sebagai subjek pembangun peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fitrah manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Arabi sering mengunakan istilah fithrah manusia dengan arti ‘kecondongan dasar ‘. Banyak para musafir yang menafsirkan fitrah manusia adalah ini elem ajaran agama yaitu iman kepada Allah atau Tauhid. Menurut Ibnu ‘Arabi, kecondongan primordial manusia tersebut dilengkapi dengan sejumlah sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh ruh manusia pada saat penciptaannya. (William C. Chittick : 2001). Selain itu, manusia juga dibekali dengan perangkat diri berupa jasad, akal dan ruh. Manusia akan tetap pada kesempurnaannya ketika ketiga elemen tersebut berkembang dan berjalan secara sinergis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesempurnaan yang dimiliki tersebut, manusia mengemban tanggung jawab yang besar. Selain sebagai abdi, manusia juga memiliki peran sebagai khalifah di mika bumi ini, satu amanah yang tidak bisa ditanggung oleh makhluk selainnya. Tanggungjawab. sebagai abdi manusia dituntut totalitas peribadahannya kepada-Nya, sedangkan sebagai khalifah manusia bertanggungjawab memakmurkan bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk, perkembangan manusia ditentukan oleh potensi-potensi yang dibawa dan pengaruh-pengaruh lingkungan.dan seringkali kecondongan-kecondongan dasar manusia tersebut diselimuti oleh kabut lingkungannya. Untuk itu, yang diperukan adalah Usaha-usaha itu adalah untuk mengingatkan kembali manusia pada fitrahnya, menyibak kabut-kabut yang menutupi fitrah tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pembinaan yang tersistematis dan berkesinambungan. Di HMI, hal ini disebut sebagai perkaderan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fitrah Pengader&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem perkaderan, setidaknya terdapat dua subjek penting di sana, kader dan pengader. Kader secara umum adalah orang yang dididik untuk melanjutkan estefet suatu organisasi. Sementara kader HMI adalah anggota HMI yang telah mengikuti model perkaderan organisasi secara menyeluruh dan optimal, sehingga memiliki integritas pribadi yang utuh, beriman, berilmu dan beramal shaleh yang siap mengemban tugas dan amanah keumatan. Lahirnya kader ideal sangat ditentukan oleh sistem yang ada dan juga pengader yang berkualitas. Pengader adalah orang yang melakukan pembinaan secara intens. Dia adalah sosok dengan kepribadian utuh sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang. Itulah fitrah pengader. Itu pula adalah sibghah atau blue print sosok pengader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pendidik, pengader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai-nilai Islam. Sebagai pendidik, pengader HMI haruslah memahami bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara sitematis untuk mengembangkan potensi peserta didik. Tujuannya adalah lahirnya manusia paripurna yang memiliki keimanan, akhlak mulia, dan ilmu pengetahuan. Untuk itu, pengader HMI harus memiliki kemampuan metodologi, strategi dan operasional dalam pendidikan. Selain itu, dia juga harus bisa memahami subjek didiknya, meletakkannya sebagai manusia yang sadar dan membawa potensi kebaikan. Yang paling utama bagi seorang pendidik adalah dia bisa menjadi tauladan (uswatun hasanah) bagi subjek didiknya. Pendidik adalah integritas kepribadian antara iman, ilmu dan amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemimpin, pengader HMI merupakan penjaga ukhuwah islamiyah. Dan sebagai pejuang, dia merupakan pelopor dalam amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyerukan kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran serta melarang dari perbuatan yang merusak dan prilaku-prilaku yang akan menghadirkan murka Allah. Sebagai pejuang, dia adalah mujahid, orang yang mengerahkan seluruh daya dan kemampuannya, baik secara aqliyah, fikriyah maupun jasadiyah. Sebagai mujahid, dia mengetahui benar konsekwensi dari jalan juang yang ditemupuhnya. Dia adalah sosok yang mempunyai kesadaran idiologis dan mampu mengungkapkan segala apa yang dia yakini secara lisan maupun perbuatan. Al-Quran juga menyatakan bahwa kehidupan ini adalah media perjuangan bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang sempurna dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, manusia harus bersiap pula untuk berkorban, tidak saja harta benda, tetapi juga nyawa sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Konsekuensi dari tiga sosok potensi yang padu, yakni pendidik, pemimpin dan pejuang, maka pengader adalah insan yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad di jalan Allah SWT, istiqomah, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang relefan dengan tugasnya sebagai pengelola latihan HMI”. (Muqodimah Pedoman Pengader). Dari sinilah, HMI akan melakukan gerak juang yang progresif. Dan Senior Course ke 80 ini diharapkan mampu menjadi langkah awal untuk melakukan gerak tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;palign="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;SC Ke 80 akan dilaksanakan pada tanggal 25 - 30 Juli 2009 di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syarat-syarat mengikuti SC&lt;br /&gt;Lulus LK II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membuat Makalah sesuai tema min. 3 Lembar kertas kuarto Time New Romans spasi 1,5&lt;br /&gt;Membuat out line (pointer-pointer) khittah perjuangan&lt;br /&gt;Hafalan surat Adh-dhuha sampai An-Nas ditamabah Al-‘ala, Al-Ghasyiyah dan As-shof&lt;br /&gt;Mengikuti seleksi yang meliputi: ke-Islaman, Ke-HMI-an, makalah dan Micro Teaching.&lt;br /&gt;Menyerahkan past poto 3x4 sebanyak 2 Lembar.&lt;br /&gt;Membayar kontribusi sebesar Rp. 75.000,00 dan pendaftaran Rp. 5.000,00 dengan fasiliatas Kaos, stiker, buku dan CD hasil pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Waktu Seleksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;seleksi dilaksanakan tanggal 21-22 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembekalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembekalan dan Studium General 24 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendaftaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran melalui SMS: REG (spasi) NAMA (spasi) KOMISARIAT dikirim ke No. 085959070782 an. Fauzan S, atau ke No. 0274 6567900 An. HMI Cab, Yogyakarta Maksimala tanggal 19 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-2653723668624480?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/2653723668624480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=2653723668624480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/2653723668624480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/2653723668624480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/07/revivalisasi-fitrah-pengader-untuk.html' title='Senior Course Ke 80'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SlgeCqRoVjI/AAAAAAAAAJg/7qregF_J58A/s72-c/pamflet+sc+8tambah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-245251888179240949</id><published>2009-07-11T11:26:00.007+07:00</published><updated>2009-07-11T12:26:03.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Renungan ke-HMI-an</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SlgWaRiNIBI/AAAAAAAAAJQ/ZUhetjCcrYw/s1600-h/buku.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SlgWaRiNIBI/AAAAAAAAAJQ/ZUhetjCcrYw/s200/buku.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357056397396484114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul  : HMI: Keabadian dan Inovasi Gerakan&lt;br /&gt;Editor  : Ahmad Nuralam dan Ahmad Sahide&lt;br /&gt;Penerbit : The Phinisi Press Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2009&lt;br /&gt;Hal.  : ix + 201&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak awal berdirinya telah menyakan komitmennya terhadap ajaran Islam. Komitmen terhadap Islam inilah yang menjadi ruh gerak HMI. Dengan ruh ini pula, HMI membina kader-kadernya menjadi manusia yang berkualitas, kader yang militan. Kemampuan HMI dalam membina kadernya dapat dilihat sejauhmana organisasi itu mampu menjelaskan nilai-nilai kebenaran yang diyakninya dalam satu sistem yang lugas dan mudah dipahami. Dan HMI  akan tetap eksis apabila kader-kadernya mampu mengembangkan kapasistas dirinya untuk melesat menuju  gerakan spiritual yang disebarkan dalam bentuk amal Soleh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa pikiran yang tertuang dalam buku HMI: Keabadian dan Inovasi Gerakan. Buku yang merupakan hasil kumpulan tulisan ini mengupas banyak hal di dalamnya, segala tetek bengek HMI. Secara gasisr besar, buku ini dibagi ke dalam empat bab, yang mereprensitasikan tenang pemikiran keabadian dan inovasi gerkan. Bab I, berbicara tentang HMI dan Pemikiran Keislaman yang memuat dua tulisan. Bab II berisi tentang HMI dan Modrnitas yang antara lai berbicara tentang HMI di tengan Arus Globalisasi, HMI dan Politik Citra yang merupakan tema-tema hangat saat ini. bab III buku ini berisi pemikiran-pemikiran HMI-wati yang menyoroti tentang keberadaan, pembinaan dan gerak Koprs HMI-wati (KOHATI), diantaranya menghadirkan tenatng kepemimpinan dalam perspektif feminis. Dan Bab IV membincang masalah Dinamika Politik Kontemporer yang antara lain berisikan tentang permasalah Golput dan sistem keindonesia. Adapun buku sebagai penutup adalah tulisan Masyhudi Muqarrabin Ph.D yang ketika masih aktif di HMI pernah menjabat sebgai ketua PB HMI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai buku yang ditulis secara keroyokan oleh 17 penulis yang kebanyakan adalah orang yang didik dan di besarkan oleh kulut Karangkajen (sekretariat HMI Cabang Yogyakarta), secara ide buku-buku ini bisa dikatakn kurang sistematis, apalagi penyusunannya terburu-buru, yaitu dalam rangka Kongres HMI ke 27 di Yogyakarta. Ini berakibat pula pada tata letak si buku. Namun, keunggulan buku ini adalah dia ditulis oleh orang dalam (sebagaian masih aktif di struktur kepengurusan), yang mengetahui seluk beluk dan ruang dapur HMI. Selain itu, tulisan yang reflektif juga memberikan ruh tersendiri bagi buku ini, selain membeberkan berbagai persoalan yang dihadapi, para penulis juga menwarkan alternatif-alternatif pemecahannya. Dengan demikian, buku ini akan cocok untuk dibaca oleh mereka yang masih aktif ngurus HMI dan juga merka yang berminat terhadp studi tentang HMI. Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-245251888179240949?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/245251888179240949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=245251888179240949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/245251888179240949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/245251888179240949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/07/renungan-ke-hmi.html' title='Renungan ke-HMI-an'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SlgWaRiNIBI/AAAAAAAAAJQ/ZUhetjCcrYw/s72-c/buku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-4109496846501699285</id><published>2009-06-29T21:12:00.000+07:00</published><updated>2009-06-29T21:14:36.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kepemimpinan'/><title type='text'>SEPENGGAL MENGENAI KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;By: Luluk ifadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alan Cowling dan Phillips, mengemukakan learning orgazanizaton atau organisasi yang mau belajar. Dalam hal ini organisasi diperlakukan sebagai sistem (suatu konsep yang akrab disebut systems theory yang perlu menanggapi lingkungannya agar tetap hidup dan makmur. Menurut pandangan ini, sebuah organisasi akan mengembangkan suatu kemampuan untuk menanggapi perubahan-perubahan di dalam lingkungannya, yang memastikan bahwa trasformasi internal terus-menerus terjadi. Dengan demikian, suatu organisasi atau sekolah yang mau belajar dapat dikatakan sebagai suatu organisasi yang memberikan kemudahan kepada anggotanya untuk melakukan proses belajar dan terus-menerus mengubah dirinya sendiri. Salah satu wujud organisasi atau sekolah sebagai learning organization adalah adanya kemauan belajar dari para guru (dalam konteks HMI: pemandu /pemateri) untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya, dan salah satunya melalui kegiatan pelatihan. Dengan demikian, upaya belajar tidak hanya terjadi pada kalangan siswa semata .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Atas inisiatif penulis, maka ada baiknya jika perlu diuraikan mengenai hal-dasar dalam pelatihan yakni tentang memaknai Kepemanduan/ kepematerian HMI dalam konteks materi kepemimpinan dalam islam. Sebagaimana berikut ini:&lt;br /&gt;Siapakah pemandu / pemateri itu?&lt;br /&gt; pemandu adalah lebih cocok dikategorikan sebagai Soft Profession. Karena dalam mengajar guru dapat melaksanakan dengan berbagai cara, disini aspek “sense” dan “art” memegang peran yang amat penting. Misalnya, pemandu menyajikan kesimpulan pada awal pelajaran yang kemudian baru dilaksanakan pembahasan dan sebaliknya.&lt;br /&gt; Realitasnya pemandu/pemateri lebih didominasi dalam peran sebagai pemandu/pemateri&lt;br /&gt;”by condition” bukan “by design”, sehingga alasan ketidak-siapan menjadi jurus ampuh yang biasa digunakan&lt;br /&gt; Pemandu sampai saat ini masih memiliki prestise terhormat di HMI. Sehingga menjadi pemandu memang menjadi terasa berat jika disertai dengan tanggungjawab dan panggilan hati&lt;br /&gt; Bisa ditambahkan sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pemandu / pemateri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tentang pentingnya melakukan apersepsi mengaitkan dengan materi sebelumnya&lt;br /&gt; Menggunakan media, misalnya :melelui tulisan(sebagai bagian dari pengikat makna). Alat praga (melalui simulasi permainan dsb)&lt;br /&gt; Menggunakan argumentasi yang membumi dan menterjemahkan nilai-nilai rigid kepemimpinan dalam islam (disesuaikan dengan kondisi sosio-historis peserta)&lt;br /&gt; Gunakan contoh yang mengaitkan antara suatu teori dengan realitas yang ada sehingga terjalin 3 prinsip yaitu: (1) interdependence (kesalingbergantungan), (2) differentiation (keberbedaan atau ketidakmiripan), dan (3) self-organization (pengorganisasian-diri). Inilah juga prinsip-prinsip alam . Disini forum harus dikondisikan menjadi dinamis (peserta aktif bertanya, menyanggah dsb)&lt;br /&gt; Membalik banyak hal berkaitan dengan proses kegiatan belajar-mengajar. Hal ketiga ini saya sandarkan pada pernyataan Tony Buzan, penemu metode “mind map”. Yang mengatakan bahwa “Dalam bentuk pendidikan yang baru, penekanan pendidikan harus dibalik. Jika tadinya berbagai fakta di luar diri seseorang yang lebih dahulu diajarkan, kita kita harus terlebih dahulu mengajarkan berbagai fakta tentang dirinya sendiri—fakta tentang cara manusia belajar, berpikir, mengingat, mencipta, dan menyelesaikan masalah.” Dalam bahasa Quantum Teaching, ini disebut sebagai “experience before labeling” (para peserta perlu mengalami lebih dahulu baru kemudian mereka diberitahu tentang konsep-konsep yang ada di buku) .&lt;br /&gt; Bisa ditambahkan sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penyampaian materi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bisa menggunakan prolog introspeksi diri (who am I ??) dalam konteks sebagai pemimpin, dapat pula menggunakan permainan guna memancing ketertarikan peserta pada materi&lt;br /&gt; Dilebarkan pada penjabaran materi secara umum kemudian dikerucutkan pada kepemimpinan islam&lt;br /&gt; Memberikan kesempatan pada peserta untuk melakukan umpan balik (feed back)&lt;br /&gt; Tidak semua pertanyaan harus dijawab, bisa dikondisikan agar peserta justru tidak puas dan ingin mencari tau diluar forum&lt;br /&gt; Karena waktu penyampaian materi yang terbatas, maka kemukakan hal-hal pokoknya kemudian dijelaskan secara bertahap sesuai dengan metode penyampaian yang digunakan&lt;br /&gt; Bisa ditambahkan sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selintas gambaran tentang materi kepemimpinan dalam islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar lebih mempermudah pencarian data, maka dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa poin dibawah ini :&lt;br /&gt; Penjelasan tentang hakikat peran manusia di bumi (Penobatan manusia sebagai khalifah dilengkapi dengan fungsi kepemilikannya akan ilmu yang diberikan Allah SWT, yang secara potensial dapat didayagunakan untuk mengatur dan mengelola alam semesta)&lt;br /&gt; Bisa pula dijelaskan mengenai ajaran Islam yang memandang bahwa hubungan individu dan masyarakat adalah koheren, kohesif dan komplementatif kemudian pemahaman mengenai Sifat islam sebagai rahmatan lil alamin&lt;br /&gt; Penjelasan mengenai konsep kepemimpinan sebagai alat bagi manusia untuk membangun tatatan masyarakat yang diridhai Allah SWT sekaligus sebagai instrumen kelembagaan sehingga intitusi kekhalifahan dengan individu-individu mu’min adalah koheren dalam mengemban tugas-tugas keumatan&lt;br /&gt; penjelaskan peran kholifah. Abd-Allah dan imamah&lt;br /&gt; Penjelasan mengenai kualifikasi khalifah : tingkat keimanan sang makhluk, tingkat kearifan seseorang&lt;br /&gt; Sejauh mana peran kepemimpinan yang diemban manusia (cakupan keadilan yang mampu diciptakannya, cakupan wilayahnya, prakteknya di lapangan)&lt;br /&gt; Menjelaskan tentang konsep “Negara-islam”. Berikan percontohan kepemimpinan menurut islam “ala Rosulullah” (proses perjalanannya menjadi seorang pemimpin)&lt;br /&gt; Korelasikan kepemimpinan Rosulullah dengan kepemimpinan-kepemimpinan setelah (bisa juga sebelumnya)&lt;br /&gt; Uraikan mengenai pencarian sosok pemimpin ideal konteks masa kini (umat islam, Negara Indonesia)&lt;br /&gt; Penguraian mengenai keberadaan kepemimpinan Islam, yang bagi umatnya merupakan interpedensi dan koeksistensi. Hal ini menjadi citra utama keberadaan jama’ah dan kekhalifahan Islam yang par excelent sempurna, yang termanifestasikan pada masa nabi muhammad SAW. Demikian juga seharusnya bagi umat Islam dewasa ini sebagai bukti ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Sebagai penutup, tentunya tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mereduksi / bahkan menjadi acuan pemikiran dari pemandu maupun pemateri KDI, akan tetapi merupakan bagian dari referensi kecil yang mungkin saja dipergunakan jika ”kelupaan” membawa khittoh saat bertugas, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Sebelum diakhiri, mengacu pada teori shifting paradigm Thomas Khun, yang menyatakan bahwa ”aktifitas keilmuan akan selalu melahirkan teori-teori baru manakala masalah-masalah yang ada tidak dapat diselesaikan dengan teori yang ada, sehingga akan muncul paradigma dengan teori yang baru”.&lt;br /&gt;Maka seharusnya begitulah paradigma HMI sekarang. HMI yang selalu melakukan transformasi dan inovasi guna menghasilkan formula dan ide-ide kreatif dalam penyampaian kepemanduan maupun kepematerian sehingga (khususnya) pada LK !, peserta memiliki gambaran yang cukup komperhensif dalam memahami khittoh HMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-4109496846501699285?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/4109496846501699285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=4109496846501699285' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4109496846501699285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4109496846501699285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/06/sepenggal-mengenai-kepemimpinan-dalam.html' title='SEPENGGAL MENGENAI KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-6844824718592540072</id><published>2009-06-23T23:20:00.005+07:00</published><updated>2009-06-29T11:17:38.684+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawasan Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Melawan Sang Penindas, Membela Yang Ditindas</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Oleh: Ihab Habidun&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Betapa sering kita mendengar suara adzan…Allahu Akbar!Allahu Akbar!...Namun, apakah kalian sudah merenungkan apa yang dimaksud dan isi panggilan itu?... AllahuAkbar bermakna(dalam bahasa yang tegas):berilah sanksi pada para lintah darat yang tamak itu! Tariklah pajak dari mereka yang menumpuk-numpuk kekayaan! Sitalah kekayaan para tukang monopoli yang mendapatkan kekayaan dengan cara mencuri! Sediakanlah makanan untuk rakyat banyak! Bukalah pintu pendidikan lebar-lebar dan majukan kaum wanita! Hancurkan cecunguk-cecunguk yang membodohkan dan memecahbelah umat!Carilah ilmu sampai ke negeri Cina…berikan kebebasan, bentuklah majlis syura yang mandiri, dan biarkan demokrasi yang sebenar-benarnya bersinar! (Raif Khoury)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melawan adalah kata yang sering dipelintir. Melawan sering diasosiasikan secara negatif. Melawan sering disebut memberontak, mengganggu, dan merusak. Orang yang melakukan perlawanan sering dikatai pengacau situasi, pengganggu stabilitas, dan perusak tatanan. Pada masa Orde Baru, yang kritis dan melawan sering dicap PKI, golongan kiri atau komunis. Di masa SBY, orang yang mengkritik, memprotes, dan berdemonstrasi menolak kenaikan BBM dilabeli penghalang rezeki orang miskin. Tampaknya, segala yang berbau perlawanan terhadap yang mapan telah dikonstruksi sedemikian rupa sebagai sesuatu yang negatif, yang perlu dipadamkan, disingkirkan dan dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawan sebenarnya tidak selalu berkonotasi negatif. Justeru dalam banyak hal, melawan adalah tindakan sadar untuk melakukan pembebasan agar kehidupan yang lebih baik tercipta. Melawan merupakan reaksi terhadap dominasi, ketimpangan, dan ketidakadilan sosial. Tengoklah bukti-bukti perlawanan dalam sejarah dunia. Perlawanan rakyat perancis tahun 1789 karena penerapan monarki absolut dan penarikan pajak yang memberatkan rakyat, serta rakyat sudah tidak tahan lagi terhadap tindakan semena-mena dari kalangan bangsawan. Perlawanan rakyat Iran tahun 1979 menentang rezim syah Reza Pahlavi yang korup dan menindas rakyat. Juga para pejuang kemerdekaan negeri ini yang melawan karena kolonialisasi, eksploitasi, dan tindakan biadab para penjajah yang menempatkan rakyat pribumi di kasta terendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah pembebasan, gerakan perlawanan harus menanggung banyak korban. Ingatlah para pahlawan yang tercatat di buku-buku sejarah kita. Begitu banyaknya, sampai kita susah menghafalnya. Belum lagi, “pahlawan” yang tidak dianggap pahlawan. Karena dianggap kiri, radikal, atau tidak mempunyai posisi strategis. Termasuk ribuan hingga jutaan rakyat yang menjadi tumbal kebengisan meneer-meneer Belanda dan Jepang. Mereka itulah pahlawan sejati yang ikut mengantarkan negeri ini ke gerbang kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mulianya sebuah perlawanan. Maka perlawanan adalah perjuangan. Perlawanan adalah keniscayaan. Untuk apa? Untuk menghapus setiap struktur yang menindas manusia. Agar manusia kembali pada kedudukannya sebagai manusia. Manusia yang tidak saling menindas. Manusia yang menghargai hak asasi. Manusia yang memanusiakan manusia. Bukankah doktrin agama mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak akan merubah suatu kelompok selama kelompok tersebut tidak berupaya merubahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Perlawanan&lt;br /&gt;Islam sendiri merupakan agama perlawanan. Muncul di tengah struktur masyarakat diskriminatif dan eksploitatif. Islam mendobrak, menentang, dan melawan segala yang mapan dan menindas waktu itu. Islam melawan segala bentuk ketidakadilan seperti, eksploitasi ekonomi, penindasan politik, dominasi budaya dan gender, serta segala corak disequlibrium (ketidakseimbangan) dan apertheit (Mansour Fakih:2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menentang penindasan. Ketika orang-orang kaya membuat siasat-siasat regulasi pengorbanan, yang sebenarnya hanya didistribusikan untuk orang-orang kaya dan penguasa suku-suku Arab, al-Qur’an mengecamnya sebagai penentuan yang buruk (QS. Al-An’am:136). Dan ketika mereka menumpuk-numpuk harta, al-Qur’an secara tegas mengancamnya dengan akan dimasukkan ke neraka Hutamah (QS. Al-Humazah: 1-9). Pun dengan mereka yang sukanya menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, diancam dengan siksaan pedih dan menyakitkan (QS. At-Taubah:34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menentang berbagai bentuk eksploitasi. Praktek riba yang eksploitatif dan hanya menguntungkan kaum borjuasi ditentang habis-habisan. Orang yang memakan harta riba diancam tidak bisa berdiri di hari kiamat (QS. Al-Baqarah:275). Bahkan begitu dibencinya praktek riba tersebut, Allah SWT dan Rasul-Nya menyiapkan genderang perang terhadap siapa saja yang tidak mau meninggalkan praktek riba (QS. Al-Baqarah: 279). Orang yang berbuat curang menakar dan menimbang dalam perdagangan dikecam akan mendapat kecelakaan yang besar (QS. Al-Muthaffifin: 1-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menekankan keadilan distributif. Keadilan yang dikatakan Asghar Ali Engineer seratus persen berlawanan dengan tradisi penumpukan dan penimbunan harta kekayaan waktu itu. Al-Qur’an menganjurkan orang-orang kaya mendermakan hartanya untuk anak yatim, janda-janda, fakir dan miskin, agar kekayaan tersebut tidak hanya berputar diantara orang-orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7). Bagi yang punya harta berlebih dianjurkannya bershadaqah dan diwajibkan berzakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam melarang menghina orang miskin. Orang yang memberikan shadaqah pada kaum lemah harus dengan cara yang baik. Sekalipun shadaqah bersifat sukarela, al-Qur’an menitahkan supaya dalam memberi tidak menyinggung perasaan si penerima (QS. Al-Baqarah: 262-263). Memberi juga tidak boleh dimotivasi oleh keinginan untuk dipuji atau riya (QS. Al-Baqarah: 264). Memberi harus dilandasi keikhlasan. Memberi harus lepas dari logika pertukaran. Memberi adalah memberi, kata Jacques Derrida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam membela kaum miskin, lemah dan terpinggirkan. Islam menyebut siapapun sebagai orang yang mendustakan agama, meskipun ia beragama, bila dalam tingkah lakunya menghardik anak yatim, tidak peduli orang miskin, serta tidak mau menolong dengan barang yang berguna. (QS. Al-Ma’un: 1-7). Islam juga melindungi hak-hak buruh dari kaum-kaum yang mempekerjakannya. Nabi mengajarkan: berikanlah upah buruh sebelum keringatnya kering (Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam agama pemberontak. Ketika sebuah struktur masyarakat menindas; yang mapan mendominasi yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, kaum borjuis menghegemoni kaum ploretar, Islam berteriak lantang menyerukan perlawanan. Mengapa kamu tidak mau berpegang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi engkau, dan berilah kami penolong dari sisi engkau!”(Q. S. al-Qashash ayat 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah nota-nota ajaran Islam yang sangat jelas. Fakta-fakta normatif yang revolusioner, yang menentang struktur masyarakat yang menindas, sekaligus ancaman bagi kemapanan kaum borjuasi. Bukti bahwa Islam membela kaum lemah dan terpinggirkan. Bukti bahwa Islam bukan pembela para elit melainkan orang alit. Bukti bahwa Islam bukan agama yang pro para pencekik melainkan membela wong cilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Pembebas&lt;br /&gt;Fakta-fakta normatif di atas sejalan dengan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Sang pembebas yang selalu siap menapaki jalan terjal dan menanggung resiko atas perlawanan yang ia lakukan. Abdurrahman asy-Syarqowi, seorang sejarawan terkenal menyebutnya sebagai pribadi yang mengagumkan, seorang pahlawan yang tidak pernah bergeming melawan kekejaman, kebrutalan dan kebengisan dalam berbagai kondisi, demi terwujudnya cinta kasih antar sesama manusia, keadilan, kebebasan dan masa depan yang sejahtera, serta tanpa diskriminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sewaktu remaja, jauh sebelum kerasulannya, telah tampak padanya bibit-bibit sebagai tokoh intelektual sejati (rausyan fikr). Rausyan fikr adalah orang yang sadar akan “keadaan kemanusiaan” (human condition) di masanya, serta setting kesejarahan dan kemasyarakatannya (Ali Syari’ati:1986). Dalam dirinya mulai tertancap bangunan sense of social crisis yang mengagumkan. Bahwa hidup harus gelisah, harus bertanya, dan harus mencari kemungkinan jawaban atas berbagai problematika sosial. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Hidup juga untuk orang lain, untuk kaum miskin, lemah dan terpinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ Nabi Muhammad mulai mengisolasi diri dan berkontemplasi. Bukan untuk lari dan memenuhi kepentingan sendiri. Bukan untuk mencari aman demi kenyamanan pribadi. Di situ Nabi Muhammad merenung dan mencari segenap alternatif bagaimana memecah kebuntuan sosial. Dan benar saja, di bawah lindungan Yang Maha Kuasa, sejak kerasulannya, Nabi Muhammad menyikapi kenyataan masyarakat Arab dengan tegas bahwa patung-patung hanyalah tipu muslihat dan kesesatan yang nyata. beliau menyeru bahwa Tuhan itu Maha Agung dari batas semisal Ka’bah, bahkan makkah. Dia di setiap tempat. Tak ada rupa bagi-Nya. Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Hanya dialah yang patut disembah. Di sisi-Nya tak ada diskriminasi antara hamba sahaya dan bangsawan-bangsawan terkemuka, antara si papa dan si kaya raya, dan antara pria dan wanita. Tuhan tidak mentolelir perzinahan, riba, pembunuhan, dan kesombongan. Dia mengutuk orang-orang yang menumpuk emas dan perak, tanpa mau mendermakannya pada fakir miskin. Dia akan membakar tubuh orang-orang yang suka mempermainkan hak-hak orang lain, yang suka mencuri sukatan dan timbangan. Dia juga meninggikan martabat orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama umatnya, beliau mulai membebaskan budak-budak. Sebagai pribadi, beliau tidak suka kenyang sendiri, sementara tetangganya kelaparan. Beliau membenci kebohongan dan kepalsuan. Tak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Tak pernah melakukan kepalsuan untuk mencuri keuntungan. Baginya, sebuah janji adalah suci. Karena itu beliau tidak pernah melakukan perbuatan yang menyebabkan dijauhi orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seperti guratan alam yang mudah ditebak. Melawan berarti mengundang resiko. Nabi Muhammad harus menanggung semua resiko. Oleh para penentangnya, tak jarang Nabi dilecehkan, dihina, dianggap gila, dan diancam pembunuhan. Nabi juga pernah di ludahi, dilempari batu dan kotoran. Bahkan di separo hidupnya ia harus siap di tebas di medan perang. Semua resiko itu dilakoni dengan penuh kesabaran dan konsistensi untuk mencapai dunia baru. Dunia yang adil dan beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langka&lt;br /&gt;Namun, Budaya perlawanan dan kesiapan menanggung resiko adalah kisah langka di masa kini. Tumpukan data-data pembebasan adalah kisah usang yang hanya menempel di buku-buku sejarah keislaman. Islam yang membebaskan masih menempel di teks-teks agama yang belum banyak tertransformasikan dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang adalah masa Islam di tarik-ulur dan diperdebatkan. Sekarang adalah masa Islam dijadikan arena saling sesat-menyesatkan. Islam adalah medan ritualisme dan simbolisme. Dimana penganutnya sudah merasa cukup kala ritual kegamaan sudah dilaksnakan. Merasa nyaman kala berbagai produk atau lembaga di stempel syariah. Islam adalah tumpukan penelitian kuntitatif-kualitaif dalam teks-teks skripsi, tesis, dan disertasi. Inilah zaman Islam dijual. Tema-tema keislaman dijadikan jargon-jargon politik. Amanah dan kejujuran dijadikan alat kampanye untuk mencari simpati publik. Produk-produk kebudayaan muslim dianggap komoditas yang menjanjikan dan dipakai hanya sebatas mode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak aneh bila yang menolak undang-undang penanaman modal asing, yang menentang sewa murah hutan lindung, yang menolak pemberlakuan BHP, yang mati-matian membela hak-hak buruh, yang menolak keganasan korporasi-korposari asing, yang menolak proyek pasir besi, yang menuntut hak-hak korban lapindo, yang memprotes penjualan aset-aset Negara, hanyalah segelintir orang saja. Kekayaan yang hanya berputar di orang-orang kaya juga luput dari perhatian. Alih-alih keadilan distributif yang terjadi, justeru korupsi yang menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu pun tampak seperti ritualisme Machiavellian. Liberalisme politik dibungkus atas nama demokrasi. Semua orang berebut kekuasaan dengan segala cara. Tak urusan dengan money politik dan janji yang menipu. Pokoknya dapat duduk di kursi dewan. Urusan rakyat nanti kalau sudah kembali modal. Hasilnya, pemilu yang menghabiskan triliunan rupiah itu tampak seperti perlombaan gaya dan citra untuk menarik simpati publik. Pemilu adalah arena kebijakan populis dan jargon politis yang digunakan untuk mengelabui rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, sedikit sekali kalangan muslim yang bercerita tentang kebobrokan demokrasi liberal tersebut. Sebagian malah berusaha mendukung dengan segenap pendapat dan fatwa, seolah inilah demokrasi yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan candu&lt;br /&gt;Hal itu terjadi karena Islam dipahami secara dangkal, yaitu sebatas ritualistik dan simbolik. Itulah sebabnya, banyak orang berislam hanya dengan mengaku-aku lewat KTP. Cerita orang Islam korupsi, membohongi publik, menipu rakyat, mengobral janji yang tak ditepati, termasuk kelompok ini. Juga berislam yang puas memakai produk budaya Arab, sementara diam terhadap problem sosial. Mereka sigap menepis agama bukan candu, tapi menjadikannya agama seperti macan ompong yang meninabobokan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Islam bukan agama candu. Maka jangan dibuat candu masyarakat. Islam agama perlawanan bagi yang menindas. Maka jangan hanya rakyat disuruh bersabar. Islam juga Kiri Islam, kata Hassan Hanafi. Islam menyuarakan “mayoritas yang diam” di antara umat islam, membela kepentingan seluruh umat manusia, mengambil hak-hak kaum miskin dari tangan orang-orang kaya, memperkuat orang-orang yang lemah dan menjadikan manusia sama setara “seperti gerigi sisir” (Hassan Hanafi:1981).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali syari’ati mengatakan bahwa Islam yang benar lebih dari sekedar kepedulian, Islam yang benar memerintahkan kaum beriman berjuang untuk keadilan, persamaan, dan penghapusan kemiskinan. Karena itu, Islam bukanlah agama yang hanya memperhatikan aspek spiritual dan moral atau hubungan individual dengan penciptanya, lebih dari itu, ia sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, kita membutuhkan paradigma Islam seperti yang diungkapkan tokoh-tokoh Islam pembebasan, seperti yang diungkap Asghar Ali Engineer, Ali Syari’ati, dan Hassan Hanafi. Islam yang berparadigma sosial kritis. Islam yang melawan sang penindas dan membela yang ditindas (Allahu a’lam bi al-shawab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Majalah isra PUSHAM UII Edisi April 2009.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-6844824718592540072?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/6844824718592540072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=6844824718592540072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/6844824718592540072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/6844824718592540072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/06/melawan-sang-penindas-membela-yang.html' title='Melawan Sang Penindas, Membela Yang Ditindas'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-5786625251085967459</id><published>2009-04-21T23:35:00.010+07:00</published><updated>2009-06-29T12:07:55.371+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korps Pengader'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>Korp Pengader HMI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Oleh: Edi Riyanto&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan yang mengulas tentang berbagai macam tetek bengek permasalahan yang mengitari eksistensi Korp Pengader HMI dari masa ke masa. Ditulis pada paruh tahun 2001 oleh seorang aktivis HMI, sekarang sebagai Direktur Tamzis Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Belum diketahui kapan tepatnya Korp Pengader HMI dibentuk. Dugaan sementara lembaga ini lahir tidak lama setelah HMI berhasil menata perkaderannya pada dasawarsa enampuluhan. Namun draft Pedoman Dasar dan dokumen penunjang lainnya baru dibahas pada Kongres ke-15 1983 di Medan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selama lima belas tahun terahir sedikitnya empat kali lembaga ini berganti nama sesuai dengan kecenderungan dan perkembangan pemikiran di dalamnya. Semula Lembaga ini bernama Corps Instruktur kemudian dirubah menjadi Corps Penge/ola Latihan pada Lokakarya Perkaderan tahun 1983 di Surabaya. Penggantian nama ini seiring menguatnya kesadaran untuk mengubah pendekatan pelatihan di HMI ke pendekatan yang lebih “manusiawi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, meski sejak lokakarya perkaderan Kaliurang (1975) HMI telah menetapkan kesejajaran (egaliter) antara pengelola dengan peserta latihan, tetapi pelaksanaannya masih menempatkan peserta sebagai obyek. Di sisi lain pengelola latihan memiliki wewenang yang hampir tidak terbatas dalam "memainkan" peserta. Pada pendekatan seperti ini pengelola adalah sosok yang serba tahu yang tidak bisa disanggah pendapatnya. Segala perintah pengelola harus ditaati peserta. Mereka juga punya hak untuk menghukum peserta jika dianggap melanggar peraturan. Pelatihan tidak ubahnya seperti perpeloncoan. Dengan pendekatan seperti itu instruktur memang kata yang paling tepat digunakan. Dan lembaga yang menghimpunnya disebut Corps Instruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan seperti itu memang sangat ampuh diterapkan tahun enampuluhan terutama ketika HMI menghadapi ancaman PKI, tetapi terasa tidak memadai ketika situasi berubah dan tuntutan prestasi meningkat. Pendekatan seperti itu tidak melahirkan kader yang kreatif dan inovatif dalam mengantisipasi perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1985 Corps Pengelola Latihan dirubah lagi menjadi Lembaga Penge/ola Latihan (LPL). Manurut beberapa orang yang aktif saat itu, kata Corps terkesan elitis dan berimplikasi psikologis terhadap sebagian besar anggotanya. Pertama, terjadi penurunan usaha menambah pengetahuan dan keterampilan di kalangan anggota HMI yang menjadi anggota Corps. Mereka merasa sudah menjadi petinggi HMI. Hal ini didukung oleh rekruitmen yang hirarkis sehingga ketika lulus dari Senior Course, mereka merasa telah sampai ke puncak jenjang. Kedua, muncul kecongkakan di kalangan anggota Corps terutama ketika berhadapan dengan anggota yang dianggapnya masih yunior. Kecongkakan ini terlihat nyata saat mereka bertugas mengelola latihan dengan menuntut perlakuan istimewa dari panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menilai penggunaan nama LPL mereduksi misi lembaga mengingat tugasnya bukan hanya mengurusi latihan tetapi seluruh model perkaderan beserta segala aspeknya. Latihan hanyalah salah satu model dalam perkaderan HMI. Selain itu Penggunaan nama LPL juga menimbulkan kerancuan manajerial seakan hanya LPL lah penyelenggara latihan di HMI. Pada prakteknya pelatihan ditangani tidak hanya oleh LPL tetapi juga oleh bidang latihan/kader di tingkat cabang terutama yang berkaitan dengan administrasi latihan. Celakanya belum ada kejelasan bagaimana mekanisme kedua lembaga ini ketika menangani sebuah pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokakarya Perkaderan 1992 mengubah nama LPL menjadi Korp Pengader. Tidak diketahui persis alasan apa yang mendasari perubahan ini. Barangkali dimaksudkan mengembalikan misi dan menghilangkan kerancuan. Tatapi mengapa kembali menggunakan kata Korp dan istilah baru Pengader. Tidakkah kedua istilah ini memunculkan kembali kesan elitis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi dan Peran Korp Pengader&lt;br /&gt;Korp Pengader adalah salah satu lembaga khusus yang dimiliki HMI saat ini. Tetapi sampai saat ini masih dua persoalan yang perlu dijernihkan yaitu posisi yuridis Korp Pengader dan kekhususan apa ying melekat pada lembaga ini. Persoalan pertama muncul akibat ada perbedaan antara pasal-pasal ART yang mengatur Korp Pengader dengan pasal-pasal pada Pedoman Korp. Persoalan kedua disebabkan kesalahan penafsiran terhadap kekhususan Korp, apakah bidang garapannya (perkaderan) ataukah subyek garapnya (pengader).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ART HMI menempatkan Korp Pengader sebagai lembaga khusus pembantu pimpinan HMI dalam melaksanakan amanahnya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas para pengader dan bersifat otonom. ART juga menyebutkan Ketua Korp dipilih oleh pimpinan HMI atas usulan Musyawarah Korp. Pengurus Korp dilantik dan bertanggung jawab kepada pimpinan HMI di tingkatnya yaitu Ketua umum Pengurus Besar unruk tingkat nasional dan Ketua Cabang di tingkat cabang. Dengan demikian menurut ART Korp Pengader berada di bawah pimpinan HMI(1). Sementara itu Pedoman Korp Pengader yang berlaku saat ini tidak menempatkan diri di bawah pimpinan HMI dan memiliki hubungan konsultatif dengannya. Pada prakteknya aturan menurut Pedoman Korp Pengader inilah yang berlaku. Lebih dari itu Korp menempatkan dirinya sebagai penasehat bahkan pengontrol cabang. Kedudukan ini didukung oleh kenyataan pengurus Korp Pengader pada umumnya adalah mantan pengurus cabang periode-periode sebelumnya sehingga dari sisi usia maupun keterlibatan di HMI dianggap lebih senior. Korp sering memerankan sebagai MSO (Majelis Syura Organisasi) tingkat cabang. Ketidaksambungan ini menimbulkan suasana kerja yang tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kemungkinan mengapa ketidak-sambungan ini terjadi. Pertama, Pedoman Korp disusun tidak merujuk pada Anggaran Dasar HMI tetapi sepenuhnya mengikuti aspirasi Musyawarah Korp. Pada sisi lain peserta kongres tidak teliti ketika melakukan pengesahan pedoman-pedoman HMI. Kedua, terjadi perubahan isi ART yang menyangkut lembaga khusus dan kekaryaan yang tidak dibarengi dengan penyesuaian Pedoman Korp. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat peserta kongres tidak selalu memiliki kemampuan melihat HMI secara integral dan komprehensif apalagi bila menyangkut detail. Ketiga, tidak tertutup kemungkinan adanya keengganan pengurus Korp menyesuaikan diri dengan ART yang menempatkannya pada posisi di bawah pimpinan HMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari apakah ketidaksambungan ini akibat ketidak sengajaan atau pun alasan yang lain seharusnya tidak dibiarkan berlarutlarut. Menurut kaidah hukum, jika ada dua aturan hirarkis bertentangan, maka aturan yang berada di atas dimenangkan. Dalam konrek ini Pedoman Korp harus tunduk pada pasal-pasal Anggaran Rumah Tangga rujukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai namanya sebenarnya sudah cukup jelas bahwa subyek garaplah (para pengader) yang menjadikan Korp Pengader bersifat khusus. Hal ini konsisten dengan Pedoman Perkaderan yang menempatkan anggota Korp Pengader hanya sebagai salah satu penangung jawab perkaderan. Pedoman Perkaderan membedakan penanggung jawab perkaderan menjadi dua yaitu penanggung jawab kebijakan dan penanggung jawab lapangan. Penanggungjawab kebijakan adalah mereka yang pada jabatannya di kepengurusan berwenang merancang dan memutuskan kebijakan perkaderan. Di Tingkat Komisariat biasanya departemen kader, di tingkat cabang dan nasional disebut bidang latihan/kader. Pengelola lapangan dibedakan lagi menjadi pengelola konsep dan pengelola teknis. Pengelola konsep terdiri dari para pemandu dan penyampai kajian (anggota Korp Pengader), sedang pengelola teknis adalah panitia pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataan aktualnya, Korp Pengader diperlakukan atau menempatkan dirinya sebagai penanggungjawab keseluruhan perkaderan sehingga pihak lain menjadi merasa tidak berhak ketika berbicara perkaderan. Dengan memperhatikan syarat-syarat keanggotaan, sistem rekruitmen dan tugas keseharian anggota KP, penempatan Korp Pengader seperti saat ini memberi andil terhadap reduksi makna perkaderan menjadi hanya sebatas pelatihan bahkan dipersempit lagi menjadi Latihan Kader I saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi lain dari penempatan diri seperti itu munculnya kerancuan penyelenggaraan Lokakarya Perkaderan dilihat dari kriteria peserta dan agenda yang dibahas; Pertama, Karena perkaderan urusannya para pengader maka yang berhak hadir di Lokakarya Perkaderan hanya mereka yang tergabung dalam Korp Pengader. Padahal kalau kita kembalikan ke Pedoman Perkaderan tentang siapa yang disebut sebagai penanggungjawab perkaderan, maka sesungguhnya forum itu justru lebih tepat dihadiri oleh para pengambil kebijakan di bidang perkaderan dari mulai komisariat sampai ke tingkat nasional. Korp Pengader hanya salah satu peserta. Kedua Lokakarya bertugas merumuskan Pedoman Perkaderan yang diturunkan langsung dari Anggaran Dasar pasal 6 tentang usaha dan disingkronkan dengan GBRO, Khitah dan Anggaran Rumah Tangga. Selama ini Lokakarya Perkaderan juga membahas pedoman-pedoman intern Korp Pengader yang seharusnya dibahas di forum lain yang disebut Musyawarah Nasional Korp Pengader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan lain yang cukup layak dibicarakan adalah pentingnya kehadiran Korp Pengader Nasional. Sampai saat ini PD/PRT Korp pengader tidak mengaturnya, padahal sejak beberapa tahun terakhir kehadiran Korp nasional sangat dibutuhkan mengingat kekuatan Korp di beberapa cabang tidak merata sehingga kadang-kadang untuk melaksanakan Pelatihan paska LK I perlu mendatangkan Pengader-pengader dari cabang lain yang sampai kini belum ada kesepakatan mekanismenya(2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres ke-22 yang baru lalu sebenarnya sangat diharapkan mampu menyelesaikan persoalan ini, tetapi entah karena kelelahan atau ketidaksiapan konsep, Musyawarah Nasional Korp Pengader gagal melahirkan sesuatu yang baru termasuk menyelesaikan dua persoalan klasik di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen Intern Korp Pengader&lt;br /&gt;Sebagai lembaga otonom, Korp Pengader memiliki dokumendan aturan intern. Pedoman (dasar) Korp Pengader merupakan dokumen tertinggi di Korp Pengader yang dijabarkan lagi menjadi aturan yang lebih dalam. Misalnya pasal mengenai etik pengader diatur dalam Konsep Diri Pengader, pasal yang berkaitan dengan rekruitmen dan kualifikasi anggota dituangkan dalarn Klasifikasi dan Kualifikasi Pemandu dan Penyampai Kajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini di Korp Pengader Cabang Yogyakarta dan tidak tertutup kemungkinan di cabang-cabang lain terjadi kerancuan dalam penempatan dokumen-dokumen intern Korp, baik dokumen yang bernilai yuridis maupun dokumen teknis. Dokumen-dokumen yang seharusnya hirarkis digabung menjadi satu dan diberi nama Pedoman Pengader, suatu nama yang sulit dicari rujukannya dalam konstutitusi HMI. Pedoman Pengader mungkin semula dimaksudkan hanya sebagai buku pintar gabungan dari Konsep Diri Pengader, Pedoman Korp, Klasifikasi Pemandu, Klasifikasi dan Kualifikasi Penyampai Kajian, Petunjuk Teknis Pelaksanaan LK I, makalah-makalah mengenai perkaderan dan kependidikan plus blanko-blanko yang biasa dipakai di LK 1. Penggabungan ini semula hanya bersifat teknis agar mudah dicangking ke mana-mana dan sarna sekali tidak memiliki nilai yuridis. Belakangan dokumen ini memperoleh "justifikasi" sehingga dianggap dokumen resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar keutuhan konsep tetap terjaga, sebaiknya kerancuan ini segera diakhiri sebelum menjadi tradisi yang tidak lagi diketahui dasar pemikirannya sehingga menjadi takhayul baru di HMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini kita sengaja menghindari bicara isi dokumen-dokumen Korp. Barangkali cukup dikatakan di sini bahwa selayaknya semua dokumen Korp dikaji ulang baik dasar filosopinya maupun kesingkronan antar dokumen. Perlu pula dikemukakan bahwa sebagian isi dokumen Korp disusun jauh sebelum HMl melakukan penegasan sikap dan ditetapkannya Khitah Perjuangan HMI, sehingga tidak tertutup kemungkinan terdapat pertentangan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekruitmen Dan Pembinaan Anggota Korp Pengader&lt;br /&gt;Untuk menjadi seorang pemberi materi di Perkaderan Formal HMI, seseorang harus melewati beberapa tahap untuk menjamin kualitas, loyalitas, pemahaman dan keutuhan penghayatan perjuangan HMI. Tahap paling dasar tentu saja ia harus lulus Latihan Kader I (lebih dikenal dengan istilah Batra), dan Latihan Kader II (intra). Selanjutnya dia harus mengikuti Coaching Instruktur (Cl) dan Senior Course (SC). Coaching instruktur melahirkan para pemandu sedangkan Senior Course melahirkan penceramah. Dengan demikian mereka yang baru lulus Coaching lnstruktur belum berhak memberi materi, ia hanya bertugas sebagai pemandu, jika ia ingin menjadi penceramah ia harus mengikuti Senior Course. Sedangkan salah satu syarat mengikuti Senior Course, lulusan Coaching lnstruktur harus memiliki pengalaman lapangan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan posisi dan targetnya, Coaching lnstruktur berisi materi-materi yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi pemandu, yaitu materi-materi Ke-HMl-an, materi kependidikan dan materi tentang pengelolaan Training. Sedangkan Senior Course lebih banyak membicarakan kurikulum Training, metode penyampaian dan tukar pengalaman dari para penceramah "senior". Kedua lembaga ini (CI dan SC di cabang-cabang lain masih dilaksanakan, sedangkan di cabang Yogyakarta atas dasar pertimbangan situasi dan kondisi keduanya digabung menjadi satu dan diberi nama Kursus Pengader. Dengan demikian, Kursus Pengader materi-materinya dirancang untuk melahirkan Pemandu sekaligus penceramah. Hanya saja berdasarkan pengalaman, target tersebut tidak bisa dicapai sehingga lulusan Kursus Pengader diharuskan magang menjadi pemandu sebelum menjadi pemandu sesungguhnya. Berapa jumlah magang yang harus dilewati oleh seorang lulusan Kursus Pengader tergantung potensi, prestasi dan kecenderungan yang diperlihatkan selama Kursus berlangsung. Jumlah magang ini dijadikan kriteria kelulusan. Biasanya berkisar antara satu sampai lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di cabang Yogyakarta coachig intruktur tetap diselenggarakan tetapi sudah berbeda maksudnya dengan coaching instruktur dalam pengertian lama. Coaching Instruktur di Yogyakarta adalah institusi formal kenaikan jenjang dari penyampai kajian di LK I menjadi pemandu di LK II dan kursus pengader. Dengan demikian coaching instruktur di cabang Yogyakarta lebih tinggi jenjangnya di atas kursus pengader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai tahun 1988 lulusan Kursus Pengader (Yogya) selain dibebani kewajiban magang, juga diharuskan melakukan presentasi dengan mengajukan makalah tentang materi tertentu di hadapan team penguji. Dalam presentasi ini dinilai penguasaan materi, teknik penyampaian, retorika dan penghayatannya. Jika lulus, dia berhak menjadi penceramah materi yang diujikan, tetapi jika gagal, hams mengulang lagi. Kelulusan ini hanya berlaku untuk satu materi, sedangkan jika ia ingin menjadi penceramah materi yang lain, wajib melakukan presentasi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau pun tidak ternyata para pemandu dan instruktur banyak yang berani menjadi penyampai materi di hadapan para peserta LK 1, enggan dinilai di depan team penguji yang nota bene kawan-kawannya sendiri. Apalagi presentasi harus disertai makalah. Padahal kita tahu tradisi dan keterampilan anggota Korp dalam hal tulis menulis sangat lemah. Akhirnya lembaga presentasi ini macet, angker dan menjadi momok bagi sebagian anggota Korp. Muncul pula anggapan dan penilaian bahwa presentasi hanyalah sebuah institusi untuk mempertahankan status qua para penceramah "senior"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan dari sekian banyak anggota KPC hanya sedikit yang memiliki lisensi menjadi penceramah. Sementara frekwensi dan volume LK I di cabang Yogyakarta terus meningkat. Hal ini menjadi persoalan dilematik bagi pengurus KPC dan bidang latihan di cabang. Satu sisi jika ia berbaik hati menurunkan orang yang belum presentasi, jelas tidak bisa menjamin kualitasnya dan akan berimplikasi pada kader-kader yang dihasilkannya. Tetapi jika tidak diijinkan turun, berarti mensiasiakan potensi yang dimiliki anggota tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi semacam ini muncul gagasan Konsorsium dari Saudara Lukman Hakim (1993). Gagasan ini termasuk jalan tengah diantara dua situasi yang menyulitkan. Dalam benak Lukman konsorsium adalah presentasi yang disederhanakan dimana presentator tidak diharuskan membuat makalah tetapi cukup membuat out line materi. Durasi pun dipersingkat menjadi hanya 30 menit, sehingga dalam satu kali penyelenggaraan konsorsium bisa tampil ratusan presentator. Dengan durasi yang sangat singkat (bandingkan dengan presentasi yang 120 menit), pengujian menjadi tidak teliti. Konsorsium akhirnya terkesan hanya formalitas belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan konsorsium mengalami perkembangan yang semula hanya sebagai penyederhanaan presentasi kini dimodifikasi sekaligus sebagai forum kajian beberapa materi-materi yang berdekatan dan dipimpin seorang "senior". Misalnya materi Kithah I dan Tazkiyatun Nafs menjadi satu konsorsium, materi sejarah HMI dan PT Kemahasiswaan masuk dalam konsorsium yang lain. Pada akhirnya konsorsium mirip dengan sindikat materi yang sudah populer sejak tahun delapan puluhan. Masing-masing pimpinan konsorsium diberi wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan yang bersifat pengembangan materi dan pembinaan anggota kelompoknya. Namun seperti juga sindikat, pelaksanaannnya sangat ditentukan oleh dedikasi masing-masing pimpinannya. Terjadilah ketimpangan antar konsorsium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsorsium sebagai penyederhanaan presentasi berlangsung hanya dua atau tiga kali untuk selanjutnya macet sama sekali. Dilihat dari segi jumlah peserta yang menjalani pengujian pun sangat jauh dari yang diharapkan. Hipotesa bahwa macetnya presentasi disebabkan ketiadaan waktu membuat makalah bagi anggota Korp tidak terbukti. Nampaknya ada faktor lain yang lebih bersifat psikologis ketimbang teknis yang menyebabkan upaya-upaya formal menjaga kualitas pengader gagal. Jika hal ini benar maka solusinya lebih komplek dari sekedar sikap kompromis dengan melakukan penyederhanaan institusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain teknis, perubahan presentasi menjadi konsorsium diiringi dengan penyederhanaan predikat kelulusan. Pada Presentasi hanya ada dua kemungkinan bagi peserta ujian yaitu lulus atau tidak lulus. Sedangkan konsorsium dikembangkan menjadi tiga kemungkinan yaitu lulus, panel dan magang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Korp yang lulus uji di konsorsium diberi wewenang penuh untuk menjadi penyampai kajian di LK I untuk materi yang telah diujikan. Jika prestasi ujiannya baik tetapi belum memadai menjadi penyampai kajian ia diberi kescmpatan sebagai pane/is, menjadi penyampai kajian didampingi seniornya yang ditunjuk pengurus sampai ia dinilai benar-benar layak terbang. Sebaliknya jika prestasi ujiannya buruk yang bersangkutan tetap diberi kesempatan beberapa kali magang kepada penyampai kajian senior. Mekanisme permagangan diserahkan sepenuhnya kepada kesepakatan kedua pihak. Belakangan banyak anggota Korp yang berpanelria dan bermagangria tanpa melalui konsorsium. Lebih parah lagi beberapa diantaranya tidak mau melalui segala tetek bengek pengujian dan langsung menjadi penyampai kajian segera setalah magang kepemanduannya habis. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang menjadi Kabid di Cabang atau orang-orang yang kebetulan punya kedekatan khusus dengan bidang latihan. Kenyataan seperti ini menimbulkan kecemburuan tersendiri bagi anggota Korp lainnya. Lalu bagaimana dengan standar kualitasnya? Tidakkah kenyataan ini menunjukkan bahwa terjadi krisis kepercayaan diri pada anggota Korp? Kalau mereka punya kemampuan, mengapa harus takut diuji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan tahun 1995 muncul istilah baru dalam khasanah perkaderan HMI, yaitu suhu suatu istilah yang biasanya dipergunakan di dunia olah kanuragan untuk menyebut guru. Oalam hal ini pengurus Korp menunjuk beberapa empu materi-materi LK I, untuk menjadi suhu bagi anggota Korp yang akan mengambil materi yang dikuasainya. Dengan demikian ada suhu materi Akidah, suhu materi sejarah HMI, suhu logika dll. Setiap suhu diberi wewenang untuk menentukan layak tidaknya seseorang menjadi penyampai kajian. lnteraksi persuhuan sangat informal. Demikian pula dengan sistem penilaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari diskurus tentang kelebihan dan kelemahannya, model baru ini masih perlu dimatangkan konsep dan mekanisme pelaksanaannya. Misalnya kriteria apa yang digunakan untuk mengangkat suhu? Apakah kesenioran?, kepopuleran?, Kedekatannya dengan pengurus? Apakah moralitas dan ketawadluan termasuk faktor yang turut dipertimbangkan? Siapa yang berwenang mengangkat suhu? Apakah sepenuhnya wewenang pengurus Korp ? Ataukah dipilih secara demokratis? Sejauh mana wewenang yang dimilikinya? Dan sampai kapan amanah tersebut dipegangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dicermati, sindikat yang dilaksanakan sejak tahun delapan puluhan hanya bersifat pengembangan dan pembinaan, sebaliknya presentasi hanya rekruitmen dan pengujian. Kelebihan konsorsium (setelah dimodifikasi) dan persuhuan, keduanya menggabungkan unsur pengembangan, pembinaan dan rekruitmen. Hanya saja kedua konsep terakhir muncul dari ketidakberdayaan menegakkan konsep-konsep sebelumnya. Jika alur ini diteruskan maka bukan peningkatan kualitas yang akan kita capai tetapi sebaliknya Korp pcngader akan mengalami degradasi besar-besaran. Entah sosok pengader seperti apa yang akan hadir dari konsep-konsep kompromis (ER).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Akhir&lt;br /&gt;1. Ketidak telitian juga terlihat dari kesalahan pengambilan ayat dan pasal rujukan ART untuk Pedoman Korp Pengader. Bandingkan nomor pasal ART yang membahas lembaga khusus dengan pasal-pasal ART yang dijadikan rujukkan Pedoman Korp Pengader. Pedoman Korp menyebutkan pasal yang dijadikan rujukan keberadaannya adalah pasal 48a, 48b dan 48c jo 50 b ART. Padahal kalau kita periksa seharusnya pasal 49 - 52. Sementara pasal 48a, 48b dan 48c membahas tentang MSO.&lt;br /&gt;2. Sampai saat ini Korp Pengader hanya ada di tingkat cabang sehingga disebut Korp Pengader Cabang. Sebenarnya sudah lama disadari pentingnya kehadiran Korp di tingkat nasional. Pernah terjadi perdebatan antara Anton Mulyatno dengan Masyhudi Muqorabin (waktu itu masih menjabat sebagai Ketua PB dan anggota Team Perumus hasil Lokakarya Perkaderan 1992) tentang pasal Korp Pengader tingkat nasional. Anton berpendapat bahwa pasal itu perlu dicantumkan meski saat ini kenyataannya KP nasional itu belum ada. Pencantuman ini penting untuk memberi peluang pembentukannya di masa depan. Sebaliknya mas Masyhudi berpendirian karena kenyataannya tidak ada maka tidak perlu diatur dalam pasal tersendiri. Hasil akhir perdebatan ini, pendapat Masyhudi inilah yang disyahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari buku “Mengenal Dapur HMI&lt;br /&gt;(Beberapa Catatan Kecil)” Mei 2001&lt;br /&gt;http://pengaderonlien.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-5786625251085967459?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/5786625251085967459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=5786625251085967459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5786625251085967459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5786625251085967459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/04/korp-pengader-hmi.html' title='Korp Pengader HMI'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-6897400280633787102</id><published>2009-04-18T11:40:00.011+07:00</published><updated>2009-06-29T12:14:24.002+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keyakinan Muslim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Hidup Adalah Ujian</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Oleh: M. Habibi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya kehidupan ini adalah ujian alias cobaan, sehingga akan diketahui kelak siapa orang yang paling baik amal perbuatannya. (QS. Al-Mulk: 2) Dengan demikian, seluruh yang terkandung dalam hidup ini adalah ujian. Jadi, senang-sedih, bahagia-sakit, kenyang-lapar, haus-kembung, kaya-miskin, cantik-buruk dan lain sebagainya tidak lebih dari ujian. Dan sebagaimana ujian pada umumnya, hasil dari ujian ini adalah yang menentukan siapa yang lulus dan siapa yang gagal. Pertanyaannya adalah lulus dari mana? Standar kelulusnya apa?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah perjalanan pulang. Kembali ke asal. Ke sumber kehidupan. Kembali kepada kesempurnaan, ke yang Maha Sempurna. Sangat wajar jika manusia di dunia ini diibaratkan sebagai musafir, singgah sebentar kemudian berlalu kembali. Urep mung mampir ngumbeh, kata orang jawa. Hidup ini sekedar persinggahan untuk minum. Karena sekedar mampir minum, seyogyanyalah kita minum sekedarnya saja, sekedar cukup menghantarkan perjalanan kita untuk pulang. Kiranya tersedia di sana berbagai macam minuman, seperti air putih, susu, madu dan arak, hendaklah kita memilih yang menyehatkan dan membuat kita teetap berjalan tegak. Kita bebas memilih, namun setiap pilihan kita memberi konsekwensi tersendiri bagi kita. Masing-masing bertanggungjawab dan memikul sendri apa yang diakibatkan oleh pilihannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah ujian. Seorang anak Sekolah Dasar (SD) mendapatkan soal sesuai dengan kemampuannya. Begitu juga siswa Sekolah Menengah Pertama (SLTP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun tingkat perguruan tinggi. Semua mendapat soal ujian sesuai tingkatatnnya. Tidak mungkin seorang anak SD mendapatkan soal ujian yang seharusnya untuk SMA, atau sebaliknya siswa SMA mendapatkan soal anak SD. Tuhan menguji umatnya sesuai dengan kadar kemampuan masig-masing. Semakin tingi tingkat kehidupan seseorang, maka semakin tinggi tanggungjwaab dia. Semakin tingi tanggung jawab, semakin tinggi ujian yang Tuhan berikan. Semakin tinggi suatu pohon tumbuh semakin kencang angin menerpanya. Kurang lebih seperti itu kata pepatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang akan diuji dengan apa yang mereka miliki. Ketika seseorang memiliki ilmu, maka dia akan diuji dengan ilmu tersebut. sejauh mana ilmu itu bermanfaat. Ketika seseorang mempunyai kedudukan di lingkungan sosial, dia akan diuji dengan sejauh mana kedudukannya itu mampu memberikan kesejahteraan bagi orang lain. Ketika seseorang mempunyai harta maka dia kan diuji, sejauh mana dia mendistribusikan hartanya kepada orang lain? Sejauh mana harta tersebut bisa mensejahterakan diri, keluarga, orang-orang yang membutuhkan. Begitu juga sebaliknya ketika seseorang tidak mempunyai kekayaan dan hidup dalam kekurangan, kehidupan seperti ini juga adalah ujian, sejauh mana dia berusaha mencara rizki Tuhan, sejauh mana dia berusaha dan berjuang merubah nasib, secara personal maupun sosial, dan sejauh mana dia mampu menerima keadaan itu dengan tawakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia akan diuji dengan apa yang dimilki, termasuk juga dengan perkataannya. Diam (tidak berkata-kata) adalah hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya. Begitu kata Nabi Muhammad SAW. Banyak orang yang lebih suka berkata-kata ketimbang diam. Selain apa yang seseorang perbuat, apa yang ia katakan juga merupakan ujian baginya. Tanggung jawab orang yang berilmu adalah adalah menyampaikan ilmunya. Dan tanggungjawab umt manuisa semua adalah untuk saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran (Al-‘Ashr: 3). Menasehti. Berhati-hatilah dengan laku ini. Salah satu perbuatan yang Allah kecam adalah seseorang yang mengatakan sesuatu, padahal dia tidak melakukannya. Kebencian Allah sangat besar kepada golongan ini (QS. Ash-shaff: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menasihati orang lain, maka sebenarnya nasihat itu akan kembali kepada dia. Ketika seseorang menasihati orang lain untuk berbuat baik, maka setelah itu dia kan mendapat ujian bagaimana dia harus berbuat baik. Ketika seseorang menasihati orang lain, jangan marah!, maka setelah itu Allah akan memberikan satu kejadian yang akan menguji dia apakah dia akan marah atau tidak dalam mengahadapi hal tersebut. bisa jadi setelah seseorang menasihati orang lain untuk berderma, kemudian Allah mengirim peminta-minta kepada dia untuk menguji kedermawanannya. Yah demikianlah Allah mendidik dan menguji hamba-Nya, supaya hamba-Nya lulus mendapat derajat khalilullah, sahabat Allah, derajat orang-orang takwa yang lulus dengan predikat sangat memuaskan. Wallahu a’lam bi shawabih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini disampaiakn pada Pengajian Kelas XI A-1 SMA Muhammadiayah 3 Yogyakarta, 16 April 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-6897400280633787102?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/6897400280633787102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=6897400280633787102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/6897400280633787102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/6897400280633787102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/04/hidup-adalah-ujian.html' title='Hidup Adalah Ujian'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-5402237951713723605</id><published>2009-03-20T19:47:00.010+07:00</published><updated>2009-06-25T19:08:57.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Meneropong gerakan mahasiswa; Kini dan masa depan</title><content type='html'>oleh: Zuberi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Zaman tidak bisa dilawan”. Begitulah slogan baru Koran (Kompas ) ternama bangsa ini. Dengan lasan itu pula menganti formal, rubric, halaman dsb demi memenuhi tuuntutan pelanggan, agar enak dibaca, enak dilihat dan mudah dicerna. Ini merupakan tuntutan masyarakat yang semakin instant yang disebabkan desakan waktu, desakan ruang yang paling penting adalah desakan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan gerakan mahasiswa yang selama ini dikatakan sebagai agen perubahan (agen of change) atau agen penggerak (agen of movement) memperlihatkan wajah lesuhnya dalam merespon, menganalisis dan mengawal demokrasi yang semakin tidak jelas arah dan tujuannya.&lt;br /&gt;Sebagai agen perubahan mahasiswa tidak melakukan perubahan-perubahan yang signifikan dalam merespon tuntutan zaman, sehingga gerakan mahasiswa kehilangan taring ” kegarangan” yang pernah berjaya pada tahun 1998 lalu. tapi apa yang terjadi sekarang ?, mahasiswa tidak lagi mempunyai suara lantang dengan berteriak “lawan” yang dulu menjadi senjata paling ampuh dalam mengawal dan menyuarakan aspirasi rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan mahasiswa sudah banyak memintah-minta “menengadah” terhadap partai politik dan rela melepas idelisme gerakan demi iming-iming jabatan (kekuasaan) untuk masa yang akan datang. Ini fenomena yang terjadi kini. Jangankan teriak lawan, bicara tidak sepakat atau tidak setuju saja tidak berani!. Maka kalau kondisi ini berlarut-larut gerakan mahasiswa akan mengalami mati suri, artinya hidup enggan dan mati tak mau. kalaupun hidup hanya sebatas meneguhkan eksistensi gerakan saja, tanpa wujud dan kontribusi terhadap perubahan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemaparan diatas, dapat kita tangkap bahwa fenomena gerakan mahasiswa terkesan stagnan dan tidak mempunyai strategi gerakan dan strategi perubahan dalam merespon zaman dan kejadian yang silih berganti bagai siang dan malam tanpa ada sebuah pertanyaan kritis yang diajukan; Misalnya mengapa BBM naik lagi? mengapa Pemerintah memutuskan untuk mendatangani nota kesepahaman atau MOU ?, mengapa korupsi tidak ujung selesai dalam memberantasan?, mengapa biaya sekolah ’kuliah’ begitu melangit?. Mengapa mahasiswa ingin cepat selesai kuliah, nilai bangus dan cepat dapat kerjaan?. Sekian banyak pertanyaan yang dapat kita ajuan dalam mengerti gejala-gejala yang terjadi dalam realitas social-kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, agar pembicaraan tidak panjang lebar, kami akan membatasi persoalan yang menyangkut gerakan mahasiswa akhir-akhir ini pada wilayah; pertama, benarkah gerakan mahasiswa mengalami stagnasi gerakan. Kedua, apa penyebab gerakan mahasiswa mengalami degradasi. Ketiga, bagaimana menanggulangi kegamangan gerakan mahasiswa? Dan keempat, bagaimana tantangan apa yang akan dihadapi gerakan mahasiswa kedepan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Asumsi Gerakan Mahasiswa&lt;br /&gt;Banyak sekali asumsi yang diberikan masyarakat kepada gerakan mahasiswa akhir-akhir ini, antara lain pertama, gerakan mahasiswa mengalami kemunduran gerakan. Hal ini disebabkan gerakan mahasiswa tidak lagi memperjuangkan dan membela kepentingan rakyat secara praktis dilapangan, sehingga masyarakat tidak lagi dapat menikmati apa yang dilakukan oleh mahasiswa. Dari segi ini, benar bahwa gerakan mahasiswa mengalami kemunduran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi kedua, gerakan mahasiswa tidak lagi mempunyai tawaran ide atau gagasan kepada Negara untuk menyelesaikan agenda-agenda kedepan. Ini juga benar. Buktinya, gerakan mahasiswa kehilangan orientasi apa yang seharusnya diperbuat. Dan bisa jadi gerakan mahasiswa kurang bisa mengemas ide atau gagasan secara baik dan cantik sehingga dapat dipahami oleh masyarakat maupun pemerintah, yang nantinya dijadikan sebagai modal untuk mendorong gerakan social kemasyarakatan kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi ketiga, gerakan mahasiswa menjadi underbow partai politik. Sehingga gerakan-gerakannya terkesan hanya bersifat politis dan penuh kepentingan. ini tidak sepenuhnya benar. Dikatakan Benar dalam arti bahwa gerakan mahasiswa bergerak hanya berdasar kepentingan politik atau suatu partai tertentu yang ujungnya adalah kekuasaan. Salah, kalau dikatakan semua gerakan mahasiswa mempunyai “bapak angkat” dalam gerakan social. Hal ini bisa dibuktikan dengan; “ kalau gerakan mahasiswa sesuai dengan gerakan partai politik baik visi, gerakan, kepentingan maupun model-modelnya”. Dan gerakan mahasiswa tidak diberi kewenangan atau otonomisasi dalam menentukan gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua asumsi diatas merupakan realitas yang sedang menimpa gerakan mahasiswa. Dan gerakan mahasiswa mencoba untuk keluar dari asumsi ataupun stereotip yang diberikan masyarakat. Dan sekali lagi masyarakat tidak bisa disalahkan, karena masyarakat berangkat dari realitas terutama dalam pemilu 2004 kemarin. meskipun tidak sepenuhnya benar!.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, gerakan mahasiswa harus menunjukkan bagaimna seharusnya menempatkan diri dalam kondisi dan situasi yang satu sisi tetap memperjuangkan idealisme demokrasi, disisi lain tetap menyuarakan aspirasi rakyat serta mengawal jalannya demokrasi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penyebab degradasi gerakan&lt;br /&gt;Ada banyak hal sebenarnya yang menyebabkan gerakan mahasiswa kalau dikatakan degradasi atau penurunan. salah satu yang paling menonjol adalah gerakan mahasiswa sudah tidak banyak melakukan kajian-kajian atau anlisis yang intensif terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi dinegara ini. Hal ini berakibat gerakan mahasiswa mengalami kebuntuhan-kebuntuhan lahan geraknya, yang awanya sebagai penyadaran politik ke masyarakat dan bersikap kritis kepada pemerintah menjadi hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, gerakan mahasiswa kurang melakukan konsolidasi demokrasi antar gerakan mahasiswa. Konsolidasi dalam artinya gerakan melakukan komunikasi efektif terhadap perubahan yang terjadi baik dimasyarakat maupun pemerintah sebagai upaya merespon dan ikut andil dalam perubahan. Sekarang malah sebaliknya, Adapun konsolidasi hanya dilakukan pada saat mempunyai kepentingan tertentu misalnya Tolak BBM, Tolak IMF, tolak UU air dsb.selebihnya tidak. Padahal banyak hal yang bia dilakukan oleh organ mahasiwa contohnya bagaimana menumbuhkan sikap kritis mahasiswa dan tidak cuek terhadap realitas (apolitis), bagaimana strategi kebudayaan dalam membentuk maysrakat sipil yang demokratis, bagaimana mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang tidak memihak kepada kaum lemah dsb. Pada wilayah ini gerakan mahasiswa sangat lemah, maka jangan heran kalau ditingalkan oleh masyarakat atau tidak dipercaya oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, gerakan mahasiswa kurang cepat dalam mengakses informasi yang setiap detik akan berubah. Artinya, ketika perubahan yang terjadi setiap detik dan kita tidak mengetahuinya maka secara otomatis kita kehilangan satu kesempatan untuk merespon. Contoh, beberapa hari lalu terjadi kenaikan harga minyak luar negeri sampai 68 persen perbarel, yang mempunyai implikasi minyak dalam negeri mengalami kenaikan. Dan pemerintah akan menaikkan kembali harga minyak, Tapi apa yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, gerakan mahasiswa mengalami degradasi intelektual. Intelektual ini kami artikan sebagai modal dasar untuk mengetahui ke-ilmuan atau pemikiran yang sedang berkembang yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan dimasyarakat, baik agama, social, politik dan ekonomi. Karena masing-masing keilmuan mengalami perkembangan dalam merespon dan menjawab tantangan zaman. Kalau pengetahuan ini tidak dipunyai mahasiswa bagaimana bisa meneropong realitas didekat kita atau yang menimpa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, sindrom yang menjangkiti gerakan mahasiswa adalah kalau peristiwa atau kejadian tidak menimpa atau tidak memberi dampak secara langsung kepada kita, seakan-akan kita tidak mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan. Mentalitas seperti ini sangat berbahaya dalam perkembangan gerakan mahasiswa kedepan. Contoh, baru kalau ada biaya tambahan yang merupakan kebijakan kampus dan itu memberatkan mahasiswa atau dirinya, maka beramai-ramai menolak mati-matian. Tapi tidak diperlakukannya UU tentang alokasian dana pendidikan 20% mahasiswa diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang seharusnya kita lakukan sekarang?. Dan siapa yang seharusnya memulai ?, pertanyaan inilah yang seharus kita jawab bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tawaran solusi&lt;br /&gt;Dr. Ali syari’ati mengatakan bahwa untuk menjawab persoalan diatas kita harus melakukan penguatan paradigma, cara pandang dan membangun kerangka berpikir yang sistematis dan holistik dalam merespon tantangan zaman. Dari sini dapat dilihat bahwa suatu organisasi mahasiswa akan semakin diperhitungkan dalam masyarakat jika organisasi tersebut mempunyai kapasitas pemahaman dan pemaknaan yang komprehensif dalam merespon peristiwa secara cepat dan tepat terhadap kondisi yang bersangkutan dengan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat terwujud kalau gerakan mahasiswa atau individu –individu yang ada dalam suatu organisasi telah tercerahkan secara pengetahuan dan wataknya. Tercerahkan secara pengeatahuan dapat diartikan sebagai mahsiswa yang telah menguasai prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan, baik politik, social, ekonomi dan agama dsb.dan yang terpenting adalah mempunyai semangat jihad atau progresifitas dalam perubahan tatanan masyarakat yang dicekam oleh system kapitalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan watak yang tercerhkan adalah sikap mahasiswa yang konsisten dan kontinyu dalam melakukan perubahan-perubahan yang mendasar yang telah diyakini kebenarannya. Sehingga gerakan ini massive dan tidak terpengaruh oleh gejalah social sesaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebaliknya, ketika gerakan mahasiswa tidak mempunyai minimal dua hal tersebut, akibatnya gerakan mahasiswa akan menjadi gerakan yang gampang teroptase (dipengaruhi) oleh kepentingan-kepentingan yang berujung kepada kekuasaan bukan kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Tantangan Masa Depan&lt;br /&gt;Gejala yang menarik diakhir abad XX adalah semakin menepisnya batas-batas anatar bangsa, dan melemahnya factor jarak sebagai salah satu unsur dalam hubungan antar manusia. Maka minimal ada lima fenomena penting yang harus kita bicarakan dalam menandai decade terakhir dan akan menghantarkan kita memasuki abad XX. Kelima fenomena tersebut adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Terjadinya perbenturan nilai sebagai akibat dari terbukanya semua saluran interaksi manusia. Kecenderungan pecahnya kepribadian manusia. Seperti telah mengikisnya nilai-nilai keagamaan, mengakibatkan terjadinya perpecahan ditubuh ummat islam sendiri. Dikarenakan pemahaman yang berbeda-beda, tanpa pernah dikomunikasikan dengan pemahaman yang lain. Sehingga kasus-kasus penyerangan kepada pemahaman keagamaan terjadi akhir-akhir ini. Seperti kasus Ahmadiyah, Fatwa MUI, pengkafiran suatu golongan dsb. gejala ini menjadi tanggungjawab kita bersama untuk mencari solusi yang tepat untuk kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Pemasyarakatan dan penggunaan teknologi, terutama yang berkaiatan dengan upaya manusia mempermudah proses hidup dan berkehidupan., akan semakin luas dan cepat. Ditambah dengan persaingan guna merebutkan pasar bagi produk teknologi, kecenderungan ini menuntut manusia untuk selalu melakukan pembaharuan-pembaharuan metode dan peralatan guna memecahkan berbagai persoalan kehidupan. Dan salah satu alat yang paling strategis adalah pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendidikan tidak hanya sebagai alat produksi sarjana-sarjana saja, tetapi pendidikan dituntut untuk bisa melaukan pembaharuan dan bisa merespon serta mengntisipasi kehidupan mendatang. Bukan seorang sarjana atau seorang yang terdidik duduk termangu tidak tahu apa yang akan dilakaukan. Maka dia akan terkucil dari kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Perbaikan metode dan cara kerja yang berkaitan dengan upaya menusia memanage hidup dan kehidupan. Sehingga kita dapat merespon secara cepat dan orang yang terlambat untuk mengetahui perkembangan zaman akan semakin tertinggal dan ditinggalkan. Maka fungsi pendidikan adalah sebagai upaya dasar untuk mengembangkan sekaligus mencari pola yang efektif dalam menghadapi zaman. Karena perkembangan zaman tidak dapat kita tolak mentah-mentah. Dan barang siapa menolak mentah-mentah yang tersingkir oleh zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Meningkatnya kesadaran global tentang pentingnya demokrasi dan hak asasi manusia. Konsekuensinya, tuntutan demokrasasi semakin meluas dan cepat, sehingga kita harus mempunyai kesadaran yang meng-Global dalam kehidupan. Seperti kesadaran kebudayaan, seni, filsafat, sejarah dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Terbukanya pintu perdagangan bebas itu sendiri yang konsekuensi logisnya teramat jelas, yaitu terjadinya persaingan kualitas secara sangat ketat. Dan barang siapa yang ingin tetap survive harus mempunyai kapsitas yang memadai dalam persaigan nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Salam penutup&lt;br /&gt;Zaman tidak bisa dilawan, tetapi zaman tetap bisa kita kendalikan. Demikian uraian yang sedikit ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi ita semua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zubaeri: Cantrik Padepokan Syekh Siti Jenar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-5402237951713723605?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/5402237951713723605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=5402237951713723605' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5402237951713723605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5402237951713723605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/03/meneropong-gerakan-mahasiswa-kini-dan.html' title='Meneropong gerakan mahasiswa; Kini dan masa depan'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-4395024830267645816</id><published>2009-03-07T17:26:00.007+07:00</published><updated>2009-06-25T19:14:31.390+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Latihan Kader II</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SkNppP6VltI/AAAAAAAAAJA/7-M2mEj0_hg/s1600-h/POSTER+LK+II+HMI+JOGJA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SkNppP6VltI/AAAAAAAAAJA/7-M2mEj0_hg/s200/POSTER+LK+II+HMI+JOGJA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351236939613050578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Islam : Solusi Problematika Perekonomian Global Menuju Tatanan Masyarakat Yang Adil dan Sejahtera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah kemusykilan yang diterima oleh akal sehat bila segelintir orang di dunia mempunyai kekayaan yang teramat sangat mencolok dan berkesenjangan. Kekayaan segelintir orang ini lebih dari Gross Domestic Product (GDP) 48 negara termiskin dunia, yang berarti setara dengan seperempat total negara didunia (Brecher dan Smith), menurut penelitian Noam Chomsky, 1% penduduk dengan pendapatan tertinggi di dunia setara dengan 3 milyar manusia. Di Indonesia, Putera Sampurna telah menjual 40% sahamnya senilai US$ 2 Milyar, yang berarti, Putera Sampurna menerima uang kurang lebih Rp 18,6 trilyun. Padahal, Putera Sampurna adalah orang terkaya nomor 387 dari 500 orang terkaya didunia (Majalah Forbes).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kondisi diatas berarti menunjukkan semakin tinggi tingkat kesenjangan ekonomi yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian Robert Wade dari London School Of Economics menunjukkan bahwa indeks gini dunia (indeks yang menunjukkan tingkat kesenjangan) selama 1988-1993, meningkat 6%. Pendapatan 10% penduduk termiskin turun lebih dari seperempatnya, sedangkan populasi penduduk 10% terkaya pendapatannya justeru meningkat 8% (Economist, 28 april 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neo liberalisme Problematika Perekonomian Gobal&lt;br /&gt;Belakangan dalam dunia ekonomi goncang krisis finansial global yang saat ini, hal tersebut berdampak langsung makin tingginya angka pengangguran, dan diperkirakan jumlah pengangguran akan mencapai 200-an juta, angka yang sangat mengerikan. Sepanjang rentang sejarah ekonomi mencatat, bahwa krisis yang terjadi saat ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Krisis sudah terjadi pada tahun 1797, 1807, 1819, 1837, 1857, 1873, 1893, 1921, 1923, 1930, 1940, 1953, 1970, 1973, 1980, dan 1998-2001, krisis yang terjadi saat ini sangat mengkhawatirkan, karena krisis terjadi di Amerika Serikat (Al Wa’ie Desember 2008). The History Of Money From Ancient Time oi Present Day, menguraikan bahwa sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis besar yang melaanda banyak negara ( Roy Davies dan Glien Davies, 1996 ). Fakta ini menunjukkan bahwa rata-rata setiap lima tahun terjadi krisis keuangan hebat yang yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia. Sebuah pertanyaan besar ada apa dengan ekonomi global saat ini ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam Smith (1723-1790), Melalui bukunya The Inquiry Into The Nature and Causes of The Wealth of Nations atau biasa disngkat The Wealth of nation menekankan bahwa kebebasan pasar tidak akan melahirkan chaos – distorsi dalam harga – manakala pasar benar-benar terbebas dari pengaruh non-pasar, negara tidak perlu ikut campur tangan dalam urusan ekonomi. Mekanisme pasar bebas akan dapat menyelesaikan semuanya (Deliarniv, 1997). Sesuatu yang disebut oleh Adam Smith sebagai the invinsible hands (tangan-tangan tak terlihat) akan secara alamiah memandu kegiatan produksi sehingga mencapai suatu jumlah dan ragam yang sesuai. Smith percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya serakah dan cenderung mementingkan dirinya sendiri. Oleh karenanya, kompetisi dalam pasar bebas akan memberikan tekanan sosial yang membawa keuntungan pada masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Adam Smith dan para penerusnya terhadap permasalahan ekonomi ternyata harus berakhir dengan terjadinya malapetaka besar pada tahun 1930, yang mengakibatkan perekonomian dunia mandeg total dan pengangguran merajalela dimana-mana. Pemikiran ekonomi dunia bergeser pada pemikiran John Maynard Keynes untuk menghadapi persoalan tersebut. Jhon Maynard Keynes melalui The Economic Consequances of The Peace, memberikan penekanan pada revitalisasi peranan pemerintah sebagai syarat untuk melakukan pemulihan ekonomi pasca depresi besar Malaise. Asumsi dasar atas teori Keynes adalah negara diberi kesempatan untuk mengambil alih beberapa aspek dalam perekonomian guna mempersiapkan aktor-aktor individualyang sebelumnya terpuruk akibat perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dekade 1970-an ekonomi dunia mengalami kegagalan, dan kebanyakan para ekonom menuduh teori Keynes-lah sebagai biangnya. Menurut mereka peningkatan belanja publik Keynesian dianggap terlalu banyak menciptakan demand, itulah yang menjadi penyebab timbulnya inflasi yang semakin meluas (Winarso, 2004). Kemudian sejak saat itu negara-negara di dunia kembali dengan mengadopsi liberalisme ekonomi pada skala yang lebih besar. Era inilah yang dikenal dengan sebutan Neoliberalisme. Beberapa aspek yang menjadi cirri khas neoliberalisme adalah adanya peran lemabaga-lembaga multilateral, seperti Bank Dunia, IMF, dan General Agreement on Tariff and Trade (GATT), kini World Trade Organization (WTO), yang berlaku layaknya sebuah pemerintahan global (global governance) yang secara katif mempersiapkan infrastruktur baru menuju terciptanya pasar bebas di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neoliberalisme mengacu pada falsafah politik ekonomi yang secara aktif bertujuan mengurangi atau menolak intervensi negara dalam ekonomi domestik. Neoliberalisme berfokus pada metode pasar bebas, pengurangan hambatan atas operasional bisnis dan hak-hak individu. Secara umum, terminology “neoliberalisme” digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena terkait dengan proses menjauhnya kontrol atau proteksi negara atas ekonomi dan lebih menekankan pada kontrol korporasi atas pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa sistem ekonomi yang saat ini digunakan ternyata tidak mampu menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera. Yang terjadi justeru penghisapan dan penindasan terhadap masyarakat yang lemah atau Negara yang lemah oleh para pemilik modal. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah, apakah ada sistem ekonomi yang mampu menjadi solusi bagi permasalahan tersebut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Islam Sebuah Tawaran Solusi&lt;br /&gt;Sistem ekonomi adalah pola organisasi ekonomi yang dipilih oleh suatu negara dalam dalam mengalokasikan sumber daya ekonomi yang dimilikinya ( Samuelson &amp; Nordhaus, 1997). Sistem ekonomi Islam telah hadir jauh lebih dahulu dari sosialisme dan kapitalisme, yaitu pada abad ke 6, sedangkan kapitalis abad 17, dan sosialis abad 18. Dalam sistem ekonomi Islam, yang ditekankan adalah terciptanya pemerataan distribusi pendapatan, seperti terecantum dalam surat Al-Hasyr ayat 7 (Suheri, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja harta rampasan (Fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasu-lNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota, Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam Smith (1723-1790) The Wealth of Nation, pada jilid kelima bab pertama, Adam Smith membandingkan masyarakat dengan tingkat perekonomian yang berbeda, yakni bangsa dengan ekonomi terbelakang dan bangsa ekonomi maju. Masyarakat dengan ekonomi terbelakang ditandai dengan mata pencahariannya sebagai pemburu, sedang masyarakat ekonomi maju ditandai dengan mata pencahariannya sebagai penggembala dan pedagang. Contoh masyarakat ekonomi terbelakang adalah masyarakat Indian di Amerika Utara, sedangkan contoh masyarakat ekonomi maju adalah arab dan tartar. Adam Smith menjelaskan, bangsa Arab yang dimaksud adalah yang dipimpin oleh Mohammet and His Immediate Successors" atau lebih tepatnya Rasulullah Muhammad saw dan Khulafaur Rasyidin (Adiwarman, 2004). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Islam mampu menjadi sebuah sistem ekonomi yang tangguh dikarenakan sistem ekonomi islam memiliki beberapa prinsip dasar (Afzalur Rahman, 1995), yaitu :&lt;br /&gt;1. Kebebasan individu&lt;br /&gt;2. Hak terhadap harta&lt;br /&gt;3. Ketidaksamaan ekonomi dalam batasan&lt;br /&gt;4.Kesamaan sosial&lt;br /&gt;5.Keselamatan sosial.&lt;br /&gt;6.Larangan menumpuk kekayaan&lt;br /&gt;7. Larangan terhadap institusi anti-sosial&lt;br /&gt;8. Kebajikan individu dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinip dasar inilah yang membedakan antara system ekonomi islam, kapitalisme dan sosialisme. Menurut Afzalur Rahman (1995), prinsip dasar sistem ekonomi kapitalis adalah kebebasan memiliki harta secara perseorangan, kebebasan ekonomi dan persaingan bebas dan ketimpangan ekonomi. Sedangkan prinsip dasar sosialime adalah pemilikan harta oleh Negara, kesamaan ekonomi, dan disiplin politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sistem ekonomi islam dapat dirumuskan kedalam tiga pilar utamanya, yaitu (An Nabhani, 1990 ) :&lt;br /&gt;1. Kepemilikan (al-Milkiyah), meliputi :&lt;br /&gt;a. Kepemilikan Idividu (al-Milkiyah al-Ardiyah)&lt;br /&gt;b. Kepemilikan Umum (al-Milkiyah al-‘Amah)&lt;br /&gt;c. Kepemilikan Negara (al-Milkiyah ad-Daulh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemanfaatan Kepemilikan (at-Tasharuf fi al-Milkiyah), meliputi :&lt;br /&gt;a. Penggunaan harta (Infaq al-Maal), yaitu untuk keperluan konsumsi&lt;br /&gt;b. Pengembangan kepemilikan (Tanmiyat al-Milkiyah), yaitu untuk keperluan produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Distribusi harta kekayaan ditengah-tengah manusia (Tauzi’u Tsarwah Bayna al-Naas), meliputi :&lt;br /&gt;a. Distribusi secara ekonomis, yaitu melalui mekanisme pasar yang sesuai syariah&lt;br /&gt;b. Distribusi secara non ekonomis, yaitu melalui peran individu, masyarakat maupun Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Islam semakin diperhatikan oleh masyarakat dunia dikarenakan ketika terjadi krisis, perbankan syariah tidak terpengaruh oleh krisis tersebut. Bahkan di Indonesia ketika terjadi krisis 1997, perbankan syariah justru mengalami pertumbuhan yang positif. Berbeda dengan perbankan konvensional yang justeru mengalami kesulitan, bahkan tidak sedikit yang bangkrut. Pertumbuhan perbankan syariah saat ini sangat menggembirakan, dan sudah berkembang tidak hanya dinegara yang berpenduduk muslim, bahkan di negara non-muslim seperti Inggris, Belanda, Australia, perbankan syariah sudah menjadi perbankan alternatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang harus segera dijawab oleh pakar ekonomi Islam adalah mampukah ekonomi Islam menciptakan tatanan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur di tengah persoalan yang kian rumit. Karena selama ini sistem ekonomi Islam diklaim mampu menyelesaikan problematika perekonomian global, dengan mengacu kepada masa kejayaan peradaban Islam, dimana pada masa tidak ditemukan lagi orang yang berhak menerima zakat, dikarenakan masyarakat sudah sejahtera. Padahal permasalahan yang dihadapi saat ini lebih kompleks dibandingkan dengan masa ketika Islam berjaya. Wallahu alam. &lt;br /&gt;Pelaksaanaan:&lt;br /&gt;Tanggal : 12 – 19 Maret 2009&lt;br /&gt;Tempat: Darul Hira Maguwoharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat LK II&lt;br /&gt;1. Lulus LK I&lt;br /&gt;2. Resum khittah(4 halaman, polio bergaris, ditulis tangan)&lt;br /&gt;3. Membuat makalah minimal 5 halaman dengan Tema, Ekonomi Islam : Solusi problematika perekonomian global menuju tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera (refrensi disertakan). Format penulisan : menggunakan Kertas A4, Time News Roman font 12, spasi 1,5, batas margin : Top 3, Botom 2, Left 3, Right 2.&lt;br /&gt;4. Mengikuti seleksi tes dan dinyatakan lulus&lt;br /&gt;- Tes Keislaman : Ketauhidan, hapalan surat (ad-dhuha sampai An-nass), sirah nabawiyah, peribadatan, muamalat.&lt;br /&gt;- Tes KeHMI-an : Sejarah HMI, konstitusi HMI, komitment ke-HMI-an&lt;br /&gt;- Tes Makalah : Orisinalitas penulisan, sistematika penulisan, argumentasi, konsistensi gagasan&lt;br /&gt;- Tes seleksi dimulai pada tanggal 9 -10 maret 2009, bertempat di sekretariat HMI Cabang Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-4395024830267645816?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/4395024830267645816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=4395024830267645816' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4395024830267645816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4395024830267645816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/03/latihan-kader-ii.html' title='Latihan Kader II'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fDbGeX56XrY/SkNppP6VltI/AAAAAAAAAJA/7-M2mEj0_hg/s72-c/POSTER+LK+II+HMI+JOGJA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-7161061461028697074</id><published>2009-03-07T17:16:00.002+07:00</published><updated>2009-03-07T17:23:21.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Maulid Nabi</title><content type='html'>Dalam Rangka Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan ini Korps Pengader HMI Cabang Yogyakarta mengundang seluruh pengader pada acara tersebut pada:&lt;br /&gt;Senin, 09 Maret 2009&lt;br /&gt;Jam       : 05.00 - selesai (Ba'da Subuh).&lt;br /&gt;Agenda : Pembacaan Kitab Barjanji, Deklamasi Puisi,&lt;br /&gt;Tempat : Sekretariat HMI Cabang Yogyakarta (Karangkajen MG III/966 Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-7161061461028697074?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/7161061461028697074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=7161061461028697074' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/7161061461028697074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/7161061461028697074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/03/maulid-nabi.html' title='Maulid Nabi'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-268171510576034559</id><published>2009-03-06T07:02:00.006+07:00</published><updated>2009-06-25T19:48:36.059+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mencari Jalan Pulang</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Oleh : Khilmi Zuhroni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, perjalanan pulang adalah perjalanan terindah di dunia! Bukan, bukan karena perjalanan dalam bus panas yang melaju begitu kencang lah yang membuatnya menjadi perjalanan terindah. Ia menjadi perjalanan terindah karena ia adalah perjalanan menuju pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, pulang pastilah salah satu kata terindah meski pulang tidak selalu mudah. Pulang tidak hanya berarti pulang dari kondisi yang melelahkan dan merentangkan saya hingga titik lenting terakhir selama hampir dua tahun. Pulang baru lengkap dengan pulang ke .... Setelah jauh melangkah, kita ingin pulang, kita mencoba kembali, tapi kadang jalan terus menikung dan kita tak kunjung sampai. Saya mencari rumah untuk saya pulang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khlimi Zuhroni, Anggota KP HMI Cabang Yogyakart tinggal di Sampit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-268171510576034559?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/268171510576034559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=268171510576034559' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/268171510576034559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/268171510576034559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/03/mencari-jalan-pulang.html' title='Mencari Jalan Pulang'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-5476115796753286723</id><published>2009-03-01T07:13:00.002+07:00</published><updated>2009-06-25T19:53:16.568+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Membangun Komunitas</title><content type='html'>Suatu komunitas akan eksis dan berkembang apa bila kominitas tersebut menjalankan setidaknya dua hal. Pertama, fastabiqul khairat atau berlomba dalam berbuat kebaikan. Hal ini berarti bahwa komunitas tersebut akan tetap langgeng apabila dia tetap berdiri di atas garis kebaikan dan kebenaran. khair adalah salah satu tingkatan kebaikan yang diusahakan. Maksud di sini adalah, hidup dan bertahannya komunitas berada pada sejauh mana dia member kemanfaatan bagi sesame anggotany. Manfaat di sini tentu bukan hanya sekedar materi, tetapi komunitas itu bisa menjadikan orang-orang di dalamnya berkembang lebih baik. Tentu wa tawashau bilhaq wa tawashaubishshbr atau saling menasihati dalam hal kebenaran dan kebaikan masuk dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah silaturahmi. Yang dimaksud dengan silaturahmi di sini adalah silaturahmi yang dilandasi oleh prinsip fastbiqul khairat di atas. Secara kebahasaan siltaurahmi berarti menyambung kasih saying. Rahmi mempunyai akar yang sama dengan kata rahim atau tempat dimana janin tumbuh sebelum lahir ke dunia. Kata ini terbentuk dari kata rahima (ra, ha, mim) yang berarti saying. Dengan demikian silaturrahmi berguna untuk menumbuhkan sifat kasih saying sesame umat manusia dengan mengetahui situasi dan kondisi saudara-saudara kita yang disilaturami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari silaturahmi yang menjadi komoditas seperti yang marak saat ini (dalam artian silaturahmi karena adanya satu kepentingan), maka silaturahmi hendaknya diperbanyak kepada orang yang sudah mempunyai karya. Yang dimaksud orang yang mempunyai karya adalah orang yang telah melampui kediriaannya, sehingga dengan demikian dia menggambarkan wajah Tuhan.&lt;br /&gt;Dari silaturahmi ini nanti akan lahir imaginasi-imajinasi kreatif yang bisa membuat komunitas lebih hidup. Dengan silaturahmi, kita akan mendapatkan pengetahuan, kita belajar dengan orang lain tentang hikmah, hidup dan tetek bengeknya, yang ini akan memacu kita untuk berkarya demi kemaslahatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini adalah catatan diskusi bersama mas Ashad Kusumadjaya pada acara silaturrahmi Korps pengader HMI Cabang Yogyakarta ke rumah beliau pada tanggal 22 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-5476115796753286723?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/5476115796753286723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=5476115796753286723' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5476115796753286723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5476115796753286723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/03/membangun-komunitas_01.html' title='Membangun Komunitas'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-3304159806818252302</id><published>2009-03-01T06:47:00.005+07:00</published><updated>2009-03-07T18:06:21.360+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawasan Ilmu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Di Bawah Bayang-bayang Kematian Islam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Ihab Habudin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;‘Tahu’ dan ‘Pengetahuan’&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah mahluk sempurna. Dibekali akal, hati dan indera ia menjelma sebagai mahluk yang paling berpengaruh di muka bumi ini. Inovasi tiada hentinya dalam mengasah kreasi ketiga potensinya itu telah menghasilkan kebudayaan dan peradaban yang sangat kompleks sekarang ini. Misalnya saja, Darinya kita tahu dan mengenal ada Handphone Star Tech (ST 21) yang harganya Cuma Rp. 199.000.- plus kartu pedana ‘bebas’, tarif temurah, dan 600 sms gratis dengan fasilitas dual band GSM 900/1800 MHz, CFTN Nistual, Colour Background 1,5 inci, Predictive text input, polyphonic, speaker phone, jam alam, jam digital dan kalkulator kalender, baterai Li-Ion 700 MAH hingga si Nokia Connecting People (N5310) yang dengannya kita bisa memutar musik hingga 18 jam, radio FM dengan Radio Data System (RDS), Layar dengan 16 Juta warna yang tajam termasuk kamera 2 megapixel serta Mikro SD 512 MB. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Atau tidak perlu rumit-rumit. Cara kita makan, minum, bertindak ini-itu, menyimpulkan harus begini-begitu, menganggap ini lurus-itu sesat, ini benar-itu salah, ini surgawi-itu nerakawi, ini duniawi-itu ukhrawi, ini kebaikan-itu keburukan, ini pahlawan-itu bajingan dan lain sebagainya adalah hasil dari pergulatan daya potensia manusia yakni akal, indera dan hati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanya, dari mana hasrat berpengetahuan itu datang? Sehingga kita sampai pada peradaban dan kebudayaan kompleks di abad pogresivitas dan degradasitas abad 21 ini? Jawaban sederhananya adalah rasa ingin ‘tahunya’ manusia atas apa yang ‘telah diketahuinya’. Ya, karena sudah menjadi fitrah manusia untuk ingin tahu relitas yang sewaktu dia dilahirkan tidak dalam berpengetahuan apa-apa. Itulah mengapa seorang Aristoteles mengatakan bahwa “setiap manusia dari kodratnya adalah ingin tahu”. Itulah yang menyebabkan mengapa seorang Socrates sampai berkata bahwa “saya tidak tahu apa-apa, satu-satunya yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa”. Itulah yang menyebabkan mengapa seorang Agustinus beseloroh “apa itu waktu? Bila seseorang tidak menanyaiku, saya tahu. Tetapi, ketika saya ingin menjelaskannya kepada seseorang yang menanyakannya, saya tidak tahu” . Rasa kagum, kata Plato telah menjadikan manusia menguras otak, memaksimalkan penelitian inderawinya dan mengoptimalkan rasa kemanusiaannya untuk mencipta peradaban. Jadi, pengetahuan pada dasarnya adalah hasil cerapan manusia melalui semua potensinya, yang membuat ia tahu ini dan itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi dorongan seperti apa yang membuat manusia ingin mengetahui? Jawabannya adalah keinginan untuk membongkar realitas yang ‘sebenarnya ada’ dari Segala realitas ‘yang ada’ untuk selanjutnya meyakini sesuatu. Entah itu realitas yang tampak secera inderawi atau tidak tampak secara inderawi. Hal ini wajar, karena memang seharusnya manusia yang hidup dan berakal itu bertanya mencari apa yang dianggapnya sebagai sesuatu ‘yang benar’ untuk kemudian meyakininya dan menjadikannya sebagai landasan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Miranda Risang Ayu menulis:”hanya manusia yang memanusialah yang suka bertanya. Tapi, ini tidak berarti bahwa orang yang sehat dalam konteks memanusia adalah adalah orang yang selalu bertanya. Saya pikir orang seperti itu sinting. Lebih tepat jika dikatakan orang yang sehat adalah orang yang selalu bertanya sekaligus menjawab. Ia selalu siap ‘angkuh’ dan meragukan sesuatu, sekaligus siap rendah hati dan meyakini sesuatu”. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Ilmu Pengetahuan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berbagai literatur yang sampai kepada kita berkaitan dengan sejarah pengetahuan mengatakan bahwa dalam konteks peradaban, pengetahuan di mulai sejak Thales muncul dengan pikiran ‘nakal’nya membongkar mite-mite yunani. Padahal, sebagaimana ditegaskan Hassan Hanafi, sebenarnya jauh sebelum itu telah muncul peradaban timur seperti; China, India, Persia dan Mesir. Adapun peradaban Yunani adalah hasil cerapan atas peradaban-peradaban Timur tersebut. Tapi, ini tidak terlalu aneh. Konstruksi pengetahuan kita saat ini sangat dipengaruhi oleh filsafat barat yang tentu saja melandaskan akar historisnya pada peradaban Yunani. Bahkan Hassan Hanafi sendiri tidak terlalu merisaukan meski menampakan kekesalan atas penyimpangan sejarah pengetahuan ini. Mungkin ini tak terlalu berpengaruh dalam upaya konstruksi peradaban pengetahuan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Masa Yunani Kuno&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Masa ini adalah masa kemunculan filsafat secara umum. Dimulai dengan pendibrakan Thales atas Mitologi Yunani, akal mulai menonjol dominasinya meskipun iman masih terlihat peranannya. Hal ini berlangsung hingga kaum sofis muncul. Berbeda dengan masa sebelumnya, masa kaum sofis menihilkan hal-hal imani. Atau dengan kata lain akal memenangkan pertarungan dan menghabisi iman. Ini bisa kita lihat dengan fenomena manusia sebagai ukuran kebenaran. Jadilah yang ada kebenaran menjadi sangat relative. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Tapi, ini tak berlangsung lama. Socrates muncul sebagai garda depan penyelamat bahwa kebenaran tidak semuanya relative. Sebaliknya, bagi Socrates ada kebenaran umum (pengertian umum), yakni kebenaran yang bisa diterima oleh semua orang. Keyakinan inilah yang mendorong Socrates untuk berjalan di pasar-pasar untuk berdebat dengan semua orang yang ditemuinya agar ada kebenaran umum yang win-win solution. Kondisi ini bertahan cukup lama meski lama-kelamaan filsafat larut dan menemui kekalahan terbesarnya pada abad pertengahan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Abad Pertengahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada abad pertengahan ini akal benar-benar kalah. Bahkan ada yang menyatakan bahwa abad pertengahan adalah pembalasan terhadap dominasi akal yang hamper sseratus persen berkuasa pada masa Yunani, terutama masa kaum sofis. Meski memunculkan Aquinas yang mencoba mencairkan kembali filsafat, tetapi usahanya itu banyak ditentang sehingga tidak berkembang. Akibatnya, filsafat dan sains berhenti. Jangankan berkembang, menjaga tradisi filsafati Yunani saja tidak mampu. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Zaman Modern&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zaman ini ditandai dengan jebolnya tembok kemenangan dogma oleh senjata ‘cogito ergo sum’nya Descrates untuk kemudian membebaskan akal ke alam bebas. Akal kembali ke tampuk kekuasaan. Filsafat Yunani kembali menemukan bentuknya dan berkembang pesat. Bahkan rasionalisme menjadi ciri khas pikiran modern beserta empirisme. Maka, zaman modern adalah masa kemenangan filsafat dan sains. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Era Posmodern&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan era postmodern adalah yang membingungkan. Tidak ada kesepakatan kapan posmodernisme itu muncul dan siapa tokoh pertamanya. Tapi yang jelas postmodern adalah kritik bagi modernisme. ‘filsafat’, ‘rasionalitas’ dan ‘epistemologi keilmuan’ barat kembali dipertanyakan secara radikal. Begitupun dengan tokoh-tokohnya banyak mengelompokannya secara beragam. Habermas misalnya. Ada yang mengatakan bahwa ia masuk dalam tradisi postmodern ada pula yang menyatakan masuk modern. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Menyelami Ontologi Ilmu : Antara ADA dan TIADA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Realitas ini adalah keberadaan. Yang nampak seperti kursi dan lain sebagainya serta yang tidak tampak seperti pikiran dan sebagainya adalah realitas. Tapi, Apakah Yang Sebenarnya Ada? Ada sebenarnya sebagai pusat Segala sesuatu? Materi atau ide, benda-benda atau apa yang ada di otak-otak kita (pikiran)? Untuk menjawabnya kita perlu menyimak perdebatan filosofis para mahluk ‘aneh’, yakni Filosof.Bagi kalangan materialis, yang sebenarnya ada adalah benda-benda. Apa yang tampak sebagai kursi, meja, gentong, sepatu, peserta lk, pemandu, pemateri adalah benda-benda atu materi yang tersusun dari unsure-unsur lebih kecil yang menyatu dan membentuknya. Ya, semua benda itu terdiri dari atom-atom. Atom terdiri dari inti dan electron. Inti terdiri dari proton dan netron. Dan terakhir muncul unsure terkecil yang hingga kini dianggap tak bisa dipisah-pisah lagi yaitu quark. Karena inilah kalangan materialis berkeyakinan yang sebenarnya ada adalah benda. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Namun sayang, lembar jawaban ini masih menyisakan masalah. Masalah itu terutama datang dari kaum idealis plus religius. Bagi kaum idealis jawaban kalangan materialis tidak memuaskan kaena masih menimbulkan pertanyaan; apa sebenarnya quark itu? Mana buktinya kalau itu benar-benar ada? Bukankah sang materialis selalu bisa membuktikan data empiric melalui indera terlebih dahulu sebelum menyimpulkan? Serangan yang membuat mati kutu kaum materialis itu membuat kaum idealis di atas angin. Bagi mereka yang sebenarnya ada adalah pikiran atau itu. Hore....hidup kaum idealis. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sudah finalkah, dan idealis tampil sebagai pemenang? Belum. Persoalan masih menghantui; apa sebenarnya pikiran itu? Petarungan kembali berrlanjut, bagi kaum materialis, pikiran adalah pola-pola dalam otak manusia yang sejatinya terdiri dari benda-benda. Sementara kaum idealis membantah: pikiran adalah pola-pola yang bermakna dan saling memaknai. yang bisa memaknai ini apalagi kalau bukan pikiran. Bukan benda-benda. Tibalah kita pada pandangan yang berputar-putar. Tidak lagi ke kiri atau ke kanan, kini kita sampai pada bundaran yang membingungkan. Adakah yang menjadi penunjuk jalan? Para filosof sejarah tampil ke depan. Meraka mengatakan bahwa yang benar-bena ada adalah peristiwa-peristiwa yang hakikatnya terletak pada kreativitas. Yang ideal dan yang material tak lain adalah aspek-aspek saja dari setiap proses. Jawaban yang sedikit-banyak membuat reda perang urat syaraf.Dengan demikian kita bisa mengatakan, bagi kalangan materialis yang sebenarnya ada adalah materi, bagi kaum dealis yang sebenarnya ada adalah pikiran, dan bagi filosof sejarah yang sebenanya ada adalah peristiwa-peistiwa. Tapi, Apakah “ADA” Itu Sebenarnya? Apakah yang sebenarnya ADA itu hanya materi dan apa yang bisa kita pikirkan? Bagaimana pula dengan ADA-nya Tuhan? &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;ADA itu adalah sesuatu, sesuatu itu meliputi yang tampak dan tidak tampak oleh indera. Tapi, apakah ADA-nya tuhan juga demikian? Bagi Mulla Shadra seorang tokoh filsafat islam, ADA itu tanggal dan berlaku untuk semua benda, baik yang konkrit maupun yang abstrak. Meskipun begitu, Shadra mengatkan bahwa “ada”nya Tuhan adalah ADA murni, sedangkan “ada”nya yang lain becampur dengan esensi. Inilah pelipur lara bagi para pencari bukti adanya tuhan melui pendekatan filsafat. Karena ADA-nya Tuhan adalah Murni maka mengatakan bahwa Tuhan itu Tidak ada adalah sebuah kemustahilan. Karena bagaimanapun kita berpikir dan berkata bahwa Tuhan tidaka ada, Tuhan tetap ADA. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Apa yang kita bicarakan di atas adalah wilayah hakikat. Kita menyaksikan bahwa bagi kalangan materialis yang hakikat adalah benda benda. Dan bagi kalangan idealis yang hakikat adalah pikiran. Bagaimana dengan islam? Apa yang hakiki menurut Islam? Tentu yang hakiki, yang ada sebenarnya adalah Tuhan, yaitu Allah SWT. Karena Allah adalah pencipta Segala sesuatu (Khaliq). Dialah kebenaran satu-satunya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Bila demikian halnya, bisakah kita mencapai kebenaran Tuhan itu? Bisakah manusia yang relative kebenarannya mencapai kebenaran Tuhan yang mutlak? Bukankah manusia itu mahluk yang lemah? Terlebih lagi Allah SWT memberikan pengetahuannya kepada kita tidak ada kecuali sedikit (illa qaliil). Hemat saya kita perlu terjerumus pada apakah kita akan sampai pada kebenaran yang mutlak itu dan berbangga-angkuh saya telah mencapai hakikat. Yang tepenting bagi saya adalah Allah yang maha Pemurah itu telah mengaugrahkan kepada kita berbagai petensia untuk berpengetahuan. Kita dianugrahkan akal, indera dan hati sebagai bekal mengarungi kehidupan dunia ini yang tidak lepas dari ruang dan waktu. Maka bagaimana kita memaksimalkan daya potensia kita di alam fana ini sebagai wujud ibadah kita kepada Allah SWT. Maksimalisasi dari semua potensia itulah yang akan mendekatkan diri kita kepada Allah. Selain itu, bekal kodrati manusia berupa akal, hati dan indera itu juga berarti menekankan kita untuk berusaha mencari kebenaran hakiki. Bukankah akal, hati dan indera juga berasall daru Tuhan? Dengan begitu, Tuhan telah memberi kesempatan kepada manusia untuk mencari pengetahuan (kebenaran) sebagai lambing pengabdian kepada Allah SWT. Itulah yang menjadikan seorang Murthada Muthahhari menyebutkan adanya kemungkinan manusia mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Disinilah kita menemukan konteksnya mengenai hakikat ilmu. Ilmu bukankah seongkang usaha tanpa makna, melainkan ia mengemban amanah untuk memahami realitas sebenarnya sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT dan perannya di muka bumi sebagai khalifah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Epistemologi Ilmu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sumber Pengetahuan Manusia&lt;br /&gt;“Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati.”&lt;br /&gt;Adalah ungkapan yang sering kita dengar dan cukup mengundang ‘geli’. Bukan tanpa makna. Dalam perspektif ilmu, mata adalah sumber pengetahuan empiris dan hati sumber keyakinan diri. Dengan mata kita bisa menyaksikan hitam-putih, tampan-cantik, bulat-lonjong, mancung-pesek, kurus-gemuk, tinggi-rendah dan sebagainya. Dengan hati kita bisa merasa susah-senang, cinta-benci, tenang-khawatir, simpati-empati, takjub-mangkel dan sebagainya. Inilah sebagian pengetahuan manusia. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Tapi, apakah dengan melihat dan seklaigus itu yang menyebabkan kita meyakini? Atau keyakinan itu muncul serentak begitu saja lewat intuisi kita? muncul bagai jailangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar? Lalu, mengapa kita harus benci? mengapa kita harus khawatir? mengapa harus begini? Mengapa harus begitu? Mengapa ini tidak boleh? Mengapa itu tidak boleh? Bagaimana kita bisa mengurai, memilih dan menilai dari berbagai fenomena empiris itu yang kemudian menyimpulkan ini-itu? Apa yang menjadi sandaran kita sehingga tingkah polah kita harus seperti ini dan itu? Indera, hati atau akal? Untuk menjawabnya, terlebih dahulu kita akan melihat alat atau sumberr-sumber pengetahuan manusia. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;1. Indera&lt;br /&gt;Manusia memiliki berbagai indera sebagai alat untuk mengetahui sesuatu. Indera penglihatan, pendengaran, dan perasa. “Kehilangan satu indera, maka ia telah kehilangan satu.” begitulah ungkap Aristoteles. Berkaitan dengan ini Muthahhari mengilustrasikan dengan sebuah contoh orang buta sejak lahir bertanya “susu beras itu seperti apa?”. Meskipun orang berusaha menjelaskannya. Tetap sang buta tidak bisa mengerti warna susu beras itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, indera juga terbatas. Pengetahuan yang dihasilkan oleh indera sering kali menipu. Mata misalnya dalam melihat sesuatu akan sngat dipengaruhi oleh jarak. Contoh sederhana mengenai fatamorgana. Dari kejauhan kita melihat di terik matahati di sebuah jalan aspal yang lurus kita melihat ada gumpalan air di atas aspal. Tapi, tatkala dikonfirmasi dengan melihatnya lebih dekat, tak ada apa-apa. Air yang tadinya tampak nyata ternyata menipu, bukan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;2. Akal&lt;br /&gt;Di atas keterbatasan indera itu akal muncul sebagai alat epistemology lain yang melengkapi. Ini tak lepas dari fungsinya yang bisa merenung, memilah, membuang yang tak bermakna, mencerap, menangkap makna, menimbang dan sebagainya. Seperti dikutip Musa Khazim, Murthada Muthahhari menggambarkan kinerja akal dalam lima tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Menerima pesan dari luar. Pada tahap ini akal menagkap objek-objek alam luar melalui panca indera yang tersimpan dalam lokus mental.&lt;br /&gt;b. Mengingat. Artinya, setelah menerima gambar atau kesan dari luar, akal mempunyai kemampuan menampakan kembali secara jelas.&lt;br /&gt;c. Membagi atau Mengklasifikasi dan Menggabungkan atau Mensintesiskan. Dalam tahap ini akal mampu mengurai, memilah dan mengupas kesan yang masuk dalam benak atau akal.&lt;br /&gt;d. Abstraksi dan generalisasi. Dalam hal ini akal berupaya memisahkan gambaran yang tertangkap oleh panca indera dari cirri-ciri individual dan partikularnya.&lt;br /&gt;e. Perenungan atau penalaran dan pembuktian atau argumentasi. Pada tahap ini akal mencoba menghubungkan seerangkaian data untuk mengungkap dan mengetahui objek yang belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;3. Hati&lt;br /&gt;Dapatkah hati menjadi sumber pengetahuan. Jalaludin Rumi pernah berkata bolehlah manusia dengan rasionya mengetahui segala sesuatu. Tapi, ia tidak tahu tentang dirinya sendiri. Ya, untuk keperluan ini kita bisa bertanya tentang kesedihan, kekhawatiran, bahkan keyakinan. Mungkinkah ini muncul dari rasio. Tidak ia muncul dari hati. Makanya, hati adalah alat epistemology. Alat untuk mendapatkan pengetahuan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aksiologi Ilmu: Apakah Ilmu Bebas Nilai Atau Tidak?&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Bagi sekuler yang memposisikan agama dan ilmu pengetahuan dalam oposisi biner menganggap bahwa ilmu bebas nilai. Ilmu tidak terkait dengan agama atau dogma-dogma tertentu. Ia lahir begitu saja dari kreasi akal dan indera, atau lebih tepatnya melalui eksperimentasi terhadap alam dalam sains. Tapi, pertanyaannya adalah apakah ilmu itu dapat terlepas dari penerapannya? Apakah ilmu itu dibuat, dirancang, dan diterapkan dalam sosio-cultural tertentu tidak terkait dengan manusianya? Betulkah ilmu itu berdiri sendiri dalam upaya aplikasinya tanpa campur tangan manusia? Tidak, Ilmu tidak bebas nilai. Kalaupun ilmu itu bebas nilai, mengapa ilmu yang dianggap adalah untuk kemajuan dan kebaikan manusia telah menjelma sebagai kekuatan menakutkan? Ia telah digunakan semena-mena untuk eksploitasi alam, invasi militer, pembobolan rekening, penyalahgunaan anggaran, pembohongan public. Dalam teknologi informasi kita melihat krisis dimana ia telah menjadi penyangga utama budaya pop atau endah yang memiskinkan kesadaran dan terjebak ‘nyaman’ dalam ruang mekanistikan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Membongkar Ilmu Pengetahuan Barat: Rasionalisme dan Empirisme&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Akar dari ilmu pengetahuan barat sebenarnya bertumpu pada rasinalisme dan empirisme. Rasionalisme adalah aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan sebenarnya adalah yang berasal dari akal. Bapak aliran ini adalah Rene Desrates dengan “Cogito Ergo Sum”-nya. Dalam pencariannya Descrates mempertanyakan dengan dalil apa saya mengatakan ala ini demikian, Tuhan itu ada, jiwa itu ada, roh itu ada, dunia ini ada, paris itu ada, agama al-Masih adalah demikian? Kemudian ia menguji berbagai alat epistemology namun tidak menemukannya. Akhirnya, ia kehilangan keyakinan dan kepercayaan. Ia pun mulai meragukan segala sesuatu. Dan, tatkala ia tenggelam dalam keraguannya, tiba-tiba disadarkan oleh poin yang ia katakana sendiri:”sekalipun saya meragukan segala yang ada, tetati saya tidak ragu bahwa saya dalam keadaan ragu”. Dengan demikian”saya sekarang tengah merasa ragu, dan karena saya merasa ragu, berarti saya tengah merasa ragu ini, asalah ada”. Munculah kemudian kata popular yang menggambarkan pemikiran Cartesian “ketika saya ragu, maka saya ada”. Tokoh lain pemerus Descrates adalah Spinoza dan Leibniz. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sementara itu,empirisme adalah aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan yang benar berasal dari indera atau pengalaman. John Locke adalah salah satu tokohnya selain David Hume dan Herbert Spenser yang juga banyak dikenal. Lock menyatakan bahwa tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita kecuali di dahului oleh pengalaman. Jiwa atau mind itu, tatkala seorang dilahirkan, keadaannya kosong, laksana kertas putih (tabula rasa), dan setiap ide yang diperolehnya selalu di dahului pengalaman inderawi. Sama halnya dengan Lock, Hume membedakan antara ide dan kesan. Semua ide yang kita miliki datang dari kesan-kesan. Dan, Spenser dengan nada berbeda tapi semakna mengatakan bahwa kita hanya dapat mengenali fenomena-fenomena atau gejala-gejala. Memang benar dibelakang gejala itu ada suatu dasar absolute, tetapi yang absolute itu tidak dapat kita kenal. Di sini, Spenser hendak mengatakan bahwa hal-hal yang sifatnya metafisis tidak ada. Yang ada hanyalah fenomena-fenomena inderawi. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Memeluk Ilmu Pengetahuan Islam:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akal, Indera, Hati dan Wahyu sebagai epistemology islam&lt;br /&gt;Karena kerja akal, indera dan hati telah diurai di atas, pembahasan ini akan lebih difokuskan pada interpretasi wahyu sebagai sumber pengetahuan. Hal ini menjadi sangat penting karena persoalan agama yang berhadapan dengan realitas sosial (wilayah inderawi), penafsiran (wilayah rasio) dan keyakinan apa yang mesti dilakukan sangat terkait dengan pegangan atau pembongkaran terhadap teks agama itu sendiri. Ini dapat dipahami, meskipun beragam interpretasi dan memunculkan banyak kesimpulan tetapi sumbernya tetap sama yaitu al-Qur’an dan Al-Hadis. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menyelam ke kedalaman teks, kita perlu menjawab dahulu apakah al-Qu’an yang notabene yang oleh sebagaian kalangan dianggap universal itu bisa ditafsirkan? Melihat sejarah islam tentu jawabannnya menjadi pasti. Bisa di tafsirkan. Faktanya, doktriner-doktriner yang sampai kepada kita dibanjiri dengan ungkap-ungkap ajaran agama hasil penafsiran para ulama dan fuqaha. Bahkan penafsiran yang juga lambing dai ijtihad itu telah muncul setelah nabi meninggal. Dan kini kita pula mengenal mengenal adanya mazhab asy-Syafi’I, Maliki, Hambali, dan Hanafi. Tentu saja disamping itu banyak pula mujtahid yang tidak termasuk ulama mazhab. Hal yang sama terjadi sampai sekarang. Penafsiran akan teks sangat beragam. Ada yang bersifat fundamental ada juga liberal, ada yang menekankan pada teks ada pula yang menekankan pada rasio. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Bagi seorang ‘fundamentalis’ penafsiran teks agama bersifat skriptualisme, atau meyakini al-Qur’an sebagai firman Tuhan dan dianggap tanpa kesalahan. Ini bertolak pada prinsip bahwa; Pertama, penolakan terhadap hermenetika. Ia menolah interpretasi teks secara kritis. Baginya, al-Qur’an harus dipahami secara literal saja. mereka mengajukan alas an bahwa nalar dipandang tidak mampu memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks. Kedua, penolakan tehadap pluralisme dan relativisme karena pluralisme dianggap merupakan pemahaman yang keliru terhadap teks kitab suci. Pemahaman itu harus satu dan tidak ada realtivisme dalam memahami teks tersebut. Ketiga, penolakan terhadap perkembangan histories-sosiologis. Bagi mereka, pekembangan histories-bila perlu dengan kekeasa- harus disesuai dengan kitab suci. Dan, Keempat, mereka sering mengambil posisi oposisionalisme. Dengan keyakinan mereka akan kebenaran mutlak teks tersebut mereka mengambil jarak dengan pemahaman-pemahaman yang ia anggap ‘sesat’. Tak jarang prinsip-prinsip ini bertumpu pada legitimasi islam kaffah, kedaulatan tuhan dan puritanisme. Sebaliknya, bagi kalangan ‘liberal’ teks yang dianggap tidak sesuai dengan sosio-historis harus di bongkar dan ditafsirkan ulang. Tak masalah baginya bila kemudian terdapat pemahan yang berbeda-beda. Untuknya, kala wacana hermenetika mencuat. Kaum liberal menyambut baik. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Berkaitan dengan teks ini Hassan Hanafi menjelaskan bahwa; Pertama, teks adalah teks dan bukan realitas. Ia hanyalah deskripsi linguistic terhadap realitas yang tidak dapat menggantikannya. Kedua, teks hanya menuntut keimanan apriori. Ketiga, teks bertumpu pada otoritas al-Kitab. Keempat, teks datang dari luar bukan datang dai realitas dalam. Kelima, teks selalu tekait dengan realitas yang ditunjuknya. Keenam, teks bersifat unilateral yang selalu terkait dengan teks-teks lainnya. Ketujuh, teks selalu dalam ambiguitas pilihan-pilihan yang tidak luput dari pertimbangan untung-rugi (kepentingan). &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Menurut saya, memang al-Qur’an tejamin kebenarannya. Tapi kebenaran yang ada di dalamnya ada yang bersifat universal ada juga yang temporal. Ada yang sifatnya normative-universal ada pula praktis-temporal. Atau dalam istilahnya Amin Abdullah ada dimensi normative dan histories-nya. Artinya, dalam al-Qur’an ada teks-teks yang berlaku secara umum dalam semua tempat dan waktu ada pula teks yang pelaksanaanya sesuai dengan konteksnya tergantung waktu dan sosio-historisnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Maka bagi saya kita tak perlu rebut-ribut apalagi saling menghujat antara yang fundamentalis dengan yang liberalis itu. Selain secara histories pemahaman manusia itu beragam juga karena posisi teks yang dihadapkan dengan tantangan zaman. Apalagi, islam dalam teks-teks agamanya tidak melulu menekankan keyakinan akan teks-teks agama melainkan juga yang lebih penting pengaplikasiannya. Bukankah seringnya kita membicarakan kesalehan individu dan sosial itu di ruang-ruang diskusi saja? bukankah kita hanya sibuk dengan urusan sesat-menyesatkan saja sementara kita lupa dengan teks-teks kesosialan kita yang sebenarnya nyuruh memberantas kolusi, korupsi dan nepotisme, penyalahguanaan wewenang, pembodohan rakyat, dan penindasan kaum lemah? Itulah karena seringnya kita menganggap bahwa urusan ilmu adalah urusan teks. Dan teks harus diperdebatkan dan di yakini bukan direalitaskan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sains versus Agama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sains adalah bentuk pengetahuan modern yang paling berpengaruh dewasa ini. kemunculannya menjelma menjadi kekuatan yang tak tertandingi. Sains bahkan dianggap telah membuat dunianya sendiri yang sering dianggap netral yaitu dunia sains. Bebas dari agama dan dogma-dogma. Jadilah, sains selalu dipertentangkan dengan agama. Paling tidak, usaha Galileo dan Copernicus yang sering dipertentangkan dengan kaum gereja semakin membuktikan bahwa agama dan sains saling beseteru, menyerang, membunuh, serta saling mematikan. Terlebih, dengan hasil-hasil penelitian yang menakjubkan seperti teori evolusinya Darwin, teori atom-nya Dalton, rekayasa genetika dan lains sebagainya telah mengganggu kenyamanan agama yang secara doctrinal bertentangan dengan penelitian itu. Meskipun, di abad 20 ini agama kembali bisa tersenyum karena Einstein muncul dengan teori relativitasnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Tapi, apakah benar sain itu bertentangan dengan agama? Orang yang dianggap paling cerdas di abad 20 Albert Einstein penemu teori relativitas sekaligus penghancur teori kuantum menyatakan bahwa “ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman. Tetapi, sumber perasaan itu berasal dari tataran agama. Termasuk di dalamnya adalah keimanan dan kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional. Artinya, dapat dipahami oleh akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu. Keterangan ini dapat diungkapkan dengan gambaran: ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan lumpuh.” Dengan ini kita bisa mengatakan bahwa sains dan agama tidak diposisikan sebagai sesuai yang bertentangan melainkan saling melengkapi (integrasi). &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Menelusuri Bayang-bayang Kematian Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam persfektif ilmu yang telah saya urai di atas, saya mencoba memberanikan diri mengatakan bahwa Di bawah bayang-bayang kematian islam bukanlah fatamorgana. Bagi islam dan agama-agama lain. Dia tepat di depan mata kita. Paling tidak untuk menggambarkan dinamika keilmuan yang berpengaruh di era sekarang ini-saya dan kita harus mengakui-bahwa keilmuan barat yang bertumpu pada rasionalisme dan empirisme yang menjadikan manusia pusat segalanya merupakan kekuatan yang tidak tergoyahkan sekaligus menakutkan bagi islam. Bahkan dalam realitasnya kita ditaburi berbagai penjelasan bahwa islam kini tengah terpuruk. Pervez Hoodboy secara provokatif menggambarkan:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Cobalah anda bayangkan sebuah tim antropolog dari Mars Mengunjungi Bumi sekitar abad ke-9 dan ke-13. Misi mereka adalah untuk mempelajari evolusi kebudayaan dan social manusia. Pengamatan mereka menunjukan bahwa masyarakat tertentu sangat dinamis dan berevolusi mencapai bentuk yang lebih maju dan lebih canggih, sementara masyarakat yang lain statis dan lumpuh karena tradisi dan tatacara agama. Pengunjung dari Mars ini melaporkan kepada markasnya bahwa peradaban yang mempunyai masa depan adalah peradaban islam dengan baitul hikmah, observarium astronomi, rumah sakit dan sekolahnya. …sementara eropa dengan paus-paus palsunya, tampak semakin mundur dan biadab, tenggelam dalam kemuraman abad kegelapam..Anggaplah kini tim mahluk asing yang sama datang kembali ke zaman ini. Dengan rasa malu mereka harus melaporkan kembali bahwa ramalan awal mereka ternyata salah. Sebagian umat manusia yang pernah tampak menawarkan janji peradaban tersebut, kini tak pelak lagi tersejabak dalam kebekuan abad pertengahan. Mereka menolak yang baru dan dengan frustasi bergantung pada kejayaan silam. Di lain pihak, yang tadinya tampak mundur telah menaiki tangga evolusi dan kini menuju bintang-bintang. Apakah pembalikan peran yang menakjubkan ini, Tanya para pengunjung dari Mars, apakah hanya sekedar kesialan satu pihak dan keberuntungan pihak lain?” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Hoodboy memang mengaitkan peradaban islam yang dimaksud dengan perkembangan sains. Ia hendak mengatakan bahwa ketertinggalan islam dalam bidang sains adalah karena ‘tidak dihargainya’ rasionalitas sebagaimana didewakan di dunia barat. Akibatnya, kubangan keterbelakangan dalam sains-hingga-kini belum beranjak dari jurang degradasi. Sebuah penelusuran yang menarik. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Namun bukan hanya sains saja yang sekarang menjadi perbincangan hangat dan ditengarai sebagai biang keladi berbagai problem sosial. Dunia keilmuan secara umum sedang banyak diperbincangkan. Apalagi terkait dengan agama. Termasuk islam. Keilmuan modern yang menyandarkan diri pada tradisi keilmuan barat sedang di gugat habis-habisan. Hal ini bisa dimaklumi karena manusia modern dengan pencapaian keilmuannya itu tidak hanya menemukan progressifitas melainkan juga degradasitas. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Peradaban dan kebudayaan kini (modernitas) yang merupakan buah keilmuan modern itu berserta tatanan social yang dihasilkannya ternyata telah melahirkan berbagai konsekuensi buruk (problem modernitas) bagi kehidupan manusia dan alam pada umumnya; Pertama, pandangan dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi subjek-objek, spiritual-material, manusia-alam dan lain sebagainya telah mengakibatkan objektivisasi alam secara berlebihan dan pengurasan (eksploitasi) alam secara semena-mena. Kedua, pandangan modern yang objektivitas dan positivistis telah menjadikan manusia objek dan direkayasa bagai mesin. Al hasil, kehidupan menjadi tidak begitu ramah dengan hal-hal yang manusiawi. Ketiga, positif-empiris sebagai kebenaran tertinggi yang dianut modernisme telah menyebabkan nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya. Apalagi ditambah dengan kuatnya pengaruh kapitalisme dalam keilmuan modern telah menjadikan nilai-nilai agama terpinggirkan dalam kehidupan social. Timbulah kemudian kekerasan, keterasingan, depresi mental dan lain sebagainya. Keempat, modernitas telah menjadikan materi sebagai kekayaan paling utama yang kemudian membuka pintu persaingan bebas lebar-lebar. Dalam konsisi inilah agama kembali terdesak; dipaksa ikut aturan pasar atau mati kutu. Sebagai kelanjutannya menimbulkan, Kelima, kembalinya militerisme dan Keenam, tribalisme. Cukupkah hanya disini? Jawabannya tidak. Sebagaimana disebutkan, virus-virus keilmuan modern tidak berhenti pada wilayah ilmu-ilmu alam atau sains melainkan juga social budaya. Dan dalam hal ini modernitas menjadi ancaman berbahaya bagi agama karena karakteristiknya yang hegemonic, progressivisme, base on economy, refresif, homogenik, non-teleologik, disekuilibrik, dan sekularistik. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Mengacu pada fakta ini, apakah ini berarti bahwa keilmuan modern sarat dengan kolonialisasi? Secara gamblang Michel Foucoult menyatakan:”the will to know, the will to power”. Artinya: Awalnya hendak sekedar mengetahui telah berubah dikemudian hari menjadi penancapan kekuasaan. Poskolonial itu telah merayap dari penjajahan sebelumnya yang berbentuk fisik pada penjajahan yang lebih halus melalui pengetahuan. Pengetahuan telah dikonstruksi sesuai dengan kepentingan si pembuatnya. Kemudian agama hanya dipandang sebagai bumbu masakan yang bisa memuluskan pihak yang berkepentingan menggunakan ilmu pengetahun. Agama tidak ditempatkan sebagai norma yang mulai tetapi telah direduksi sesuai dengan kepentingan ekonomi-politik yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Paling tidak ini tampak jelas dalam cara beragama kita akhir-akhir ini. Beragama harus sesuai dengan setelan mode jilbab. Berhibah harus sesuai dengan waktu kampanye. Menghormati dan menghargai harus berdasarkan ukuran status sosial, besar tidaknya kekayaan, hingga cocok tidaknya dengan mode. Berdakwah pun mulus kalau dikasih honor tinggi. Lupa, bahwa agama telah dijadikan barang dagangan. Di tambah lagi dengan bantuan ilmu dan teknologi, agama dijadikan aksesoris seruan-seruan para kapitalis untuk menjualkan dagangannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Itulah yang saya maksud di bawah baying-bayang kematian. Kematian tidak selalu berarti hapus sama sekali. Kematian bisa berarti perpindahan bentuk dari yang satu ke yang lainnya. Dengan mengikuti alur logika ini, bisa jadi ke depan agama mengalami kematian itu. Agama yang akan kita temukan termasuk islam tidak otentis lagi. Tak ada lagi seruan moral pembebasan yang dapat diandalakan sebagai agama rahmatan lil alamin. Yang ada hanyalah tradisi islam superficial. kemanakah ilmu yang membebaskan manusia dari ketepurukan itu. Disinilah problem keilmuan barat yang telah menghempaskan nilai-nilai agama. Itulah, karena ilmu tidak dicipta dan dipakai sebagai alat pengabdian kepada sang pencipta dan hanya dijadikan pemuas nafsu manusia. Jadilah problem modrnitas menjadi penyakit akut yang hingga kini menghantui. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ihab Habudin, Kabid PSDP KP HMI Yk&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-3304159806818252302?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/3304159806818252302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=3304159806818252302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3304159806818252302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3304159806818252302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/03/di-bawah-bayang-bayang-kematian-islam.html' title='Di Bawah Bayang-bayang Kematian Islam'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-8168272117563171826</id><published>2009-02-01T15:10:00.003+07:00</published><updated>2009-02-01T15:44:24.802+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>Pengukuhan Khittah Perjuangan di Tengah Arus Utama Neolibieralisme</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Khilmi Zuhroni&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setiap yang berpretensi menjadikan materi sebagai orientasi dan pusat segala tujuan adalah pengingkaran atas hakekat penciptaan manusia. Sebab manusia diciptakan sebagai perwujudan nilai-nilai tauhidi, malalui ruh Tuhan yang ditiupkan padanya (QS. Al-Hajj: 5),  dalam realitas konkret sebagai sebentuk gambaran akan kebesaran Tuhan, serta kehendak-Nya menjadikan manusia sebagai khalifah, pengemban amanah dan penyampai ajarannya untuk menjaga alam dan semestanya secara harmoni. Sementara materi hanyalah seonggok media pendukung bagi proses menuju penyingkapan rahasia-rahasia-Nya yang tersebar secara sistemasis dalam sunnah, dan tata aturan hukum alamnya. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Ruh Allah inilah satu-satunya pembeda serta puncak ketinggian penciptaan yang membedakan antara manusia dengan makhluk selainnya, baik malaikat, semesta bendawi maupun jin, setan dan selainnya. Dalam melakukan interpretasi rasional, Fazlur Rahman, menyebut setan sebagai semua tindakan dan nafsu manusia yang berpretensi kearah hilangnya kesadaran kemanusiaan, sehingga Tuhan sebagai Dzat pencipta, tidak mampu ditangkap atau bahkan justeru  dinafikan sebab tidak mampu memenuhi nasfu serta hasrat pemenuhan materi tersebut. Manusia memang secara fisik terbentuk dari persemaian berbagai unsur tanah yang dibentuk sedemikian rupa dengan kebesaran kuasa-Nya hingga mewujud dalam bentuk fisik sebagaimana adanya. Namun, wujud fisik yang materi ini sangat berbeda dengan sebentuk materi-materi lainya, sebagai meja, batu, hewan, juga oksigen. Dia memiliki seperangkat akal, yang memungkinkan adanya kehendak kebebasan memilih diantara realitas yang dia lihat dan temui dalam olah pengalaman, beriman atau kafir, baik atau buruk, juga menjadi maklaikat atau iblis. Dengan akal itulah ruh kebebasan mutlak yang hanya dipunyai oleh Tuhan, dapat termanifes dalam realitas hidup manusia, meski tetap dalam ruang kebebasan sebagai makhluk yang diciptakan. Ketiga, selain ruh dan akal, manusia memiliki seperangkat emosi/jiwa yang mampu menggerakkan manusia selalu berproses menuju harmonisasi alam, semesta, dan relitas virtual dimana kesejarahan manusia akan dibangun. Dengan emosi, mereka menjadi bahagia, sedih, perasa, kejam, keji, murtad, pengasih, pemberi, pendusta dan selainnya. Anasir tanah dan ruh yang ada dalam manusia, haruslah dimaknai sebagai kehendak penciptaan bahwa sekalipun secara materi dia menginjakan kakinya di bumi, berproses dalam alam dan lingkungannya, menjalankan peran-peran kehalifahannya, namun secara substansial ruhnya selalu berada dan dekat dengan nilai-nilai transendensi ketuhanan dengan menjalankan tugasnya sebagai abdullah. Manusia adalah makhluk spritual sekaligus materi, ruh sekaligus bendawi, yang dengannya pesan-pesan Tuhan yang terkandung dalam sifat dan asma-Nya paling mungkin  dicerap untuk ditrasnformasikan dalam relitas kesejarahan umat manusia. &lt;br/&gt;Secara global, pertarungan abadi peradaban sebetulnya hanya terjadi antara Tuhan sebagai wujud nilai-nilai kebaikan dan setan sebagai simbol nilai kejahatan, spiritual dan material, serta akal dan wahyu. Dalam dunia filsataf itu dapat berarti pertarungan antara idealitas dan relitas, nuomena dan fenomena, substansial dan partikular, serta teks dan relitas. Kiranya proses tesis-sintesis ini, sebagai sebuah dialektika besar pembangun keadaban, harus dilihat sebagai sunnatullah dimana proses menuju kesempurnaan akan tercapai. Sekalipun dalam realitas perjalannya kadang kebaikan yang lebih unggul, materialisme lebih berkuasa, setan lebih kuat, dan ruh lebih berperan dari marteri jasadi.&lt;br/&gt;Namun menjadi persoalan jika dorongan materialisme ini ternyata secara sistematis dan terstruktur walaupun terlihat acak, acapkali mendorong bagi bangkitnya kerajaan “Taghut” materialisme, dalam bentuk dan wujudnya yang beraneka ragam yang berakibat kian hilangnya kesadaran kemanusiaan, diskriminasi, ketidakseimbangan alam, dekadensi, alienasi, dan berbagai penyakit semesta yang ditimbulkan oleh keserakahan akumulasi materi. Pada aspek inilah sebetulnya bagunan paradigmatik sebagai kerangka “perlawanan” terhadap akumulasi materi menjadi niscaya untuk mengembalikan manusia menuju hakekat awal penciptaannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mengurai Struktur dasar Paham Neo-Liberalisme&lt;br/&gt;Sebagaimana dalam uraian diatas sebetulnya neo-liberalisme tidak harus ditempatkan sebagai gejala baru, aneh, dan spesial sehingga menjadikan pudarnya nilai-nilai ketuhanan, munculnya sikap-sikap pesimistik, kehilangan kendali, dan menguatnya rasa putus asa dalam menghadapi gejala yang dianggap baru tersebut. Sebegitu anehnya sehingga seolah tidak mampu lagi diurai struktur dasar gejala baru apa yang sebetulnya ada dan mengusung paham tersebut. Sebagai sebuah isme, neo-liberalisme tetap memiliki kerangka dasar munculnya bangunan tersebut, sekalipun pada fakta-fakta perjalanannya, neoliberalisme memiliki varian cara dan bentuk yang luar biasa beragam. Neo-liberalisme adalah akumulasi materialisme yang lebih tersistematis, dengan variasi, model dan gaya yang baru, yang memiliki kemampuan selalu memperbaharui diri, namun substansi dasarnya tetaplah sama yakni pengingkaran terhadap spiritual sebagai jalan menuju tujuan dasar mencapai keridloan Allah yang seharusnya dijadikan landasan gerak bagi setiap aktifitas manusia. Neoliberalisme adalah keadaan dimana semua aspek hidup hanya dilandaskan pada dominasi materi, yang terakumulasi pada kekuatan modal, sehingga tidak ada lagi batas antara kewilayahan states, nation, cultur, maupun idiologi, sebab yang diakui dan memiliki kekuatan hanyalah sebesar apa kekayaan modal yang miliki, maka sebesar itu pula dia mampu mengontrol kelangsungan hidup manusia secara global.   &lt;br/&gt;Jika prinsip sosial Islam didasarkan pada ajaran semakin besar manusia bermanfaat dan berguna (shadaqah) bagi manusia yang lain, semakin besar pula Velue Added keridloan Tuhan akan didapatkan (QS: Al-Baqarah; 261-163), maka prinsip  neo-liberalisme justeru sebaliknya bahwa semakin pelit dan kikir manusia semakin cepat  mencapai kekayaan, guna mencapai sebanyak mungkin penumpukan modal, semakin kuat pula ia menekan dan mengontrol kekuatan lain. Prinsip sosial dan ekonomi ini tentu saja didasarkan pada cara pandang individu sebagai faktor utama dengan materi sebagai pusat segalanya. Demikian halnya, dalam perpektif ini, tentu saja kebaikan hanya didasarkan pada nilai subyektifitas sejauhmana setiap perbuatan yang dilakukan memiliki nalai tambah serta keuntungan bagi akumulasi materi  yang dia kumpulkan. &lt;br/&gt;Disinilah kiranya neo-liberalisme sebagai sebuah sistem baru ekonomi, yang mendewakan persaingan pasar sebagai faktor utama penentu keberhasilan sebuah bangsa, dengan memangkas peran negara dalam setiap kebijakan ekonomi yang berjalan, serta melepaskan semua sumber-sumber produksi penting pada sistem liberalisasi, dan privatisasi, memiliki implikasi yang sangat besar pada persaingan arogansi individu atau kelompok individu terhadap sebagian kelompok yang lain yang akan berujung pada, hegemoni budaya, dominasi sumber produksi, dehumanisasi serta marginalisasi kelompok yang lemah dan terpinggirkan. Modal menjadi sangat berperan pada strategi penguasaan ekonomi politik atas negara-negara yang memiliki keterbatasan modal bagi mengembangan dan pengelolahan sumber daya alam. Disinilah lantas dikenal apa yang kemudian disebut sebagai utang luar negeri. Utang luar negeri adalah seperangkat paket pinjaman berbunga yang yang diberikan oleh negara-negara kreditor yang tergabung dalam institusi besar IMF maupun Word Bank, kepada negara-negara yang tidak mampu melaksanakan serta menjalankan kebijakan lantaran kurangnya modal yang dimiliki. Utang yang dimaksud sekali lagi bukan sebagaimana utang antara perseorangan, individu dengan individu, akan tetapi utang yang didalamnya ada paket-paket yang harus disepakati sebagai jaminan utang. &lt;br/&gt;Paket kebijakan IMF (international Monetary Found) yang dipaksakan pada negara penghutang adalah : 1) Penetapan anggaran ketat dengan melakukan pencabutan subsidi; 2) liberalisasi perdagangan, melalui penghapusan bea import; 3) privatisasi sektor BUMN; dan 4) sistem keuangan bebas mengambang. Sementara negara-negara miskin yang terjerat dalam utang luar negeri karena tidak mampu melaksanaan kebijakan negaranya, disisi lain  mereka harus pula menaggung beban keterpurukan sosial yang sangat tinggi dengan pelaksanaan berbagai kebijakan yang berpihak pada negara-negara kreditor dan koorporasi-koorporasi besar yang bernaung di bawah payung lembaga bantuan internasional baik IMF maupun Word Bank tersebut (Mansour Faqih :2001). Selain neo-liberalisme yang lebih memihak pada TNCs (Trans National Coorporations) untuk kepentingan akumulasi kapital berskala global, paket-paket kebijakan IMF atas negara-negara penghutang yang berimplikasi dengan dibangunnya proyek-proyek raksasa, sebagai konsekuensi utang sebab liberalisasi perdagangan dan pencabutan subsidi mulai berjalan, efek yang sangat parah juga dapat dilihat dari kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, pencemaran alam, pemanasan global (Global warming), ketahanan pangan yang kian menipis, serta lebih sadis lagi, hancurnya tata budaya sosial kehidupan masyarakat, dengan adanya ketergantungan atas utang dan hegemoni budaya yang berbarengan  masuk dengan perusahaan-perusahaan asing tersebut. Negara-negara miskin seolah hanya dijadikan tempat produksi barang-barang trasnasional, tanpa peduli pada aspek kerusakan lingkungan apa yang bakal ditimbulkan, yang selanjutnya hasil-hasil produksi itu diangkut dalam produk jadi ke negara dimanakebutuhan akan barang itu diinginkan. Dengan bahan mentah yang melimpah, tenaga kerja yang murah, serta efek kerusakan yang tidak dirasakan, begitulah strategi perusahaan-perusahaan raksasa itu didirikan di hampir semua negara.    &lt;br/&gt;Ditengah kondisi krisis identitas tersebut, nilai-nilai tauhid menjadi tidak penting untuk diperbincangkan. Kearifan budaya menjadi bias tergusur bercampur aduk dengan budaya pop, gaul, kebiasaan-kebiasaan instan, efisiensi, dan kehidupan pragmatis yang lain. Manusia tidak lagi percaya dengan kekuatan dirinya sebab segala fasilitas telah disediakan oleh tren teknologi yang berkembang, sejak dari lahir, bangun tidur, sampai tua dan bahkan meninggal sekalipun. Kemanusiaan kian hilang, tenggelam dalam gelimangan dominasi teknologi, homogenitas budaya one dimentional man, teralinasi dalam ruang hidupnya sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kembali ke Akar; upaya Pengukuhan Khittah Perjuangan&lt;br/&gt;Mengutip bahasa Musthofa Bisri, ketika manusia sudah semakin jauh dari hakekatnya, maka kembalilah ke akar untuk menggali kembali sumber dasar sebagai pencarian jati diri, hakekat penciptaan. Mudik dari hiruk pikuk gemerlapan dunia menuju nilai-nilai dasar tauhid, mencapai keselamatan dan kedamaian Islam. &lt;br/&gt;Kembalilah…lihatlah dirimu, &lt;br/&gt;Bercerminlah, ada noda tebal yang harus kau bersihkan&lt;br/&gt;Agar jiwa dan ragamu sampai pada pengharapan abadi; &lt;br/&gt;Tiba di haribaan Tuhan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Khittah perjuangan, sebagai landasan gerak HMI dalam melakuan aktifitas/usaha organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan yakni, terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulil albab sehingga turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridlai oleh Allah SWT, memiliki satu sistem penjelas yang sangat integral dan sistemasis. Sebagai tafsir integral atas asas Islam, Khittah Perjuangan menghendaki nilai-nilai Islam yang dinamis dan universal. Keberislaman manusia haruslah didasarkan pada pemahaman akan keyakinan “Tauhid” yang dinamis yang didasarkan atas pemahaman-pemahaman akan dasar adanya Allah sebagai pencipta alam semesta, yang didalamnya ada tata nilai dimana jika tetap diyakini sebagai kebenaran, maka kesejatian diri manusia dan kebesaran penciptaan-Nya akan membawa kepada harmonisasi kehidupan serta keselamatan yang hakiki. Disinilah kemudian konstruksi sosial yang berorientasi pada meteri secara praksis akan tergusur oleh landasan tauhid dan konsepsi idiologi keislaman yang kuat. &lt;br/&gt;Dalam ranah praksis strategis jika konsepsi ini dikuatkan, maka upaya gerakan transformasi menuju tatanan dunia yang adil, sejahtera dan damai sangat mungkin terwujud. Dalam Khittah Perjuangan, individu yang termanifestasi dalam insan ulil albab digambarkan sebagai sosok ideal HMI, yang padanya tanggung jawab kekhalifahan harus dijalankan. Setiap individu memiliki potensi yang sama untuk melakukan kerusakan dimuka bumi, tinggal bagaimana dari unsur-unsur itu yang dominan. Apakah nafsu yang membawa pada kerusakan, ataukah kesadaran kebertuhanan yang lebih dominan, maka hanya dengan menumbuhkan kesadaran individu kepada konsepsi tauhid-lah upaya pembebasan dari belenggu materialisme dapat diwujudnya. Hanya saja bagaimana usaha menuju ke tingkat kesadaran individu inilah yang harus lebih banyak di lakukan pengkayaan strategi gerakan yang sistematis dan tertata, sehingga kebesaran konsep akan tatanan masyarakat yang diridloi oleh Allah tidak sebatas menjadi imajinasi semata.&lt;br/&gt;Melihat kondisi budaya massa yang semakin mengarah pada arus dominasi pragmatisme, liberalisme individu dan homogenitas budaya, yakni budaya yang disetting pada pusaran pasar bebas neoliberalisme, tantangan gerakan tidak hanya pada politik ekonomi secara eksternal semata, namun tantangan lebih besar adalah secara internal pada perubahan kecenderungan dan karakter individu dari cara pandang sosial kritis pada rezim otoriterisme Soeharto menuju pragmatis individualistik di era keterbukaan sistem politik. Pada ranah ini, setting kondisi gerakan tidak lagi dapat diarahkan pada perlawanan secara vis a vis dengan dominasi kekuasaan tertentu, tapi harus lebih kepada sejauhmana gerakan mampu melakukan revitalisasi nilai-nilai dasar dengan lebih difokuskan pada penguatan dan kesadaran di tingkat individu kader. &lt;br/&gt;Potensi besar HMI yang masih memungkinkan dilakukan revitalisasi di wilayah gerakan adalah pilihan gerakan intelektual. Gerakan intelektual tidak dimaksudkan sebatas eksplorasi wacana semata, namun harus pula diimbangi dengan pendekatan sosial kritis dengan lebih banyak bertumpu pada relitas permasalahan sosial keumatan. Disinilah kemudian gagasan sosial Islam, dan teori-teori sosial kritis harus lebih banyak porsinya diberikan dalam setiap materi-materi pelatihan, baik dalam pelatihan umum yang. Kedua, pada ranah pembangunan basis kesadaran yang kuat, pola-pola pendampingan kader harus lebih banyak dilakukan dengan metode yang tidak hanya bertumpu pada diskursus semata, tapi juga dengan melakukan analisa sosial sebagai upaya optimalisasi gerakan berbasis data. Ketiga, ditengah kebutuhan gerakan akan jaringan dan pola relasi sosial guna mendorong kearah percepatan perubahan, HMI harus mampu mengakomodasi kekuatan-kekuatan lain baik yang se-Khittah maupun yang memiliki aras visi perubahan yang sama, disamping tetap memaksimalkan peran-peran alumni.&lt;br/&gt;Dengan demikian kiranya neoliberalisme yang lebih menitik beratkan pada perubahan konsepsi individu yang diarahkan pada semangat konsumerisme berdasarkan atas tren budaya global,  harus dilawan dengan penguatan kesadaran diranah individu yang sama. Kesadaran yang dimaksud adalah proses menuju pemahaman hakekat peran dan fungsi penciptaan manusia, yakni  sebagai pribadi yang tunduk “abdullah” dan pribadi yang kreatif “khalifatullah”.  &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-8168272117563171826?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/8168272117563171826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=8168272117563171826' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8168272117563171826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8168272117563171826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/02/pengukuhan-khittah-perjuangan.html' title='Pengukuhan Khittah Perjuangan di Tengah Arus Utama Neolibieralisme'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-5695136506626456753</id><published>2009-02-01T14:39:00.001+07:00</published><updated>2009-02-01T15:42:02.201+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawasan Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Masyarakat madani Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Mukhamad Habibi&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wacana masyarakat madani sebenarnya sudah sejak lama berkembang di Indonesia. Istilah ini mula-mula disampaikan Anwar Ibrahim dalam Festival Istiqlal pada tahun 1995. Meski demikian, penggagas awal masyarakat madani ini adalah Muhammad Naquib Al-Atas yang kemudian dielaborasi oleh Nurchalis Madjid. Masyarakat madani adalah satu citi-cita masyarakat ideal.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut Naquib Al-Atas, Masyarakat madani adalah terjemahan dari al-mujtam’ al-madani. Kata madani sendiri memilki asal kata yang sama dengan ad-din atau agama yang juga merupakan asal kata dari tamaddun yang berarti peradaban. Di samping itu, kata madani jugu mempunyai akar yang sama dengan kata madinah yang berarti kota. Sehingga di sini ada keterkaitan antara agama (din), kota (madinah) dan peradaban (tamaddun). Masyarakat madani sendiri seringkali disamakan dengan isitlah civil society yang berasal dari khazanah pemikiran Barat. Civil society adalah masyarakat yang berperadaban, masyarakat yang merdeka, masyarakat yang pauh pada hukum.&lt;br/&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Masyarakat madani dalam pemikiran Islam merujuk pada masyarakat Islam generasi awal, yaitu masyarakat yang di bangun oleh nabi di madinah yang semula bernama Yatsrib. Penggunaan nama madinah sendiri untuk membedakannya dengan golongan Barbar yang hidup nomaden. Dirujuknnya masyarakat madani pada masyarakat madinah ini karena masyarakat Madinah memiliki toleran yang tinggi terhadap sesama masyarakat, penghargaan dan kepatuhan pada hukum atau kesepakatan bersama yang ditunjukkan oleh Piagam Madinah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Merujuk pada isi Piagam Madinah Nurchalis Madjid melihat, setidaknya ada empat prinsip yang membangun masyarakat madani: Pertama egaliterian, yaitu persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga. Tidak ada kolompok atau golongan yang lebih tinggi dari yang lain. Kedua, penghargaan kepada masyarakat diberikan atas dasar prestasi. Ketiga, keterbukaan dan partisipasi masyarakat. keempat, supremasi hukum tanpa pandang bulu. Kelimaa, inklusivisme yaitu sikap keterbukaan, rendah hati dan toleransi. Keenam, musyawarah. Sejalan dengan Nurcholis Madjid, AS. Hikam merumuskan empat ciri utama masyarakat madani, yaitu, kesukarelaan, keswasembadaan, kemandirian tinggi terhadap negara keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memilki kekhasan sosial-budaya. Merupakan fakta historis bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat majmuk, yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa dan agama. Masing-masin suku, budaya dan bahasa memiliki satu sistem nilai yang berbeda. Kemajemukan ini akan menjadi bencana dan konflik yang berkepanjangan jika tidak dikelola dengan baik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kebhinekaan dan kearifan budaya lokal inilah yang harus dikelola sehingga menjadi basis bagi terwujudnya masyarakat madani, karena masyarakat madani Indonesia harsu dibangundari nilai-nilai yang ada didalamnya, bukan dari luar. Dengan demikian, menurut Tilaar ciri-ciri khas masyarakat madani Indonesia adalah a). Kergaman budaya sebagai dasar pengembangan identitas bangsa Indonesia dan identitas nasional, b). Adanya saling pengertian di antara anggota masyarakat, c). Adanya toleransi yang tinggi, dan d). Perlunya satu wadah bersama yang diwarnai oleh adanya kepastian hukum.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Perwujudan masyarakat madani indonesia adalah usaha holisitk yang mencakup a). aspek suprastrukur, yaitu bangunan paradigma tauhid, b). aspek sosial budaya yaitu adanya budaya masyarakat yang terdidik dan mandiri. c). Aspek struktur yaitu pada perbaiakan dan penguatan pada basis sistem kenegaraan. Wallahu a’lam bi masyarakat madani Indonesia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-5695136506626456753?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/5695136506626456753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=5695136506626456753' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5695136506626456753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/5695136506626456753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/01/masyarakat-madani-indonesia.html' title='Masyarakat madani Indonesia'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-3162648183561617554</id><published>2009-01-31T12:43:00.002+07:00</published><updated>2009-02-01T15:42:43.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Tragedi Kemanusian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh:Ihab Habudin&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Perang perang lagi/Mungkin kah berhenti/Bila setiap negara/Berlomba dekap senjata/&lt;br/&gt;Dengan nafsu yang makin menggila/Nuklirpun tercipta/&lt;br/&gt;Tampaknya sang jendral bangga di mimbar  ia berkata /Untuk perdamaian/&lt;br/&gt;Demi perdamaian/Guna perdamaian/Dalih perdamaian/&lt;br/&gt;Mana mungkin/Bisa terwujudkan/Semua hanya alasan/Semua hanya bohong besar/&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;(Iwan Fals: Puing)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Nuansa batin saya ketika menulis artikel ini mungkin sama dengan apa yang dirasakan Iwan Fals lewat lagunya di atas yang berjudul puing. Kekecewaan, kesedihan, keprihatinan, ketegangan, kebencian, kecintaan, ketidakpercayaan, ketidakberdayaan dan harapan, semua bercampur aduk. Tragedi kemanusiaan di akhir-awal tahun 2008-2009 terjadi. Sejak agresi militer Israel ke Palestina dimulai 27 Desember silam, lebih dari seribu manusia Palestina meregang nyawa. Ribuan lainnya melarat karena kesakitan, kelaparan, kehausan, kepanikan, kegetiran, ancaman kematian dan traumatisme. &lt;br/&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Haruskah manusia bergelimpangan tangan tunduk menunggu giliran dijemput yang Maha Kuasa? Meski Tuhan lah yang menghidupkan dan mematikan, menurut saya, kita patut bertanya mengapa kematian itu terjadi? Mengapa manusia hanya dihargai seledak bom dan sebutir peluru?&lt;br/&gt;Hampir saja ketegangan syaraf saya tak terbendung ketika melihat keharusan dan kenyataan begitu kontradiktif. Hampir saja saya ‘tendang’ berbagai artistik dan teori-teori sosial yang diadiluhungkan di berbagai diskusi itu. Apalah gunanya kita menghabiskan waktu dan energi,  berdebat masalah penegakan HAM, demokrasi, dan keadilan,  hingga urat syaraf dan emosi menantang, bila HAM, demokrasi dan keadilan itu hanya diletakan di bawah todongan para tentara, kepentingan-kepentingan sepihak, manusia-manusia serakah, dan egoisme brutal mahluk-mahluk yang merasa benar sendiri.&lt;br/&gt;Dimana kuasa teori fungsionalisme-struktural, yang katanya berdiri untuk mancapai kenyataan hidup yang lebih baik itu, bila yang terjadi adalah disequilibrium dan apertheit. Bila yang menjadi kebanggaan adalah mampu mencipta senjata-senjata mematikan dan mendemonstrasikannya lewat tentara-tentara terlatih, tank-tank baja, pesawat-pesawat tempur, rudal-rudal canggih, dan bom-bom yang menghanguskan. Tidak soal siapa dan apa yang mati dan dihancurkan. Anak-anak, wanita, manula, rumah sakit, sekolah, dan posko-posko bantuan sosial. Semua bisa menjadi tumbal. &lt;br/&gt;Kekecewaan saya semakin bertambah ketika ketika PBB seperti ‘macan ompong’. Resolusi-resolusi yang dihasilkan tidak cukup efektif meredam serangan brutal Israel. Bahkan, menurut saya, gencatan senjata sepihak (Israel-AS) dan Hamas merupakan bukti kegagalan forum tertinggi itu dalam upaya menghadirkan keadilan dan kedamaian di gaza. Humanisme dipermainkan militerisme. Nurani, kemanusiaan, dan norma-norma agama yang menyeru kedamaian disepelekan.&lt;br/&gt;Ah, saya bosan, saya kesal. Tidakkah mereka peka, karena permainan militerisasi mereka itu menyebabkan tanah basah bercampur darah. Karena ulah mereka itu yang hidup menjadi mati, yang selamat harapannya juga mati.&lt;br/&gt;Kepala saya pun bosan berdiam diri. Adakah harapan kehidupan yang lebih baik tercipta? Atau kehidupan itu adalah kematian itu sendiri, yang mengharuskan manusia bak homo homini lupus, saling menyikut, menendang, dan membunuh?&lt;br/&gt;Memang ada yang menganjurkan agar semua bentuk kekerasan dan terror itu dihadapi dengan rasionalitas komunikatif dalam dialog yang intensif. Tapi, mungkinkah? Di tengah dunia kekerasan yang mencekam, ekses ketdakadilan yang membuncah, kebencian yang menebal, ketidakpercayaan yang membumbung, dan kecurigaan yang melilit sebagian otak-otak manusia. Plus, arogansi, hegemoni dan kekeras-kepalaan sebagian negara menindas negara lain. Bisakah kuasa komunikatif dapat diharapkan bila sebagian negara masih tetap sewenang-wenang melakukan tindakan unilateralnya?&lt;br/&gt;Sementara di luar sana, teriakan Allahuakbar membahana. Sebagian berseru:“mari berjihad!”. Pendaftaran relawan dibuka. Yang lainnya bangga menyeru:“mari kita dirikan khilafah islamiyah!”. Mereka berdalih bahwa ketidakadilan itu karena tidak ditegakannya khilafah. Kekuatan harus dilawan kekuatan, katanya. Tak masalah, meski perang tetap berkobar. Meski dendam kesumat tetap menancap. Klaim kekhilafahan-pun temukan momentum.&lt;br/&gt;Tentu saja mereka kurang simpati dengan dialog antar negara. Bagi mereka doktrin agama adalah resep ampuh untuk menyatukan dan menyelamatkan dunia. Rasionalitas konflik adalah keniscayaan untuk memerangi ketidakadilan. Bagi mereka, dialog hanya akan menyebabkan ketimpangan dunia terus bercokol. Dialog hanyalah taktik ulur waktu agar korban bertambah banyak. Dalam dalog, kuasa, kepentingan, dan kemunafikan menyelinap. &lt;br/&gt;***&lt;br/&gt;Meskipun begitu, menurut saya, niat untuk berdamai dan dialog adalah jalan terbaiknya. Diplomasi yang efektif adalah kunci utama bila kita ingin mencapai perdamaian dunia. Sebaliknya, perang dan kekerasan bukanlah alat ampuh meredam segala bentuk terror dan kekerasan. Perang hanya akan membuat perdamaian menjauh. Bila dengan perang perdamaian tercipta, yakinlah itu hanya sesaat. Seperti bom waktu, cepat atau lambat terror dan kekerasan lebih besar siap meledak.&lt;br/&gt;Mungkin dengan perang bisa membunuh sekian ribu ‘musuh’, menghancurkan struktur dan infrastruktur, serta menghilangkan harapan hidupnya. Tapi ingat, perang juga membakar semangat membalas, menumbuh-suburkan dendam kesumat, dan menebarkan kebencian.&lt;br/&gt;Bila dikatakan bahwa dengan perang radikalisme agama akan hancur, saya sangat yakin meragukannya. Justeru dengan perang radikalisme agama mendapat momentum. Justeru dengan adanya kekerasan mereka mendapat legitimasi. Justeru dengan ledakan bom dan todongan senjata semangat mereka makin bertambah.&lt;br/&gt;Logika kekerasan seperti ini tidak hanya berlaku bagi Zionis-Hamas, melainkan juga bagi siapapun. Dapat dibayangkan bila tebaran pesona ajaran agama-agama diimplementasikan lewat pembatasan dan kebencian pada komunitas lain, akan tercipta berpetak-petak kekuatan yang saling unjuk gigi, saling berperang, menindas dan menyergap.&lt;br/&gt;Bukan itu saja, kala perang, pertentangan dan konflik mendarah daging, berarti manusia telah tunduk pada sisi gelap sebagian nalurinya, yaitu survival of the fittes. Sebuah naluri untuk selalu bersaing dalam mempertahankan hidup. Padahal, di sisi lain manusia juga punya rasa solidaritas. Di dalam konteks ini manusia dapat saling membantu dan melindungi.&lt;br/&gt;Dengan demikian, dialog adalah sarana publik yang harus terus dimaksimalkan. Memang sudah tercipta berbagai forum dialog yang melibatkan Israel-Palestina. Namun, dialog yang efektif belum tampak, sekalipun di antara negeri-negeri Arab sendiri. Dialog yang efektif adalah dialog yang di dalamnya mengandung dialektika rasionalitas komunikatif. Di sini, kejujuran, keterbukaan, dan pengagungan rasionalitas publik menjadi syarat utama.&lt;br/&gt;Karena itu, egoisme pribadi, kungkungan etnosentrime dan fanatisme agama harus dihilangkan terlebih dahulu bila kesepakatan publik hendak dicapai. Merasa benar sendiri, paling suci, paling berhak dan seterusnya, harus bisa diredam tatkala dialog hendak dilakukan. Karena dialog yang efektif mengandaikan bahwa perdamaian dan rasionalitas publik adalah milik “kita”. Bukan hanya kamu dan saya.&lt;br/&gt;Memang banyak yang menyangsikan bahwa dialog mampu menjamin terciptanya suasana kejujuran, keterbukaan dan pengagungan rasionalitas publik seperti saya sebut di atas. Tapi, segala bentuk ketidakpercayaan itu hendaknya tidak harus menghilangkan upaya pemaksimalan dialog. Memang dialog tidak bisa menghentikan secara sesaat perang di Gaza. Tapi, dialog mampu menghimpun opini dunia untuk menekan semua bentuk terror dan kekerasan.&lt;br/&gt;Selain itu, menurut saya, dialog bukan hanya rutinitas dan formalisme sebuah legislasi. Lebih dari itu, dialog merupakan pengakuan atas identitas dan rasionalitas seseorang. Dalam konteks negara, dialog adalah upaya pengakuan dan penghargaan atas eksistensi masing-masing negara. Maka, dialog adalah sebuah seruan logis kalau kita mau melihat krisis Israel-Palestina sebagai tragedi dan krisis kemanusiaan.&lt;br/&gt;***&lt;br/&gt;Saya mengakui, bahwa dialog yang sudah dilakukan mengenai krisis Israel-Palestina penuh nuansa politis dan jauh dari hasil yang diidamkan. Tapi, bagi saya, itulah tantangan komunitas muslim khususnya dan dunia umumnya. Saya melihat, kegagalan dunia muslim dalam membantu krisis Palestina juga tidak lepas dari belum terbentuknya opini publik di dunia muslim itu sendiri. Dunia muslim, khususnya negara-negara arab masih terpecah, belum menemukan kesepahaman.&lt;br/&gt;Meski begitu, kini, setelah gencatan senjata, dialog harus tetap berlangsung. Usaha persuasif untuk mencegah perang terjadi lagi harus tetap diupayakan.&lt;br/&gt;Kini, forum tertinggi dunia harus didesak untuk mengungkap kejahatan perang yang dilakukan Israel. Legislasi publik dunia yang tewujud dalam resolusi bahwa Israel melakukan kejahatan perang harus menjadi titik tolak semua negara agar kepercayaan dan kewibawaan lembaga tertinggi di muka bumi ini bisa dikembalikan. Sekali lagi, demi kemanusiaan.&lt;br/&gt;Selain itu, sekarang saat tepat bila para penutur jihad itu mau terjun ke Palestina. Selain kemungkinan bisa masuk sangat besar, juga sekaranglah bantuan relawan untuk membangun puing-puing bangunan yang hancur dibutuhkan.&lt;br/&gt;Bagi saya, jihad bukan hanya teriak Allahuakbar semangat ke medan tempur. Lebih dari itu ia mengandaikan adanya efektifitas dari apa yang dilakukan si pejuang. Itulah mengapa jihad itu tidak hanya diartikan perang. Jihad juga bisa dilakukan dengan harta dan raga. Kalau jihad hanya ditujukan untuk sekedar pamer eksistensi bahwa ia sudah berunjuk gigi dan berharap ia masuk surga, bagi saya, itulah sisi kedangkalannya memahami jihad.&lt;br/&gt;Allah Maha Mengetahui.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-3162648183561617554?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/3162648183561617554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=3162648183561617554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3162648183561617554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3162648183561617554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/01/tragedi-kemanusian.html' title='Tragedi Kemanusian'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-3633044427259299399</id><published>2009-01-21T10:54:00.001+07:00</published><updated>2009-02-01T15:45:37.639+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawasan Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Masyarakat Miskin Dalam Kawasan Muslim</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Abu Amar&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Timbul pertanyaan dalam sanubari kita, apakah memang benar bahwa kemiskinan itu memang kehendak illahi yang sudah baku dalam penerapannya pada kehidupan manusia, ataukah kita sebagai manusia masih dapat merubah takdir itu dengan daya upaya kita. melihat firman Tuhan “ Aku tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali dengan usahanya sendiri”. dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa takdir itu tidak mutlak dalam penerapannya oleh Tuhan jadi masih dapat dirubah tinggal kemauan manusia sebagai subjek.&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br/&gt;Berbicara kemiskinan kita akan dihadapkan pada tipologi kemiskinan.pertama Kemiskinan karena kehendak Tuhan (taqdir), pada pembahasan kita ini, tipologi kemiskinan ini kita tiadakan dengan asumsi bahwa tidak ada kemiskinan yang dilatar belakangi kehendak Tuhan, kutipan ayat suci diatas kiranya jelas kita jadikan argumen. Kedua Kemiskinan Struktural.tipologi kemiskinan ini disebabkan adanya faktor eksternal dalam diri manusia sehingga dia tidak mampu berusaha secara maksimal dalam menunjang kehidupannya.Ketiga Kemiskinan karena kemalasan manusia.dalam kajian kita ini kita akan lebih memfokuskan pada jenis kemiskinan struktural. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br/&gt;Kemiskinan struktural banyak dilatar belakangi oleh sistem yang diterapkan dalam masyarakat kurang memihak pada kaum miskin, kebanyakan kemiskinan jenis ini banyak dialami dalam masyarakat kapitalis atau masyarakat yang berkembang, yang mana dalam jargon mereka “kemiskinan masyarakat disebabkan kemalasan mereka sendiri”. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana dalam masyarakat Islam sendiri kemiskinanpun merajalela,apakah itu merupakan suatu taqdir Illahi ? ataukah sistem yang berkembang dalam masyarakat Islam tidak memihak kaum miskin ? kita harus mencari dimana letak kesalahan masyarakat kita sehingga kemiskinan menggerogoti kita padahal dalam ajaran kitab suci kita diajarkan untuk berbagi dengan yang lainnya melalui media zakat, bahwa dalam harta kita terdapat harta fakir miskin. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br/&gt;Pemahaman yang dangkal umat terhadap nilai ajaran agama akan berdampak pada pola prilakunya dalam masyarakat. kedangkalan pemahaman ajaran agama telah membuat konstruk keber-agama-an masyarakat sebatas simbolis, agama hanya dipahami sebatas identitas tanpa mampu dipahami secara substansiil,implikasinya tidak mampu menyentuh ranah kognitif masyarakat, sehingga dalam interaksi masyarakat, nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama banyak yang terreduksi. Islam yang seharusnya mengajarkan suatu masyarakat yang egaliter berubah menjadi ajaran masyarakat otoriter individual. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br/&gt;Sistem masyarakat bergantung pada paradigma yang berjalan pada masa sistem itu dikonstruk. Jika paradigama yang melatar belakangi konstruk sistem masyarakat dekat dengan kaidah normativitas agama maka cenderung sistem yang dihasilkan akan selaras dengan ajaran agama. mengutip kata Immanuel Kant “Bangsa-bangsa setan dapat membuat konstitusi yang baik, dan sesuai kaidah nilai kemanusiaan”, namun pada sisi lain konstitusi yang dihasilkan mempunyai sifat pragmatis yang hanya mengeksploitasi manusia sebagai objek, bukan memberdayakannya sebagai mahluk yang merdeka. begitu juga umat Islam akan mempunyai selera yang sama mengeksploitir terhadap sesamanya yang lemah demi tujuan pribadinya, jika paradigma yang dipakai jauh dari normativitas ajaran agama. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br/&gt;Kata miskin dan kaya tidak mungkin dapat kita hilangkan dari permukaan bumi ini, meskipun kita memakai sistem masyarakat tanpa kelas yang dideklarasikan Karl Marx dalam masyarakat kita, tetap saja kemiskinan akan melanda sebagaian masyarakat bukan karena taqdir Tuhan namun ukuran kemiskinan itu berubah tingkatanya dari prihatin ke tangga layak dan seterusnya begitu juga orang kaya akan terus naik grade-nya, tak mungkin ada orang yang mau berjalan ditempat dimasa sekarang ini. Yang patut kita perjuangkan adalah nilai keadilan dalam sebuah masyarakat bukan penghapusan kemiskinan, sepanjang ada orang kaya pasti akan ada orang miskin karena itu oposisi biner yang akan menghiasi hidup. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-3633044427259299399?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/3633044427259299399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=3633044427259299399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3633044427259299399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3633044427259299399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/01/masyarakat-miskin-dalam-kawasan-muslim.html' title='Masyarakat Miskin Dalam Kawasan Muslim'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-428672571648995935</id><published>2009-01-06T22:09:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:15:45.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Kajian Pengader</title><content type='html'>Kajian Pengader:&lt;br /&gt;Tema       :Asyura dan Etos Perjuangan&lt;br /&gt;Pembicara  : AM. Sofwan (Rausyanfikr Yogyakarta)&lt;br /&gt;             Andy Darmawan (Dosen UIN SUnana Kalijaga)&lt;br /&gt;Hari/Tangal: Kamis, 8 Januari 2009&lt;br /&gt;Tempat     : Sekretariat HMI Cabayng Yogyakarta&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-428672571648995935?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/428672571648995935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=428672571648995935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/428672571648995935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/428672571648995935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2009/01/kajian-pengader.html' title='Kajian Pengader'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-3380025093788245125</id><published>2008-12-23T01:11:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T21:35:59.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Kepemimpinan kaum muda?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa tahun ini kita dilarutkan dalam wacana kepemimipinan kaum muda, terlebih lagi menjelang Pemilu 2009 ini. “Bernarkan kaum muda siap memimpin negeri ini?” beigutlah pertanyaan yang diajukan oleh Maksun, S.H.i  dalam orasi perkaderannya yang berlangsung di Ponggok Dua, Jetis Trimulyo, Bantul Minggu, 21 Desember kemarin. Orasi perkaderan tersebut merupakan wejangan bagi para pengader yang tergabung dalam Korps Pengader HMI Cabang Yogyakarta (KPC) sesaat setelah dilaksanakan pelantikan pengururs KPC tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara yang diikuti oleh 30 anggota KPC tersebut Cak Sun, panggilan akrab Maksun, merasa pesimis jika kaum muda dapat memimpin negeri ini. Ada beberpa alasan yang diajukannya. Pertama, Sisitem pendidikan tinggi Indonesia yang tidak memberikan ruang aktifitas bagia mahasiswa. Universitas-universitas dengan sistem yang dibuatnya telah menjadikan mahasiswa yang hanya study oriented. Mahasiswa dikekang dari melakukan aktivitas-aktivitas di luar kegiatan akademik. Adanya sistem ini pula berdampak pada perkaderan di tingkatan organisasi pergerakan. Mungkin bangsa ini lupa bahwa tidak ada pemimipin besar bangsa ini yang lahir dari akademisi murni. Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir adalah orang-orang yang lahir dari pergerakan mahasiswa. Sebagai contoh terkini adalah Barack Obama. Dia adalah seorang yang aktif dalam gerakan-gerakan sosial saat dia masih menjadi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alsana kedua adalah rendahnya minat baca di kalangan mahasiswa. Prinsip ekonomi, menerut Cak Sun, bisa digunakan dalam hal ini. Dia bercerita, semasa dia masih kuliah di UIN (dulu IAIN) Sunan Kaliajaga, di sekitar kampus tersebut terdapat tidak kurang dari 6 penjual buku, dan itu selalu ramai oleh pembeli. Namun kini hanya terdapat dua toko, itu pun tidak rterlalu ramai. Hal ini menunjukkan rendahnya konsumsi buku sekaligus minat baca dikalangan mahasiswa. Dari hasil survei yang dimuat dalam SKH Kedaulatan Rakyat juga nampak bahwa pengeluaran mahasiswa Yogyakarta untuk membeli pulsa HP lebih besar ketimbang yang dibelanjakan untuk membeli buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, hedonisme. Perilaku hedon ini sudah lama merasuk pada mahasiswa atau kaum muda. Dikatakan oleh Cak Sun, perilaku ini dapat dilihat bahwa orang lebih senang nongkrong di mall-mall besar atau kafe-kafe ketimbang berkumpul dan berdiskusi. Perilkau ini tidak terlepas dari penyakit jiwa lainnya yaitu individualisme. Perilaku ini yang menyebabkan mahasiswa atau kaum muda apatis dengan kondisi yang terjadi pada lingkungan, masyarakat dan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian Cak Sun yakin bahwa kader-kader HMI masih bisa lepas dari itu. Syaratnya adalah pada pembenahan perkaderan di internal HMI. Selama ini perkaderan di HMI masih bergerak pada model pendidikan saja, dan itupun hanya pada pelatihan umum. Sementara model-model perkaderan lainnya belum terlaksanakan. Dengan demikian wajar jika HMI masih jauh dari cita-cita idealnya. HMI, tambahnya, jika konsisten dengan cita-citanya, dapat membentuk tiga kepemimpinan, yiutu kepemimpinan individu, kepemimpinan sosial dan kepemimpinan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-3380025093788245125?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/3380025093788245125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=3380025093788245125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3380025093788245125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/3380025093788245125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/12/kepemimpinan-kaum-muda.html' title='Kepemimpinan kaum muda?'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-6917659337376326960</id><published>2008-12-23T01:09:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:07:04.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>Rendahnya Kualitas Pengader</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Problem terbesar dalam sistem perkaderan HMI saat ini adalah rendahnya kualitas pengader. Demikianlah wacana yang muncul dan berkembang dalam diaolog bersama pengurus baru bersama anggota Korps Pengader HMI Cabang Yogyakarta (KPC). Dialog yang dipimpin oleh Iqbal Hafidz Hakim selaku ketua KPC 2008-2009 dimaksudkan untuk menjaring gagasan dari anggota KPC untuk kepengerusan kedepan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam dialog yang dilaksanakan seusai pelantikan pengurus baru itu juga muncul gagasan bahwa KPC harus mampu menciptakan quantum gerak (movement quantum). Hal ini dapat dilakukan dengan pembinaan secara intens kepada para pengader. Selama ini intensitas pembinaan ditingkatan pengader dirasakan masih rendah, sehingga pengader, khususnya pengader baru, belum bisa secara optimal melaksanakan tugas-tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan para pengader, sebagaimana juga gagasan yang mencuat saat Musyawarah Korps Pengader (Musykorp) yang lalu, meliputi ranah pemikiran, spiritualitas, profesionalitas dan jaringan. Untuk itulah, menurut Iqbal, KPC telah membentuk dua bidang dalam periode ini, yaitu bidang Pengembangan Sumberdaya Pengader dan bidang Ukhuwah dan Silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain wacana tersebut, muncul juga gagsan untuk membuat satu badan khusus semacam wilayatul faqih bagi pengader yang bertujuan untuk dimintai pendapat khusus tentan kepengaderan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara dialog tersebut usai, acara dilanjutkan dengan Rapat kerja Korps Pengader peride 1429-1430 H atau 2008-2009 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-6917659337376326960?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/6917659337376326960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=6917659337376326960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/6917659337376326960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/6917659337376326960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/12/rendahnya-kualitas-pengader.html' title='Rendahnya Kualitas Pengader'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-8565263543893117312</id><published>2008-12-23T01:07:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:05:34.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Pengurus KP Baru</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; SUSUNAN PENGURUS KORPS PENGADER&lt;br /&gt;HIMPUANAN MAHASISWA ISLAM CABANG YOGYAKARTA&lt;br /&gt;PERIODE: 1429-1430 H/ 2008-2009 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum                            : Iqbal Hafidz Hakim&lt;br /&gt;Sekretaris Umum                    : Ita Farihayati&lt;br /&gt;Bendara Umum                        : Yuli Lestari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang Pengembangan Sumber Daya pengader    : Ihab Habudin&lt;br /&gt;                                                                                        Jam’ul Hasani&lt;br /&gt;                                                                                        Ilham Amaliyati&lt;br /&gt;                                                                                        Abdul Muizzu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang Ukhuwah dan Jaringan                                : Mukhamad Habibi&lt;br /&gt;                                                                                       Lukman Hakim&lt;br /&gt;                                                                                       Muhammad Irfandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-8565263543893117312?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/8565263543893117312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=8565263543893117312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8565263543893117312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8565263543893117312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/12/pengurus-kp-baru.html' title='Pengurus KP Baru'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-8806270425931221481</id><published>2008-11-12T10:43:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:04:02.873+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keyakinan Muslim'/><title type='text'>Menuju Kesadaran Tunggal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;oleh: Maksun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif Islam disebutkan bahwa manusia sesunguhnya terikat perjanjian primordial dengan Tuhan yang mendasari kehidupannya sendiri. (QS. Al-‘Araf 171-172). Hal itu terjadi ketika manusia masih berupa embrio yang berada dalam rahim. Saat itulah Tuhan mengambil kesaksian manusia tentang prinsip-prinsip ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah seperti yang yang dinyatakan Syekh Suhrawardi Al-Maktul (pendiri filsafat israqiyah/iluminasi) bahwa dalam diri manusia terdapat sesuatu yang disebut akhirat al-azaliyah (olahan abadi) yang merupakan landasan eksistensial manusia. Hanya saja keberadaannya tersembunyi karena tumpukan fenomena kehidupan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari diskripsi di atas sesungguhnya manusia sejak awal memiliki keyakinan terhadap Tuhan yang dalam Islam dikenal dengan Tauhid. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita pahami dari konsep tauhid sebagai prinsip dasar muslim sesungguhnya adalah upaya membangun kesadaran tunggal. Konsep tentang tahid meniscayakan adanya kesatuan wujud. Dengan konsep ini kita tidak semata meyakini bahwa Allah itu satu, tetapi juga meyakini realitas adalah satu juga, atau tunggal. Konsekwensi logis dari pemahaman tersebut adalah apa yang nisbi bukanlah realitas. Dia dinamakan realitas justru hanya karena dinisbatkan kepada Tuhan. Dus, segala aktivitas yang disandarkan selain Tuhan, maka itu bentuk “kemusrikan intelektual”, dan itulah noda besar yang tak termaafkan bagi kesucian Tauhid. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sayyed Naquib Al-Atas menyatakan bahwa “hutang eksistensial” manusia tersebut-saat melakukan perjanjian primordial- hanya bisa ditebus jika manusia hidup untuk menghambakan (pasrah/ber-islam) hidupnya semata-mata kepada Allah. Sedangkan Ali Syariati memberikan gambaran aligoris tentang ibadah shalat yang menghadap kubus kosong (ka’bah), yang mengisyaratkan proses “peniadaan ego” dan kepentingan diri manusia, karena sesungguhnya yang benar ada (wujud mutlak)_ semata-mata hanya Allah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita kembali kepada posisi manusia di bumi yaitu tidak lain sebagai seorang hamba yang mengabdikan seluruh hidup kepada-Nya, maka keagungan kita tidak akan bisa terpahami tanpa keterkaitan denganTuhan. Bila ridha Tuhan tidak menjadi pusat orientasi kita dalam menjalani kehidupan ini, maka kualitas hidup kita akan menjadi rendah. Dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir, kita akan terbebaskan dari derita alienasi, karena Tuhan adalah pesona yang Maha Hadir dan Maha Mutlak. Eksisitensi yang relatif akan lenyap kedalam ekistensi yang absolut. Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan akan membuat kita selalu memiki kekutan, pengendalian sekaligus kedamaian, sehingga merasa dalam orbit Tuhan, tidak dalam orbit dunia yang tidak jelas jluntrung-nya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sikap berserah diri kepada Tuhan tersebut secara inheren mengandung berbagai konsekuensi. Pertama, konsekewnsi dalam bentuk pengakuan yang tulus (ihklas) bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang mutlak. Pengakuan ini kelanjutan yang mutlak, yang menjdai sumber semua wujud mutlak, yang menjadi sumber semua wujud yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konsekwensi kedua dari prinsip ketuhanan adalah bahwa umat manusia seluruh dunia adalah sama dari segi harkat dan martabat asasinya. Tidak seorangpun berhak merendahkan manusia yang lain, karena semuanya adalah sama di sisi Tuhan, kecuali takwanya. Tidak ada yang berhak menindas sesama manusia kecuali Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah fungsi ita sebagai “abid” (hamba). Maksudnya adalah kita mengembalikan segala aktivitas yang kita lakukan hanya ditujukan kepada Tuhan, ini konsekwensi logis dari persaksian kita, la ilha illallah (transendensi). Tiada yang berhak dijadikan sandaran di dunia ini kecuali hanya Allah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ternyata Tuhan tidak hanya menjadikan manusia sebaga hamba yang mengabdi kepadanya, melainkakn Tuhan juga memberikan tanggungjawab kepada manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi, inilah peran kita. Dan karena itu, sebagai mandatarisnya di muka bumi, maka nilai ilahiyah (implikasi dari keyakinan kepada Tuhan bahwa manuisa adalah hamab) tersebut harus memberi maslahah kepada manusia lain (kemanusiaan). Keyakinan demikian meupakan koneskwensi logis dari persaksian kedua kita Asyhadu anna muhammadar rasulullah.&lt;br /&gt;Hanya saja dalam menjalani peran yang kita lakukan-dokter-pedagang-insinyur, ekonom, nelayan, petani atau apapun- itu adalah semua perintah Tuhan dan harus dioreintasikan hanya kepada Tuhan. Maka tanggungjawab kita adalah menjalani peran-peran tersebut dengan sebaik-baiknya (amanah), selama hal itu mendorong proses aktualisasi Tauhid, misi kekhalifahan dan kebebasan kita. Karena itu, apakah dan bagaimanakah kehidupan di dunia atau peran kita baik atau buruk, sangat tergantung sejauh mana kita bersignifikansi dengan proses aktualisasi orientasi dan misi kita hidup di dunia. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Implikasi Keyakinan Muslim&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Keyakinan muslim tidak berhenti pada keyakinan pada Tuhan an sich. Dalam artian keyakinan tersebut tidak mempunyai implikasi terhadap diri dan lingkungan sosialnya. Tetapi keyainan tersebut harus menjadi landasan kebudayaan dalam rangka perubahan sosial kemanusian. Seperti Muhammad SAW, ketika beliau sampai pada puncak spiritualitasnya , naik ke langit tertinggi, bukannya malah berpaling dari tanngungjwab kemanusiaannya, melainkan terjalin hubungan antara kehendak suci dari langit dengan orientasi manusia di bumi. Dengan kata lain, spectrum Ilahi dengan spectrum kemanusian di sisi lain secara metafisis tidak di letakkan dalam ruang yang kita pahami dalam hidup keseharian. Tetapi keduanya menyatu dalam kesadaran, sehingga bagi seseorang yang sampai pada tingkatan spiritualitas tertentu, perilaku kemanusiaanya merupakan cerminan dari kualitas ilahiyah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan dalam diri kita adalah suatu keniscayaan. Keduanya tidak bisa dipisahkan, bersifat integrlastik. Inilah prinsip dasar tauhid. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa aktivitas atau peran yang kita lakukan tanpa menjadikan Tuhan sebagai orientasi atau titik pusat, maka kualitas aktivitas hidup kita menjadi rendah. Begitu pula sebaliknya, jika hubungn ketuhanan kita tinggi sementara sisi kemanusian kita rendah bahkan tidak memilki implikasi sosial sama seklai, maka kita sebenarnya hanya sedang beragama tetapi tidak ber-Tuhan (kafir). &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran kita tentang Tuhan pada tingkat tertentu, akan memanifestasi dalam aksi kebudayaan kita. Laku kita menjadi laku Tuhan, omongan kita menjadi omongan Tuhan. Kalau Tuhan memiliki Al-Khaliq, (Maha Pencipta), Ia mencipta dari tiada menjadi ada, maka kita harus mencipta pula dari ada menjadi lebih baik atau sempurna. Kalau Tuhan maha Ar-Raziq (Pemberi Rezeki), maka kita juga harus memberi rezeki kepada orang lain, bukan malah menghalangi orang lain untuk mendapatkan rezeki. Jika Tuhan Ar-Rahman kepada siapa saja, kita juga harus memberikan rahman-rahim kita kepada siapa saja, sekalipun kepada orang yang memusuhi kita dan lain sebagainya. Seperti yang disabdakan Muhammad “takhalaqu bi akhlaqillah”, berakhlakalah dengan akhlak Tuhan. Dalam artian bagaimana kita menumbuhkan dalam diri kita sifat-sifat Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja pencapaian kesadaran tunggal atau komitmen ketuhanan dan kemanusian dalam diri kita itu sangat bergantung pada seberapa besar usaha kita mengakses caha Tuhan. Suhrawardi al-Maqtul menggambarkan realitas tunggal tersebut adalah cahaya (israq). Cahaya itu memebentang dari cahaya di atas cahaya (Nur ‘ala Nur) sampai cahaya yang paling redup. Semakin dekat kita dengan Cahaya Maha Cahaya, maka terangnya semakin cemerlang, aksi kebudyaan kita semakin baik dan semakin peka pula terhdap kondisi sosial. Sebaliknya, semakin jauh kita dengan cahaya-Nya, maka terangnya semakin redup. Cahaya yang paling redup adalah cahaya yang paling jauh dengan Tuhan, maka aksi kebudayaan yang kita lakukan bukan cerminan laku ilahiyah sehingga tidak memeberi maslahah bagi orang lain , tetapi malah memberi madharat. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sini ketuhanan dan kemanusian adalah poros untuk mengevaluasi prilaku kita. Dengan meminjam teori cerminnya al-Ghazali, aktivitas kemanusian yang tidak diterangi cahaya keilahian bagaikan orang yang berjalan di lorong gelap. Sebaliknya, orang yang dekat dengan cahaya Tuhan tetapi tidak menumbuhkan nilai agung ketuhanan dalam dirinya , bagaikan iblis. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagimana Menuju Kesadaran Tunggal&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tuhan adalah realitas yang mutlak, maka ia tidak mungkin diketahui. Yang bisa kita lakukan adalah usaha terus menerus dan penuh kesungguhan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Hal ini dilakukan dengan melakukan amal perbuatan. Dalam amal itulah kita mendapatakan eksistensi dan esensi diri-Nya. Dan dalam amal yang ikhlas itulah kita menemukan tujuan penciptaan diri kita, yaitu kebahagian karena pertemuan dengan Tuhan dengan mendapatkan ridha-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai jalan manusia untuk menyempurnakan jati diri itu, Tuhan jnuga menampilkan diri melalui “berita” (baca: Al-Quran) yang dibawa nabi dalam bentuk kualitas moral. Melalui persepsinya terhadap kualitas Ilahi, seperti sifat kasih sayang, pengampun, adil da lainnya dan kita mengerti nilai tersbut dengan penghayatan yang intensif, maka akan membukakan jalan dalam diri kita nilai tersebut untuk diinternalissasi. Manusia tidak akan menjadi tuhan, tetapi dengn rasa ketuhanan yang mendalam ia tumbuh menjadi makhluk akhlaki yang meresapi unsur kualitas ilahiyah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perjuangn manusia menyempurnakan jati dirinya berpedoman kepada Tuhan dan menuju kepada-Nya, namun tidaklah berarti untuk kepentingan Tuha, melainkan untuk kepentingn diri manusia sendiri. Karena itu kita harus mengaktualisasikan diri dalam sikap hidup yang menempatkan diri sebagai bagian dari kemansuiaan universal, dan dengan nyata menunjukan kepedulian kepada kehidupan manusia yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, untuk membangun kepedulian dan kecintaan terhadap kemanusiaan, kia harus mengenal diri kita sendiri. Jika ini gagal kita lakukan, maka mengenal orang lain juga gagal. Menarik ajaran klasik yang mengatakan bahwa kita hanya dapat memahami orang lain (sisi kemanusiaan), jika kia mengenal diri kita. Bahkan kitannya dengan Tuhan pun, Nabi pernah besabda “siapa yang mengenal diniya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Jadi pemahaman mengenai yang lain akan bergantung pada pemahaman kita mengenai diri sendiri. Tanpa kerja batin ini atau berhubungna dengan kekutann yang lebih tinggi yang tidak dapat dimanipulasi sebagai basisi aksi kebudayaan, maka kehidupan mansia akan penuh dengan pengobjekan orang lain, manipulasi, penindasan, dan kekejaman yang muncul bukan saja hanya karena kita mengenal batin orang lain, tetapi justru kita tidak mengenal diri sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran di atas jelas sekali bahwa menuju kesadaran tunggal adalah dengan jalan “mensemesta”. Maka, mensemestalah!!! Di situ kamu akan menemukan Tuhan dalam bentuk eksistensinya (Wujud). Kita hanya bisa sampai mengenalnya lewat wujudnya yang berserakan di semesta ini. Sedangkan esensinya (mahiyah) hanya Tuhan sendiri mengetahuinya. Wallahu ‘alamu bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maksun: Pecinta Ilmu dan Kebijaksanaan. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-8806270425931221481?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/8806270425931221481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=8806270425931221481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8806270425931221481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8806270425931221481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/11/menuju-kesadaran-tunggal_6446.html' title='Menuju Kesadaran Tunggal'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-4368051112693436718</id><published>2008-10-27T11:10:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:02:43.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Membangun Surga</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh: Muhammad Al-Mahbub&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran bukanlah kitab sejrah, kitab dongeng atau semcam primbon, meskipun kita mendapati ayat-ayt di dalamnya menceritakan tentang umat-umat terdahulu, seperti kisah kaum Ad, Tsamud, Negeri Tsaba, atau kisah-kisah umat nabi-nabi lainnya. Al-Quran juga menceritkan tentang kekalahan Romawi oleh tentara Parsi. Selang beberpa masa, Romawi ternya memeperoleh kemenangan sebagaimana dikabarkan oleh Al-Quran. Selain itu Al-Quran juga memeberikan gamabaran akan kehidupan-kehidupandi masa mendatang (eskatologi).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, bahwa hal-hal tersebut bukanlah inti dari pewahyuan Al-Quran. Tujuan pewahyuan Al-Quran adalah sebagai petunjuk (huda) dan penjelas (bayan) dari apa yang harus dilakukakn manusia. Quraishshihab membagi fungsi petunjuk Al-Quran ini ke dalam tiga hal, yaitu petunjuk tentang akidah dan kepercayaan(tauhid), petunjuk mengenai akhlak murni (etika) dan petunjuk yang berkenaan dengan syariat. Manakala Al-Quran becerita tentang peristiwa-peristiwa masa lampau atau pun masa akan datang semata-mata sebagai petunjuk bagi manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Sebagai muslim haruslah kita mengimani apa yang telah diberitakan oleh Al-Quran, terlepas dari bagaimana bentuk penafsiran kita yang beragam. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Begitu juga ketika Al-Quran bercerita tentang proses penciptaan dan kejatuhan Adam AS, bapak manusia. Tidak lain adalah bagiamana kita bisa mengambil hikmah di dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Proses penciptaan Adam terlebih dahului diawali dengan dialog Tuhan dengan malaikat. Atau lebih tepatnya, Tuhan telah terlebih dahulu membeitahukan rencana penciptaan Adam kepada malaikat. “&lt;em&gt;dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, sesunguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi, malaikat pun berkata: apakah engkau akan menjadikan makhluk yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah, sedangkan kami selalu bertasbih kepada-Mu dan selalau mensucikn-Mu. Kemudian Allah berfirman: sesungguhnya aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui&lt;/em&gt;” (QS. Al-Baqarah: 30). &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahw tujuan penciptaan manusia selain sebagai hamba yang secara totalitas mengabdikan diri kepada-Nya, juga sebaga khalifah yang menjadi mandataris Allah untuk memakmurkan muka bumi. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang menarik adalah, jikalau memang manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi, mengapa harus melalui proses kehidupan surga, yang kemudian karena tipu daya Iblis Adam dan Hawa harus terlempar ke bumi? Jika kita berkata bahwa itu adalah semata-mata kehendak Allah benar adanya. Namun satu hal yang perlu diingat adalah, Allah melakukan semua itu tentu tidaklah sia-sia, tanpa maksud tertentu. Bukankah Allah menciptakan sesuatu juga tidak sia-sia. ada udang di balik batu. Ada kepentingan Allah di sana. Ada hikmah dari semua peristiwa tersbut. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Surga dalam Al-Quran selalu disandarakan pada gambaran tentang kehidupan yang penuhdengan kenikmatan, kesenangan yang tiada henti. Surga lasana sebuah taman yang indah yang bertaburan bunga-bunga nan wangi. Mengalir di bawahnya sungai yang jernih. Pohon-pohon buah-buahan tumbuh subur dengan buahnya yang randum yang jika kita menginginkannya tinggal memetik begitu saja, tanpa harus bersusah payah. Gelas-gelas dan piring terbuat dari emas dan perak berisikan makanan dan minuman yang lezat melebihi kelezatan sewaktu di dunia. Pakaian ahli surga terbuat dari sutra yng indah-indah, sedangkan ahlu surga selalu ditemani bidadari yang selalu perawan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Demkianlah Al-Quran memberikan gambaran tentang surga dengan sesuatu yang bersifat materi sehingga ketika kita membaca ayat-ayat Al-Quran yang terlintas dalam benak kita adalah segala kenikmatan. Dan tentulah terbesit dalam hati kita untuk segera berada di tempat tersebut. Dalam ayat lain dijelaskan pula bahwa surg adalah satu tempat yang di dalamnya tidak pernah ada kata-kata yang sia-sia (lagw), tidak ada kebohongan (kadzb), tidak ada umpatan, tiada tangis, tiada penderitaan, tiada ketimpangan. Itulah surga, di aman konon Adam pernah tinggal di dalamanya sebelum terlempar ke bumi, tempat yang jauh berbeda dengan surga. Kehidupan yang berteman dengan kerasnya alam, yang kemudian menjadi tempat tinggal anak cucu Adam (manusia). Dan inilah permata hikmah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Singgahnya Adam di surga adalah bagian dari tarbiyah yang Alah berikan kepadanya. Tugas manusia sebagai khalifah adalah menjalankan titah Allah untuk memakmurkan bumi. Utuk itu dibutuhkan satu pengalaman yang nantinya digunakan untuk menjalankan tugasnya tersebut. Dalam proses tarbiyah inilah, Allah memberikan gambaran kehidupan yang ideal, yang dengan itu dihaarapkan manusia mamapu menciptkan satu kehidupan yang yang harmonis, kehidupan surgawi. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Indunisia qith’atu minal jannah nuqilat ila al-radl. Demikanlah ungkapan Syekh Shaltuth, seorang ulama besar Mesir ketika dia berkesempatan untuk mengunjungi Indonesia. Indonesia adalah serpihan surga yang diangkat dan dipindahkan ke bumi. Memang gambaran yang terdapat dalam Al-Quran tersebut menjelma dalam alam Indonesia ini. Air yang jernih mengalir mengikuti sungai-sungai yang meleok-leok membelah hutan yang rimbun, atau menyusuri tepian perkampungan. Flora fauna yang beraneka ragam dan keindahan alam lainnya terdapat di bumi pertiwi yang kaya raya ini. Itu karena buminya yang subur, dank arena suburnya, kata Koes Plus, tongkat kayu pun menjadi tanaman. Ikan pun menghampiri jala nelayan karena begitu kayanya laut kita. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat di sayangkan, serpihan sorga itu kini telah terkoyak laksana kapal-kapal Adipati Unus yang diterjang oleh peluru-peluru meriam Portugis. Seperti rumah yang hancur oleh terpaan angin puting beliung. Air sungai yang dulu jernih kini berubah warna menjadi hitam dan bercampur limbah industri atau konsumsi runah tangga. Tak jarang kemudian meluap membanjiri kota-kota dan perkampungan. Tak ada lagi lambaian bayur yang merayu manja di bawah kepakan sayap burung-burung yang beraneka warna. Karena tanaman itu telah berganti ilalang. Zamrud itupun tiada Nampak lagi, entah kemana menghilangnya, yang Nampak adalah barisan gunung yang gundul tiada berambut. Burungpun enggan dan tak sempat bernyani karena diburu oleh rasa takut akan kematian. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kondisi masyarakatnya pun bertolak punggung dengan masyakat madani, apalagi surgawi. Masyarakatnya yang dulu dikenal sebagai masyarakat yang santun, ramah, dan menjunjung tinggi toleransi, kini berubah menjadi masyarakat yang buas, saing membunuh, saling sikut, saling tendang, saling menipu, saling mencurigai. Hal tersebut tak lain hanya untuk kepentingan pribadi, kepentingan materi. Dan selalu, yang merana adalah orang-orang yang lemah. Mereka yang menjadi umpan dari karakusan orang-orangyang serakah, mereka yang tertabrak kepentingan para pemburu materi, mereka yang tergilas oleh kebijakan struktural. Padahal mereka lahir di negeri ini, mereka lahir di bumi ini, mereka adalah manusia anak cucu Adam yang dizhalimi oleh saudaranya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya kita membangun kembali serpihan surga ini, membangun dengan kesadaran bahwa di sinilah kita dan anak cucu kita lahir dan dibesarkan, hidup dan tinggal, lalu mati. Mari kita benahi taman ini tanpa harus meruskanya dengan kerakusan kita, dengan terlebih dahulu memebenahi diri kita, hati kita. Cara pndnag kita terhadap Tuhan alam dan sesama manusia. Kita jalin pergaulan sebagai manusia, sebagai sesama makhluk Tuhan yang tidak sedikitpun berbeda di depan-Nya. Kita benahi masyarakat kiat, bermula dari keluarga kita, masyarakat yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Masyarakat yang terbebas dari penyakit kesia-siaan, (laghw), kedustaan (kadzb), ketamaakan dan penyakit kedirian lainnya yang menafikan kita sebagai makhluk Tuhan, kita bangun keharmonisan sehingga negeri ini kembli menjadi serpihan surga yang terlempar yang kemudian akan kembali ke surga dan pemiliknya. Satu negeri yang dalam isitlah qurani baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-4368051112693436718?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/4368051112693436718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=4368051112693436718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4368051112693436718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4368051112693436718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/10/membangun-surga.html' title='Membangun Surga'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-8661815015912942200</id><published>2008-09-13T06:18:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:02:02.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ra Yang Kurindu</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh: M. Habibi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ra, apa kabr ra? Setalah berpisah, akhirnya kini kita telah dipertemukan kembali. Satu tahun memang waktu yang tidak lama ya, Ra. Tapi beda bagi seorang yang sedang menanti, seminggu terasa sewindu, setahuan serasa seabad. Seperti aku yang selalu menanti kedatanganmu. Memang benar, penantian selalu membawa pada rasa kejemuan. Kekhawatian juga tentunya. Khawatis dan rasa takut, saat engkau datang engkau bukan milikku lagi. Begitulah penantianku. Waktu seakan berjalan lamabat. Sehari seakan tidak lagi duapuluh empat jam, dan sepanjang tahun sekana hanya satu musim, kemarau. Yah, aku kekeringan tanpamu, aku tandus tanpamu, aku gersang tanpamu. Dan kini engkau telah datang. Tapi mengapa ada yang berbeda dengan pertemuan kita kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Ra, aku minta maaf. Aku tidak bisa ikut menyambut dan merayakan kedatanganmu. Tapi bukan berarti rasa ini telah pudar. Sebenarnya kau malu pada diriku sendiri. Aku yang selalu ngomong bahwa aku orang yang mencintaimu, merindukanmu, dan mengharap kedatangmu, namun justru aku tidak ikut serta menyambutmu, menyalamimu. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenranya aku tahu akan kedatangamu. Siapa yang tidak mengenalmu, sehingga semua orang mengabarkan kedatanganmu. Dan berjubel orang menyambutmu. Aku takut ketika aku ikut menyambutmu, akankah kau menemukan dan mengenaliku di antara berjubel orang itu. Apalagi mereka menyambumu tidak selayaknya seorang muslim menyambut kekasihnya sebagaimana diajarkan oleh agama kita. Ah, mungkin itu hanya apologiku aja, dan bisa jadi aku lebih buruk dari mereka karena aku tidak turut menyambutmu. Maaf karena aku lebih sibuk dengan urusan pribaduku. Tapi sesungguhnya dalam hati aku tetap menyambutmu, dengan cara lain, caraku sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ra, aku dengar dari beberapa orang yang ikut manyambutmu, kata mereka kau datang dengan sedikit masam. Apa benar itu, Ra? Ada apa gerangan, Ra? Apakah sebenarnya kau tidak ingin datang? Tapi bukankah sudah janjimu untuk datang, menemuiku? Atau ada masalah lain? Apakah engkau tidak puas dengan penyambutan mereka, Ra? Bukankah mereka telah menggelontorkan segudang uang untuk menyambutmu, menjamumu? Mereka menyiapkan hidangan yang mewah untukmu, khusus untukmu. Asal kamu tahu aja Ra, hidangan semacam itu tidak akan bakalan ada tanpa engkau hadir di sini. Dan juga acara-acara itu, yang diadakan saben malam, pembacaan puisi dan narasi yang menggambarkan kecantikanmu, kemolekanmu, keanggunanmu, kebaikanmu, keagungan dan kemulianmu, itu tak pernah ada jika kau tidak di sini. Tapi mengapa engkau, kata mereka, datang dengan sedikit masam? &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ra, meski aku tidak perca sepenuhnya kepada mereka, tapi aku jadi ingin tahu juga, agar tenang jiwa ini. Namun aku yakin, itu bukan karena aku tidak ikut menyambutmu, bukan? Aku sadar betapa kecilnya aku di depanmu sehingga tanpaku pun engkau akan datang ke sini. Atau mungkin engkau kecewa melihat aku yang begini-begini saja, tidak berubah sejak pertemuan terakhir kita dulu. Aku masih aku yang angkuh, sombong, bakhil, dengki, pendendam, apatis, egois. Yah, kalau engkau memang datang dengan sedikit masam, aku yakin karena hal itu. Ah, maafkan aku ya, Ra. Sungguh aku menyesal. Aku malu. Aku akan berubah, Ra. Asal jangan kau tinggalkan aku lagi! &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ra, aku lebih malu lagi, meski aku tak menyambutmu, kau tetap datang menemuiku. Dengan wajah cerahmu, tidak seperti yang mereka bilang. Benar kataku, kau tidak peduli apakah aku berubah atau tidak, kmau tak pernah ingkar, kau tetap datang. Senyum manis tersungging di bibirmu, dan selalu suasana syahdu yang menyertaimu. Itulah yang selalu mengingatkanku padamu. Aku ingat pada perjumpaan kita yang lalu. Tiada hari yang aku lalui tanpamu. Kita berjalan bersama, mengahabiskan malam-malam kita dalam senandung kesyahduan. Kau memelukku erat dalam kehangatannya cintamu, membelaiku dengan mesra seakan itu yang terakhir. Malam itu aku rasakan bumi berhenti berputar, angin tiada berhembus, jangkrik berhenti berkerik, margasatwa tak bersuara, awan tertahan, dan alam pun terdiam. Malam itu begitu sunyi, tapi syahdu. Ah, indah sekali malam itu. Aku rindu malam itu, malam-malam saat bersamamu. Dan kini kau telah bersamaku. Mungkin telat, namun aku ingin tetap menyambutmu, menyalamimi, marhaban ya Ramadhan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-8661815015912942200?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/8661815015912942200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=8661815015912942200' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8661815015912942200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/8661815015912942200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/09/ra-yang-kurindu.html' title='Ra Yang Kurindu'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-316654436496183546</id><published>2008-08-05T21:09:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T22:01:14.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wawasan Ilmu'/><title type='text'>Ilmu dalam Perspektif Integralisme</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh: M. Habibi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang ilmu, dalam kajian filsafat sering disebut sebagai kajian epistemologi, yaitu bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Epistemologi seseorang tidak bisa lepas dari pandangan dia tentang ontologi. Dengan demikian, epistemologi di sini tentu tidak bisa lepas dari pandangan tentang kesatuan wujud sebagaimana dijelaskan di atas. namun sebelum berbicara tentang integrasi ilmu, akan dibicarakan terlebih dahulu tentang perspektif yang kita gunakan, yaitu integralisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal Mula Integralisme&lt;br /&gt;Pada tahun 1970-an para pemuda Amerika berbondong-bondong memasuki daerah-daerah pedalaman. Hal ini terjadi karena krisis eksistensi diri yang disebabkan oleh serangan gaya hidup modern. Mereka meninggalkan kehidupan mewah mereka dan bergabung dengan suku-suku pedalaman. Mereka tinggal di pedalaman bersama komune-komune pedalaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas memang terasa aneh, karena secara ekonomi mereka telah menempati pada posisi yang mapan, tidak kekurangn harta benda yang bisa menjamin kelangsungan hidup mereka. Namun orang akan mengerti dan memahami fenomena tersebut setelah mengetahui apa sebenarnya yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan modern yang terlalu mengunggulkan akal dan menjadikannya raja membuat pemuda-pemuda ini terasa kering dan terasing, bahakan dengan diri mereka sendiri. Mereka melihat ada satu bagain kehidupan ini yang hilang, sehingga kehidupan mereka terasa parsial. Dan sesuatu yang hilang tersebut mereka temukan di masyarakat pedalaman, masyrakat tradisional. Yang mereka cari adalah spiriualitas yang membawa kesejukan dalam kehidupan mereka. Spiritualitas inilah yang hilang dalam kehidupan Barat modern, diakibtakan oleh pandangan saintifik positifistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermukim beberapa lama di pedalaman bersama suku-suku Indian tersebut, para pemuda ini ternyata tidak hanya sekedar menemukan spiritualitas, dimensi yang hilang dalam kehidupan Barat modern, tetapi dengan spiritualitas ini pula mereka justru menemukan suatu pandangan yang lebih menyeluruh terhadap realitas. Di sini mereka mendapatkan kesadaran akan kemenyeluruhan atau sering disebut holon yang kemudian dikenal dengan holisme. Mereka kemudian membuat gerakan yang mereka sebut gerakan pasca-modernisasi. Berbeda dengan gerakan mereka sebelumnya yang meninggalkan modernitas dan masuk ke pedalaman, gerakan mereka kali ini justru mensintesakan yang tradisional dengan yang modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara aksiologi, holisme dibangun oleh para pecinta lingkungn. Secara epistemologis dibangun oleh para psikolog yang memasukan pengalaman mistik sebagai salah satu cara memperoleh pengetahuan. Sementara pada ranah ontologi dibangun oleh fisikawan Fritjof Capra yang mengatakan bahwa ada kesejajaran antara partikel material dengan kesadarn mistis Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengamati pandangan holisme tersebut, Armahedi Mahzar, seorang iteknosof dan pengajar di ITB, menyimpulkan bahwa sebenarnya umat Islam tidak perlu untuk meninggalkan dunia mereka dan beralih mencari dunia lain di pedalaman sebagaimana yang telah dilakukan oleh pemuda-pemuda Barat, karena Islam sendiri telah memiliki konsep kesatupaduan. Konsepsi kesatupaduan dalam Islam telah banyak ditafsirkan oleh pemikir di kalangan muslim sendiri, seperti Ibn Arabi dan Mulla Shadra. Namun sebagai filsafat tradisional Islam, kedua filsafat tersebut dan filsafat Islam tradisional lainnya tidak cukup untuk menampung perkembangan keilmuan saat ini. Dari sinilah kemudian lahir filsafat integralisme atau al-himah al-wahdatiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integralisme adalah filsafat yang konsep sentralnya adalah integralitas, yaitu keseluruhan bagian-bagian yang bersatu padu berdasarkan suatu struktur tertentu. Dengan kata lain, integralisme merupkan wawasan kemenyeluruhan dalam memandang segala sesuatu: baik sain dan teknologi dan seni, maupun budaya dan agama. Integralisme melihat semua itu sebagai satu kesatupaduan yang tak bisa dipecah ataupun dipisahkan dari kesepaduan realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan integrasi pada pandangan holisme, integralisme menyarankan dua integrasi yang internal dan yang eksternal. Integrasi internal adalah upaya menyelarasikan tubuh kita dengan ruh kita melalui rantai instink, inteligensi dan intuisi. Sedangkan integrasi eksternal adalah menghubungkan diri kita dengan Tuhan melalui lingkungan hidup, alam semesta dan alam gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini nampak jelas bahwa basis keilmuan Armahedi serta pandangan dia tentang kesatupaduan menempatkan dia pada sayap kanan dalam pemikiran kaum posmodernisme. Istilah integralisme sendiri sebenarnya telah dipakai oleh Sri Aurobindo (1872-1950), yang terkenal dengan integral yoganya. Selain itu, istilah ini juga dipakai oleh Ken Wilber, seorang filosof yang menggabungkkan antara sains modern dan spiritualitas tradisional, sehingga Armahedi sering menyebut filsafatnya sebagai Integralisme Islam. Dikatakatan integralisme Islam karena Armahedi menambahkan deminsi-dimensi keislaman pada integralisme universal Wilber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armahedi juga menyebut filsafatnya sebagai pos-strukturalisme timur. Menurutnya ada dua alasan mengapa integralsime disebut sebagai Pos-struktrukturalisme Timur ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena lahirnya di Indonesia yang di Asia yang menurut orang Barat ada di Timur. Saya sebut pos-strukturalisme karena integralisme memang bermula dari strukturalisme yang diterapkan untuk filsafat Eropa, bukan mitologi Indian seperti yang diterapkan oleh Levi-Strauss, lalu dilampaui dalam suatu filsafat Integralisme. … Alasan kedua: integralisme universal yang dikembangkan Ken Wilber, sebagai posmodernisme konstruktif melampaui postrukturalisme, sebagian besar berdasarkan filsafat India: Budhisme dan Vedantisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kemunculan filsafat integralisme ini merupakan kelanjutan sekaligus sintesis dari filsafat tradisional Islam dan filsfat Barat moder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Integrasi Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang ilmu, dalam kajian filsafat sering disebut sebagai kajian epistemologi, yaitu bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Epistemologi seseorang tidak bisa lepas dari pandangan dia tentang ontologi. Dengan demikian, epistemologi di sini tentu tidak bisa lepas dari pandangan tentang kesatuan wujud sebagaimana dijelaskan di atas. Konsepsi wujud yang mengakomodir dunia metafisik di atas menjadi pondasi bagi terbangunnya sebuah epistemologi, karena sebagai muslim yang mempunyai kepercayaan penuh pada dunia metafisik, maka seorang ilmuwan muslim harus menyusun atau memiliki sebuah epistemologi yang cocok dengan kepercayaan yang dianutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang ilmu, maka ada beberapa hal yang harus dibahas, yaitu sumber, objek, struktur dan konteks ilmu. Keempat hal ini akan menjadi satu kesatuan yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Sumber Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, Armahedi meyakini bahwa dalam Islam sumber semua ilmu adalah satu, yaitu Allah SWT. Yang Maha Esa, Kepercayaan seorang muslim akan Allah sebagai Tuhan Yang maha Esa mempunyai implikasi yang sangat luas. Keyakian yang menandaskan akan ke-esa-an Tuhan dalam Islam disebut dengan tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Musa Asy’arie, tauhid yang seakar dengan angka satu, wahidah, tidak merujuk pada pada makna angka satu saja, tetapi lebih dari itu, juga berkaitan dengan problem subtansial tunggal dan proses. Subtansi tunggal artinya dia tidak terbagi-bagi. Ia menjadi sumber realitas yang ada. Lebih jauh lagi dia mengatakan bahwa tauhid ini bukanlah satu kepercayaan yang dinyatakan dalam pengakuan saja, akan tetapi merupakan suatu pandangan hidup yang selalu diwujudkan dalam realitas kehidupan muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sebagai sumber segala ilmu dapat dilihat dari bagaimana Allah mengenalkan diri-Nya sebagai `Aliim atau Yang Maha Mengetahui, bahkan Allah sendiri adalah ilmu itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Objek dan Praksis Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat objek ilmu, Armahedi melakukan pengamatan terhadap ayat-ayat Al-Quran. Menururtnya, meski Al-Quran menyebut ilmu dalam kontek yang berda, namun objeknya dijelaskan secara gamblang, yaitu “al-Quran” dan “al-Bayan”. Hal ini terdapat dalam firman Allah SWT sebagai surat Ar-rahman 1-4:&lt;br /&gt;Artinya: (Tuhan) yang Maha pemurah. Yang Telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. Ar-Rahman 1-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran yang dimaksud oleh Armahedi bukan al-Quran sebagaimana artian firman Allah SWT yang telah terkodifikasikan, tetapi al-Quran dalam artian yang lebih luas yang merujuk pada makna asalnya, yaitu bacaan. Bacaan dalam arti lebih luas lagi adalah pengumpulan atanda-tanda atau “ayat”. Untuk memahami ayat ini dibutuhkan alat, yaitu bahasa atau al-bayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan “ayat”, Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya dalam surat Fushshilat :53. Artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat Quran suci di atas jelas Allah SWT menegaskan bahw ayat-ayat itu adalah cakrawala (afaq) dan di dalam diri-diri (anfus) manusia. Selanjutnya ayat ini menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut diciptakan agar manusia memahami kebenaran (al-Haq) yaitu Yang Maha Pencipta, Allah SWT dan firman-Nya Al-Quran. Dengan demikian di sini ada tiga entitas yang berbeda yang merupakan obyek limu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah al-afaq atau cakrawala. Hal ini berkaitan dengan objek material yang berada di eksternal diri manusia yaitu gejala-gejala alam. Menurut Mulyadhi Kartanegara, objek-objek material inilah yang memungkinkan munculnya ilmu-ilmu alam, seperti fisika, biologi dan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah anfus atau sesuatu yang berada dalam diri manusia. Pada bagian ini terkait dengan ilmu-ilmu kemanusia atau humaniora, seperti pskiologi, sosiologi dan antropologi. Ketiga adalah al-Haq atau Allah dan Al-Quran. Pada sisi ini akan melahirkan ilmu-ilmu keagamaan seperti fiqih, teologi, dan tashawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian objek ilmu Armahedi ini sama dengan pembagian yang dilakukan oleh Ibn Shina. Sebagaimana dikutip oleh Mulyadhi Kartanegara, Ibnu Shina membagi objek ilmu dalam tiga hal, yaitu entitas-entitas yang bergerak dan berkaitan dengan materi spesies partikular, entitas-entitas yang terpisah dari materi spesies partikular dalam pemahaman kognitif, tetapi tidak dalam dunia nyata, dan entitas-entitas yang terpisah dari gerak dan materi baik di dunia nyata maupun dalam pemahaman kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada ranah praksis ilmu, Allah dalam firman-Nya menegaskan ada tiga macam alat manusia yang memungkinkan manusia memanusiakan dirinya melalui ilmunya; yaitu pendengaran, penglihatan, dan penghayatan. Hal ini tercermin dalam firman Allah dalam Al-Quran surat as-Sajadah : 9 yang artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat dilihat potensi-potensi manusia yang merupakan alat untuk memeperoleh pengetahuan. Pertama: as-sama` atau pendengaran yang berarti terkait dengan kemampuan verbal. Sementara kemampuan verbal sendiri sangat erat hubungannya dengan kemampuan rasional. Dengan demikian as-sama’ juga berarti kemampuan manusia untuk berfikir rasional. Bahasa lain yang digunakan untuk kata ini adalah al-‘aql atau akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: al-bashar atau penglihatan. Hal ini terkait dengan fungsi mata, yang berarti pengamatan terhadap entitas material. Sementara ketiga: al-fuad atau hati, merupakan kemampuan manusia mengetahui sesutu yang inmaterial. Ada kemungkinan bahwa ilmul yaqin sebenarnya puncak dari pemahaman verbal, ‘ainul uaqin sebenarnya puncak dari pemahaman visual dan haqqul yaqin sebagai puncak dari pemahaman aktual atau penghayatan ilmu.&lt;br /&gt;Jika dirangkum menjadi satu maka dapat dilihat seperti ini. Objek ilmu pertama adalah afaq atau cakrawala yang berarti gejala-gejala alam. Hal ini bersesuain dengan al-bashara (penglihatan). Dengan demikian alat untuk mencerap pengetahuan tentang gejala-gejala alam adalah al-abshara, Karena objek pertama ini adalah alam, maka kebenarannya adalah kebenaran yang berkaitan dengan hal-hal fisik dan material semata, sebuah kebenaran yang dapat dipahami dan dikuasai dengan menggunakan metode empiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek kedua ilmu penegtahuan adalah anfus yang berkaitan ilmu-ilmu humaniora. Hal ini bersesuaian dengan al-sama’ atau kemampuan verbal yang juga berkait dengan kemampuan rasional. Maka sama’ ini merupakan alat unutk memahami keilmuan humaniora. Dan metode yang digunakan adalah rasional demonstratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara objek ilmu yang ketiga adalah al-haq. Untuk memahami yang al-Haq tadi adalah dengan hati atau fuad, karena di sanalah ruh ilahiah berada. Metode yang digunakan adalah metode intuitif, atau dzauqiyah. Metode ini sering berkaitan dengan pengalaman mistik seseorang. Metode ini dilakukan dengan jalan perenungan atau kontemplasi secara intens mendalam. Dengan kontemplasi jiwa mansia makin dibersihkan dan berhasil naik ke sumber kenyataan, dengan semuanya diemanasikan dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Struktur dan Konteks Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Struktur ilmu dalam Islam dapat diketahui dalam firman Allah SWT QS. An-Nisa 113 yang artinya: “… Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat ini jelas terdapat hirarki al-Kitab, al-Hikmah dan al-‘Ilmu yang merupakan kesatupaduan atau integralitas ilmu. Jadi dalam Islam ilmu mempunyai landasan al-Hikmah, sedangkan al-Hikmat harus berlandasakan al-Kitab sebagai kumpulan wahyu sabda Ilahi pada para rasul-rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu yang dimaksud oleh Armahedi dalam konteks ini adalah sains, sehingga sains harus berlandaskan pada al-Hikmat atau paradigma keilmuan, dan al-hikmah harus berlandaskan pada nilai-nilai Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks keilmuan Barat saat ini, Armahedi melihat ada suatu dikotomi yang kemudian berujung pada prinsip ilmu bebas nilai. Hal ini menurutnya bertentangan dengan paradigma kelimuan dalam Islam. Karena dalam Islam terdapat kesatupaduan ilmu, etika dan agama. Dalam hal ini Armahedi merujuk pada QS. Luqman : 20. “Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan Penyebutan al-‘ilmu, al-huda dan al-kitab menyarankan adanya hirarki ilmu – etika - religi. Dengan demikian tidak ada penggunaan iilmu yang menyimpang dari etika dan agama, karena semua itu sesengguhnya adalah sebagai upaya untuk mensyukuri nikmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan metode analisis strukturalisme Levi Strauss, Armahedi mencoba untuk melihat paradigma keilmuan modern. Di sini Armahedi menemukan struktur-struk keimuan modern. Struktur pertama terdiri dari ilmu pengetahuan-seni-teknologi. Dan yang kedua adalah filsafat-misti-etik. Mistik menjadi fondasi bagi seni. Filsafat menjadi fondasi bagi ilmu pengetahuan, sementara teknologi harus berlandaskan pada etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menelusuri paradigma keilmuan barat tersebut, Armahedi melihat masih adanya perpisahan antara kelimuan tersebut, bahkan kadang sering bertentangan satu sama lainnya. Terlebih lagi paradigma tersebut masih bersifat skular. Untuk itu dia malakaukan penelusuran dalam paradigma keilmuan Islam dan menemukan struktur tauhid-tasawuf-fiqih. Karena Islam menekankan keseimbangan antara yang lahir dan batin, individu dan kolektif, maka struktur ini menjadi penengah antar ilmu pengetahuan-seni-teknologi dan filsafat-mistik-etika. Ketiga struktur ini harus menjadi satu kesatuan yang utuh dan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki Ilmu pengetahuan-tauhid-filsafat menyangkut pikiran-pikiran manusia. Seni-tasawuf-mistik berkaitan dengan perasaan. Sementara tekonologi-fiqh-etika berkaitan dengan tingkah laku manusia. Jika diperhatikan dengan seksama, kaki struktur di atas menyangkut fungsi-fungsi “kognitif”, “afektif” dan “konatif” (psikomotorik-penulis) dari kesadaran manusia. Atau dalam bahasa lain fikr, dzikr dan ‘amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan integralisme, realitas pastilah mempanyai kelima struktur wujud sebagaimana dijelaskan di atas, yaitu sumber, nilai, informasi, energi dan materi. Begitu juga dengan ilmu yang juga mempunyai ontologinya sendiri. Ilmu juga harus mempunyai kelimanya. Dengan demikian akan didapatkan satu struktur keilmuan Islam sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Struktur Keilmuan Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kategori Integral Disiplin Keilmuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sumber Ilmu-ilmu Al-Quran&lt;br /&gt;Nilai Ilmu-ilmu keagamaan&lt;br /&gt;Informasi Ilmu-ilmu kebudayaan&lt;br /&gt;Energi Ilmu-ilmu terapan&lt;br /&gt;Materi Ilmu-ilmu kealaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Al-Quran menjadi sumber dan ruh bagi keilmuan-keilmuan yang lainnya. Dia menjadi sumber karena dalam Al-Quran terdapat prinsip-prinsip keilmuan sosial, budaya, alam dan terapan yang akan bermanfaat dalam kehidupan manusia &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-316654436496183546?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/316654436496183546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=316654436496183546' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/316654436496183546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/316654436496183546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/08/cakrawala-pemikiran_05.html' title='Ilmu dalam Perspektif Integralisme'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-4572456704483236181</id><published>2008-08-04T15:18:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T21:57:50.741+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keyakinan Muslim'/><title type='text'>Menyegarkan Kembali Keyakinan Muslim</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh: Zubaer At&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan adalah pengikat esensi manusia dengan Tuhan. Yang disebut Pengikat adalah sesuatu yang lebih kuat dari rasa lapar, rasa sakit, keinginan, rasa marah, rasa sedih, rasa prihatin, rasa frustasi dan apapun. Agar teruji sejauh mana keyakinan atau kepercayaan kepada sesuatu yang Maha dari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh tradisi jepang, ketika seseorang membuat kesalahan yang berakibat menyakiti orang lain apalagi bangsanya, maka orang tersebut dituntut secara tradisi dan kepercayaan untuk bunuh diri, sebagai penebusan dosa mesti tidak sebanding dengan kesalahan.tapi bunuh diri dalam konsep tradisi jepang adalah suatu kepercayaan Adiluhung yang harus dipertahankan untuk menjaga keimbangan kosmologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Berbeda dengan orang Islam, seorang muslim ketika meyakini betul akan keber-Islam-an, maka dia harus rela dan ikhlas melepaskan jasadnya untuk meluhurkan batinnya agar diberikan kepada sang pencipta. karena segala sesuatu yang berikan kepada manusia dari Tuhannya merupakan fasilitas dan sarana untuk beribadah,tidak kurang dan tidak lebih, ketika ada peluang berkorban, maka seorang muslim haruslah Fastabikul khoirot dalam menyambutnya. hal ini dalam Islam merupakan hadiah diatas hadiah yakni bertemu dengan wajah pengikat Awal-akhir sewaktu berikrar setia dimana saat masih berupa janin yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar, ketika Umat Islam mengajarkan rukun Islam, pertama adalah syahadatain; ashadu alla ilaha illallah, waanna Muhammad Rasulullah yang mempunyai dua makna pokok, pertama, bahwa manusia bersaksi, berjanji dan bersumpah tidak ada apapun yang dapat menjadi tuhan selain Allah. Syahadah pertama ini sebagai pengikat seseorang dengan sesuatu yang abtrak atau ghaib, maka ketahuilah bahwa yang ghaib tidak bisa didekati dengan sesuatu yang material,maka haruslah didekati dengan keghaiban yang kita miliki, hal ini sering disebut dengan mistisisme atau spiritualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mempunyai makna lebih kongkrit dari yang pertama yakni Muhammad yang berbentuk manusia sebagaimana kita harus kita percayai sebagai pembawa risalah Allah di bumi, sehingga manusia tidak ada alasan lagi untuk menolak ataupun tidak melaksanakan perintah/ajaran yang diajarkan beliau sebagai hukum atau norma agar keseimbangan manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya dan Tuhannya dapat terwujud.sebaliknya, ketika manusia melanggar maka kehancuran dan bencana akan terjadi dimana-mana. percayalah dari pernyataan diatas menyatakan bahwa apapun yang terjadi dalam diri manusia dhahir dan batin, internal ataupun eksternal adalah perbuatan manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi kepada keyakinan, manusia akhir-akhir ini secara fenomenologis telah banyak meninggalkan atau melanggar janji-janji kepada sang pengikat, wajar jika manusia semakin hari semakin tidak menunjukkan kediriannya, tapi sebaliknya menunjukkan wajah garang seperti segala sesuatu dihadapannya adalah makanan.tanpa aturan.tanpa memperdulikan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim yang baik, untuk mengetahui lebih dalam tentang keyakinan maka yang harus dilaksanakan adalah memahami secara konseptual-akliyah tentang kesadaran keber-tuhanan. Kesadaran ini akan dapat dimengerti seseorang ketika dia mau dan sungguh-sungguh mempelajari sejarah-sejarah konsepsi akan kebertuhanan bukan tuhan.sebagaimana karen amstrong dalam buku-bukunya,mesti non-muslim, dia sangat bagus memberikan eksplorasi akan kebertuhanan berbagai agama walau secara pengalaman mistis keberislaman tidak banyak ditampilkan. Kita tahu, bahwa mistis adalah inti ajaran,salah satu contohnya adalah manunggal.&lt;br /&gt;Nah, ketika telah mengerti tentang kesadaran kebertuhanan, seseorang harus dapat mempelajari atau menjelaskan akan pengaruh dan perkembangan kebertuhan tadi dalam mempengaruhi manusia yang berimplikasi kepada perubahan di masing-masing zaman. Hal ini penting, untuk mengetahui sejauhmana suatu konsepsi diterapkan dalam keseharian.dan juga sejauhmana memberikan kesadaran baru akan keberanekaragaman ekspresi keberagamaan manusia.kalau ini terjadi, maka tidak ada lagi klaim kebenaran satu ekspresi, yang ada adalah kesalingmengertian sehingga spiritualitas dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita masih ingat, bagaimana isu-isu islamisasi dikembangkan, bagaimana pengilmuan Islam ditunjukkan, bagaimana liberalisasi hidup dan bagaimana reaksi masyarakat muslim tentang hal-hal tersebut diatas. Nyata, aneh atau menggembirakan,hanya orang yang mempunyai kesadaran keagamaanlah yang akan tertawa dan berkata "alhamdulillah", sambil mengatakan dalam hati dengan mengutip hadis nabi;"baik-baik seorang muslim bukan orang yang dekat dengan aku (nabi) sekarang,bukan orang soleh sekarang, tapi seorang muslim yang hidup diakhir zaman dan jauh dari saya tapi tetap konsisten menjalankan sunnah-sunnahku secara keseluruan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika, isu-isu, konsepsi dan perkembangan keberislaman telah ditangkap menjadi kesadaran keseharian, maka waktunyalah seorang muslim yang berkaitan dengan keyakinan dapat mengeksplorasi pengalaman-pengalaman religiusitasnya serta mengpresiasikan dengan muslim yang lain, agar dari pengalaman tersebut dapat membuahkan hikmah-hikmah yang dapat mengembangkan religiusitas yang lainnya. kadang memang pengalaman lebih penting daripada konsepsi pengetahuan.apalagi yang terkait dengan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ke Rasa inilah, seorang muslim menguji keyakinannya.apakah betul-betul menyakini akan Tuhannya hanya sekedar ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang omong-kosong,hampa dan tidak bermakna atau mutiara. Buktinya kongkritnya sederhana, yakni apakah seseorang tersebut istiqomah, konsisten dan berpegangteguh terhadap keyakinan tersebut dengan amal soleh atau apa!.artinya, orang tersebut selalu dan dimanapun melakukan tindakan-tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri atau serakah apalagi sampai-sampai tidak mau berbagi dengan yang lain, dengan kesadaran bahwa alam semesta terbatas sedang kita hidup bersama maka berbagi adalah keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa dalam keyakinan bukanlah selera yang dapat seenak perut kita memilih dan mencicipi, tapi rasa dalam keyakinan muslim adalah kedekatan atau kemelekatan selalu dengan tuhannya, tanpa mempedulikan apa yang Dia kasih atau wujud apa yang kita terima.kita hanyalah debu yang menempel dibebatuan lalu kena hujan, tak bermakna dihadapan tuhan.&lt;br /&gt;Sampai sejauh inikah keyakinan kita diujikan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa itupun tidaklah cukup untuk menjelaskan keluasan dan pentingnya suatu keyakinan, karena setelah rasa ada kerinduan yang mendalan akan inti kehakikatan wujud kemanusian, bukan meniadakan potensi atau unsur hawa setanian yang ada dalam diri manusia itu salah,tapi bagaimana seoarang selalu mengatakan "tidak" kepada melupakan Allah. Dan selalu ingin dan ingin bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tingkat lagi dari kehakikatan keyakinan adalah kema’rifatan yang didambakan. Kema’rifatan bukanlah pelajaran yang dapat dipelajari secara tekstual dalam buku-buku tapi lebih banyak berbentuk Riyadho atau latihan-latihan ketiadaan diri atau lebih tepatnya penyingkapan tirai-tirai keilahian yang ada dalam keinsanian.&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjelaskan&lt;br /&gt;Dari penjelasan diatas, saya ingin mengatakn bahwa materi keyakinan muslim yang harus disampaikan adalah pertama,makna dasar dari keyakinan dan implikasinya. Kedua,konsepsi-konsepsi kebertuhanan manusia dari masa-kemasa. Ketiga,sejauhnya pemahaman konsepsi kebertuhanan mempengaruhi zaman dan coraknya. Keempat,bagaimana kita memahami isu-isu atau fenomena keagamaan yang terjadi disini (Indonesia) dengan wilayah lain seperti timur tengah, malaysia dll.kelima, bagaianmana kita dapat menumbuhkan peserta untuk shering tentang pengalaman religiusitas agar dapat memetik hikmah-hikmah. Keenam, pemateri dapat menumbuhkan imajinasi-kereatif kepada peserta bagaimana para salik menempuh jalan menuju ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapaun metode menjelaskan harus sesuai dengan kemampuan pemateri dalam arti keilmuan yang ditekuni. tapi harus diingat jangan sampai satu corak pemikiran saja yang ditampilkan.contohnya, dalam menjelaskan pemikiran ada baiknya menggunakan filsafat sebagai media, menjelaskan pengalaman dengan tasawwuf, menjelaskan realitas dengan fakta-fakta sosial yang sedang berkembang, dan jangan lupa dengan dalil-dalil al-Qur’an seminimal mungkin dapat juga di tunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disampaikan pada Trainer of Trainer KPC HMI Cabang Jogjakarta pada tanggal 15 Maret 2008 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-4572456704483236181?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/4572456704483236181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=4572456704483236181' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4572456704483236181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/4572456704483236181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/08/cakrawala-pemikiran_04.html' title='Menyegarkan Kembali Keyakinan Muslim'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2963386517600241090.post-2538233147569286338</id><published>2008-08-04T13:50:00.000+07:00</published><updated>2009-01-06T21:54:10.949+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Kemudian'/><title type='text'>Kita Di Hari Kemudian[1]</title><content type='html'>Iqbal Hafidz Hakim [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak mengherankan bila fisikawan sekaliber Albert Enstein dalam puisi Spinoza Ethic[3] memberikan pujian bagi Spinoza. Tidak sebatas pujian, Enstein pun menjadi makmum baginya dalam hal keyakinanan pada yang satu. Yang tak terdefinisikan. Segala sesuatu bersumber dari yang satu, karenanya Dia ada bukan dari tiada, awal dan akhir. Sehingga bukan bualan enstein untuk selanjutnya terkait eksplorasi kosmos, baik mikro maupun makro mengatakan ‘ Tuhan tidak bermain dadu “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Satu itu disebut kawan Yang Agung oleh filosof eksistensialis William james. Kawan yang Agung menjadi mutlak keberadaannya bagi manusia sebagai kawan dalam mencipta (&lt;em&gt;co creator&lt;/em&gt;). Menurutnya manusia tidak akan pernah hidup tentram sebelum ia berteman dengan Kawan yang Agung. Dengan memahami dan menjalani hal tersebut manusia tidak akan menglami kekosongan eksistensial (&lt;em&gt;existential vacuum&lt;/em&gt;). Hidup ini tidak nihil, bukanlah sesuatu yang absurd. Hidup ini penuh makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Apa hidup itu ?&lt;br /&gt;Dari mana hidup itu ? Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rajiun&lt;br /&gt;Untuk apa hidup ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memahmai apalagi menginternalisasi nilai tersebut tidaklah mudah, karenanya berjuang dan berkorban adalah jawaban yang tersisa. Bahwa orientasi subtansial hidup kita dalam ruang perjuangan dan pengorbanan adalah yang satu dalam bahasa Spinoza atau kawan yang agung bagi James. Dengan begitu konsepsi kita mengenai hari kemudian tidak lah semata-mata konsepsi ruang dan waktu setelah di dunia (pasca sejarah) atau kita sering menyebutnya hari qiyamah, hari akhir atau pun hari-hari yang menyeramkan lainya. Hari kemudia juga merupakan hari-hari sebagaimana kita melaluinya di dunia ini (sejarah). Dimana aktivitas berpikir sebelum bertindak adalah konsekuensi logisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……Namun semua janji itu bukan untuk menjadikan manusia takut atas ancaman juga tidak membuat manusia berharap imbalan di hari kemudian, namun agar sadar atas pilihannya yang memiliki akibat di hari kemudian.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas berpikir tadi mengantarkan kita pada tindak rasional (pilihan sadar) yang menekankan akan adanya pertanggung jawaban di hari kemudian dalam rentang sejarah maupun pasca sejarah. Sehingga potensi-potensi yang diberikan oleh Tuhan mampu diaktualisasikan kita sebagai makhluk terindah secara optimal, tidak terjatuh pada silap fatalis, yaitu sikap yang menolak kehendak manusia, bahwa segala perbuatan berasal dari Allah.&lt;br /&gt;Konsekuensinya kehidupan di dunia bukanlah sesuatu yang harus di tinggalkan. Manusia harus berusaha mendapatkan apa yang harus ia dapatkan, bahkan Allah memperkenankan manusia untuk beroleh kebahagian darinya[5]…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut menjadi penting karena islam memang tidak mengajarkan faham yang menuntut agar kehidupan manusia selalu menderita di dunia untuk mencapai kebahagian di akhirat. Islam mengajarkan keharmonisan yang dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dua jam yang lalu saya masih berdiri di tengah kota, di tengah-tengah orasi yang membahana sepertinya mengguncangkan arsyi. Gelegar teriak “hidup rakyat”. Sahut menyahut suara lantang “kapitalisme”, “imperealisme”…….. Hancurkan, musnahkan. Tiba-tiba saya teringat sebuah lagu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa menjadi raja yang paling ditakuti&lt;br /&gt;Aku bisa taklukan semua bangsa-bangsa di dunia&lt;br /&gt;Tapi apa artinya bila Kau tak cinta&lt;br /&gt;Apa artinya dunia yang bisa kugenggam bila tak ada cinta dari MU untuk ku&lt;br /&gt;Aku bukanlah siapa-siapa bila tak ada cinta dari MU untuku.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian, terima kasih. Selanjutnya mari kita diskusikan…………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;[1] Disampaikan pada Batra kolektif uin sunan kalijaga, tangggal 30 April 2008&lt;br /&gt;[2] Tukang nongkrong di HMI&lt;br /&gt;[3] Puisi ini pernah dibacakan di kota gede (narti silver) dalam rangka memperingati keruntuhan Andalusia yang diselenggarakan oleh komunitas Jadzab tanggal 28 April.&lt;br /&gt;[4] Khitoh perjuangan.&lt;br /&gt;[5] ibid&lt;br /&gt;[6] Dinyanyikan Ahmad Dhani dengan judul aku bukan siapa-siapa &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2963386517600241090-2538233147569286338?l=pengaderjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/feeds/2538233147569286338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2963386517600241090&amp;postID=2538233147569286338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/2538233147569286338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2963386517600241090/posts/default/2538233147569286338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengaderjogja.blogspot.com/2008/08/kajian-intelektual.html' title='Kita Di Hari Kemudian[1]'/><author><name>pengaderjogja.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01783614511360212215</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
